
Ulaon Pandidion atau acara adat Baptis.
Baru pulang dari Gereja setelah acara Baptisan selesai, Jeny Mollin Siahan anak Kak Eva sudah resmi secara agama menyandang namanya setelah ia dibaptis di Gereja pagi itu, baju putih-putih yang ia kenakan sebagai bukti ia anak yang masih bersih dari dosa dibawa dihadapan Tuhan untuk di berkati.
Semoga nama Jeny Mollin Br Siahaan yang berikan padanya dan sudah diberkati Tuhan, menjadi nama yang akan bersinar untuknya, ia selalu sehat memikul namanya dan menjadi berkat untuk orang lain dan untuk sesama.
Kedua anak kakak Eva setiap kali di baptis selalu dibikin adat Batak, dan deretan acaranya panjang, karena menyangkut Dalihan na Tolu, lambang adat Batak
(Dalihan natolu> tungku berkaki tiga, yang di gambarkan sebagai Tiga kedudukan fungsional sebagai tanda pengikat eratnya tali persaudaraan)
Tiga tungku mewakili tiga pihak
Hula-hula(Keluarga istri) Ya itu kami.
Boru
Dongan tubu
Acara baptis hari itu sudah menyakup ketiga ini, Tradisi ini cukup kuat menjaga keutuhan kekerabatan. Tidak boleh dilanggar di keluarga kami
‘Ada ucapan tulang yang pernah aku dengar dan aku masih ingat sampai saat itu, diucapkan sama mami, karena tidak perduli sama keluarga dulu, sebelum ia tobat.
‘Lebih baik dianggap, tak beragama dari pada tak beradat’
Itulah prinsip kuat adat Batak jaman dulu, Makanya sangat penting dalam adat batak mebjalankan Dalihan Na Tolu dalam keluarga.
Acara Baptis Batak sudah seperti adat besar, karena mengudang semua keluarga dari pihak Siahaan dan Nainggolan, setelah aku dan papi sebagai tulang dan oppung dari pihak perempuan memberi paroppa, atau gendongan sebagai simbol adat baptis.
Acara masih berlangsung panjang, sebelum menikah , dulu aku sangat malas mengikuti acara-acara adat Batak, tetapi setelah menikah aku mulai tertarik mengikuti adat Batak, ternyata unik dan berkesan, karena mengandung banyak banyak pelajaran dan makna hidup, di mana kita diajari bagaimana bersikap hormat pada sesama.
Acara berlangsung sampai sore.
Aku sibuk merekam setiap acara demi acara, agar aku bisa mempelajarinya kemudian, aku tidak mau di cap lagi sebagai Batak Dalle.
“Lagi fotoin apa Bang?” Tanya si Borneng melihatku sibuk merekam
“Lagi rekam acara ini”
“Untuk apa? Kan sudah ada tukang vidio”
__ADS_1
“Ini untukku, agar aku bisa mempelajarinya nanti”
Netta tertawa lalu ia berbisik lagi.
“Apa abang mau raja parhata seperti bapa tua itu?” Ia menunjuk tulang sebagai ahli yang tahu banyak tentang adat Batak.
“Ya. Bagaimana menurutmu, aku yang Raja Parhata kamu yang jadi ratu Parhata”
(Raja Parhata> Orang yang mengerti adat Batak dan biasa yang memimpin rombongan dalam satu acara adat.
Netta tertawa mendengarnya, tetapi ia mendukungku untuk belajar tentang adat Batak, karena yang aku lihat, lelaki yang sudah menikah dituntut untuk tahu tentang adat kultur Batak, karena setiap kita ke acara adat batak, kita harus tahu kita sebagai apa datang ke pesta, apakah bawa ulos atau bawa amplop atau manuppaki, jadi tidak bisa asal bawa sembarangan.
*
Setelah semua acara selesai, seperti biasa kami semua masih berkumpul, karena semua keluarga datang juga saat acara baptisan keponakan kami, keluarga dari Bandung , Bogor, Bekasi juga datang kecuali tante kami yang lagi naik daun.
Ternyata ulah tante yang tidak mau mengurus bapa uda saat sakit terdengar juga pada keluarga pihak Manurung, namboru Candra yang tinggal di Medan datang, menjenguk bapa uda.
Saat mereka tiba, tidak ada yang mengurus bapa uda katanya di rumah, Lasria saat itu kuliah abang nya juga kuliah, Candra lagi di Bandung bersama Tivani sementara Namboru …. Ia lagi bersenang-senang bersama teman-teman sosialitanya.
Keluarga mana yang tidak marah melihat saudaranya ditelantarkan saat lagi sakit.
“Memang na aha didok deba ito?”
(Memang ngomong apa ito?) Tanya mami.
“Lae, ito kan kondisinya semakin parah, bahkan ke kamar mandi pun harus ada yang bantu, jadi maaf, kata karena tidak ada yang tolong , ya semuanya di kursi rodanya, saat orang ito sampai, mereka semua kaget, tidak ada yang merawat dan menjaga lae di rumah”
“Memang sudah separah itu tulang?” Kak Eva kaget.
“Nungga songoni amattaa marsahit margaya-gaya do muse, pailahon, maila iba mambege hata-hata ni jolma di Bogor sana”
(Sudah tahu suaminya sakit bergaya-gaya lagi, sok orang kaya, jadi malu kami mendengar omongan semua orang tentang eda ini)ujar nantulang kembar karena mereka tinggal bersama di Bogor.
“Sekarang banyak katanya utangnya, semua rumah dan mobilnya sudah di jual. Bagaimana dia jadinya?’ Tanya mami menatap semua saudaranya.
“Kau bagaimana Ros? Sudah dibalikin uangmu?” Tanya mami.
“Belum”
__ADS_1
“Haa? Memang uang tante dipinjam?” Aku kaget.
“Ya, karena kakak Rita meminjam uang aku sampai berantam sama bapa udamu, aku mau diusir dari rumah”
“Berapa Tan? Dua puluh juta”
“Lagian kamu pun dikasih.” Mami memarahi tante.
“Katanya buat pengobatan abang itu Kak, aku merasa kasihan, jadi aku kasih tanpa pikir panjang dan ia janjinya bayarnya satu minggu, setelah dia menjual mobil mereka, ternyata setelah lewat satu minggu, aku tagih dia malah marah-marah padaku, dia juga memblokir nomorku,” ujar tante Ros.
Ia banyak diam, rupanya ia bertengkar hebat dengan suaminya, wajahnya terlihat sangat tertekan.
“Jadi bagaimana Ros, memang apa yang dikatakan lae samamu ? aku dengar dari edamu kamu pergi dari rumah,” ujar tulang Bandung.
“Aku bertengkar dengan laemu gara-gara itu ito,” ujar tante, wajahnya terlihat lebih kurus.
“Memangnya lae tidak tahu kamu kasih uang itu sama mama Candra?”
“Gak ito”
“Ago amang, ho pe attong salah do Ros. Ikkon paboando tu amatta niba asa unang adong akka parbadaan”
(Ya ampun, harus dikasih tahu Ros, sama suami biar tidak ada persoalan) ujar tulang yang dari Bandung.
“Kalau aku kasih tahu laemu gak akan kasih ito, sementara kakak Rita sudah nangis-nangis samaku, katanya untuk pengobatan abang, rupanya uangnya untuk foya-foya sama teman-temannya”
“Bah … naung gila do haroa itoon, sampai korban rumah tangga adekna alani ibana”
“Uda … gila ito ini, sampai korban rumah tangga adiknya gara-gara kelakuannya,” ujar tulang Gres.
“Jadi, bagaimana Bapak Paima pendapatmu, bikin dulu tanggapan mu bere, mungkin pemikiran anak muda lebih cemerlang,” tanya tulang .
Tidak biasanya mereka meminta pendapatku, kalau masalah keluarga , biasanya kami anak-anak hanya akan jadi pendengar, saat di minta pendapat dariku aku kaget dan tidak tahu untuk menjawab apa.
“Menurutku sih akan lebih enak kalau kita bicara langsung sama namboru sama uda Roy jadi menunjukkan kalau kita peduli, selama ini uda itu sangat baik”
“Papi setuju dengan pemikiran bapak paima,”ujar papi.
Ternyata apa yang di lakukan Tante sudah memakan korban, tante Ros bertengkar hebat sama bapa uda karena ia meminjamkan uang pada tante tanpa diketahui suaminya
__ADS_1
Bersambung