Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Setelah pesta Saur Matua


__ADS_3

Setelah selesai sederetan acara  adat saurmatua oppung kami kegiatan diadakan pesta besar,  karena anak-anaknya sudah sukses, seharusnya untuk pesta saur matua seperti ini, tidak ada lagi acara tangis -tangisan karena oppung juga sudah sangat tua.


Kaki terasa pegal,  karena manortor atau menari, dan berdiri  hampir satu hari, tetapi bersyukur  karena acara adat saur matua oppung kami, bisa berjalan  dengan baik tanpa ada kekurangan apapun.


Aku masih berdiri di di kamar Netta membuka dasi yang aku pakai, menarik nafas berat, aku merasa ada sesuatu yang akan dibahas nanti termasuk masalah rumah tangga kami dengan Netta.


“Abang kenapa?” tanya Netta yang tiba-tiba masuk.


“Aku tahu akan ada pertengkaran dan perdebatan besar nanti, aku merasa sedikit takut, terlebih masalah rumah tangga kita nanti,” ucapku dengan sangat berat.


“Tidak apa-apa Bang, perdebatan itu hal biasa di setiap keluarga, apalagi sudah mengumpul begini,” ucap Netta terlihat tenang, berbanding balik denganku yang merasa gelisah.


“Tapi aku merasa tidak percaya diri lagi Ta, aku melempem ini.”


Netta tertawa kecil, melihatku yang tiba-tiba seperti ayam sayur, saat bertemu keluarga besar malam ini.


“Abang mau gak mereka semua tidak terlalu marah lagi nanti?” tanya Netta menatapku serius.


“Maulah, apa yang kita harus lakukan?”


“Ayo kita beli minuman, saat mereka sudah mulai emosi nanti, kita baru keluarkan” Netta memberikan usulannya.


Netta asli orang Toba Samosir,  ia sangat tahu kebiasaan orang Batak saat kumpul, dalam acara  baik di acara  arisan maupun acara keluarga, pasti tidak jauh dari namanya tuak dan bir serta pendampingnya kacang, bukanya hanya di kampung Netta seperti itu, di setiap acara yang ada kumpulan Batak pasti seperti itu juga.


“Maksudmu kita buat mereka tepar?” Tanyaku.


“Iya,” jawab Netta enteng.


“Ah, rasanya tidak sopan Ta, membuat keluarga kita tepar,” kataku menolak.


“Tenang Bang, aku sudah mengenal bapa uda sama bapa tua di kampung ini, mereka justru merasa dihargai kalau kita beli minuman untuk mereka,” kata Netta.


“Benarkah?”


“Iya, kita belinya jangan sampai berkarton-kanton juga, satu krat saja, beli kacang cocacola, buat ibu-ibu,” ucap Netta.


“Ok aku pamit papi takut di cariin,” aku setuju ide Netta, memberi kabar sama Papi, supaya tidak di cariin nanti.


Netta juga pamit, “Kita naik motor apa naik mobil Ta?”


“Mobil saja, takut hujan,” sahut Netta, Padahal aku tadinya ingin naik motor, ingin berduaan dengan Netta, tapi karena takut hujan kita memutuskan naik mobil.


Niat ingin berduaan, lagi-lagi jadi batal, tiba-tiba adik-adik Netta minta ikut, ada rasa kecewa sedikit. Tapi berkat mereka aku bisa tertawa ngakak, saat adik-adik Netta menceritakan kejelekan Netta dengan bahasa daerah yang masih kental, adik-adik Netta sangat riuh dalam mobil, semuanya adik dan abang Netta berjenis kelamin laki-laki, bisa dibayangkan dalam rumah keriuhan mereka.


Mereka anak-anak baik dan pintar, saat di bawa ke Toko, tidak banyak permintaan setiap kali meminta sesuatu, pasti melirik Netta minta izin.

__ADS_1


“Ambillah apa yang kalian suka mumpung ada aku disini,” kataku.


“Tohodo Lae? Boi hubuat buku satu lusin?”


(Benar Lae, bisa aku ambil buku satu lusin?)”


Tanya adik Netta.


“Jangan-jangan besok saja kita belanja sekarang masih ada acara di rumah, nanti kami di marahin,” kata Netta.


“Oh, iya besok saja iya, ambil minuman sama kacang saja dulu,” kataku, tapi terlihat raut kecewa di wajah mereka, tapi tidak membantah.


Mungkin anak kota di ajak ke Mall dan jalan-jalan sudah hal biasa, tapi adik-adik ipar ku anak kampung, diajak ke toko jualan serba guna saja mereka sudah terlihat sangat senang.


“Ta, mereka terlihat sedih, biarkan mereka ambil yang mereka suka, tambahannya besok kita bawa belanja ke tempat yang lengkap, bagaimana?”


“Maaf iya bang, adik-adikku merepotkan, maklum orang-orang kampung.


“Adik-adikmu, adikku juga Ta,” kataku menatapnya.


“Baiklah, ambil dengan cepat apa yang kalian inginkan, tapi besok kita pergi lagi belanja sepuasnya.”


Mata mereka menimang, menatapku dan menatap Netta bergantian.


(Kalau kami ambil sekarang besok masih bisa dapat belanja gak?)”


“Masih bisa … ambillah cepat” ucap Netta, ia kakak yang sangat baik sama adik-adiknya.


“Sudah Kak.” ujar  mereka berlima serempak. Aku tertawa, hanya satu bungkus per orang jajanan.


“Baiklah besok kita belanja lagi iya lae,” kataku.


“Boi do sepatu sikkola marsongot lae?”


(bisa gak sepatu sekolah besok lae?”) adik Netta yang SMA meminta sepatu.


“Boi lae” ( bisa Lae)


“Au mobil remot boi abang?”


(Aku mobil remot bisa bang)” kata adik Netta yang paling kecil, ia tidak mau ketinggalan, umurnya masih enam tahun, saat kami menikah dulu umurnya baru satu tahun saat bapak Netta meninggal ia belum tahu apa-apa.


“Bisa lae kecil, mau berapa ekor” tanyaku bercanda.


Ia menghitung pakai jari-jari melihat abang-abangnya satu persatu, ” Tolu abang”(Tiga bang)

__ADS_1


Kita semua tertawa, adik-adik Netta selalu mengunakan bahasa keseharian bahasa daerah.


Menghidupkan mesin mobil meninggalkan toko serbaguna,


Aku masih memikirkan pembahasan malam ini. “Masih memikirkan hal itu, bang?” tanya Netta menatapku dan adik-adiknya ikut melihatku.


“Ini kalian nonton YouTube dari handphoneku.” Aku memberikan ponselku untuk adik-adik Netta untuk mengalihkan perhatian mereka.


“Ta, kamu tahu, kalau Bou Candra ingin kamu menantunya?” Tanyaku dengan gugup.


“Tahu”jawab Netta.


Aku mengerem mendadak saat bilang tahu.


“Kapan?” Tanyaku kaget.


“Sudah dari awal itu Bang, sebelum kita menikah, amang boru itu mengungkapkan keinginannya untuk menjadikanku menantunya, tapi oppung pesannya kita yang di jodohkan, maka itu bapak menolaknya, karena itu juga bou Candra tidak ikut ke pesta kita saat itu.”


“Maksudmu sebelum kita menikah-“


“Aku jujur saja iya bang, sebelum menikah, bang Candra sudah meneleponku beberapa kali, saat aku masih SMA, aku sama bang Candra sempat diminta berpacaran jarak jauh, karena di jodohkan sama bou itu,” kata Netta.


“Apa?” mobil itu berhenti dengan sendirinya, aku menatap Netta, tidak percaya. “Maksudmu aku yang merebut kamu dari dia begitu?”  Tanyaku lagi.


Bersambung ….


Hai kakak semua mohon bantuannya iya, kalau bisa  share cerita ini ke facebook kakak semua, biar pembacanya semakin banyak, karena peminatnya masih sepi nih ...


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


 LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)

__ADS_1


__ADS_2