Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Menolak Pesta Adat


__ADS_3

Nettalah yang memaksa Edo datang ke rumah, tadinya belum ada niat ingin memperkenalkan istrinya pada keluarga,  tetapi atas dukungan Candra dan Netta, Edo memaafkan tante dan membawa istrinya ke Bali.


Rasa kecewa keluarga bisa terobati juga, karena bapa uda sebentar lagi akan  menjadi oppung, ia akan mendapat cucu pertama, aku pikir Candra tadinya akan kecewa karena Edo yang duluan punya anak darinya, tetapi ia seorang abang yang baik.


“Apayang salah diam saja.” Kami duduk di di halaman depan Villa.


“Molo adong na parjolo, berarti adong na dilumbana, molo adong na uppudi berarti adong nai paimana”


(Kalau ada yang pertama, berarti ada di kejar, kalau ada yang  belakangan berarti ada yang di tunggu) ujar Candra


“Apa itu artinya?” Tanyaku.


“Dia dikasih cepat artinya dia sudah siap jadi bapak, sementara kami berdua masih menunggu, tunggu siap dulu  mengenal satu sama lain, menunggu restu dari papinya dan menunggu kesiapan semua keluarga dua belah pihak”


“Oh keren ”


“Aku belajar sabar seperti abang,” ujarnya lagi.


“Salut  dengan Edo,  dia berani melanggar aturan  konyol yang berlaku di keluarga, kita yang selalu menuntun anak-anaknya  yang menikah dengan pasangan yang punya status sosial,  mengukur dengan pangkat dan titel.


Tante tidak merestui pernikahan dengan pasangannya, karena bukan pegawai negeri dan bukan dari kalangan orang kaya, tetapi dia memilih wanita yang sederhana dari Samosir, Edo berani menikah walau tanpa restu dari tante, itu satu pencapaian yang luar biasa menurutku”


“Ya, kenapa dulu aku tidak seperti itu ya Bang”


“Jangan menyesali  yang sudah terjadi. Tivani jodoh yang sudah ditakdirkan untukmu”


“Benar kata Edo, bahagia kita yang tentukan, tetapi aku berharap aku juga menemukan kebahagian itu,” ujar Candra lagi.


Setelah Edo membawa istrinya  ke Bali, hari itu bertambah juga keluarga baru kami, Karena Edo belum ada resepsi untuk pernikahan, keluarga menawarkan untuk diadakan tetapi ia menolak.

__ADS_1


“Kenapa tidak mau?” Tanyaku saat kami duduk bersantai besok harinya.


“Tidak usah Bang, semua keluarga kita orang-orang yang repot aku tidak mau pusing karena mendengar omongan  mereka, lagian kasihan dia  aku takut nanti dia terlalu capek.” Edo menolak untuk diadakan resepsi untuk semua keluarga besar kami.


“Nanti apalah kata kelurga kita kalau kita mengabari mereka kalau kamu sudah menikah,” ujar mami.


“Jangan dengarkan kata orang yang tidak mengerti keadaan keluarga kita Mi, terkadang tidak semua keluarga itu yang benar-benar perduli, mereka hanya sekedar bertanya saja”


“Aku setuju dengan kata Kak Eva, keluarga yang perduli itu ... keluarga yang mau menutupi  aib keluarganya bukan malah mengumbarnya pada orang lain.” Arnita ikut memberi komentar.


“Bagaimana kalau kita adakan di sini saja, kalau mereka datang bagus, kalau tidak datang tidak apa-apa, yang penting kita sudah kabarin  mereka,” ujar Tivani,  memberi masukan yang dapat kami terim semua.


Aku  pikir tadinya ia akan bersikap diam saat Edo datang dengan istrinya, rupanya Tivani, bertindak jadi menantu pertama di keluarga Candra yang akan membantu mereka nantinya.


“Benar salah satu cara kita untuk menghindari cibiran keluarga, kita adakan resepsinya di Bali, biar mak tua itu bertambah merepet,” ujar Kakak Eva mamak tua yang ia bilang wanita yang saat itu bertengkar dengan tante saat di rumah mami.


Maka kami sepakat mengadakan acara makan -makan di Bali, mengundang semua keluarga Manurung dan Nainggolan yang bisa hadir saja, kami tidak ingin orang -orang yang rusuh datang.


“Nanti biar aku yang  bayar tiket, tulang gres ya lae kalau datang kabarin saja,” ucapku sama lae Rudi saat ia pulang besok harinya karen ia akan kerja makanya pulang.


Lae  Rudi pulang ke Bekasi sementara kami semua masih berkumpul di Bali, makan-makan dan  acara penyambutan untuk mereka hanya di lakukan di Bali.


“Nantilah kita bikin adat untuk kalian setelah ibu mertuamu keluar dari ruang meditasi dari penjara ,” ujar mami


“Tidak usahlah inang, biarlah doa kalian yang menyertai kami,” ujar  Lyra.


“Bah … boasa, biasana boru Batak, apa lasma rohana molo di baen adatna”


(Wah … kenapa biasanya boru Batak, senang kalau di bikin pesta adat) ucap mami lagi.

__ADS_1


“Kami sudah sepakat tidak mengadakan pesta adat mamak Tua.” Edo duduk lagi di samping istrinya , sepertinya dia takut kalau mami bertanya ini itu  pada anggi boru.


(Anggi Boru >Adik ipar perempuan)


“Memangnya tidak  keberatan keluarganya?”


“Gak lagi, kan, sudah tidak ada lagi amang mertua dan ibu mertua, yang tinggal bapak udanya dua, dan  bapa tuanya dan satu namborunya, itupun mereka tidak dekat”


“Mama dan Bapa sudah meningal dan aku anak satu-satunya, untuk apa melakukan itu, aku tidak ingin bapa uda inang ngudaku yang menerima sinamotku nanti dan duduk dipelaminan, padahal selama ini aku dan bapak hidup sengsara tidak dipedulikan mereka, lebih baiklah uang untuk biaya bikin pesta adat itu,  kami gunakan membeli rumah untuk kami,” ujar istri Edo.


Pemikiran yang cerdas, ternyata bapak  mertuanya  Edo juga tidak ingin anaknya bikin pesta adat yang mewah saat hidup, ia hanya ingin anaknya di berkati saja.


Benar juga, sebagai anak perempuan Batak pastilah ia tidak rela bapa udanya yang jahat menerima sinamotnya,  padahal selama ini menurut cerita Netta  Lyra dan bapaknya selalu diusir dari kampung mereka sendiri.


Aku setuju pemikiran Edo dan Lyra, sebenarnya  kalau tidak mampu bikin pesta adat yang besar hanya diberkati itu sudah bisa, mereka yang melakukan pesta yang besar ujung-ujungnya menjual semua harta bendanya.


Belajar dari pesta adat mewah Candra, tetapi yang terlilit hutang, jadi saat itu gaji pensiun bapa udalah setiap bulan untuk membayar cicilan tersebut.


Ini pelajaran juga sih buat ibu-ibu  Batak di manapun berada, kalau tidak mampu bikin adat yang mewah, cukup sederhana tidak usah pakai souvernir mewah seperti yang di lakukan tante  saat itu, tante ingin pernikahan seperti aurel dan Atta yang mewah dan sovenirnya parfum yang mahal.


Ingin mengikuti seperti gaya artis  biar dipuji orang biar bilang orang kaya.


Kalau ingin seperti artis , kalau souvernir mewah artis, biasanya ada perusahaan  yang sponsori, tante  hanya diperalat temanya yang menjual parfum sebagai souvernir pernikahan.


Makanya pesan juga untuk teman-teman  dari Batak, pesta adat bukan satu keharusan, jika merasa mampu lakukan, jika habis pesta mewah langung mengontrak rumah dan harus pinjam uang untuk bertahan hidup, sebaiknya jangan lakukan.


Bersambung


Bantu like dan Vote ya Kakak kasih hadiah juga agar karya ini tetap ada rank. Terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2