
Rose menghubungi seseorang via telepon. Dia mendapatkan nomor itu dari Tuan Muda Marcelino.
"Halo." Terdengar suara yang berat di seberang telepon.
Sejenak Rose terdiam. Suara orang yang dia hubungi ini berat dan dalam. Ada daya tarik tersendiri ketika Rose mendengarnya. Sebuah riset membuktikan bahwa suara pria yang berat dan dalam dinilai lebih menarik, ketimbang pria dengan suara cempreng dan nyaring.
Tipe suara pria yang maskulin, berat, dan dalam, berpotensi tinggi membuai wanita untuk lebih mudah jatuh cinta pada pemilik suara tersebut. Tipe suara Tuan Muda Marcelino juga berat namun tak sedalam milik orang yang di telepon Rose saat ini.
Suara ini sangat menarik. Tak kusangka orang seperti Tuan Muda Marcelino ternyata juga tertarik pada seorang pria dengan tipe suara seperti ini.
"Halo." Ulang pemilik suara di telpon itu.
"Ya, Ha..., halo. Maaf tadi ada sedikit gangguan." Jawab Rose agak gugup.
"Dengan siapa?" jawab pria itu tenang.
"Apakah ini dengan Tuan Shame?"
Sementara Rose berbicara di telepon, di sampingnya ada Tuan Muda Marcelino sedang menunggu dengan perasaan deg degan. Ada ya seorang pria dewasa merasakan gugup ketika pertama kali akan bertemu lagi dengan prianya? Hhh, sungguh rumit hubungan kalian. Begitulah pikir Rose.
"Benar. Ini siapa?"
"Aku..., aku adik sepupu Marcelino." Rose terpaksa berbohong.
"Marcelino? Maksud kamu Tuan Muda Marcelino? Di mana dia sekarang? Aku hampir gila karena tak bisa menemukannya." Cecar Shame dengan pertanyaan pada Rose.
"Tenang, tenang dulu! Karena itu aku menghubungi anda. Bisakah anda datang kemari? Akan kukirim alamatnya melalui pesan."
"Baiklah, aku tunggu. Setelah itu, aku akan segera ke sana."
Klik.
Sambungan telepon terputus.
"Sekarang kau bisa bersenang-senang Tuan Muda. Gunakanlah waktumu dengan baik, aku akan keluar sebentar. Jangan sampai kau ketahuan, ada banyak mata-mata di sekitar hotel. Aku akan menyamar lalu keluar dari hotel, ada sesuatu yang masih harus kuurus."
"Terimakasih, Rose." Jawab Tuan Muda Marcelino dengan seulas senyum.
"Cih, baru kali ini aku mendengar seorang Tuan Muda berterimakasih padaku. Haha."
__ADS_1
"Kau berhati-hatilah. Ada apa-apa segera hubungi aku."
"Jangan khawatir, aku bisa jaga diri sendiri."
Rose pun berdandan ala anak ABG, setelan kaos dengan pants dan kacamata serta tas ransel di punggungnya, membuatnya terlihat bak anak sekolah menengah atas. Tuan Muda Marcelino tak percaya jika Rose bisa berubah drastis dengan penampilan seperti itu.
Setelah memastikan penampilannya sudah oke, dia pun pamit pada Tuan Muda Marcelino. Rose berhasil mengelabui para pengawal yang ikut bersamanya keluar dari pulau.
Dengan langkah percaya diri, Rose keluar dari hotel. Hari ini dia berencana akan mengunjungi rumahnya yang dulu. Tempat Robert dan keluarganya tinggal saat ini. Rumah di mana Rose diusir dan seakan menjadi gelandangan sebelum akhirnya dijual.
***
"Pagi, Pa! Pagi semuanya!" Sapa Rose yang muncul tiba-tiba di rumah itu.
Penghuni rumah sedang sarapan. Di meja makan ada Robert, Lobelia, Juan dan juga Volencia. Mereka semua terkejut melihat Rose ada di rumah mereka. Juan menatap Rose dari atas sampai bawah, Volencia tidak suka melihatnya. Sehingga Volencia harus menyadarkan Juan dulu memakai percikan air.
"Sudah puas melihatnya? Kamu jangan-jangan menyukai dia lagi?" Tanya Volencia dengan emosi.
"Berani sekali kamu menginjakkan kakimu di sini, Rose. Ini bukan rumahmu lagi, kau bebas keluar masuk rumah ini tanpa seizin tuan rumah jelas itu adalah perbuatan tidak terhormat." Sambut Lobelia pada kedatangan Rose.
Rose berjalan semakin dekat ke meja makan, menarik kursi dan duduk di sana. Juga sedikit mencicipi hidangan sarapan pagi milik mereka.
"Rose, sebaiknya kau tak membuat masalah di sini. Cukuplah semalam kami merasakan malu karena ulahmu." Ucap Robert tenang.
"Kau pasti bisa menikahi Tuan Muda Marcelino karena menjual tubuhmu kan? Dasar wanita ******, tak tahu malu!" Lanjut Volencia.
"Aku menjual tubuhku atau tidak, itu tidak penting lagi. Toh, aku sudah dijual Papa seharga dua milyar kepada Tuan Besar Mafioso. Tentu saja aku harus menyenangkan hati Tuan Besar dan juga Tuan Muda. Kenapa? Kau iri? Kau iri karena hanya bisa merebut milik orang lain apalagi orang itu kini tak lebih hanya sebuah sampah?" Ucapan Rose begitu tajam, tapi dia mengatakan itu semua dalam keadaan santai.
Volencia semakin geram, Rose tidak hanya menghinanya tapi juga menghina Juan sekarang.
"Rose yang dulu dan sekarang sungguh berbeda. Kau bahkan berani menghinaku, padahal dulu jangankan berkata kasar, kau menatapku tajam pun kau tak berani." Ujar Juan.
"Buat apa kembali ke masa lalu, toh tak ada yang menarik mengenai itu. Kupikir bersama denganmu selama enam bulan itu tak berarti apa-apa bagiku. Jelas-jelas kau hanya pria lintah, kerjanya menghisap dan memperkaya diri sendiri."
BRAKKKK...!
Meja makan digebrak oleh Robert. Dia sudah muak mendengar semua pertengkaran mulut antara Rose, Volencia, Lobelia dan sekarang Juan.
Kini semua mata hanya fokus pada Robert yang seakan menahan amarah.
__ADS_1
"Sebaiknya katakan dengan jujur, apa maksud dan tujuan kamu datang ke sini, Rose?"
"Sudah kubilang tadi, Pa. Aku hanya rindu padamu. Apakah itu sesuatu yang salah? Setelah satu bulan aku tak bertemu dengan Papaku sendiri dan aku merasa berdosa ketika aku ada di Kota K namun tak mengunjungimu. Apalagi ini adalah pesta peringatan pernikahan kalian yang ke tiga puluh. Tentu saja aku akan memberikan hadiah untukmu."
"Rose, langsung ke inti." Balas Robert.
"Aku ingin tinggal di sini sehari atau dua hari. Tuan Muda Marcelino sedang ada urusan bisnis dan dia akan sangat sibuk. Jadi kupikir tak ada salahnya jika aku ingin mencari hiburan dan agar tak kesepian. Makanya kupilih datang ke sini."
"Tidak! Itu tidak bisa terjadi." Sergah Lobelia.
"Ada apa? Bukannya di rumah ini masih banyak kamar kosong. Aku bisa tidur di mana saja. Toh, ini harusnya masih rumahku juga."
"Siapa bilang?" Dengan cepat Volencia menyambut ucapan Rose. "Kamu bukan lagi bagian dari keluarga ini. Jadi tak ada alasan bagimu untuk tinggal di rumah ini." Lanjutnya
"Kalau begitu, anggap saja aku adalah tamu. Tamu yang tentu saja harus kalian hormati karena aku adalah menantu dari Tuan Besar Mafioso. Kalian tentu tidak mau hal ini bisa sampai ke telinga Tuan Besar Mafioso bahwa kalian sudah menolakku."
"Berani sekali kau berlindung di balik nama Tuan Besar Mafioso." Geram Lobelia.
"Kenapa? Mami takut? Bilang saja, Mami tak punya cukup kekuatan untuk mengusirku lagi dari sini. Lagi pula ini cuma dua hari, apakah kalian tidak memiliki belas kasih? Begini saja, aku akan membayar biaya sewa selama dua hari menginap di sini. Dengan begitu, kalian dapat mengambil keuntungan dariku. Bukankah itu cukup adil?"
Rose memang pandai meramu kata, sekarang kekuatan sepenuhnya ada di tangannya. Robert dan keluarganya tentu tak akan berani menyinggung lagi Tuan Besar Mafioso. Bisa-bisa ada masalah besar yang terjadi jika mereka berani berbuat hal tak menyenangkan.
"Baiklah! Tinggallah beberapa hari di sini. Terserah kamu mau tidur di mana saja, ada banyak kamar silakan kamu pilih." Potong Robert untuk menghindari semakin panjangnya perdebatan itu.
"Kau memang masih yang terbaik, Pa. Terimakasih karena sudah mengizinkan aku tinggal."
"Aku harus pergi ke kantor." Ujar Robert seraya berdiri dari kursinya.
Lobelia menatap tajam, dia sangat tidak suka pada Rose sejak kecil. Meski sudah menyiksanya dulu, Rose tetap tumbuh menjadi seorang gadis dan perempuan yang tangguh bahkan lebih kuat untuk menghadapi apapun.
"Sekarang kau bisa tersenyum, Rose. Namun jangan kira kau akan merasa tenang selama berada di sini."
"Baiklah, mari kita lihat nanti. Siapa yang akan merasa tidak tenang di rumah ini. Aku akan ke kamarku. Sebaliknya kalian jangan menghalangi jalan."
Rose dengan sengaja menabrak bahu Volencia saat melewati perempuan itu untuk masuk ke kamarnya.
"ROSE, AWAS KAU!!!"
***
__ADS_1
Terimakasih masih setia menunggu cerita ini update. like dan komen ya.