
Aku sungguh merasa malu dan merasa sangat bodoh, pada Netta.
“Terus, kenapa kamu hanya diam saja?”
“Memangnya aku bisa apa Bang,” katanya tersenyum ketir.
Baru kali ini aku merasa malu dan merasa sangat rendah dan memalukan.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi, menuntut Netta untuk jadi seorang istri seutuhnya sama saja aku mempermalukan diriku, aku tidak tahu kalau Netta sudah mengetahui hubunganku dengan Mikha, ia sudah lama mengetahuinya, sebelum kami menikah, itu artinya dari awal tidak pernah mencintaiku, ia hanya menganggap ku sebagai suami di atas kertas.
“Kamu membuatku tidak bisa berkata-kata lagi Ta, aku merasa diriku seperti lelaki paling bodoh.”
“Maka itu, kalau Abang ingin menuntut apa-apa dariku selesaikan dulu masalah hati abang, aku mau tidur besok aku mau kuliah,” Netta menarik selimut dan tidur di kasur lipat yang biasa ia pakai.
Malam itu, aku tidak bisa tidur, aku merasa kehilangan wibawa dan harga diri di depan Netta, jadi selama ini Netta sudah tau kalau aku sudah punya wanita lain, aku pikir ia tidak tahu, tetapi ia sudah mengetahuinya tapi tidak mau bilang –bilang, ia tetap melakukan pekerjaan seorang istri.
Tidak bisa tidur dan aku duduk di teras kamar, memilih menikmati cahaya indah dari lampu yang berjejer di pinggir jalan.
Hari itu, saat aku memergoki Mikha dengan Juna, berarti saat itu juga Netta sudah tahu, kalau bibirku terluka karena adu jotos dengan Juna, karena Mikha,
Ya, ampun bukan itu sangat memalukan, aku lelaki dewasa bahkan bisa kalah dari Netta anak kecil, aku bergumam kesal.
Hingga sesuatu telah terjadi. Aku membuka mataku tapi rasanya sangat berat.
Bau yang sangat ku benci itu menusuk hidungku, mata masih tertutup berat untuk di buka.
Suara-suara itu menggangu ku saat aku mulai membuka mataku,
Aku melihat tempat yang berbeda dari kamarku, cat tembok yang berwarna putih dan aku melihat ke samping, ada kantong infus menggantung di sebelahku, dan selangnya menyambung ke lenganku.
Ah, rumah sakit? sejak kapan aku masuk rumah sakit gumamku tersenyum tipis, dasar mimpi liar, memang tidak ada lagi tempat yang indah apa yang bisa di datangi di mimpiku kataku tersenyum lagi.
__ADS_1
“Kamu sudah bangun, Tan?,” Mami terlihat sangat panik.
Eh, bukan mimpi Toh, aku pikir aku mimpi.
“Mami , kita dimana?” aku masih bingung, bukan itu yang aku tanyakan, aku sudah tahu kalau kami di rumah sakit, yang aku tanyakan bagaimana aku bisa berakhir di ranjang rumah sakit ini.
Karena aku masih mengingat malam itu, aku duduk di balkon kamar kami, setelah aku dan Netta membahas hal penting dengannya, potongan-potongan ingatanku hanya sampai disitu saja, aku tidak tau siapa yang membawaku ke rumah sakit.
Hal yang sangat memalukan, aku berakhir di rumah sakit. Karena shock saat mengetahui Netta sudah mengetahui tentangku, tapi ia diam.
Sepanjang aku berbaring di atas ranjang rumah sakit, aku belum melihat Netta, mengingat kalau ia sudah mengetahui tentang diriku membuatku kehilangan harga diri dan kepercayaan diri di depan Netta.
Mami terlihat keluar masuk ke ruangan ku, ia menyuruh para Dokter untuk terus memeriksaku, ia akan bersikap tidak sabar dan ketakutan setiap salah satu dari anaknya masuk rumah sakit, Mami orangnya panikan kalau anak-anaknya Sakit.
“Bu, pak Jonathan sudah kami tangani, sudah kami cek, di beri obat, ibu jangan khawatir ia akan baik-baik saja,” jawab salah seorang dokter muda dengan sabar.
“Iya, pokoknya kalian harus periksa dan control terus anak saya,” kata Mami.
Aku sudah mendapat penanganan yang baik layaknya pasien VIP, tapi itu saja tidak cukup sama Mami, ia selalu berpikir kalau sudah masuk rumah sakit sudah pasti sembuh, dan kalau bisa di situ di tangani di situ langsung sembuh.
Kini gantian yang menjagaku. Mami pulang dan Kak Eva yang menjagaku, Netta belum kelihatan ,mungkin telah terjadi sesuatu pikirku.
“Kamu bagaimana sih Tan, sakit bukanya ke Dokter malah di tahan-tahan,” kata Kak Eva mengoceh.
“Sudah kemarin, tapi apa yang terjadi kak, siapa yang membawa aku kesini?” tanyaku penasaran.
Wanita yang sudah berkepala tiga ini terlihat menarik nafas panjang beberapa kali.
“Nettalah, kamu buat masalah saja, dan kamu buat posisi istrimu semakin sulit dan semakin di salahkan Mami,” kata kak Eva, terlihat wajahnya berubah di penuhi awan gelap, seketika.
“Apa yang terjadi kak?”
__ADS_1
“Kamu tidak tahu, tadi Netta di tampar sama Mami.”
“Ha, karena apa?”
“Iya karena kamulah, memang karena apa lagi?.”
“Pagi-pagi saat ia bangun, kamu pingsan di balkon kamar kalian, badanmu dingin kayak es , kami pikir kamu sudah mati iya saat itu, mami memaki-maki sampai-sampai menamparnya.”
“Tapi, karena apa?”
“Ih… kamu! Masih saja tanya kerena apa, karena kamu pingsan di teras dan sudah hampir mati, lagian kenapa sih harus duduk di luar, kalau memang sudah sakit, terus Netta juga tidak tahu kalau kamu sakit, itu juga yang buat mami marah.
Saat ia bilang ia tidak tahu kalau kamu sakit, iya...iyalah, ia tidak tahu kalau kamu tidak memberitahukannya, ia kan sibuk kuliah dan kerja, lagian hubungan kalian itu sebenarnya seperti apa sih? gue bingung dah…! Jangan bilang iya Tan. Kamu sama si wanita itu, ingat kamu punya saudara perempuan yang belum menikah satu orang lagi, karena apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu tuai,” kata kak Eva.
Aku terdiam, apa yang ia katakan kak Eva, benar apa adanya, aku masih punya adik yang belum menikah.
“Iya kak.”
“Kamu tau Mami kan, saat ini ia sangat membenci Netta, karena tidak mau menuruti keinginan Mami, jadi kesalahan sedikit saja yang di lakukan Netta sudah meluap besar dan heboh di buat Mami, aku khawatir kemarahan yang ia simpan selama ini meledak dan ia meninggalkan keluarga ini,” kak Eva, ia sangat dewasa, sejak kakak menikah ia banyak berubah, sifatnya ke Ibuan dan dewasa dan kadang galak.
“Sekarang Netta kemana kak?”
“Dia gak di bolehin Mami kesini, kalau tidak salah, ia kuliah, tapi tadi pagi ia sudah mendapat kata-kata kasar dari mami, istirahatlah, jangan banyak pikiran dulu.”
Mendengar hal itu, aku semakin merasa tidak enak pada Netta dan merasa kasihan.
Malam sudah tiba, Mami pulang karena kecapean dan kembali kak Eva yang menjagaku.
“Kakak pulang aja kasihan Feno nyariin kakak nanti,” Feno anaknya yang masih ber umur satu tahun. Masih terlalu kecil untuk di tinggal walau sudah terbiasa,
Karena kak Eva masih bekerja di salah satu rumah sakit swasta, maka sejak enam bulan anaknya sudah tinggal sama pengasuh.
__ADS_1
Aku menyuruh kakak pulang saja, aku juga tidak terlalu parah, aku malah berharap Netta datang menjagaku.
Bersambung...