
“Berhentilah sok kaya, kalau miskin tidak usah tinggi-tinggi cita-citamu, aku sama bapakmu tidak akan mampu menyekolahkan, terimalah nasibmu dan
terima perjodohan ini, menikahlah..! tidak usah macam –macam, awas kamu berpikir macam-macam, kamu beruntung Namboru mu kaya,”(dalam bahasa daerah) kata Bibiku ia masih berdiri di belakang Nettania.
Nettania terlihat tidak membantah lagi, ia diam tapi sesekali ia menyeka air matanya dengan punggung tangannya dan tetap melanjutkan mengerjakan pekerjaannya. Tulang, bapak Nettania juga ada di sana, ia hanya diam , tidak membela Bibiku juga, ia tidak membujuk Netta. Beliau hanya diam, tidak mau bicara, Paman tidak menundukkan wajahnya.
Tulang sepertinya tidak terlalu menyukai pernikahan ini, matanya terlihat sedih menatap putrinya yang saat ini menangis.
Tulang sepertinya tidak menyukai kami di jodohkan, tapi beliau tidak bisa berbuat apa-apa, Karena Nantulang sepertinya jauh lebih galak.
Oh jadi ia juga tidak menyukai perjodohan ni? Ini semakin menarik, kami berdua tidak menyukai pernikahan ini, lebih baik ngomong terus terang pada keluarga agar pernikahan ini di rundingkan kembali.
Sekarang aku mengerti kenapa ia bersikap dingin padaku, ternyata pariban kecilku ingin kuliah daripada menikah. Di satu sisi aku menyukai sikap itu.
Hal besar yang di sudah di rencanakan keluarga kami tidak mungkin kami batalkan begitu saja karena ini sudah kesepakatan orang tua, wasiat dari mendiang oppung doliku atau kakekku.
Suka tidak suka pernikahan kami akan tetap berlangsung, ini juga keinginan Oppung boruku atau nenekku yang saat ini sudah sakit-sakitan.
Baiklah, menikah saja tidak apa-apa , setidaknya Nettania tidak menyukai pernikahan ini, berarti ia juga mungkin tidak keberatan jika aku tetap berhubungan dengan kekasihku walau kami sudah menikah, itulah yang aku pikirkan.
Hari ini, kami akan Martumppol Nettania tampil anggun dengan polesan dan keajaiban tukang rias yan memoles wajahnya, pulau-pulau di wajahnya bisa tertutupi dan ia terlihat anggun dengan kebaya berwarna hijau.
Walau ia tidak menyukai perjodohan kami, tapi ia bisa bersikap tenang dan seolah tidak terjadi apa-apa pada hatinya.
Padahal aku sudah melihat bagaimana ia berusaha keras menolak perjodohan ini, bukan hanya sekali, tapi dua kali kedapatan mataku memohon untuk menghentikan pernikahan kami agar ia bisa kuliah, tapi dua kali juga ia gagal membujuk kedua orang tuanya.
Kami Martuppol di Gereja sederhana di Pandiagan. Teman-teman Nettania terlihat ikut juga mendampinginya dan selalu menemaninya saling bercanda, tapi Nia terlihat hanya tersenyum ringan.
Kenapa Ia bisa bersikap dewasa seperti itu, saat teman-temanya bersikap masih layaknya orang remaja yang masih suka labil. Tapi Nettania lebih dewasa dari semua teman-teman sebayanya.
Walau ia di ledekin sama teman-temanya, ia akan menanggapinya dengan tenang dan jawabannya yang terdengar lebih dewasa.
Acara martuppol sudah terlaksana, cincin sudah terpasang di jari-jarinya dan di jari-jariku.
__ADS_1
“Ayo kita bicara berdua, aku ingin bicara dengan kamu kataku,” saat kami tiba di rumah setelah dari gereja.
“Ada apa bang?” wajah terlihat santai.
“Kita bicara di luar saja.” Aku, Berjalan didepannya.
“Ada apa bang?”
“Begini, aku dengar kamu tidak menyukai perjodohan kita. Aku tidak tau alasannya dan tidak mau tau juga alasannya, karena aku sendiri juga tidak menginginkan perjodohan ini, tapi aku memilih menuruti permintaan keluargaku demi menjalankan tradisi di keluarga kita, jadi aku berharap kamu mengerti apa maksudku, jadi ayo kita jalankan pernikahan ini,” ia terlihat bingung dengan kata-kataku.
Ia hanya diam, tatapan matanya kosong tidak bermakna, aku jadi berpikir apa kata-kataku terdengar kasar?
“Berapa tahun umurmu?”
“Apa umurku jadi hal yang penting buat abang saat ini?,” jawabnya dengan berani.
“Tentu, setidaknya aku tahu kalau wanita yang aku nikahi seorang anak kecil,”
“Kalau kamu sudah tahu aku anak kecil kenapa kamu masih mau menikahi ku?” jawabnya.
“Sejak kapan orang kota sepertimu yang tidak mengerti tentang filsafat adat bicara adat padaku?” katanya ekspresi wajahnya datar dan terlihat sangat dingin.
Dek!!
Aku merasa jantungku ingin melompat dari dadaku saat mendengar ucapannya.
“Bukankah kamu tidak terlalu kecil dan terlalu muda untuk bicara formal pada aku?”
Ia menarik nafas panjang, ia tidak suka jika aku memperlakukannya seperti anak kecil.
“Umur tidak menentukan orang bisa dewasa apa tidak itu benar, harusnya umur abang yang jauh lebih tua harusnya bicara yang mengayomi saya, bukannya bersikap sombong dan bersikap sok tahu segalanya,” katanya,
Kami berdua bertengkar, perempuan yang aku anggap sebagai anak kecil itu ternyata pola pikirnya cerdas dan berpikir kritis dan tajam.
__ADS_1
“Aku tidak perduli dengan pikiran kamu, tidak perduli juga dengan keinginan kamu yang kuliah itu, aku hanya ingin menyelesaikan semuanya dan kembali ke Jakarta,” kataku ikut-ikutan marah.
“Kamu lelaki yang sok tahu.” Katanya meninggalkan aku.
Kenapa aku jadi ikut-ikutan marah sih, bukan seperti ini tadi yang aku inginkan , aku hanya berniat bicara baik-baik padanya, kenapa jadi ngelantur keman-mana sih.
Saat hari itu Nettania tidak mau bicara padaku, ia marah, setiap melihatku matanya sinis. Masih banyak acara yang kami lakukan sebelum pesta, saat orang bergembira menyambut satu pesta besar yang di laksanakan di kampung itu tapi Nettaania sejak pertengkaran kami ia tidak mau keluar dari rumah, ia memilih semedi di rumah, tentu saja membuat semuanya jadi khawatir.
“Boasa dang olo si Netta ro tuson mangan, aturan na rap mangan, rap hundul do dohot halletna on,” (kenapa si Netta tidak datang ke rumah ini? harusnya ia sama-sama duduk )
kata nenekku.
Semua orang membujuknya untuk datang, tapi ia tidak mau melihatku, dari saat itu aku berpikir ia wanita yang berwatak keras.
“Aku harus meminta maaf tulang, Mi, semua yang ada di rumah ini, sebenarnya itu gara-gara aku, aku yang kemarin yang memarahinya makanya ia gak mau melihatku,” lebih baik bicara jujur di depan keluarga daripada ada masalah besar nanti.
“Kamu bagaimana sih, Than, ia orang yang baik dan sopan, sejak bicara bertemu denganmu kenapa malah berubah? Kamu harus bertanggung jawab, minta maaf padanya dan bawa ia kesini bagaimanapun caranya,” kata papi memaksaku mengajak Nettania ke rumah nenek untuk makan bersama, rumahnya tidak jauh hanya jarak beberapa puluh meter dari rumah nenekku.
“Baiklah aku akan coba pi, kataku ragu, acara makan ditunda kalau Nettania tidak datang.
Aku datang membujuk Netta berharap ia tidak marah.
Tok..tok...
Aku mengetuk rumah papan milik keluarga Nettania.
Ia datang membukanya, di dalam rumahnya ada ,Betaria, Revina, Sina dan Wati ke empat temannya
“..Eh abang datang kesini, mau lihat kita, iya,” kata Betaria.
“Tidak aku mau mengajak Netta” kataku menatapnya.
“Aku meminta maaf karena ucapanku yang waktu itu,” mencoba membujuknya.
__ADS_1
Bersambung...