Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Kejutan Spesial Dari Arnita


__ADS_3

Perayaan ulang tahun papi kali ini sedikit kekanak-kanakan, karena  beliau menangis sedih kami buat.


Kami anak-anaknya hanya ingin bercanda, biar Susananya tidak terlalu monoton, anggap saja  hiburan, karena kita juga butuh suasana seperti agar tidak terlalu jenuh.


Terkadang  lelah satu minggu  full kerja otak juga mumet. Apa lagi kalau Netta sibuk.


Dengan ada ulang tahun papi  bisa berkumpul dengan keluarga, suasana hati  bertambah semangat, walau kedua laeku dan Netta tidak setuju untuk mengerjai papi.


Tetapi mami yang paling semangat untuk prank suaminya,justru mami yang paling semangat untuk mengerjai papi. Akhirnya kami anak-anaknya jadi ikut heppot mengerjai papi malam itu.


Mami meminjamkan kopernya kesayangannya, kalau itu kenyataan mami tidak akan meminjamkan koper miliknya, karena ia paling pelit meminjamkan barang miliknya terutama tas , sekalipun itu untuk anak-anaknya, karena tas  koleksi tas  bermerek miliknya hanya beberapa biji saja, itupun aku dan Netta yang beli ,papi juga beli saat ulang tahun.


Kejadian beberapa tahun lalu,  saat papi membakar tas telah mengubahnya, dia tidak mau lagi beli tas yang sampai ratusan juta, dan mami juga tidak  ikut arisan sosialita lagi.


Tetapi aku dengar justru tante Candra yang belakangan ini yang grup seperti itu.


Mami yang sekarang  itu sudah berubah, walau tidak semuanya, cerewet masih tetap ada dan sepertinya sudah bawaan orok, susah hilang.


                                *


Kami duduk santai di bawah.


“Lagian, papi tidak sadar tentang koper mami?” Tanya Arnita.


“Kenapa koper mami?”


“Itu dipinjamkan sama kakak Eva, saat  prank papi”


“Oh benar, mami kan siholit mangging, mana mungkin meminjamkan dua koper besar itu, papi sudah terlanjur sedih jadi tidak  memperhatikan itu lagi”


“Itu aja menangis, cengeng bapakmu,” ledek mami.


“Jangan kalian lakukan itu lagi, gak kuat lagi jantung papi”


“Ya, itu resiko orang tua Pi, harus kuat mental kalau ditinggal anak-anaknya, kami juga tidak selamanya tinggal di rumah papi kan? Mertuaku  selalu bertanya tentang rumah kami yang dikontrakkan itu,”ujar Kak Eva.


Benar kata kak Eva, orang tua harus siap mental kalau misalkan anak-anaknya jauh, apa lagi anak perempuan sudah pasti ikut suaminya. Kecuali anak  bungsu, karena dalam adat Batak anak bungsu yang harus tinggal di rumah orang tuanya.


Bahkan di kampung Netta rumah orang tua,  wajib hukumnya rumah orang tua,  milik anak laki-laki yang bungsu dan  tidak boleh yang ganggu gugat.


“Ya, papi tau Nang … tapi kalaupun suatu saat kalian pindah, bilang dulu jauh -jauh hari ke papi, biar jantungku tidak kaget”


“Ah, mami biasa saja,” ujar mami.


“Itu kan kamu Mi, kalau aku tidak, tidak bisa jauh dari semua cucuku,” ujar papi masih tetap  mengendong  baby Jeny, sesekali ia mengecup pipi cucu perempuannya yang masih terlelap tidur.


Kak Eva sudah punya rumah, terpaksa di kontrak kan, karena papi tidak mau mereka pindah,  beruntung sekali kak Eva suaminya tidak keberatan

__ADS_1


Laeku tahu, kalau papi sayang sekali sama kedua anaknya, walau orang tuanya selalu meminta mereka pindah tetapi laeku punya pemikiran sendiri.


Sebenarnya kami yang sebenarnya di minta tinggal di rumah papi, tetapi aku tidak ingin Netta bertambah stres melihat sikap cerewet mami, lebih baik tinggal di rumah sendiri lebih tenang dan lebih bebas.


Mau ber mesraan dengan Netta juga bebas di berbagai sudut, rumah kami tidak ada yang melihat, paling hanya si milon yang melihat, milon anjing jantan peliharaan kami.


“Kado mami mana?” Tanyaku.


“Gak usahlah kasih kado-kado mami, kan, mami sudah masak makanan kesukaan papi, ayo kita makan saja sudah malam”


Benar memang mami masak Naniura  dan ayam nanipadar,  walau Bi Atun yang  mengerjakan semuanya tetapi mami yang jadi komandonya dan Netta yang jadi gurunya.


Saat kami mall mami bolak -balik menelepon Netta tentang bumbunya, bahkan saat kami tiba Netta juga yang mengarahkan mami dan bi Atun,  intinya Netta ikut  masak.


“Bukannya Eda yang masak Mi? Kak Eva tertawa.


“Bukan . Namboru yang masak, aku hanya mencicipi di dapur,” ujar Netta membela mama mertua.


Biarpun Netta sudah menikah denganku dan sudah seharusnya ia  memanggil mami itu inang.


Panggilan untuk ibu  mertua atau amang untuk bapak mertua. Tetapi Netta, tidak mau memanggil mami dengan panggilan inang ataupun amang.


Walau banyak keluarga yang mengingatkannya, tetapi Netta bilang panggilan amang dan amang boru itu terlalu  kaku, mami dan papi tidak keberatan juga, bahkan papi lebih senang di panggil amang boru, maka itu si Borneng  memanggil namboru  sama ibu mertuanya sampai saat itu.


                 *


Ada hal yang membuatku curiga sama Arnita dan  Juna suaminya.


Mulai dari mempersiapkan acara kejutan  untuk papi,  Juna selalu menegur Arnita mulai jangan duduk jongkok, jangan lari,  banyak sekali  larangannya.  Awalnya aku pikir lae tampan itu,  karena semakin bucin sama Arnita. Tetapi lama kelamaan aku semakin curiga.


“Jangan duduk di situ nanti kamu jatuh,” ujarnya lagi saat Arnita duduk di sandaran sofa.


“Bawel bangat  … aiiis,” rutuk Arnita kesal saat suaminya  berubah protektif.


“Nanti kamu sakit,” ujarnya lagi, menurutku sikap Juna  berlebihan atau lebay.


‘Ada apa dengan Juna apa Arnita macam-macam di luar sana, maka dia perhatian berlebihan seperti itu?’ Aku membatin.


Aku selalu khawatir dengan adikku yang satu ini,  kami masih sering mengkhawatirkan  rumah tangganya.


Soalnya ia punya anak di luar nikah, tepat disaat usianya masih kecil, ia belum sempat merasakan namanya  bekerja, menikmati gaji sendiri dan menikmati  indahnya masa remaja


Apalagi, setelah menikah dengan Juna penampilannya kembali seperti foto model , karena itulah sebabnya Juna selalu cemburu dan mengadu sama kak Eva, selama ini Arnita selalu perawatan  ke salon Juna takut ia akan di tinggalkan.


Melihat Juna yang bersikap  porsesif aku berpikir perlu menasihati Arnita,  sebelum hal buruk terjadi. Aku tidak ingin adik bungsuku menjalani hidup yang salah seperti yang dulu lagi.


“Ayo kita bicara Dek sebentar,” pungkasku  mengajaknya ke luar.

__ADS_1


“Apa Ito”


“Kita perlu bicara.”


Netta juga ikut dan kami duduk di kursi teras.


“Apa Ito?” Ia duduk


“Apa kamu melakukan sesuatu  yang salah di luar sana? Kenapa dari tadi Juna mengawasi mu?”


“Gak lah  Bang, aku tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya,” ujarnya tersenyum.


“Lalu kenapa dia menunjukkan perhatian yang berlebihan seperti itu, sebagai abang, aku tidak ingin  rumah tangga adikku rusak. katakan saja”


“Memang kenapa sih Bang, amang bao itu, kan, hanya menunjukkan perhatiannya pada istrinya apa salahnya,” balas Netta.


“Bukan begitu Dek, tapi sikap lae itu kayak berlebihan begitu, takutnya ito ini, macam-macam  di luar sana, apa ada teman lelakimu?”


“Ito apaan sih tidak adalah …,” ucapnya tersipu malu.


“Lalu apa?”


Ia menatap kami berdua bergantian, wajahnya terlihat ragu, ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak enak sama kami.


“Apa?”


“Ito dan Eda jangan sedih atau patah semangat iya,” ujarnya kemudian.


“Ya, katakan saja”


“Sebenarnya aku hamil,” ujarnya kemudian.


“Oh, selamat ya Eda,” ucap Netta dengan tulus.


“Eda sama itu tidak sedih?”


“Tidaklah untuk apa sedih. Kami ikut bahagia untuk kamu,” ujar ku lagi.


“Aku ingin kasih kejutan tadi sama papi, tetap kata kak Eva takut ito sama Eda sedih, jadi aku mengurungkan niat itu,” ujar Arnita.


“Tidaklah, ini kejutan yang luar biasa untuk papi, ayo sana katakan,” pungkas lagi.


Bukan hanya papi yang akan mendapat kejutan, aku juga terkejut sekaligus bersyukur karena pada akhirnya burung perkutuk Juna berfungsi lagi.


Tadinya aku sempat khawatir pedang miliknya  tidak Berfungsi dan Arnita masih muda. Tetapi sekarang rasa khawatirku hilang itu artinya perhatian Juna sedari tadi karena istrinya hamil anak mereka.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2