
Selalu ada hikmah di setiap kejadian, itu benar. Kalau saja Candra tidak mabuk, semua rahasia yang ia simpan tidak akan terungkap Tivani akan berpikir kalau keluarga Candra yang memaksa. Tetapi Candra mabuk dan membongkar semuanya.
Padahal Dulu, saat pernikahanku dan Netta ada masalah. Aku, sempat berpikir kalau Candra itu, lelaki setengah jadi, karena selalu di rumah dan melakukan apapun yang di katak tante, setel ia terbuka, aku salut dengannya.
Baik kali ini, setelah ia mabuk ia membuka semua tentang perselingkuhan papi Tivani juga.
Tivani benar-benar terkejut mendengar Candra, ia terus menggeleng, ia terkejut.
“Papi tidak mungkin berbohong pada kami”
“Kamu tidak percaya? Ini lihat candra merogoh saku celananya dan menunjukkan layar ponsel nya ke arah Tivani”
Dalam foto tersebut papinya bersama sekretaris ada di kolam renang.
"Kalau mereka tidak selingkuh, lalu mereka ngapain?" tanya Candra tertawa miring.
“Ini tidak mungkin,” ujarnya lagi, ia mundur beberapa langkah ini pukulan berat untuk Tivani, lelaki yang ia percaya selama ini, ternyata mengkhianati maminya.
“Sekarang kamu sudah paham kan?” Candra tertawa lagi, kini giliran dirinya yang balas dendam pada Tivani.
Tivani merasa kecewa pada papinya, setelah Candra menunjukkan foto dengan sekretarisnya, bukan hanya di kolam renang, ada juga yang menuju hotel.
Netta mencoba menenangkan Tivani, sementara Candra sudah mulai kehabisan baterai, setelah puas menjelaskan mengungkap semua unek-uneknya pada Tivani ia berjalan ke arah sofa lalu tertidur di sofa ruang tamu.
Sementara Tivani masih menangis di diluar di teras rumah bersama Netta.
“Dek temenin Tivani saja, tidur di kamar tamu, biar aku sama Candra di sofa”
"Baiklah, abang tidur duluan saja aku masih ingin Tivani"
Mataku sudah sangat mengantuk, apa yang terjadi hari ini, memang sangat menguras tenaga dan pikiran.
“Aku belum bisa tidur, temani aku duduk sebentar lagi di sini,” ujarnya lagi, menurutku Tivani tipe orang yang egois, ia tidak tahu Netta sudah terlihat sangat lelah, matanya mulai terlihat berat. Karena biasanya jam segini kalau tidak tugas, Netta sudah tidur, tetapi karena tamu spesial kami terpaksa ia bergadang. Aku juga ikut duduk mendengarkan penjelasan Tivani.
“Aku tidak tahu kalau kejadiannya seperti itu, tidak mungkin papi ku melakukan itu, … ah, entahlah. Mungkin benar, kalau itu terjadi, kasihan mami.” Tivani menangis lagi.
Aku bukan kasihan padanya, tetapi aku kasihan pada istriku yang duduk menahan kantuk di samping Tivani.
“Mungkin itu tidak benar Vani, dia kan lagi mengantuk, tapi dia menunjukkan bukti di ponselnya”
Candra Walau sedang mabuk, ia masih ingat ada foto bukti papinya Tivani dengan sekretarisnya, ia tidak menuduh sembarangan, la punya bukti.
Karena penasaran Tivani memintaku mengambil ponsel milik Candra.
__ADS_1
“Aku tidak tahu polanya ponsel ini,” jawabku menolak, aku tidak ingin Candra marah karena kami membuka ponsel miliknya.
“Aku bisa,” ujar Tivani.
Sejak kapan dia tahu pola kunci ponsel Candra?’
“Saat bangun tadi pagi di hotel, aku melihat dia membuka kunci ponselnya,” ujar Tivani memberitahukan ku, seolah-olah ia tahu kalau aku penasaran.
“Oh”
‘Baiklah, kamu istrinya kalau dia marah, biar kamu menanggungnya’ ucapku dalam hati.
*
Tivani membuka ponsel Candra, ia membuka dengan leluasa, akhirnya menemukan banyak foto-foto bukti perselingkuhan ayahnya dengan sekretaris tersebut.
“Kenapa jika wanita menua dan tidak cantik lagi di duakan sama laki-laki?” Tanya Tivani marah.
“Karena lelaki kaya itu ibarat gula di mata para wanita, tidak perduli dia sudah tua atau sudah kakek peyot dan begitu juga sebaliknya, para lelaki kalau sudah punya banyak uang, selalu merasa di atas awan,” ujar ku.
“Tetapi orang Batak jarang yang seperti itu Bang,”ujar Netta.
“Batak juga banyak seperti itu Dek, kamu gak lihat pengacara kaya raya H yang selalu pamer harta dan pamer para wanita-wanita seksi, dia tidak pernah lepas dari wanita-wanita seksi, bahkan dipertontonkan di khalayak, dia tidak menjaga perasaan istrinya. Coba dia miskin mana ada gadis-gadis cantik yang selalu nemplok padanya”
“Ya, abang benar juga, tidak mencerminkan adat Batak,” ujar Netta lagi
Tivani mengusap sudut matanya.”Apa yang harus aku lakukan?”
“Hiduplah dengan baik bersama suamimu, agar mami kamu tidak bertambah stres, buktikan pada orang tua kalian masing - masing, kalian bukan boneka.” Netta memberikan masukkan, ia bersikap dewasa saat bersama Tivani.
Karena Kelakukan Candra yang mabuk, semuanya akhirnya terungkap malam itu, aku dan Netta jadi ikut bergadang.
Tivani penasaran dengan pengakuan Candra ia meminjam laptop, Tivani ternyata lulusan luar negeri juga ia bukan hanya punya kemampuan dalam medis ternyata ia juga jago dalam hal hack.
“Aku akan menghancurkan wanita gila itu, hancur-hancur sekalian,” ujarnya geram,
Tivani membuka akun pribadi selingkuhan papinya dan menyebar foto-foto seksi bersama papinya dan dari ponsel Candra.
“Apa kamu yakin tidak apa-apa, jika ada masalah kecil seperti ini, aku takut nanti semakin besar dan papi mu semakin terseret”
“Sebenarnya mami sudah pernah bilang padaku, kalau papi berubah, papi tidak pernah memberi nafkah batin untuknya”
“Apa mereka bertengkar?” tanya Netta, mereka pindah duduk di sofa dalam rumah karena sudah larut.
__ADS_1
“Saat ditanya papi malah marah-marah sama mami,” ujarnya Tivani , ia menceritakan semuanya pada kami malam itu.
“Itu artinya, kamu percaya kalau mere selingkuh?’
“ Tadinya aku tidak percaya, tetapi setelah melihat semua ini, aku percaya,” ujar Tivani.
“Candra juga seperti itu, dia tidak menginginkan perjodohan dia paksa, jadi apa yang dikatakan tadi benar adanya kalian berdua itu korban dari ketamakan orang tua”
“Ngomong-ngomong apa benar kalian juga dijodohkan?” Tivani menatapku dan Netta bergantian.
“Ya kami dijodohkan karena tradisi bukan karena harta, walau pada akhirnya jadi gila harta,”ujar ku
“Lalu apa yang kalian lakukan , untuk bisa bertahan sampai ke tahap ini?” Tivani menatap kami berdua.
“Percaya pada pasangan hidupmu, jangan pedulikan apa kata orang lain dan selalu terbuka satu sama lin. Ya, kami bukan pasangan yang idaman, tetapi kami berdua selalu merasa nyaman,” ujar Netta.
Aku tidak tahan menahan kantuk memilih tidur di kamar kami.
Membiarkan Tivani curhat sama Netta, saat terbangun ingin ke kamar mandi, ternyata Netta ada di sampingku.
“Loh … Dek bukannya kamu sama Tivani tidur di kamar tamu?”
“Saat aku tidur, Bang Candra datang ke kamar dan tidur di samping Tivani, dari pada aku menganggu mereka aku pindah”
Saat pagi tiba, aku melihat wajah Candra tiba-tiba canggung, tetapi aku dan Netta tidak mau mengungkit atau membahas. Urusan Ranjang biarlah urusan mereka, aku mengajak keduanya serapan.
Aku tidak tahu pembahasan mereka berdua hingga sepakat pulang ke Bogor. Aku berharap itu jadi hal yang baik untuk mereka berdua.
Bersambung...
Bantu like dan subscribe dan share ya Kakak.
.
.
.
.
. Jangan lupa baca ceritaku
Menikah Dengan Abang Ipar
__ADS_1
Terimakasi Kakak.