Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Rencana Menikah Lae Rudi


__ADS_3

Setelah dikabarin kalau kami akan datang, rombongan mobil kami  berangkat ke rumah  tulang Gres.


Dalam adat Batak di sebut mamboan sipanganon tu jabuni tulang atau Membawa makanan ke rumah paman


“Mi, ini bukan acara  formal kan, maksudku  hanya berkunjung biasa saja, kan?” tanyaku lagi.


“Memang kenapa sih Bang?”


“Aku paling malas kalau di suruh mandok hata”


“Abang harus belajarlah,” ujar Netta.


“Susah Dek, aku di suruh  ucapin sepatah dua kata setiap kali acara sudah jantungan duluan”


“Lae kan sudah biasa  di kantor pimpin rapat bertemu klien, harusnya sudah terbiasa,”ujar Lae Arkan.


“Tetapi dalam acara keluarga beda bangat lae, gak tahu  kenapa, aku selalu jantungan setiap kali di suruh ucapin kata. Kalau lae ma gak ya”


“Aku biasa saja lae, di kantor biasa di acara adat juga biasa, hanya di depan itomu aku ga bisa ngomong lae,” ujarnya.


Kami semua tertawa, tumben lae Arkan bercanda, kalau biasanya ia kaku kayak tiang jemuran, tetapi dari tadi malam lae beberapa kali bercanda.


“Enak saja. Memang aku larang papa bicara,” tanya kak Eva sewot.


“Gak kau larang sih Ma … hanya, antara suara dengan tubuhmu, gedean suaramu”


“Papa ngatain aku gemuk!?”


Keluar anti kakak Eva, kami semua hanya menahan tawa, ia paling tidak suka dibilang gemuk bisa-bisa gak makan berhari-hari.


“Gak gemuk, hanya ukuran kakimu yang bertambah besar,” ujar Lae Arkan, tiba-tiba saja  mami tertawa ngakak.


“Gak lah … gemuk apaan, Mama Arkan  agak berisi karena dia capek jagain si butet,” ujar papi team pembela maju.


Memang benar, badan Kak Eva saat itu melebar ke samping, beberapa bulan yang lalu kami masih maklum karena ia memberi anaknya asi. Tetapi belakangan gak lagi, tetapi badannya bukannya berkurang, malah semakin makmur,  ia terlihat seperti tukang pukul pasar.


Agar ia bisa kurus mami sampai beli alat fitnes untuknya di rumah, bukannya di pergunakan malah jadi koleksi. Memang bukan rahasia baru lagi,  kebanyakan wanita Batak kalau sudah menikah sering sekali tubuhnya langsung gemuk.


Aku  berharap Netta nanti tidak seperti itu, aku tidak memintanya untuk selalu cantik, tetapi minimal jangan gembrot seperti kakak Eva mirip springe bed tiga tingkat


Karena suasananya semakin panas, karena kak Eva mulai marah saat diledekin mami aku ganti topik lain.

__ADS_1


“Bagaimana lae, proyek yang di Papua, tembus?”


“Ya, Tembus Lae”


Setelah berganti topik berganti juga raut wajah kak Eva, tidak lama kemudian kami tiba  di rumah tulang Gres, saat kami tiba ternyata tulang kembar dari Bogor datang berkunjung. Suasana semakin ramai.


Rumah yang ditinggalin tulang saat ini, rumah yang aku beli dengan Netta dan lae Rudi.


“ Senang rasanya ya Bang, jika apa yang lita beri sama seseorang menjadi berkat”


“Maksudnya?”


“Kata Lae Rudi, semenjak pindah ke sini usaha bengkel bapa uda rame, Inang nguda tidak jualan pasar pagi lagi, Ito Rudi modalin, inang nguda buka warung di toko sebelah,” ujar Netta.


“OH, syukurlah. Beruntung sekali mereka lae tinggal di sini”


“Makanya ada rencana ito mau nikah, sudah nangis-nangis si Gres, gak mau ito Rudi pindah”


“Emang jadi rencana mau nikah?”


“Nantilah kita bicarakan sekalian”


Rumah tulang Gres sampai gak muat menampung kami, tetapi suasananya tetap  meriah dan penuh suka cita, walau ada yang kurang tante Ros tidak ada, biasanya setiap ada acara keluarga tanta selalu datang.


“Ah … dang hudappotton tu jabunai lae, na repot do jolmani, gaor hita annon lokma di sini I”


(Ah … gak aku samperin ke rumahnya lae, repot orangnya, rusuh kita nanti kalau dia datang) ujar Tulang Kembar.


Memang seperti biasa kalau tidak ada mamaCan, suasana tenang, tetapi terkadang kasihan kalau selalu dikucilkan saudaranya, tetapi kesal bangat kalau tante sudah datang lalu memulai keributan


“Bohado aman do dohot parumennai?”


(Bagaimana aman gak sama  menantunya) Tanya tulang Gres.


“Ah, dang ku boto, rittik annon molo disukkun, ni pasisipma”


(Ah … dak tahu aku, gila nanti kalau ditanya didiamkan sajalah) jawab tulang kembar.


Tulang kembar dicerca dengan berbagai pertanyaan tentang Candra dan istrinya, karena tulang kembar sama-sama tinggal di Bogor. Tetapi kami dan Netta hanya diam, karena hanya kami yang tahu kejadian sebenarnya tentang mereka.


Netta wanita yang pandai menyimpan  rahasia, ia tidak terpancing saat semua keluarga membahas tentang istri Candra, mereka semua kasihan sama Candra karena dapat istri yang sombong.

__ADS_1


Justru aku yang kasihan sama Tivani, karena ia seperti tuan putri dalam kisah dongeng, yang paksa jadi rakyat biasa, aku dan Netta tau kalau Tivani sudah bucin akut sama suaminya. Tetapi Candra yang masih tahap mengenal pada sosok istrinya, tetapi Tivani sudah maju selangkah lebih maju untuk mencintai suaminya.


 Dua malam yang lalu ia menelepon Netta, ia ingin tahu apa saja  makanan yang disukai Candra, film yang disukai suaminya. Tentu saja Netta tidak tahu dan meminta Tivani mencari tahu sendiri.


Saat semua membahas Candra dan Tivani, aku memilih tidak ikut menanggapinya hanya mendengar, kalau kami mulai  bahas satu hal saja


 pasti akan martimus sian dolok sampai tu toruan.


(Pasti akan berasap dau atas sampai ke bawah)


Karena tidak ada  yang tahu  kabar baru tentang mereka, pembahasan tentang Candra dan Tivani berhenti disitu, lalu beralih ke topik yang utama.


“Jadi Bagaimana Mang, uda dengar ada rencana mu mau nikah”


“Masih rencana bapa udah”


“Apa masalahnya?”


“Aku belum siap uda, inginnya sih tiga tahun lagi, tunggu aku bantu semua adik-adik lulus”


“Kamu bisa  bantu setelah menikah,” ujar bapa uda.


“Akan ada masalah uda jika membantu keluargaku, kalau sudah istri,” ujar Lae.


Menurut keterangan  lae Rudi, keluarga  kekasihnya mendesak kekasihnya untuk menikah, karena mamanya sudah sakit.


“Jadi bagaimana selanjutnya?”


“Biarkan saja Uda, kalau memang aku ditinggalkan tidak apa-apa, untuk tahun ini aku belum bisa nikah, adik-adik mau pada kenaikkan kelas.


Setiap orang punya prinsip hidup masing-masing, begitu juga dengan Lae Rudi, ia menolak menikah tahun ini karena tanggung jawabnya untuk adik-adiknya.


“Bagaimana kalau dia  nikah sama orang lain”


“Tidak apa-apa Lae, kalau itu bisa membuat orang tuanya bahagia”


“Tapi kalian pacaran saudah lama bangat, kan,?


“Tidak apa-apa menikah saja, kadang masih mau berpisah, apalagi aku hanya pacaran.


Saat bicara , tiba aku lihat Arnita  sedang  berdebat di luar, jantungku berdetak  kencang.

__ADS_1


‘Mati aku, apa dia tahu kami pergi ke rumah mantan? Jangan sampai Netta tahu’  bisa-bisa aku tidur diluar’ aku  jadi merasa takut.


Bersambung....


__ADS_2