Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Saat Keluarga Berkomplot


__ADS_3

Langkahku panjang menapak di lantai, tubuh serasa enteng tertiup angin, dada seakan bergemuruh ingin meledak, keluar dari kamar Hotel di mana Mikha mengajakku bertemu.


Sebenarnya niat ingin bertemu denganku sudah ia rencanakan beberapa hari lalu, tapi karena aku masuk rumah sakit lagi jadi pertemuan itu tertunda beberapa hari .


Selama berbaring di rumah sakit, aku sudah memikirkannya, kalau aku harus memilih salah satunya, karena tidak mungkin aku menjalani keduanya.


Selama di rumah sakit aku merindukan Netta, saat aku memberinya kabar aku dirawat di rumah sakit, ia ingin datang tapi aku menolaknya,


aku tidak ingin ia menerima perlakuan buruk dari Mami.


Walau, hubungan kami jauh dan renggang, Netta masih rajin bertanya kabarku selama di rumah sakit, itu jugalah yang mendorongku kalau aku harus menemui Mikha dan bicara baik-baik, dan berpisah baik-baik .


Tapi siapa yang menduga kalau ia juga menemui Mami dan adik perempuanku.


Netta tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini dari kami.


Kini aku berdiri di pelataran lobby Hotel, menunggu pak Boy membawaku pulang ke rumah, badanku sebenarnya masih lemah, tapi aku menyempatkan datang menemui Mikha, karena ingin menyelesaikan semuanya dengan Mikha, itu karena tekat ku sudah bulat ingin mengakhiri hubungan terlarang dengan Mikha.


Walau tadi ia bilang ia tidak mau, tapi yang penting aku sudah berusaha menyelesaikannya.


Tangan serasa bergetar dan tubuh seakan kehabisan tenaga, pengakuan Mikha tadi sukses membuat lutut ku bergetar dan jantung serasa di remas,


bagaimana mungkin keluargaku mengkhianati Netta.


Bagaimana seorang ibu menemui wanita yang seharusnya ia larang berhubungan denganku.


Ponsel berhasil aku pegang dan menekan nomor Pak Boy. Tidak sampai lima menit lelaki paruh baya itu sudah berhenti di depan lobby, senyum kecil mengembang di wajah keriputnya.


“Ayo bang kita mau kemana lagi?”


ucap pak Boy ramah.


“Ke rumah,


kita pulang saja pak.”


Ia menatapku, wajahku terlihat menegang,


tanya kenapa?


Saat ini aku sangat kesal dengan Mami dan Arnita.


Apalagi Arnita, ia juga seorang perempuan, tapi bagaimana ia tega mengkhianati Netta.


Tidak berapa lama mobil kami tiba kembali di rumah, kebetulan Mami masih di rumah dan Arnita baru pulang dari sekolah.


“Mami, Apa yang kalian lakukan?”


Wajahnya mendongak padaku, ia dan Arnita lagi sibuk memilih perhiasan yang akan di pakai ke pertemuan teman-temannya nanti malam.


“Apa yang terjadi?.”


“Apa yang Mami rencanakan dengan Mikha?,”

__ADS_1


aku bertanya. Mami memalingkan wajahnya dengan gaya santai.


“Itu bukan hal yang penting.”


“Tidak penting bagaimana Mi? jika itu sudah menyangkut kehidupanku, itu akan jadi masalah penting.”


“Ia hanya ingin mengajak Mami berbisnis, ia punya banyak teman-teman artis yang mau beli barang jualan Mami, itu saja.”


“Harusnya Mami tidak melakukan itu, harusnya Mami menjauhkan wanita itu dari hidupku, karena itu satu kesalahan, sebab aku sudah menikah.”


Mami dan Arnita menatapku dangan bingung.


“Bukanya abang mencintainya?”


“Kamu lagi satu, iya, kamu ngapain menginap di tempatnya dengan teman-temanmu,


kamu mau jadi wanita yang tidak benar?


Sekolah dulu yang benar baru kelayapan kemana-mana,” kataku terbawa emosi .


Mami sepertinya belum tahu kalau ia juga menginap di rumah Mikha.


“Kamu menginap di apartemen wanita itu?”


Arnita gelagapan, ia menundukkan kepalanya.


“Kamu bilang menginap di rumah temanmu ternyata temanmu, Mikha?”


“Iya Maaf” Arnita terlihat menyesal.


“Jangan salahkan Mami Tan, salahkan Netta yang tidak mau menurut.”


Mami menatapku dengan tegas.


“Mami… ia tidak salah apa-apa, ia hanya meminta ingin kuliah, dan aku mampu melakukanya, aku mendukungnya Mi!,


lagian aku senang Mi ia jadi Dokter, aku bangga nantinya, sekarang masalahnya kalian berdua, Jangan menemui Mikha lagi,


jangan membuat masalah makin lebar.


Mami belum sadar juga walau Papi pergi dari rumah?”


Apa kamu memang benar mencintainya Tan, sejak kapan kamu mencintai anak kampung yang tida tahu diri itu?”


“Cinta itu butuh Proses Mi, tidak bisa langsung datang begitu saja, harusnya Mami tau itu karena Mami yang menjodohkan kami.”


“Aku menyesal melakukan itu, andai aku tahu kalau ia bebal seperti itu, lebih baik aku menghiraukan wasiat dari kakek mu.”


Mami seperti menjilat ludahnya sendiri, dulu ia bilang kalau ia tidak akan menyesal.


Ia akan menerima Netta apa adanya jadi menantunya, tapi semua janji itu menguap begitu saja.


Aku tahu itu ia lakukan karena uang dan gengsi.

__ADS_1


“Terserah Mami lah, tapi begini Mi, aku tidak akan mau membuat kesalahan lagi, aku tidak ingin ada hubungan dengan Mikha, karena itu satu kesalahan, aku tidak ingin melakukan kesalahan itu lagi.


Aku ingin memperbaiki kesalahanku, aku tidak ingin berdosa pada almarhum tulang, dan tidak ingin mengingkari janji yang sudah aku ucapkan di hadapan Tuhan


Kalau mami ingin menemui Mikha lagi, itu urusan Mami, aku tidak ada hubungannya dengan itu, jangan bawa-bawa aku.


Harusnya sebagai orang tua memberi peringatan kalau itu salah, dan menuntun untuk lebih baik,


ini Mami kenapa jadi seperti ini sih, dulu Mami tidak begini?”


Mami terlihat diam, aku berharap kata-kataku kali ini bisa menyadarkannya.


“Aku orang tua yang sama seperti yang lain Nathan, Mami hanya ingin cucu, mami ingin menimbang cucu, tapi apa?


Netta bahkan tidak bisa memberikan itu untuk kita, bagaimana Mami mau menerimanya begitu saja.”


“Makanya, jangan percaya omongan orang lain Mami, Netta belum hamil karena aku belum menyentuhnya, Mami…! kami belum melakukan hubungan suami istri sampai saat ini.”


Aku lebih baik mengungkapkan semuanya, aku tidak tahu suasananya makin rumit apa akan berkurang.


Hanya satu yang aku inginkan, mereka semua tidak ada yang menghina Netta ataupun menuduhnya.


“APA!?”


Mami melongo.


“Haaa,” Arnita melihatku dengan bingung.


“Bagaimana Mungkin, selama satu setengah tahun kalian belum melakukanya, itu artinya ia masih suci, dan pergi mungkin kelayapan di luar sana, jangan-jangan, ia sudah melakukannya dengan orang lain.”


Mami menuduhnya lagi.


Mami jangan berpikir yang macam-macam, aku percaya padanya, ia wanita yang punya pendirian dan Prinsip-prinsip yang kuat,


itu juga yang aku sukai darinya Mi.


“Jika ia wanita baik seperti yang kamu pikirkan , ia tidak secepat itu meninggalkan rumah ini Tan,”


Mami tetap saja merasa benar.


“Mi , ia bukan malaikat, kenapa sih tidak sadar kalau salah?. Selama ini hampir dua tahun di rumah ini, Mami marah-marah Mami merendahkannya, apa ia pernah melawan Mami, apa pernah membantah Mami, ia sabar Mi,


mana ada orang batak yang seperti itu Mi.”


Kataku menahan emosi.


“Sekali aku di kecewakan, selamanya akan berbekas di hatiku.”


Kata Mami masih saja tidak mau melunak.


Terserah Mami lah kalau tidak ada niat memperbaiki rumah tanggaku dengan Netta.


Kamu Arnita!

__ADS_1


kalau kamu tidak ingin masa depanmu rusak, jauhi Mikha,” Kataku meninggalkan kedua wanita keras kepala itu.


BERSAMBUNG....


__ADS_2