Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Kejadian di kosan Netta


__ADS_3

“Benar kok kak, ini suami saya, tadi saya sudah izin sama Ibu yang punya kosant.”


Kata Netta tetap tenang dengan sopan.


Salut dengan Netta, sikapnya terlihat tenang, membuat perempuan gemuk itu, meragukan tindakan kasarnya sendiri.


Karena efek obat yang aku minum mataku terasa sangat mengantuk.


Kamar Netta hanya satu petak, bahkan kamar mandi harus berbagi dengan yang lain, dalam kamar hanya satu tempat tidur single, satu set lemari pakaian, meja untuk belajar, untuk ruang masuk udara, ada satu jendela yang di pasangin jeruji besi.


“Abang istirahat di sini saja iya, aku akan memasak air panas untuk abang.”


“Masak dimana?


disini tidak ada kompor,” aku melihat sekeliling.


“Ada di bawah bang, berbagi dengan yang lain.”


“Tidak usah, aku tidur sebentar iya, aku sangat mengantuk karena efek obat, tapi kamarmu sangat gerah aku keringatan,” kataku menarik-narik baju bagian depan.


“Oh, iya tunggu… saya nyalain kipas.”


Hanya kipas kecil yang di gantung di atas, wah gila bagaimana Netta hidup di tempat seperti ini, tapi, karena mataku sudah sangat berat, akhirnya tertidur di ranjang kecil itu.


Aku bangun karena ada suara ribut-ribut di depan kamar Netta.


Apa sih berisik, katanya kamar khusus putri kok ada suara laki-laki, mataku melirik jam dinding kecil yang di tempelkan Netta di dinding kamarnya, jam sudah menunjukkan jam empat sore, ternyata di kamar Netta aku bisa tidur selama itu juga, aku tidur dengan nyenyak bangat walau keadaanya seperti itu.


Aku melihat Netta berdiri, padahal mungkin saat aku tertidur, ia tadinya sibuk belajar di meja, aku ikut penasaran di depan pintu kamar, sudah ada beberapa bapak-bapak ternyata ingin menggerebek kamar Netta.


“Keluar!


Keluar!


Mana lelaki itu?


bawa lelaki ke luar, masih siang juga, kalau berbuat senonoh di sini, ke luar jangan mengotori lingkungan ini,” kata seorang dari bapak-bapak sepertinya keamanan RT.


“Ada apa Ta?”


kataku bingung melihat orang-orang sudah berkerumun di depan kamar kami.


“Loe keluar…!"


Teriak seorang bapak, bapak yang lebih mudah menarik tanganku, suara wanita-wanita penghuni kosan mulai berisik seperti lebah.


“Seret saja pak, enak saja tidur berduaan masih sore-sore,” kata wanita yang berbadan tambun yang membentak Netta tadi.


“Bapak tenang dulu, ini suami saya” kata Netta membentak.


“Suami, suami!


Semua orang juga bilang seperti itu,” Ia menarik kra bajuku.


“Dengar iya pak, saya panggil polisi jika ia benar suami saya, bapak saya seret ke kantor polisi karena bapak bisa saya tuntut dengan dengan pasal pencemaran nama baik dan penganiayaan,” kata Netta marah.

__ADS_1


Lelaki itu malah nantangin Netta.


“Silahkan saya tidak takut,” ia ingin menyeret ku lagi.


“Kamu diam jangan menyentuh saya dengan tangan kotormu, tunggu saya panggil polisi, kita selesaikan baik-baik,”


Kataku menahan emosi.


“Lin, panggilkan aku polisi ke jalan Darma dua Depok ,aku share lock lokasinya,


cepat!


tidak pakai lama, suruh Mirna datang juga karena ada proses hukum yang kita selesaikan.”


“Saya tidak perduli kamu panggil polisi maupun panggil tentara pokoknya kamu harus di bawah ke kantor RW.”


“Kenapa saya harus kekantor RT saya tidak salah, saya menemui istri saya, apa yang salah dengan itu?”


“Mana buktinya kamu suaminya?


Apa kamu ingin melihat bukti?.”


Aku sengaja mengulur waktu sampai polisi datang untuk memberi pelajaran pada lelaki yang bersikap arongan.


“Pak RT saya sudah izin tadi kalau suami saya ingin Istirahat di kamar sebentar, sama bapak kan, saya sudah memberikan bukti, kalau kami suami istri,kan?”


Kata Netta terlihat menatap tajam pada RT.


Kebetulan yang punya kosant adalah RT di lingkungan itu.


“Kamu sebaiknya kita bawa ke kantor RW dah, kata lelaki itu lagi.”


Tidak beberapa lama dua orang polisi berseragam akhirnya datang juga, aku baru merasa lega karena ternyata di depan kosant orang sudah rame, mereka melakukan pengerebekan di kamar Netta, karena laporan teman sekamarnya pada keamanan setempat, bahkan mobilku terlihat di baret sama lelaki arogan tadi, kelihatanya ia juga sudah mabuk.


“Selamat sore pak Nathan.”


kata seorang polisi memberi hormat, kebetulan polisinya teman juga.


Wajah lelaki yang menggertak tadi terlihat panik, niatnya mungkin tadinya ingin memalak dengan alasan menggerebek.


“Urus dia Ben, sepertinya ia mabuk dan periksa juga kantongnya,” kataku, berbisik.


“Tenang, kita buat ia jadi santapan,” kata Ben dengan yakin.


“Dengar, bapak Jonathan dan ibu Netta mereka pasangan suami istri.”


kata Beny menenangkan massa.


“Istriku cari kosant disini karena dari rumah kami jauh ke tempat kuliah, saya tidak tau ternyata ia masuk ketempat busuk seperti ini, masa suami tidak boleh melihat istrinya,”


kataku menahan emosi.


“Eh, pak Jonathan ada apa pak?


Kata seorang lelaki muda. Ia adalah pegawai di kantorku, bagian drafter, ternyata ia anak yang punya kosant.

__ADS_1


“Lu tinggal disini?”


“Iya pak


ini rumah saya.”


“Haa…!


Kebetulan, bilangin dulu sama orang tua kamu kalau wanita ini istri saya,” kataku dengan nada marah.


“Babeh!


itu istrinya, ia bos saya di kantor.


Beliau pak Jonathan.


Mak bagaimana sih, bukannya sudah pernah ketemu?”


kata Rizki terlihat malu.


“Oh, iya ampun maaf nak Jonathan, emak kaga tau kalau itu itu istrinya nak Jonathan.”


Kata wanita paru baya itu degan waja mangut-mangut berasa bersalah.


“Bubar!


Bubar! semua, gue bilang juga ape tadi ama abang.”


“Tunggu, tunggu.


Tadi ketiga bapak-bapak ini nantangin istri saya kalau polisi datang siap di periksa, saya mau mereka di periksa, tadi sempat bapak yang satu itu juga menggores mobil saya, saya ingin mereka bertanggung jawab,”kataku


Saat itu juga mereka menyembah-nyembah minta di maafkan, tapi bagiku tidak ada seperti itu, apa lagi tadi sudah songong dan bersikap kasar pada Netta aku tidak terima.


Ketiganya di angkut kekantor polisi saat itu juga, karena ternyata ketiga lelaki itu mabuk dan membawa pisau di pinggangnya, bahkan seorang omongannya yang paling arogan menyimpan pisau belati di pinggangnya.


Para wanita penghuni pada masuk kemar masing-masing, tapi wanita yang meneriaki Netta dan mengatai Netta dengan kata-kata penghinaan, aku ingin mereka mendapat ganjaran.


“Berapa harga kosant ibu ini, saya ingin membelinya saat ini,” kataku pada pemilik kosant itu.


“Bukan seperti itu, ibu minta maaf dah sudah salah, kalau tidak di jual atau anak ibu saya pecat, saya ingin ibu mengusir kedua wanita yang mengatai istri saya dengan kata murahan, aku tidak terima.”


“Sudah bang jangan di ambil hati,” kata Netta.


“Tidak, sekarang ibu pilih, anak ibu saya pecat, kalau tidak kedua wanita kasar itu ibu keluarkan,” kataku menekan sebenarnya kurang sopan, tadi aku sudah terlanjur marah.


“Baiklah ia juga yang membuat semuanya jadi ribut seperti ini, ia memang suka begitu orangnya, suka menuduh dan menghina, giliran bayar kosant lama, banyak alasan,” kata yang punya kontrakan.


Tok..Tok


“Desi kamu keluar…!”


Wanita berbadan tambun yang pertama mengatai Netta dengan kata-kata kasar.


“Loe mendingan keluar dah, dari sini , semua keributan ini gara-gara kamu, ngapain tadi kamu panggil keamanan lingkungan.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2