
Ancol
Pukul 06:00
Netta baru keluar dari kamar mandi, rambutnya yang basah ia gulung dengan handuk, aku berdiri di jendela sembari menyeruput kopi panas. Pemandangan pantai ancol sangat indah pagi itu, secantik istriku yang habis keramas pagi itu.
“Selamat pagi Borneng, mau minum apa?”
“Bang, kita pulang gak?” Ia menghiraukan sapaan romantis ku dan balik bertanya.
“Gak”
“Kok gak! Kita mau ibadah pagi, kan”
“Gak keburu lagi, kita libur dulu ibadahnya pagi ini, membantu saudara juga ibadah, kan”
“Baiklah kalau begitu”
Netta duduk di sofa memintaku mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan pengering rambut, aku melakukannya, terkadang bantuan kecil seperti itu saja kata Netta itu sudah membuat senang. Kalau pekerjaan kecil ini saja bisa membuatnya senang kenapa harus menolak.
“Bang, apa menurutmu Bang Candra berhasil melakukannya?” Tanya Netta.
“Itu sudah pasti”
“Kok abang yakin bangat, kan, Tivanj judes dan angkuh, malam itu saja mereka berantem terus”
“Candra lelaki yang gentelemen, dia bisa melakukannya, jangan membahasnya nanti Ya, apa lagi melihatnya secara berlebihan, sering sekali pengantin baru merasa inscure setelah malam pengantin,"ujar ku
“Baiklah”
*
Saat berbincang-bincang sama Netta, papi menelepon.
“Kalian, masih lama gak pulang ? Apa semua baik-baik saja?”
“Baik Pi”
“Tapi kalian mau pulang, kan?”
“Pulang Pi”
“Soalnya keluarga masih mengumpul di rumah kita, menunggu kalian pulang, masih ada acara makan, kasih ikan mas untuk Candra dan istrinya"
“Baik Pi, sebentar lagi kami pulang”
"Baiklah Mang, kami tunggu di rumah," ucap Papi lagi.
Aku mematikan sambungan telepon, memikirkan cara untuk membangunkan mereka berdua.
“Telepon gak ya?”
“Telepon saja Bang”
“Tapi jangan membahas tentang bagaimana mereka tadi malam, Ya!” Mata menatap serius pada Netta.
“Ya, baiklah”
Aku menelepon Candra, tetapi ditelepon tidak ada jawaban.
__ADS_1
“Tidak diangkat apa mereka masih tidur?”
“Kita ketuk saja Bang pintu kamar mereka , aku takut terjadi apa- apa”
“Tidak akan terjadi apa- apa Dek, mungkin mereka, hanya terlalu lelah, mungkin melakukannya sampai beberapa ronde,” ujar ku.
Netta tertawa saat mendengar kata beberapa ronde.
“Kok tertawa?”
“Abang … tadi malam nantang tiga ronde, baru satu kali saja sudah tepar sampai pagi,” balas Netta.
“Gak … tadi malam itu, aku hanya kasihan samamu, aku takut kamu kecapean”
“Abang pintar cari alasan”
“Apa kamu mau mencoba lagi pagi ini lagi. Ayo,” ujar ku menantang Netta.
“Gak ah, aku sudah keramas, ayo kita ketuk saja kamar mereka, biar kita serapan bersama.” Netta berdiri. Aku tertawa saat tiba-tiba berdiri dan menjauh, ia takut aku gigit.
"Ayo kita bangunin saja"
“Jangan Dek, biar aku telepon saja.”
Aku mencoba menelepon Candra lagi, pada dering ketiga akhirnya ia mengangkat telepon.
“Ya, Bang”
“Mau serapan bareng kita gak?”
“Ya Bang, aku tanya Vani dulu.” Ia mematikan sambungan telepon. Tidak lam kemudian ia menelepon lagi.
“Bagaimana? Mau bareng gak?’”Tanyaku.
Aku dan Netta sengaja turun duluan mencari tempat makan yang tepat dan yang romantis, Netta memilih meja yang dipinggir pantai, sebelum mereka turun aku sudah memperingatkan Netta.
“Dek … nanti jangan aneh-aneh ya”
“Aneh-aneh apa?”
“Nanti kamu tanya lagi berapa ronde, terus bagaimana rasa duriannya” Netta tertawa ngakak.
“Gak Lah… gak mungkin Bang”
“Kamu kadang terlalu polos, seperti tadi malam”
Tidak lama kemudian mereka berdua datang, melihat wajah keduanya yang tiba-tiba malu-malu aku yakin belah durennya sukses, aku tidak ingin Candra merasa malu jadi aku bersikap biasa saja dan Netta juga seperti itu.
Tapi ada yang berbeda dari penampilan Candra, ia memakai kemeja tangan panjang dari bentuknya, aku bisa tahu kalau itu milik Vani.
“Mau pesan apa Can?’
“Apa saja Bang”
“Vani apa?”
“Samain saja, sama Candra” Aku kaget, sepertinya sihir itu berhasil menjinakkan wanita garang itu, ia mendadak jadi pendiam, matanya hanya terfokus ke ponsel miliknya.
Ia juga bersikap canggung pada kami, aku tidak ingin suasana kaku dan sungkan seperti itu, aku memulai cerita.
__ADS_1
Ada topik yang bisa membuat suasana jadi cair tentang kepolosan Netta saat pertama kali datang ke Jakarta, tepatnya pertama kali naik pesawat.
Mendengar cerita lucu itu Vani terpancing juga ia meletakkan ponselnya dan ikut tertawa, tetapi aku bangga sama Netta, walau aku menceritakan semua tentang kepolosannya ia tidak pernah marah atau malu, ia hanya tertawa terpingkal-pingkal dan tawa itulah terkadang menular sama orang lain dan ikut tertawa.
“Memang kamu gak pernah naik pesawat saat masih SMA?” Tanya Tivani.
“Jangankan naik pesawat ya … naik angkot saja ke sekolah sekali dalam seminggu, itupun desak-desakkan” jawab Netta.
“Oh … kampung mu sangat pelosok?” Tivani terpancing juga untuk ikut bercerita.
“Vani tahu gak Pulau Samosir Danau Toba?” Tanyaku.
“Oh … pernah dengar dari papi, tapi belum pernah ke sana, aku kalau liburan itu sering di luar negeri di Paris lebih sering, karena mami punya butik di sana”
Makanan pesanan kami tiba nasi goreng untuk aku, Netta, Candra untuk Vani salad buah.
“Kok aku beda sendiri?” Vani melirik piring Netta.
'Kalau borneng kami ini, apa saja dikasih pasti di gagat alis dimakan'
“Kamu bilang tidak suka makanan berminyak, jadi aku pesan makanan sehat,” ujar ku.
“Tapi Netta istrimu makan nasi goreng”
“Dia mah apa saja dimakan”
“Ya sudah aku makan nasi goreng biar sama”
“Mau tukaran denganku?"Netta menawarkan piring di depannya.
Tivani tampak menimbang, dengan berat hati, lalu bertukar piring dengan Netta, ia menatap nasi goreng di piring.
‘Hadeh ini orang pemilih bangat soal makanan, repot punya istri seperti ini, kayak Netta donk apa adanya’ ucapku dalam hati, melirik Netta yang makan salad buah di depannya.
“Jangan khawatir, tempatnya higenis dan nasi gorengnya enak,” ujar ku.
“Apa perlu aku ganti lagi?” tanya Candra dengan tulus.
Pagi ini juga sikap Candra berbeda kalau kemarin ia selalu meledek dan membantah Tivani, tapi pagi ini, ia tidak melakukannya ia lebih banyak diam.
Uda berhasil, Tivani lebih jinak walau masih ada sikap sombong itu.
Melihat ia keramas pagi ini seperti Netta, aku yakin belah duren mereka sukses, kali ini pun, rasa penasaranku terjawab kenapa Candra memakai baju lengan panjang, ternyata tangan dan lehernya penuh cakaran kulit Candra putih jadi terlihat lebih jelas.
‘Oh malam bringas’ ucap ku dalam hati.
Aku melihat tangan Tivani kukunya panjang, aku pikir semuanya akan normal kembali setelah kami selesai serapan. Akan tetapi saat aku minum. Lagi-lagi Netta ingin membuat suaminya mati tersedak. pertanyaan itu membuatku terbatuk-batuk lagi.
“Bang Candra … lehernya siapa yang cakar?”
“Uhuk … uhuk …!
“Uhuk!
Aku dan Candra sama- sama terbatuk-batuk, melihat wajah Tivani yang memerah aku mengambil alih.
“Itu Bukan cakaran Dek, itu bekas garukan”
“Bukanloh Bang itu-”
__ADS_1
Aku menyenggol kaki Netta dibawa meja dan mengedipkan mata, ia baru sadar dan berhenti bertanya. Jadi intinya belah duren Candra sukses. Kini tinggal menunggu waktu untuk membawa Tivani pulang ke rumah.
Bersambung