
Memulai segala sesuatu dari nol bukan hal yang mudah, itu juga yang aku alami saat ini.
Perusahaan punya hutang di mana-mana, akan sulit menjalin kerja sama karena sudah banyak hutang.
Tapi aku tidak akan menyerah, aku mulai dari nol. Tetapi aku tidak akan memaafkan Brayen, ia sepupuku anak dari adik bapak, saat datang ke rumah Brayen minta pertanggungjawaban, malah orang tuanya inang udaku yang minta maaf, karena orangnya sudah hilang bak ditelan bumi.
Seminggu aku datang sendiri dan bekerja sendiri di kantor, kalau biasanya ada ratusan karyawan yang duduk dan berkerja bersamaku, tetapi hari ini hanya nyamuk yang menemaniku dengan setia di kantor, aku mencoba meyakinkan para mitra yang dulu, Namun, tidak mudah menyakinkan orang lain dengan kondisiku saat ini, mereka tidak mau lagi menjalin kerja sama dengan Naima karya, dulunya perusahaan milik keluarga kami itu salah satu kebanggaan Papi, karena beliaulah yang membangunnya mulai dari nol, hingga memiliki ratusan karyawan.
Tetapi kini, semua itu tinggal kenangan, Papi pasti merasa marah dan sedih, tetapi ia menyimpannya dalam hati, mau marah juga tidak ada artinya, karena Mami orang yang menyerahkan perusahaan itu ke tangan Brayen.
Hari ini saat tiba di kantor, aku mencoba menelepon semua mitra kerja kami dulu, tetapi dari puluhan nomor yang aku coba hubungi, tidak ada satupun yang menerima tawaranku.
“Iya ampun ini sangat susah,” ucapku hampir putus asa, terlebih dengan statusku mantan pemakai dan mantan napi.
Seminggu bekerja di kantor, tapi seakan berjalan di tempat, karena tidak membuahkan hasil, lelah, putus, asa itu yang aku alami saat ini.
Ternyata tidak semudah yang aku bayangkan, aku pikir dengan tabungan yang aku miliki, aku bisa membangun dari nol lagi, ternyata sangat susah dan berat. Tidak ada yang percaya lagi pada perusahaan kami, namanya sudah jelek di mana-mana.
“Haduh… berat rasanya, berjuang sendiri tidak ada teman berbagi.
Aku merindukan dia yang jauh di belahan Benua lain” ucapku, menatap foto Netta yang aku selipkan dalam dompet.
Saat aku ini merindukannya, sepertinya batinnya juga bergejolak, saat duduk di dalam ruangan kerjaku tiba-tiba benda pipih persegi empat itu berdering.
Ting ….!
Notif dari ponselku, karena aku lagi banyak pikiran aku abaikan, karena ponselku sekarang jarang ada yang menelepon, sejak aku di masukkan ke pusat rehabilitasi, hanya orang-orang rumah yang rutin meneleponku, dan dari pihak bank untuk menawarkan kartu kredit.
Setelah sepuluh menit, baru jari-jariku mengusap layar ponsel tersebut, mataku menatap kaget.
“Netta ….!?”
Aku berdiri tidak percaya, ia mengirim pesan untukku:
[Abang apa kabarnya?] Tanya Netta.
“Oh… Netta kirim pesan!” Teriakku kegirangan
Aku melompat kegirangan, tiba-tiba, beban dalam pundak ku seakan di angkat dan dibuang, tidak lama kemudian rupanya ia meneleponku.
Driiing …!
Belum juga otakku berpikir jernih, mungkin karena aku kelamaan membalas pesannya, ia menelepon, kali ini aku tidak akan melakukan kesalahan seperti yang terakhir kali aku lakukan
__ADS_1
Dulu, aku bertingkah seakan aku tidak perduli padanya, padahal kenyataanya, aku gila setelah ia pergi, Tetapi kali ini aku akan bilang aku akan menunggunya.
Tetapi saat aku ingin mengangkatnya sambungan telepon dari Netta tiba-tiba terputus, saat di telepon balik, tidak aktif lagi, aku sempat cemas, aku pikir Netta marah karena aku tidak membalas pesannya.
Pesan masuk dari Netta, dengan buru-buru aku usap layar ponsel.
[Bang, nanti aku telepon lagi iya, ini nomorku, aku masuk kelas dulu, hari ini kita ada ujian praktek] Isi pesan Netta.
Dengan lincah jari-jariku mulai menari –nari membalas pesan masuk dari Netta.
[Iya Ta, semoga sukses iya dek, maaf tadi belum sempat balas, abang lagi sibuk, aku akan menunggumu dengan sabar sampai kamu pulang kembali ke Indonesia berusahalah keras]
Isi balasan pesanku untuk Netta, jantung ini masih berdetak dengan cepat, rasa cemas ku belum hilang, setiap kali mengingat Netta, kadang aku berpikir
‘Apa dia masih mau samaku? saat dia tahu kalau aku mantan napi?
Saat dia sudah jadi seorang Dokter, apa Netta mau kembali pada keluargaku yang sudah memperlakukannya dengan buruk? Mungkin ia sudah di lirik bule tampan di Jerman sana’ Kadang pikiran-pikiran seperti ini mengusik pikiranku mengguncang jiwaku, membuatku terkadang berputus asa.
Tapi jauh di lubuk hati ini aku masih berharap Netta datang dan mau menerimaku, apa harapanku terlalu tinggi? Entahlah biarlah seiringnya waktu yang akan menjawabnya.
Kini konsentrasi ku hilang karena Netta mengirim pesan.
Beberapa jam kemudian saat aku membuka file lama perusahaan , ponselku berdering lagi. Kali ini aku menyambarnya dengan cepat berharap itu adalah Netta Ku dan ternyata benar, lagi-lagi jantung ini seakan-akan melompat dari rongga dadaku.
“Halo Bang, lagi sibuk?”
“Tidak Ta” Jawabku mengepal tanganku dengan kuat untuk menahan guncangan dari dalam dada.
“Bang … aku pinjam ponsel teman kita video call iya?”
“Apa?”
Aku kaget bercampur panik, wajahku dan tubuhku sudah berubah saat ini.
Belum juga aku jawab iya, Netta mengganti dengan sambungan vidio call.
“Abang apa kabar?” Netta melambai ke arah Kamera.
Saat melihat wajahnya yang semakin cantik membuat mulutku tidak bisa bicara, dan lagi-lagi jantung berdetak tidak karuan, bibirku seolah-olah terkunci rapat, aku hanya terdiam menatap senyum Netta yang manis, ia tampak sangat berbeda saat dibalut jubah dokter yang ia pakai.
“Bang di sini dingin karena sebentar lagi akan musim salju,” ucapnya lagi.
“Tadi, aku lagi ujian praktek, tapi Puji Tuhan aku bisa menyelesaikannya dengan baik,” ujar Netta, ia tidak menyinggung tentang penampilanku yang berubah jelek.
__ADS_1
‘Apa Netta sudah tahu apa yang terjadi padaku?’ tanyaku dalam hati.
“Ta …!”
“Iya Bang.”
“Aku ingin datang ke sana ke Jerman untuk menemui mu,” ujar ku, akhirnya kalimat itu bisa aku ucapkan juga.
“Tidak bisa Bang, kami di sini tinggal di asrama kampus, tidak boleh sembarangan keluar.”
“Lalu?”
“Abang tunggu aku pulang ke Jakarta, baik-baik di sana iya, jaga kesehatan. Sudah dulu iya bang mau masuk kelas lagi kapan- kapan aku telepon lagi.”
“Baiklah, tetap semangat iya Ta.”
“Baik Bang.”
Ia melambai dan menutup telepon, melihat wajah dan senyum Netta, aku serasa mendapat suntikan vitamin baru, aku sangat bahagia.
Tadinya niatku ingin mencoba menemui Netta lagi, tetapi karena peraturan dari kampus Netta yang tidak boleh berkunjung, jadi aku hanya menunggunya dengan sabar.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasih untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)
__ADS_1