Pembalasan Dendam Anita

Pembalasan Dendam Anita
39


__ADS_3

[menurutmu kapan kita akan menyelidiki dua orang yang tersisa itu]


aku kembali mengirim pesan pada Andre


[terserah kamu saja,kapanpun kamu bisa,aku selalu siap]


[waaaah jadi terharu terimakasih Dre]tak lupa ku sematkan emoticon wajah dengan mata berkaca-kaca.


Setelah berbalas pesan dengan Andre,ku rebahkan badanku karena rasa kantuk yang datang tapi belum juga sempurna ku pejamkan mata,aku melihat bayangan wanita dengan pakaian putih antara mimpi dan nyata aku mengerjapkan mata memastikan apa yang aku lihat tadi bukan mimpi.


Aku segera membuka mata karena terkejut dengan apa yang aku lihat ternyata bukan mimpi,

__ADS_1


"mbak Anita"kataku lirih sosok yang ada di depanku membalikkan badan,sosok mbak Anita kali ini datang dengan penampilan yang cantik dia tersenyum ke arahku,senyum yang meneduhkan mesi terukir di wajah pucatnya


"Nisa"panggil nya lirih tapi masih mampu terdengar di telingaku


"ada apa mbak"kataku,tak ada lagi rasa takut seperti saat pertama mbak Anita menampakkan diri


"kamu harus hati-hati dan jangan mudah percaya pada siapapun"kata mbak Anita membuat ku tak mengerti dengan siapa aku harus berhati-hati


"maksud mbak Anita siapa yang harus aku waspadai"


"orang terdekatku,apa maksudnya mas Bram"aku bergumam lirih

__ADS_1


"apa maksud mbak Anita hara mas Bram"aku bertanya pada sosok yang masih terdiam.menatapku dengan kepedihan yang terpancar jelas di mata indah mbak Anita.


Aku masih larut dalam pikiran ku saat sadar mbak Anita sudah tak ada disana


"mbak Anita,kenapa kamu gak berbicara terus terang saja,apa dan siapa yang telah membunuh mu dengan sangat kejam"kataku bermonolog dengan diriku sendiri setelah mbak Anita menghilang.


Rasa kantuk yang tadi datang sekarang sudah hilang setelah kedatangan mbak Anita.


"apa yang harus aku lakukan sekarang,siapa yang harus aku percaya dan siapa yang harus aku waspadai"kepalaku rasa berdenyut saat memikirkan perkataan mbak Anita.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari tapi mataku tak kunjung terpejam,aku menyibukkan diri membaca kembali berita yang menghebohkan beberapa waktu terakhir melihat-melihat kembali foto saat bersama mbak Anita dan mas Bram,aku tersenyum saat mengingat kembali setiap momen kebersamaan kami bertiga dulu beberapa lembar foto terlihat di ambil sesaat sebelum mbak Anita meninggal dunia tepat satu Minggu sebelum mbak Anita pamit untuk pergi kerumah orang tuanya dan menginap di sana karena kondisi kesehatan papa nya yang sedang tidak stabil.

__ADS_1


Ah aku jadi teringat sesuatu kenapa aku tak menanyakan perihal mbak Anita pada papa nya saja bukankah selama di sana mbak Anita pasti banyak ngobrol dan bertemu papanya,mungkin saja ada yang dapat di jadikan petunjuk agar siapapun pelakunya bisa segera tertangkap apa sebaiknya aku bicarakan sama mas Bram ya tentang masalah ini,tapi setelah itu aku ragu setelah mendengar peringatan mbak Anita agar aku lebih waspada dan tidak mudah percaya dengan siapapun termasuklah orang terdekatku.


Aku menghela nafas menimbang pada siapa sebaiknya aku bercerita tentang apa yang aku alami,selain mas Bram siapa lagi yang ku punya,aku benar-benar merasa frustasi dan depresi memikirkan masalah ini.


__ADS_2