
Kami berdua masih duduk di luar dengan Candra, mendengarkannya curhat malam itu, itu salah satu caraku untuk membantunya melegakan rasa sakit di dalam hatinya.
Aku tahu bagaimana rasanya dikhianati seorang ibu, terasa dunia kita seolah-olah runtuh, disaat kita butuh pegangan, dalam kerasnya hasutan dunia, mami malah ingin menikahkan ku dengan Mikha demi harta, itu jugalah yang dirasakan Candra saat ini.
Karena kami tidak kunjung masuk, Netta dan Tivani ikut keluar, kedua bu dokter itu sudah mandi, terlihat dari wajah Netta yang segar, dan ia juga sudah mengenakan seragam tidur miliknya, daster bermotif bunga-bunga, entah kenapa si borneng ini, suka sekali pakai daster saat tidur.
“Kalian berdua, kenapa di luar terus?” Tanya Netta melirik wajah Candra yang sudah mulai miring.
“Eh, Netta!” Ia ingin berdiri menghampiri Netta.
Tetapi Netta mundur dan bersembunyi di balik badan Tivani.
“Jangan dekat-dekat padaku, ada istrimu di sini,” ujar Netta mendorong Tivani ke depan suaminya
“Oh … Tivani kamu sangat cantik,” ucapnya ia memuji istrinya dikala ia sedang mabuk berat.
“Bang, Candra tidur saja, sudah mabuk,” ujar Netta.
“Aku akan membawamu ke kamar,” bujuk Tivani
“Oh. Tivani Chan boru Panjaitan, sebenarnya … aku tidak ingin marah padamu. Kamu juga pasti korban dari pemaksaan orang tuamu,” ujarnya lagi, ia berdiri dengan tubuh sempoyongan, Candra benar-benar mabuk setelah meneguk wine dalam gelas ku juga.
“Hai, Bro kamu sudah mabuk, ayo kita tidur.” Aku tidak ingin ia berulah pada istrinya saat mabuk.
“Abang! Kenapa dikasih minum banyak. Bang Candra gampang mabuk, kamu ingat saat kita dikampung, kan, baru minum tuak satu gelas saja, dia udah muntah-muntah,” ujar Netta mengomeli ku.
‘Aku pula yang kena omel kan’
“Dia minum punyaku Dek, saat aku tidak lihat tadi.” Aku Membela diri.
Tivani hanya diam melihat suaminya bicara panjang lebar.
“Tunggu Bang, biarkan aku bicara dengan Tivani istriku dulu. Dia sudah istriku saat ini.” Candra berdiri di depan istrinya.
“Biarkan saja Bang, kita dengar dia mau bicara apa,” ujar Tivani menatap tajam pada suaminya.
“Terimakasih karena mau memberiku kesempatan bicara, aku yakin kamu juga tidak ingin menikah denganku, aku juga demikian.
Kita berdua sama-sama korban keegoisan orang tua kita”
“Can sudahlah besok bicara lagi,” bujuk memegang tangan Candra. Tetapi ia menolak ia melepaskan pegangan ku.
__ADS_1
“Kamu bilang aku lemah dan egois, aku bukannya egois, tetapi karena aku tidak ingin hal buruk terjadi pada keluargaku. Kamu tahu kenapa papi kamu setuju aku menikah dengan anaknya?” Tanya Candra.
Tivani hanya diam wajahnya terlihat menegang.
“Bang bawa dia ke dalam,” ujar Netta, kami berdua sudah khawatir akan ada pertengkaran malam ini.
“Tunggu Ta, biarkan aku menjelaskan sama Tivani apa yang sebenarnya”
“Ya Katakanlah.” Tivani menantang Candra.
“Dia, mabuk jangan dengarkan.” Netta mengajak Tivani, tetap ia juga wanita yang keras kepala, ia ngotot ingin mendengar penjelasan lelaki yang mabuk tersebut.
“Papi kamu dan mamaku dua manusia yang gila harta dan kekuasan. Mamaku mengetahui kecurangan yang di lakukan perusaan papi kamu, mama mengancam akan melaporkan hal itu, karena papi kamu takut, di korbankan lah anaknya, terjadilah barter. Kamu sudah mengerti?” Tanya Candra.
Kami bertiga terkejut dengan penuturan Candra, pertanyaan ku akhirnya terjawab, dugaan uda Jon dan tulang benar, saat kami ke rumah Tivani mereka semua sudah curiga, bahkan uda Bandung saat itu meminta pengacaranya menyelidiki perusahaan milik keluarga Tivani.
“Itu tidak mungkin, kamu pikir … semua ini sinetron,” ujar Tivani marah.
“Bukan sinetron lagi Tivani. Istriku, tetapi kita ini … sudah seperti Drama Korea,” ujar Candra tertawa dan berdiri tidak seimbang lagi.
Menurut pengakuan Candra yang aku tangkap dari ucapannya, kalau tante mengetahui tindakan ilegal yang di lakukan Pak Simon, seperti yang di ketahui perusaan milik keluarga Tivani bergerak di bidang Farmasi, dan salah satu distributor penyalur obat-obatan di tanah air.
Aku tidak tahu pasti tindakan ilegal seperti apa yang dilakukan, tetapi yang pasti, itu sudah melanggar hukum, makanya ia takut. Namun, kalau papi Tivani tertangkap, kemungkinan tante juga akan ikut terjerat, karena tidak melapor tindakan kejahatan yang ia ketahui. Rupanya selama ini Candra mengetahui semuanya.
“Aku tidak bohong cantik, sebenarnya sebelum pernikahan kita. Jujur aku belum mengenal kamu sama sekali. Tetapi, aku sudah mengawasi mama, karena dia menelepon seseorang dengan sembunyi-sembunyi, aku pikir tadinya dia punya lelaki lain, jadi, aku sama papa menyelidiki dan mengikuti mama. Ternyata dia datang ke kantor papa kamu”
“Bapa uda juga sudah tahu?” Tanyaku kaget, Pantas saja bapa uda terkena serangan jantung.
“Sudah. Dengarkan dulu aku Bang, jangan bertanya banyak-banyak, nanti aku lupa,” ujarnya ia sudah mulai lepas kontrol.
“Baiklah teruskan,” ujar Tivani, ternyata ia ingin mendengarkan penjelasan suaminya.
“Tadi, sampai di mana?” Ia lupa ujung ceritanya.
“ Kamu dan bapa uda mengikuti tante,” ujar ku lagi.
”Oh, ya benar. Jadi …. aku sama bapak itu menyelidiki siapa itu Simon Panjaitan, dia pemilik perusahaan penyalur obat-obatan ke setiap rumah sakit milik pemerintah. Jadi, intinya mereka berdua menjadikan kita boneka pertukaran,” ujar Candra.
“Kenapa tante terobsesi pada menantu dokter?”
‘Apa seperti yang aku pikirkan?’ tanyaku dalam hati.
__ADS_1
“Kerena Netta, mama ingin punya menantu dokter agar bisa menyaingi mamak tua”
“Astaga.” Aku kaget.
“Itu tidak benar, papi bukan orang yang seperti itu, dia lelaki yang sayang sama keluarga pada anak dan istrinya”
“Dia tidak sayang sama keluarga, kalau dia sayang, tidak mungkin dia selingkuh sama sekretarisnya”
Mendengar hal itu gelas di tangan Tivani terjatuh.
“Itu tidak mungkin, kamu bohong!” Teriak Tivani menangis.
“Aduh Bang, bawalah dia ke kamar,” bujuk Netta.
Gara-gara Candra mabuk rahasia besar itu akhirnya terungkap, Tivani menangis, setelah tahu semua kebenaranya, aku justru tidak menyesal membuat Candra mabuk, aku berharap dengan semua kebenaran terjadi hubungan mereka semakin erat, bukan malah renggang makin serba salah dah.
Bersambung...
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
akak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
Bintang kecil untuk Faila (tamat