
Samosir.
Pukul 05:00
Hanya visual.
Suara ayam udah mulai terdengar saling bersahut-sahutan, udara pagi makin terasa dingin menusuk sampai ke tulang-tulang , udara di Desa Dolok Martahan memang sangat dingin, sampai jam sepuluh pagi saja terkadang masih terlihat ber-embun.
Karena tipisnya selimut membuatku semakin meringkuk, bukan hanya aku yang meringkuk kedua kakak adik Edo dan Chandra juga ikut meringkuk, merasakan dinginnya Ac alami di kampung Netta.
Saat meringkuk kedinginan, aku merasakan tubuhku di selimuti dengan selimut tebal, tanpa membuka mata, aku menebak itu pasti Papi kalau tidak Netta, penasaran aku membuka mata sedikit mengintip, oh ternyata bukan keduanya, itu ibu mertuaku mamanya Netta, beliau menyelimuti ku yang kedinginan.
Niatku tadi ingin mengagetkan kalau itu Netta, ternyata ibu mertuaku yang menyelimuti dengan selimut tebal.
‘Iya ampun itu nantulang … ibu mertuaku, untung tidak aku kagetkan tadi’ ujar ku dalam hati, aku menutup mataku kembali, rasanya sangat bahagia karena kedua wanita itu, ibu dan anak sangat perhatian padaku.
Saat matahari sudah mengintip malu- malu dari di ufuk timur, aku dan kedua lelaki muda itu, enggan untuk bangun malah tambah meringkuk, tidur lebih pulas tidak ada yang menggangu saat ini seperti hari kemarin, mungkin karena tidak ada lagi acara yang penting, maka itu mereka membiarkan kami tidur hingga siang.
Saat lagi tidur pulas di bawah selimut tebal, tiba-tiba suara yang tidak asing membangunkan ku, Netta membangunkan ku.
“Bang, bangun, kita jadi pergi gak?”
“Kemana?”
“Lah …, kan, abang yang janji sama bocil-bocil itu,” kata Netta.
Karena baru bangun, otakku belum merespon, aku tidak ingat apa yang telah aku janjikan pada adik-adik Netta tadi malam.
“Apa? aku lupa.”
“Abang janji bawa mereka belanja’ kan?”
Aku kurang tidur karena keributan yang di lakukan tante Candra membuatku melupakan janji penting pada adik-adik Netta, ini tidak boleh terjadi, mereka itu hula-hula, saudara laki-laki istri, dalam adat Batak wajib di hormati.
“Oh… iya, aku lupa, aku mandi dulu,” ujar ku bangun bergegas ke kamar mandi.
“Ga usah mandi bang, tidak bakalan kuat, airnya pagi ini kayak es, lebih dingin dari yang kemarin pagi, karena air ini air tampungan air hujan,” kata Netta, di kampung Netta walau di kelilingi Danau Toba, tapi kampung Netta sering sekali kekurangan air, maka sering sekali air hujan ditampung untuk keperluan sehari-hari.
“Baiklah aku cuci muka saja.”
Melangkah ke kamar mandi, tanpa alas kaki, benar kata Netta, jangan untuk mandi, cuci muka saja dan membasuh wajahku serasa menggunakan air es, dingin bangat.
__ADS_1
“Buuurrrr dingin amat gila,” keluhku kabur dari kamar mandi.
Sejak tiba di kampung Netta, bisa dihitung aku hanya mandi beberapa kali, karena tidak kuat dengan suasana dingin.
Saat melangkah keluar adik –adik Netta sudah berbaris menunggu dengan tertib di samping mobil yang kami sewa untuk keperluan selama di kampung.
“Nungga siap hami Lae (Sudah siap kami abang)” kata Saudara Netta.
“Ok, ok lae bentar iya,” kataku niatku sebelum berangkat ingin mengisi perut dengan serapan tadi, melihat mereka berbaris rapih seperti itu membuatku merasa tidak enak, tadi malam hanya lima orang adiknya, sekarang semua jadi ikut.
Bahkan laeku yang paling besar ikut, semua saudara Netta juga ikut, aku merasa kagok, karena abang Netta dan istrinya tiba-tiba ikut juga.
Saat Netta datang, ternyata ibu mertuaku juga ikut.
Lah buset! apa ini muat iya, dalam mobil itu artinya kami dua belas orang.
“Dohot jo hami da lae, adong mamereng perlengkapan ni bayi sekalian”(Ikutlah kami iya lae, mau lihat perlengkapan bayi sekalian) kata abang Netta, laeku paling besar.
Netta terlihat malu melihatku, aku bukan tidak mau, tapi… masalahnya apa muat semua? soalnya ada wanita hamil yang ikut, kalau di Jakarta sudah di rajia karena terlalu banyak penumpangnya, untung mobil yang kami sewa mobil agak besar yang mampu menampung banyak tapi resikonya sempit-sempitan.
“Boleh Lae, tapi, masalahnya apa kita semua muat?”
“Pangku-pangkuanpun kami di belakang bang,” ucap seorang adik Netta di sahuti anggukan dari yang lain.
“Iya bang tidak apa-apa, justru lebih seru,” jawab mereka bersemangat.
“Ok bisa enam di belakang, empat di tengah, dua didepan?”
“Bisa!!”
Jadilah susunan ikan asin, enam adik-adik yang kecil di jok paling belakang, di tengah, abang Netta dan istrinya dan ibu mertuaku dan Netta di tengah dan di depan abang Netta yang nomor dua, satu keluarga Netta ada dalam satu mobil.
Saat kami mau berangkat, tiba-tiba tante Candra datang lagi, ia mengoceh tidak jelas,
“Mau kemana kalian?”
“Kami mau beli buku si Parasian, sama sepatu Silamhot Tante.”
“Sudah banyak duit kalian iya, kami datang kesini masa kalian pergi semua?”
“Bou itu kan rumah Bou, lagian masih banyak orang di sana,” kata Netta.
__ADS_1
“Terus kenapa hanya kalian yang pergi tidak mengajak kami, atau mengajak orang si Candra sama si Edo?”
“Tadi sudah aku ajaknya bou, tapi tidak mau, masih mau tidur katanya,” kata abang Netta yang duduk di sebelahku.
“Eta-eta ma amang na laho ribut do annon i torus” ( ayo-ayolah nanti makin ribut dia) kata Mertuaku
“Nanti kita bicara lagi Tan, kami mau pergi dulu,” kataku ingin menghidupkan mobilnya.
“Mau menghabiskan mas mamaku itunya eda’kan? Enak kali eda iya, kaya bangat dari harta mamaku.”
Tante selalu cari perkara, tidak malam tidak siang, ia selalu mengusik ketenangan semua orang, siapapun mendengar mamanya di rendahkan akan marah, mungkin dulu tante sudah biasa bicara merendahkan pada Mertuaku, tapi beliau selalu diam, tapi saat ini tidak akan sama lagi, karena anak-anaknya sudah besar apa lagi abang Netta yang paling besar, lae Saut sudah berkeluarga, ia sekarang menggantikan sosok bapaknya di keluarganya.
“Apanya Bou bilang?” Abang Netta marah, keluar dari mobil.
“Ito, sudah, jangan di ladeni,” ucap Netta mencoba menenangkan abangnya .
Kehebohan terjadi di pagi hari, depan rumah Netta mendadak rame lagi, karena Tante Candra teriak-teriak seperti orang gila mengundang perhatian orang-orang.
“Aku tidak sudi, tidak akan rela kalian mengambil harta mamaku, kami yang memberikan itu sebagian, mamaku sudah matia-matian mengumpulkan itu dari dia masih muda, masa orang asing mendapatkan anaknya tidak? Itu tidak mungkin aku jamin itu, itu semua akal-akal kalian, aku tidak akan ridho aku tidak akan ikhlas, iya Tuhan… tidak mungkin mamaku seperti itu” kata Tante
“Ai ahai bo…? Gogo suaramu unang songoni tu namborumi tokka bah, Bapa.”
(Kenapa suara meninggi seperti itu, bang tidak sopan membentak bibimu) ucap seorang tante yang datang dari rumah tetangga Netta.
Tapi bou masih saja menangis meraung-raung membuat kehebohan, kerumunan orang semakin banyak.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
Bintang kecil untuk Faila (tamat)