Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Ajakan Ipar


__ADS_3

Masih di rumah papi, setelah makan malam aku niatnya ingin langsung pulang ke rumah kami, tetapi  mami udah  langsung merepet.


“Memangnya kalian langsung ngapain  ke rumah?”


”Si Milom sendirian di rumah Mi”


“Ah … dokdo apala biangi. Jagalhaon ”


( Ah … baru anjing doang, bikin daging saja itu) ujar mami bercanda.


Si borneng langsung protes. “Eh … namboru ini! Janganlah  dia sudah seperti keluarga di rumah kami,” ujar Netta.


“Menginap lah kalian dulu di sini semua, besok kan tanggal merah, biar pergi kita ke rumah Ito Gres”


“Haaa tumben!” Teriak  kami bertiga serentak


Papi tertawa, karena biasanya mami itu paling malas kalau diajak ke rumah keluarga, apalagi rumah tulang banyak bangat alasannya, jauhlah, jalanan macet lah.  Tetapi hari itu tumben mami ajak kami ke rumah tulang.


“Ah, kalian mami jadi serba salah, mami berubah baik juga masih tetap kalian ledekin,” ujar papi membela istrinya.


“Bukan  begitu Pi, mami itu kan tidak pernah mau diajak pergi ke rumah tulang,” ujar Kak Eva.


“Mami kan sudah tua, sudah sepatutnya banyak melakukan kebaikan dan meminta maaf pada orang yang pernah mami  buat sakit hati, dengan begitu mami berharap berkat akan semakin melimpah untuk anak-anak mami”


“Oh Amin,” balas papi.


“Baiklah kalau  begitu, kami akan tidur  di sini dengan Netta”


                       *


Saat pagi tiba tidak biasanya mami bangun dan berangkat pagi-pagi ke pasar, untuk belanja .


“Mami tida apa-apa kan, tidak merasa ada yang sakit?’ Tanya papi.


“Tidak memang kenapa?”


“Hal-hal seperti terkadang membuat papi khawatir, aku takut saja mami  pasuang-suakkon”


(Pasung-suakkon > tanda-tanda orang mau meninggal”


“Gak Lah, kita akan masak  dan bawa ke rumah ito, kita makan bersama di sana”


Mendengar hal itu rasanya senang bangat.


“Kalau Arnita tidak kuat tidak usah ikut,” ujar papi.


Ia melihat wajah Juna yang kurang setuju kalau istrinya ikut ke rumah tulang, ia  sangat khawatir .

__ADS_1


“Gak ah aku ikut Pi.” Arnita  tetap mau ikut.


“Jangan dipaksakan kalau suamimu melarang , Nita.” Kak  menasihatinya.


“Aku kuat kok kakak tidak akan terjadi apa-apa, ada yang mau aku kasih sama si Gres, sudah lama aku janjikan, sebenarnya sudah lama aku mengajak mami ke sana”


“Tapi, kamu sama suami jangan sampai bertengkar, harus menurut apa kata suami,” ujar ku menasihati.


“Iya Bang”


Saat mereka semua repot memasak di dapur, aku memilih duduk di luar di dekat kolam ikan papi. Tiba-tiba Juna datang.


Wajahnya  terlihat ingin mengatakan sesuatu padaku.


“Ada apa?”


“Jo …”


“Jangan panggil lagi namaku, ku pecat nanti kamu jadi laeku”


Begini jadinya kalau  teman sendiri yang jadi ipar, ia sering sekali lupa memanggil dengan panggilan lae.


“Oh, maaf, begini lae …”


“Apa?”


Aku berpikir ia akan meminta bantuan ku untuk melarang Arnita ikut ke rumah tulang.


“Ha untuk apa?”


Harusnya aku juga meminta maaf padanya, karena saat di penjara aku meminta  lelaki setengah  jadi mengerjainya, tetapi untuk apa ia tiba-tiba meminta maaf padaku?


“Karena sebenarnya di masa lalu banyak hal buruk yang aku lakukan di belakangmu”


“Sudah lupakan masa lalu, jangan di bahas lagi, aku benci bahas itu lagi”


“Aku tahu, biar hilang semua rasa bersalah di hatiku. Termasuk kesalahan masa lalu, sebenarnya   mantan kekasihmu  saat kuliah dulu, aku yang melaporkan kalian ke polisi”


Aku  diam menarik napas panjang, aku tidak marah karena itu hanya masa lalu, aku sudah punya kehidupan yang jauh lebih baik saat ini, segala mantan sudah aku lupakan semuanya.


“Aku tidak marah lagi, lupakan saja. Aku sudah bilang padamu lupakan masa lalu kalau mau rumah tanggamu selamat”


“Biar hatiku aman dan tenang, tolonglah memaafkan ku, aku tidak mau mengalami hal buruk lagi. Terutama dengan kandungan Arnita”


“Memang kenapa?”


“Sebenarnya …. Arnita sudah  keguguran sekali, ini yang kedua”

__ADS_1


“Ha? Kok kalian gak pernah bilang,” ucapku kaget,


“Dia tidak mau amang sedih, makannya sia gak bilang”


“Baiklah aku memaafkan,” balasku.


“Sebenarnya -”


“Apalagi  banyak bangat permintaanmu,” potongku kesal.


“Yo kita maaf ke Lianta”


“Untuk apa?”


“Karena kita banyak salah padanya”


“Kamu yang bersalah, aku tidak, kamu yang selingkuh darinya,” balasku.


“Tapi kamu juga  ikut menyebabkan dia bercerai dengan suaminya, coba kamu tidak mengaku saat itu, mungkin  mereka akan bersama sampai saat ini , kita tidak akan dapat sumpah serapah darinya. Ayolah Bro, kita meminta maaf apa salahnya.” Juna memohon.


Ia melakukan apapun demi kebaikan istrinya,  ia percaya dengan kutukan, Juna berpikir keguguran yang pernah dialami Arnita karena kutukan para mantannya yang pernah ia sakiti dulu.


Kelakukan Juna denganku di masa lalu memang sebelas dua belas, sama-sama akka jolma simaup.


“Apa ingin berniat meminta maaf pada semua mantanmu? Apa kamu hitung berapa jumlah mereka? Sori aku memang brengsek di masa lalu tetapi aku masih ingat berapa orang mantanku”


“Aku masih ingat siapa-siapa saja yang aku sakiti,” ujar Juna.


“Mampus kita kalau istri kita sampai tahu kita pergi ke mantan. Ogah aku tidak mau,” ujar ku menolak.


“Mereka tidak akan tahu, toh juga mereka semua sudah punya kehidupan sendiri. Kita hanya perlu minta maaf Jo, biar rumah tangga kita terhindar dari hal-hal buruk, aku khawatir terjadi hal buruk, sama istri dan calon anak gue.


 Ayolah temani aku sebentar sebelum kita pergi, rumahnya tidak jauh dari sini”


Lae yang menyesatkan memang si Juna, masa hula-hulanya diajak untuk bertemu mantan pacarnya, belum lagi dia selalu lupa memanggilku lae, resiko teman sama-sama nakal jadi lae sendiri.


“Ja, jo, ja, jo Lae oto …,” rutukku kesal.


“Ya, maaf aku hanya lupa. Ayo ini hanya rahasia kita berdua, istri kita tidak akan tahu,” bujuk Juna.


“Dengar, kalau Netta marah ngeri, bisa-bisa aku disuruh tidur sama si Milon di luar, karena kami sudah punya kesepakatan tidak ada yang boleh bertemu mantan, tanpa sepengatahuan pasangan, kalau melanggar hukumannya bikin badan bisa meriang,” ujar ku.


“Emang apa”


“Disuruh tidur diluar, itu yang pertama yang kedua tidak dikasih jatah ranjang selama satu bulan”


Juna tertawa ngakak mendengarnya. “ Tenang lae tidak akan ketahuan, kita hanya sepuluh menit saja, minta maaf sama Lianta  lalu pulang”

__ADS_1


Aku sebenarnya tidak mau, berhubung Juna selalu memohon dan membujuk aku  setuju, bukan untuk selingkuh, tetapi hanya ingin meminta maaf agar hal-hal buruk dan kesialan dalam rumah tangga Juna dijauhkan dari kutukan,aku meminta izin pada Netta menemani Juna, ia mengangguk tanpa curiga.


Bersambung ...


__ADS_2