
alex yang datang dengan membawa makan dari kantin segera mendekati veronika yang sedang duduk dan keliatan kelelahan.
"ini fy, kamu harus makan " memberikan roti yang di belinya. "maaf yah cuma ada ini, makanan yang lain udah pada habis" .
"iya gak papah, ini ajah udah cukup" ia tersenyum kecil dan mengambil mkanan itu.
veronika meraskan kehangatan yang di berikan oleh alex begitu tulus. dulu dia pernah marasakan hal ini etika ayah nya masih hidup. tentu bagi setiap wanita , atah merupakan cinta pertama yang tak terlupakan. begitu hangat, begitu di istimewakan. itu yang di rasakan veronika. ia awal nya hanya ingin tahu kenapa jesicca membenci nya, hanya gara-gara alex. tapi setelah mengenal alex lebih dalam ia sadar itu bukan sekedar kata hanya.
pantas jika jesicca seperti cinta mati pada alex. alex begitu baik hati. dan wanita mana yang tidak akan luluh jika harus berhadapan dengan alex sedirja. dengan harta saja banyak wanita yang rela mengirban kan apa saja. apalagi dengan seikap dan ketaampanan nya/. pasti beruntung orang yang bisa mendapatkan alex. pikir nya getir karena mulai menyukai alex. tapi ia sadar status sosial yang besar antara mereka merupakan hal yang sulit untuk di tembus. termenung ketika memakan roti.
"fy, kamu gak pap kan?" melihat veronika yang melamun ketka makan roti.
"ehh, nggak ngak..." menjawab dengan cepat karena terkejut.
"kamu jangan banyka pikiran yang lain, sekarang fokus saja sama pengobatan ibu mu" merasa kahawatir melihat veronika yang melamun.
__ADS_1
"iya" jawab veronikadengan gugup dan tersenyum kikuk.
jesicca semakin merasa terusik dengan keberadaan veronika menghancurkan perabotan di rumah nya dengan membabi buta. ia kehilanga akal karena takut cinta nya di rebut. seluruh peralatam make up yang ada dikamar nya tergeletak dilantai begitu saja. dia berterika histeris dengan sangat membabi buta. sia sia usaha nya saat ini dengan menyingkirkan wanita-wanita di sekitar alex dulu. dia tidak bisa untuk kalah, tidak ada kata kalah dalam kamus hidup nya. orang tuanya selalu mengajarkan untuk menjadi pemenang dalam setiap perlombaan yang ia ikuti janagn menjadi pecundang, walaupun menjadi no 2. karena orang hanya akan melihat pemenang pertama tanpa melihat yang kedua.
api amarah di hati nya semakin berkobar dan berteriak tidak karuan. sementara pembantu di rumah jesicca merasa ketakutan, melihat sikap anak majikan nya yang semakin aneh dan tidak terkontro.
"ada apa lagi sama si non?" tanya seorang pelayan pada pekyan yang lain dengan ketakutan dibalik pintu kamr jesicca.
"kayak nya penyakit dia kambuh lagi" ujar nya dengar perasaan was-was." dulu juga pernah begini, kalau gak salah 5 tahun lalu... tapi setelah itu dia sehat kembali setelah mendapat pengobatan dari psikiater, tapi kenpa sekarang bisa kambuh lagi yah?" menjelaskan dengan sedikit heran pasala nya dia belum pernah anak majikan nya melakukan hal yang sama seperi saat dia umur15 tahum, "kita kayak nya harus lapor sama tuan tentang keadaan si non kalau nggak takut nya ada sesuatu" saran seorang pelayan yang kebingungan dengan keadaan anak boss nya itu.
"bagus itu" merka menelepon orang tuanya dan menceritakan tentang yang terjadi dengan jesicca.
"ibu cepet sadar yang agar kita bisa bercanda lagi dan ibu bisa masak buat aku, ibu suka kan kalau akau makan masakan ibu" mencium tangan ibu nya sambil meneteskan air mata,
di luar ruangan alex memperhatikan veronika dengan sangat teliti, mata nya terliaht sembab, bibir nya terlihat pucata, senyum yang tadi pagi ia lihat hilang seketika dan digantikan dengan tangis yang amat mendlam. ia tidak tahu bagai mana ia menhibur wanita itu. ia masuk kedalam dengan perasaan tidak enak. iangin sekali ia bisa melindungi dan menjaga wanita yanga saat ini ia lihat. demgan perlahan ia mendekati wanita itu dan memegang pundak nya yang sedang menangis di dekat tangan ibu nya,
__ADS_1
"fy...?" dengan suara yang sangat lembut.
" iya.." menoleh ke arah sumber suara dan melihat sosok pria yang mendampingi nya sedari tadi.
"aku pamit dulu yah. aku ada urusan yang harus di selesaikan" ucap nya dengan sedikit menyesal, karena rasa nya alex tidak tega jika harus meninggal kan nya sendiri di rumah sakit.
" ohh gak papah kok, kamu pulang ajah" menjawab pertanyaan alex dengan tenang, padhal dalam hati nya ia ingin menghentikan pria itu untuk pergi. tapi apa hak nya untuk meminta hal itu? bukankah dia bisa pergi kapan saja? bukan kah dia sudah melakukan banyak hal untuk diri nya. tentu ia tidak bisa egois dan membiarkan alex menunnggu nya dengan bosan dan terus menerus merasa iba pada diri nya. ia paling benci di kasihani oleh orang lain. ia benci saat orang-orang melihat nya dengan perasaan kasihan saat ayah nya meninggal. ia sanagt benci hal itu. hal yang harus ia lakukan saat ini adalah mencari uang sebanyak mungin utnuk pengobatan ibu nya. ia tidak bisa mementingkan perasaan nya sendiri
"serius gak papah?" sambil menatap mata steefy yang seperti menhan tangis.
"makasih yah umtuk segala yang telah kamu lakuin, aku gak tahu harus denga cara apa aku menebus kebaikan mu" berbalik ke arah ibu nya karena malu sudah banyak merepotkan anak orang kaya itu.
" kalu kamu perlu sesuatu telepon ajah aku, besok aku akan kesini lagi untuk melihat keadaan ibumu.
"dusah... tidak usah itu pasti merpotkan" sambil mengerakan tangan nya sebagai tanda penilakan"kamu pasti punya urusan yang kebih penting "
__ADS_1
" tidak apa-apa aku ikhlas kok ngelakin nya, tanpa paksaan dari manapun" mencoba menjelaskan bahawa yang dia lakukan selama ini ikhlas walaupun memang ia mencintai steefy. tapi itu harus di lakukan perlahan agar menghasilkan. "aku pamit yah".
alex langsung meniki mobil sport nya dan pergi ke rumah nya untuk mengambil charger hp nya di rumah, agar bisa menghubungi jesicca karena dia telah mengingkari janji pada jesicca. jesicca sudah dianggap nya sebagai saudara, alex mengenal jesicca saat ia bertemu di acara keluarga. jesicca itu anak yang baik menurut nya tapi memang mempunyai tempramen yang buruk.,