
Ya Tuhan kamu terluka, kamu berdarah kataku mendekat dan menyisikan rambutnya.”
Oh sial luka itu sekitar tiga cm
“Jangan berisik Bang, pegang saja, nah pakai ini, kompres aku bisa menghentikan darahnya.” kata Netta.
Tekan saja disini aku akan oleskan obatnya.
Luka di samping mata kirinya, tangannya dengan cekatan mengobati lukanya. Ia terlihat seperti sudah seperti Dokter sungguhan.
“Kita ke Dokter saja, mungkin lukanya butuh jahitan, Soalnya di pipimu,” kataku merasa perih.
“Tunggu sebentar, duduk disini pinjam pundak mu, kepalaku pusing bangat,” katanya menyandarkan kepalanya kearah kebelakang tepat di dadaku, ”diamlah sebentar, aku hanya pusing, mungkin karena kejatuhan mesin printer tadi.
“Kamu kuat gak, Ta?
Kalau nggak kita ke Dokter?"
“Tidak apa-apa, nanti makin heboh, banyak orang di bawah, aku tidak mau kejadian ini sampai sama mama, kasihan, tidak apa-apa gini saja dulu,”kata dia menahan sakit.
“Kamu turun saja, aku ingin tidur dulu.”
Aku menurut, ikut duduk bergabung dengan keluarga, membahas segala macam.
“Mana Istrimu panggil sini, masa bapanya datang tidak di pedulikan,” kata Papi.
“Ia sakit Pi, ia kurang enak badan,” aku membelanya.
“Sakit apa, memang tidak ada sopan santun ya itu orang, disini bapa uda, bapa Tua, Namboru tapi tidak mau turun dia,” Kata Mami.
Aku merasa kesal juga dengan omongan Mami, saat orang lain terluka karena, ulahnya .
“Mami memukulinya tadi
Ia terluka parah, ia tidak mau turun agar Mami tidak malu karena sudah memukuli menantu sendiri,” kataku emosi.
“Mami emosi
Tan kamu sudah sakit, baru pulang malah di bentak-bentak.”
“Bukan seperti itu Mi, Mami dengarnya setengah-setengah.”
“Siapa pukulin siapa? “Tanya Papi heran.
Mata beliau menatap kami bergantian.
“Suruh Netta turun, bawa turun,” kata Nantulang.
Mata semua terkaget melihat luka di pipi Netta yang dari tadi ia sembunyikan, bahkan matanya ikut membengkak, kini mata semua orang menatap Mami dengan tatapan menuduh, dan tatapan yang tidak bisa di jabarkan.
__ADS_1
“Duduklah inang ,mari kita bicara sebentar, tadi kata ibu mertuamu kamu perlu di nasehati, maka itu duduklah.” Lagi-lagi duduk di sidang lagi.
“Bilanglah Ito, apa yang perlu ingin kau sampaikan pada Netta yang tadi sempat ito bilang, Ito sudah capek menasehatinya, apa masalahnya? mari kita bicarakan disini.”
Tulang kami dari Bandung tulang paling tua memberi Mami kesempatan untuk bicara.
“Aku sudah capek bicara padanya, sudah capek menasehati tapi tidak di hiraukan nya,” nada suara Mami melemah setelah semua orang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
“Katakanlah apa kesalahannya?. Biar di depan kita, bapa udanya, bapa tuanya, tau kesalahan Netta,”Para Tulangku menatap Mami.
“Ia aku suruh berhenti kuliah, ia tidak mau, itu satu, kedua aku ingin cucu tapi ia tidak mau berobat, dan saat Jonathan sakit, ia tidak datang ke rumah sakit, coba istri apa yang seperti itu?”
Mami membesar-besarkan masalah dan mencari kesalahan dari Netta.
“Baiklah, diam-diam dulu, bicara satu-satu…!”
Kata tulang saat kak Eva mau bicara, mau membela Netta dari kita semua, hanya mami yang sangat membenci Netta tidak tahu apa alasannya.
“Aku sudah menangkap intinya. Sekarang, ito mau seperti apa?”
“Aku sudah capek dan lelah, intinya aku ingin mereka berpisah saja,” kata Mami membuat semuanya heboh.
“Apa kamu bilang!?”
Kata Papi marah besar saat Mami dengan seenaknya bilang Pisah.
“Ga bisa seperti itu ito, gara-gara tidak bisa kamu atur menantumu, kamu suruh pisah, tidak boleh seperti itu dalam adat kita batak itu dosa besar.
Berdosa kamu sama Tuhan, dosa sama bapaknya Netta almarhum,” Tulang yang dari Bandung.
“Kamu keterlaluan kak, kamu yang paksa ia jadi menantumu sama ito, aku tau ito bapak Netta menolaknya, tapi kamu memaksanya, kamu bilang itu pesan Bapa.
Sekarang gara-gara Netta tidak mau kamu suruh berhenti kuliah, kamu bilang ia pembangkang, harusnya kamu bangga ia mau kuliah dapat beasiswa.
Banggalah aturannya kakak menantu jadi Dokter, ok pisahkan saja mereka, biar dia sama si Rio, saya pikir mereka cocok. Tahun ini si Rio sudah jadi Dokter,” kata tante pamer.
“Mami bagaimana sih? Netta anak yang baik Mi, kenapa harus ada kata seperti itu dari Mami, Apa yang sudah di persatukan Tuhan tidak boleh di pisahkan Manusia, apa Mami paham Itu?”
Semua orang menasehati Mami.
“Tidak tau ni Mami, aku juga menantu, bagaimana kalau aku di perlakukan ibu mertuaku seperti yang Mami lakukan pada Netta?
Netta wanita yang sabar, ia tidak pernah melawan Mami walau sudah dimarahi, dimaki , ia tidak pernah melawan Mi, saya pikir jika menantu Mami dari keluarga kita Mami akan sayang, ternyata lebih parah.”
“Kamu diam Eva,…!jangan ngajarin Mami,” marah pada kak Eva.
“Sekarang Mami Juga diam, biarkan lae yang bicara.
Hormati hula-hula mu Mi...!
__ADS_1
Jaga nada bicaranya,” Papi menegur, Mami langsung diam tak berkutik.
“Dari tadi kita terus yang bicara. Kita belum dengar apa pendapat Jonathan, ia yang memutuskan semuanya karena ia yang akan menjalaninya.”
Mata semua orang menatapku , Mami membuatku dan seisi rumah syok tidak pernah terlintas di pikiranku, untuk berpisah dari Netta walau aku sudah salah jalan, tapi aku selalu berusaha untuk memperbaiki rumah tangga kami.
“Bagaimana Jonathan, apa pendapatmu? Apa Kamu juga mendukung pikiran Mama kamu?” Pertanyaan ini di tujukan padaku, aku yang sedari tadi duduk menundukkan kepalaku, tidak berani menatap, aku akan sangat malu jika hubungan terlarang ku di ungkapkan saat ini, di depan semua keluarga.
“Tidak, aku tidak ingin berpisah Tulang, aku akan memperbaiki rumah tanggaku, aku yang salah, tidak bisa memperbaiki sikap, Netta orang yang baik,” kataku semua orang mengangguk memuji sikapku.
“Bagaimana dengan kamu inang Netta,” kata Tulang menatap Netta, kini mata itu semua menatapnya.
“Baiklah, kami berpisah saja Bapa Tua, itu akan lebih baik. Lebih baik buat abang Nathan, lebih baik untuk bou, tidak marah-marah lagi,” katanya. Mendengar itu aku yang sedang minum hampir tersendak karena kaget.
“Apa!?”
Raut wajah kaget terpancar dari semua yang ada dalam ruangan itu, tidak menyangka ia akan menjawab seperti itu, aku pikir ia akan tetap bertahan.
“Netta jangan seperti itu inang, tidak bagus, kalau masih di perbaiki ayo kita perbaiki.
Suamimu juga tidak ingin berpisah, hanya Mertuamu yang keceplosan bicara,” semua keluarga membujuknya.
“Maaf bapa tua, saya tidak bisa.
Inilah saya, saya tidak bisa berubah , aku kuliah mendapat beasiswa prestasi dari Kampus, aku tidak meminta apa-apa dari bou, aku kerja juga, untuk membayar kuliahku.
Bou melarangku kemarin datang ke rumah sakit, karena bou melarangku, saya tidak datang karena bou menarik rambutku di rumah sakit.
Bou…!
Aku tidak meminta aku jadi menantu di rumah ini, mungkin bapakku di dalam kubur jika bisa bicara mungkin ia akan ngomong kalau aku juga menolak pernikahan itu, kalian yang memaksa , aku mau menikah karena bang Jonathan mau mendukungku, kata Bang Jonathan bisa meneruskan kuliahku walau kami sudah menikah.
Tapi untuk saat ini, kalau Bou tidak ingin aku menantumu, aku terima Bou, aku akan pergi dari rumah ini,” kata Netta.
“Ito Berton…!
Berengma borumon nungga mali-mali di Jakartaon, hudok pe tuho narahai unang jo pamuli si Netta nikku do ito… ala na pogos borumi, nungga mallea di baen ibana di Jakarta on, (Ito Berton …lihatlah putrimu ini sudah sengsara di Jakarta ini, aku bilang juga dulu sama ito jangan menikah dulu si Netta, karena miskin, si Netta di perlakukan semena-mena).” Tanteku menangis memangil-manggil almarhum Tulang Netta. Suasana haru terlihat saat itu.
“Sudah diam! kamu jangan ikut campur, dari dulu kamu memang syirik sama aku.”
Mami berdebat panas lagi dengan adiknya, Mami memang tidak pernah akur, dengan tanteku yang satu ini.
Sudah…!
Sudah malu kita,” kata Papi menatap tajam pada Mami.
Tapi aku merasa lutut ku tidak bertenaga lagi, mendengar Netta memilih jalan itu, membuatku tidak berdaya.
Bersambung
__ADS_1