PEMBALASAN DENDAM ROSE

PEMBALASAN DENDAM ROSE
Pengkhianatan


__ADS_3

Sekali sentakan pintu kamar terbuka.


"Apa yang kalian lakukan?" Rose menatap kecewa ke arah Juan suaminya dan Volencia adik tirinya.


Juan berdiri dengan dada telanjang. Volencia merapikan bajunya yang sudah berantakan. Namun sepertinya diantara mereka tak ada yang merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya.


"Karena kamu sudah tahu semuanya sekarang. Maka, kamu bisa keluar dari kamar ini. Apa perlu aku mengusir kamu dari rumah ini Ros?" Volencia turun dari tempat tidur. Gaun merah sepaha yang dikenakannya membuat Rose jijik melihatnya.


"Maksud kamu apa? Kamu gila ya, Juan suamiku." Ucap Rose dengan suara bergetar.


"Hai Ros, kamu sudah pulang. Mulai besok, aku akan mengurus surat perceraian kita. Jadi, kamu tidak perlu repot-repot untuk memikirkan apa yang terjadi hari ini." Ucap Juan seraya menciumi leher Volencia.


Rose berdiri terpaku. Dia sangat sedih namun tak bisa menangis lagi. Rose menatap jijik ke arah dua orang di depannya yang baru saja mengkhianati dirinya.


"Ingat, apa yang terjadi hari ini tidak akan pernah bisa aku lupakan. Akan aku ingat pengkhianatan ini sampai kapanpun."


Rose terpaksa meninggalkan kamar itu dan tidur di kamar tamu. Selama ini dia hanya berpikir bahwa kedekatan diantara dua orang itu hanya sebatas adik ke kakak ipar. Tidak lebih. Tak tahunya, mereka berdua menjalin hubungan yang sama sekali tak pernah dibayangkan oleh Rose.


Keesokan harinya, Volencia dan Juan turun untuk sarapan di lantai bawah. Di sana sudah ada orang tua mereka. Menyusul kedatangan Rose yang menatap kecewa kepada dua orang tersebut.


"Rose, mengapa wajahmu seperti itu? Membuat selera makan Papa hilang begitu saja."


"Iya nih. Masih pagi sudah tidak enak begini auranya." Lanjut Lobelia, ibu tiri Rose.


Sementara Juan suaminya dan Volencia adik tirinya nampak tak peduli dengan pembahasan barusan.


"Apakah kalian tidak melihat hal ganjil yang terjadi di depan kalian saat ini?" Ucap Rose bertanya dengan nada kesal.


"Memangnya apa yang terjadi Rose?" Jawab Lobelia.


"Volencia merebut Juan dariku, apa kalian tidak cukup melihat kemesraan mereka?" Nada bicara Rose semakin meninggi.


"Rose pelankan suaramu, ini di meja makan." Lanjut papanya.


"What?"


Aku lagi yang salah kan? Jelas-jelas mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri. Apa mereka pura-pura buta? Aku kecewa sama Papa, benar-benar kecewa.


Sementara dua orang yang jadi perdebatan itu semakin memamerkan kemesraan mereka. Sungguh menjijikan.


"Rose, tidak ada yang salah bukan? Volencia menyukai suamimu dan Juan juga tidak keberatan. Sepertinya Juan bahkan lebih mencintai Vo daripada kamu. Apakah itu belum jelas bagimu, Rose?"


Juan dan Volencia tersenyum puas. Mereka tak berbicara apapun namun sukses membuat emosi Rose hampir meledak.


"Rose, tanda tangan surat cerainya. Juan, apakah kamu sudah menyiapkannya?" Ujar Papanya disela suapan makanan ke mulutnya.

__ADS_1


Keluarga macam apa ini? Aku tidak habis pikir. Papa yang dulu sangat sayang padaku, berubah drastis dan sekarang malah mendukung rubah tua dan anaknya itu.


"Tidak ada perceraian. Aku tidak mau bercerai." Ucap Rose seraya berdiri dari duduknya.


Namun baru saja hendak pergi, kedua tangannya sudah ditahan oleh Juan.


"Lepaskan! Apa-apaan kamu ini? Lepaskan Juan!" Pinta Rose meronta.


"Sayang, cepat bawa berkasnya di depan Rose. Kita harus memaksanya untuk menandatangani surat perceraian ini." Pinta Juan ke Volencia.


Tak lama kemudian, Volencia sudah datang membawa map berwarna cokelat. Isi dari map itu dia keluarkan lalu diletakkan di atas meja.


"Cepat tanda tangan!" Volencia menyodorkan pulpen ke Rose.


"Tidak! Gila kamu ya, suami kakak sendiri ingin direbut. Di mana akal sehat kamu?"


"Hahaha, sudah tanda tangan saja. Memangnya kamu pikir selama ini Juan mencintai kamu? Naif sekali. Kamu hanya pion, Rose. Juan tidak pernah mencintaimu, akulah perempuan yang dicintainya. Tanda tangan atau kamu akan tahu sendiri akibatnya."


"Pa..., kumohon!" Rose memelas ke arah papanya. Namun tak digubris.


"Selesaikan secepatnya pertunjukan itu, aku sibuk. Aku akan segera ke kantor." Jawab Papanya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rose.


"Sudah, turuti saja kemauan adikmu. Laki-laki di luar sana banyak, pilih salah satu untuk dirimu sendiri." Lanjut Mama tirinya.


"Rose, tanda tangan! Kita percepat saja semuanya. Jangan mengulur waktu lagi."


Benar, aku memang tidak pernah ada di mata kamu Juan. Selama ini, ternyata kamu hanya berpura-pura padaku. Sangat disayangkan, padahal aku sudah mulai mencintaimu.


Dalam keadaan pasrah, Rose menandatangani berkas perceraian itu. Tidak menyangka pernikahannya dengan Juan yang baru beberapa bulan saja harus berakhir seperti ini.


"Bagus sekali, Rose. Sekarang kamu boleh mengambil semua barang-barang kamu di kamar kami. Tidak usah khawatir, aku sudah menempatkannya di dalam sebuah koper. Kamu tinggal angkut dan keluar dari rumah ini." Jelas Volencia.


"Kamu tidak bisa melakukan itu, Vo. Ini rumahku. Rumah peninggalan almarhum Mamaku." Emosi Rose mulai tersulut.


Apapun bisa saja kamu ambil dariku Vo, tapi tidak dengan rumah ini. Rumah ini memiliki kenangan tersendiri untukku dari Mama. Tidak, aku harus bisa mempertahankan rumah ini. Pikir Rose.


"Sudah, sudah!" Sergah Papanya menengahi. Rose berharap kali ini Papanya bisa berlaku adil.


"Rose, pergilah ke alamat ini. Papa tidak mau kalian ribut lagi."


Rose tidak bisa bicara lagi. Dia benar-benar kecewa pada Papanya kali ini. Mungkin dia sudah dicuci otaknya oleh Mama tirinya itu.


Baiklah aku akan pergi. Kalian semua, tak akan kubiarkan hidup tenang.


Juan mencium bibir Volencia di depan Rose. Membuat Rose semakin jengah dan memilih untuk mengambil kopernya dan pergi dari sana.

__ADS_1


Papanya sudah pergi ke kantor. Di ruang tamu, tersisa Mama tirinya yang sedang berkacak pinggang menunggu Rose selesai berkemas.


Rose menyeret kopernya menuruni tangga. Wajahnya tampak sangat marah tapi tak memiliki kekuatan apapun untuk melawan sekarang.


"Berhenti di sana!" Sergah Lobelia.


Rose menarik nafas panjang.


Mau apalagi Mak lampir ini. Belum puas dia membuat aku dan Juan berpisah? Sekarang malah mengusirku dari rumahku sendiri.


"Apa lagi?"


"Kamu tidak mencuri apapun dari rumah kami, kan?"


Sialan, aku dituduh mencuri di rumah sendiri. Apa katanya? Rumah kami? Sejak kapan rumah milik orangtuaku jadi rumah kalian.


"Cek sendiri!"


"Buka kopernya!"


Rose membuka koper itu. Alangkah terkejutnya, Rose tidak menyadari kemungkinan kalau dia bisa saja dijebak oleh adik tirinya itu.


"Perhiasan-perhiasan itu tidak mungkin ada dindalam koper jika tidak ada yang memasukkannya. Mau mengelak lagi kamu?"


"Aku tidak tahu menahu mengenai perhiasan ini. Lagi pula aku tidak butuh, ini ambil semuanya!" Ucap Rose seraya melempar perhiasan itu ke wajah Lobelia.


Lobelia mengeram kesal.


Bisa-bisanya anak ini melawanku. Lihat saja, ku buat kau menyesal pernah melakukan ini padaku.


Lobelia pun lantas mendekati Rose. Rose yang sedang duduk mengemasi pakaiannya yang terhambur tak menyangka jika Lobelia akan menyerangnya.


Lobelia menarik rambut Rose, membuat Rose kesulitan untuk berdiri. Setelah puas menarik, kini satu tendangan kasar mendarat di bahunya. Membuat Rose terhempas ke lantai merasakan sakit.


Dia ingin membalas, namun baru akan mendekat ke arah Lobelia, Volencia sudah menahan tangan Rose kemudian menamparnya dengan keras. Rose memegangi pipinya yang memerah, selama ini dia seringkali mendapatkan perlakuan kasar dari Mama tiri dan adik tirinya itu.


"Keluar dari rumah ini atau kau tidak akan pernah hidup lagi." Ancam Volencia.


Cih! Anak ini semakin hari semakin menyebalkan. Lihat saja apa yang bisa kulakukan padamu suatu saat nanti.


Rose mengambil koper miliknya dan keluar dari rumah yang terasa seperti neraka itu.


*


*

__ADS_1


*


Halo semua, ini cerita baru saya. Semoga kalian menyukainya.


__ADS_2