
Kebahagian tengah meliputi keluarga besar kami baik dari Nainggolan maupun dari Situmorang, menanti kehadiran seorang anak yang akan lahir di tengah- tengah kami, keluarga kami sesuatu penantian yang luar biasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Setelah sebelumnya acara tujuh bulanan berjalan dengan begitu baik dan lancar dan setelah beberapa minggu di Jakarta akhirnya inang mertua kembali ke Samosir, karena lae-laeku masih sekolah jadi pikiran inang tidak tenang, benar juga, seorang ibu akan selalu memikirkan nasip anak-anaknya jika jauh darinya, apa lagi kalau ada anaknya masih kecil seperti si parluhutan, anak laki-laki yang paling bontot yang masih duduk di bangku SD. Padahal sebenarnya aku dan Netta ingin inang itu tinggal sampai Netta melahirkan rupanya, inang juga memikirkan nasip pinahannya(hewan peliharaan) di kampung, takut gak di rawat dengan baik sama lae-laeku.
“Nantilah eda pulang tunggu melahirkan si Netta,” ujar mami.
“Aduh Ed, taulah bagaimana kalau satu rumah di huni sama laki-laku semua, gak tau aku entah dikasih makan atau gak itu pinahanku itu,” ujar inang.
“Padahal Netta ingin eda di sini”
“Nanti kalau kamu sudah melahirkan mama datang pun nanti lagi, kalau mama menuggu sampai kamu melahirkan kelamaan, kasihan adiik-adikkmu, Nang,” ucp ibu ibu mertuaku.
“Baiklah Ma, kalau mama tidak bisa nanti jangan dipaksa, aku tidak apa-apa ada orang bou yang jaga aku dan eda juga, kasihan adik-adik,” ucap Netta pada akhirnya ia juga mengalah.
“Baiklah Boru, sehat-sehatlah kamu sampai lahiran nanti,” ujar inang.
Banyak yang sayang sama mertuaku saat mereka pulang yang kebetulan hari minggu keluarga kami mengantarnya sampai ke bandara.
Setelah inang pulang rumah kami kembali sepi, karena Netta tidak bisa mengerjain pekerjaan rumah, kami memperkerjakan seorang asisten rumah tangga, untuk melakukan pekerjaan rumah.
*
Setelah dua bulan berlalu, hari ini sesui jadwal yang sudah ditentukan dokter Netta akan melahirkan secara operasi. Aku sangat gugup bahkan dua hari sebelum operasi aku sudah mulai sangat gelisah sampai-sampai maka juga tidak selera.
Sementara si borneng terlihat sangat santai ia bersikap biasa saja.
“Apa kamu tidak takut Dek?” Tanyaku hari itu sebelum ia masuk ke ruang operasi.
“Takut pasti ada Bang, tetapi dari pada memikirkan rasa takut, justru aku penasaran wajah mereka, apa dia mirip aku apa kamu ya?”
“Jagoanku pasti mirip bapaknya, kalau anak putriku mirip mamanya,” ucapku seketika sangat bersemangat.
Aku tidak sabar lagi untuk mengendong mereka berdua, memikirkan wajah imut kedua bayiku nanti aku semakin jantungan, sampai-sampai telapak tanganku ikut dingin.
“Apa abang takut?”
“Ya, aku sangat takut”
“Jangan takut Hasian banyak berdoa saja”
“Baiklah,” jawabku menahan perasan.
Netta menelepon Inang mertua sebelum ia masuk ke ruang bersalin, Netta meminta maaf dan meminta doa dari keluarga di kampung.
__ADS_1
“Ma … tamiangkon au da”
“Ma, doakan aku ya)ucap Netta.
“OLo moruku, olo inang sehat do dainang gogo ho martamiang asa sehat hamu na tolu”
“Ya anakku, ya anakku sehat kau ya inang, sunguh-sungguh kau berdoa biar sehat kalian bertiga)ucap Inang mertua, bukan hanya inang Lae Saut juga, mereka mendoakan dan memberinya semangt dan dukungan.
Tadinya aku pikir mam mash mengungkit masalah tentang lahiran normal, tetapi setelah kemarahanku saat itu , mami tidak mau mengungkit hal itu lagi, mami sudh mendukung dan selalu menopangkan tanganny ke kepala Netta dan mendoakannya agar persalinan Netta berhasil.
“Amang Boru, doakan aku ya”
“Ya Inang Ya,” jawab papi.
“Bou, aku ingin minta maaf sama bou, kalau aku ada salah”
“Tidak, tidak ada salahmu samaku inang adekku, bou yang harus minta maaf, maafkan bou ya inang, kamu harus tetap semangat, kami di sini mendukung dan mendoakan kamu,” ujar mami.
“Eda Arkan aku minta maaf”
“Ya Edaku.” Kak Eva memeluknya.
“Eda, Deon, doakan aku ya”
“Ya Edaku, eda harus semangat ya, eda yang akan di operasi, tapi aku yang ketakutan lihat tangannku sampai dingin, tapi aku percaya edap asti kuat,” ujar Arnita.
“Doakan aku ya Bang”
“Ya Hasianku , kamu pasti kuat dan harus tetap semangat,” ucapku memeluk tubuhnya.
Setelah melakukan doa bersama keluarga, Netta di dorong ke ruangan operasi, tadinya teman dokter Netta memintaku yang mendokumentasikan persalinan Netta hari itu, karena aku tidak beran seorang reknnya sesama dokter akhirnya yang merekam persalinan Netta. Baru juga Netta masuk ke ruangan itu aku sudah merasa seperti sudah lama.
Berjalan mondar-mandir seperti setrikaan, sembilan rasanya sangat cepat bagiku, tadinya hanya sebesar kacang hijau dan kini mereka berdua akan lahir dan akan memanggilku Bapak.
“Duduklah bang, jangan khawatir tidak akan lama,” ucap papi.
“Aku sangat takut Pi”
“Banyak berdoa dia akan baik-- baik saja, sudah sini duduk”
Aku menurut, walau tubuhku di sini, tapi jiwaku seolah-olah ada bersama Netta.
*
__ADS_1
Setelah menunggu kira-kira satu jam, akhirnya dokter tersebut dari ruang bersalin, wajahnya tersenyum.
“Selamat Pak, Jonathan anak-anak bapak sehat”
“Bagaimana dengan mamanya Dok?” tanyaku khawatir.
“Mama juga sehat, tunggu saja nanti aka di bawa keruangan,
Tidak lama kemudian mereka di pindahkan ke ruangan khusus bayi, melihat mereka dari balik kaca tidak terasa air mataku menetes bahagia.
‘Terimakasih Tuhan, anak-anakku dan istriku sehat’ ucapku penuh syukur.
Setelah dibersih dan dipakai baju mereka berdua di bawah ke kamar tidak lama kemudian Netta juga datng.
“Sini pak Gendong,” ucap dokter teman Netta.
Aku sangat gugup, setelah diajari cara mengendong akhirnya untuk pertama kalinya jagoanku aku gendong. Aku menangis bahagia melihatnya.
“Ya ampun tampannya, Situmorang kami ini, bapak kamii ini,” ucap kakak Eva mencium pipinya.
“Ya, ampun hidungnya mirip aku mancung,” ucap Arnita mereka berdua bergantian menciuminya sampai bayi merah itu terbangun dan menangi.
Netta melahirkan sepasang anak kembar yang diberi nama Adelio dan Adelia, kedua bayi kembar itu lahir lewat operasi, mereka lahir sehat dan tidak kekurangan apapun.
Lengkap sudah kegembiraan kami setelah kelahiran mereka hidu kami sangat bahagi da rumah yang tadinya sepi kini telah di isi tangisan dua bay sekaligus.
Panggilanku bukan lagi bapak Paima, melainkan bapak Adelio Situmorang, senang rasanya mengemban nama baruku tersebut, karena anak pertama yang ditentukan dokter adalah Adelio jagoanku
Bersambung ….
Kakak Baik mohon bantunya ya, untuk like, vote dan komentar karya ini, kasih hadiah juga agar authornya tambah semangat untuk update tiap hari
Baca juga karyaku yang lain ya.
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (on going)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)