
“Hah! Apa yang terjadi? Dia … dia … kenapa bisa ada di pelukan aku?” lirih Tuan Muda Marcelino terkejut karena melihat Rose di pelukannya.
Pelan-pelan, diangkatnya kepala Rose dari lengannya. Bukan karena takut Rose terbangun, tapi dia lebih takut jika ketahuan oleh Rose bahwa dia sudah memeluk wanita itu. Dasar gengsi. Setelah lengannya lolos dari pijakan kepala Rose, dia pun hendak bangun dari tempat tidur. Sejenak dia berhenti karena melihat wajah mungil Rose yang tertidur seperti bayi itu.
“Hmm …” racau Rose lirih.
Tuan Muda Marcelino agak terkejut, dipikirnya Rose telah bangun dan dia tertangkap basah sedang menatap wajah Rose. Namun hal itu tak terjadi, Rose sepertinya sedang bermimpi dan mengigau saja karena selanjutnya Rose tertidur kembali.
“Cantik juga.” Gumamnya lirih.
Tuan Muda Marcelino hendak menelusuri lekuk wajah Rose yang mungil, putih bersih tanpa jerawat secuil pun itu. Baru saja tangannya terangkat dan ingin menyentuhkan ke kulit wajah Rose, wanita itu berbalik memunggunginya. Hingga apa yang akan dilakukannya sia-sia belaka.
“Apa yang kulakukan?” tanyanya pada diri sendiri, seolah menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak tertarik pada Rose. Yaps, terus saja mengelak Tuan Muda.
Akhirnya dia pun turun dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi. Dilepasnya piyama yang masih membalut tubuh kekarnya itu, hingga tak ada benang sehelai pun. Dia memutar keran shower dan seketika air jatuh dari atas mengguyur tubuhnya mulai dari kepala hingga kaki. Rasa dingin menjalari sekujur tubuhnya, dia menumpukan kedua tangannya ke dinding tembok kamar mandi dan mengangkat wajahnya ke atas. Air menerpa wajahnya, dia seringkali melakukan hal seperti itu ketika kepalanya dipenuhi dengan masalah.
Air mengalir di sekujur tubuhnya, memamerkan lekuk lengannya yang kekar, perutnya yang mirip roti sobek dan bokong yang penuh. Wajar saja bila Rose kadang kala berimajinasi terlalu liar bila melihat Tuan Muda Marcelino dalam posisi seperti itu. Apalagi mereka sekamar, meski suami isteri mereka selalu saja menolak satu sama lain untuk menyebut diri masing-masing sebagai isteri atau suami. Kecuali jika berada di luar, maka mereka berakting sempurna bak actor dan aktris film yang berkali-kali mendapatkan penghargaan.
Sudah lima belas menit, Tuan Muda Marcelino berada di dalam kamar mandi. Belum juga ada tanda-tanda akan keluar, di tempat tidur masih terlihat Rose di balik selimut sedang menggosok-gosok matanya. Ketika dia melihat jam di meja samping tempat tidurnya, dia pun terkejut melihat jarum jam sudah menunjukkan jam Sembilan pagi lewat beberapa menit. Dia bangun dari tidurnya dan menemukan Tuan Muda Marcelino sudah tak ada di sana.
“Mana dia?” ucapnya lirih.
Rose, menurunkan kakinya dari tempat tidur. Mencari-cari sandal bulu miliknya yang memang dikhususkan sebagai alas kaki dalam ruangan. Rose mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, barulah dia paham jika Tuan Muda Marcelino sedang mandi.
Ceklek!
Pintuk kamar mandi terbuka. Muncullah Tuan Muda Marcelino dengan hanya menggunakan handuk pendek di bagian yang menonjol saja. Bagian atas tubuhnya terbuka lebar, memamerkan tubuh atletis Tuan Muda Marcelino yang basah. Rose menelan salivanya demi melihat pemandangan itu.
“Jaga pandanganmu, Rose. Tidak usah menatapku begitu lama, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan.” Hardik Tuan Muda Marcelino menegur Rose.
Rose mencebik seolah tak bersalah, padahal dia memang sedang menikmati pemandangan itu.
__ADS_1
“Pikiran Tuan Muda itu yang selalu salah menilaiku. Memangnya aku sedang memikirkan apa?” Elak Rose.
“Akui saja, tidak usah berkelit begitu.” Cecar Tuan Muda.
“Terus kalau aku akui, Tuan Muda memang mau bertanggung jawab atas pikiran kotorku itu? Tidak bukan? Disuruh buat anak saja harus berpikir panjang.” Tantang Rose.
Mata Tuan Muda Marcelino melotot ke arah Rose, tampaknya tersinggung dengan kata-kata Rose barusan. Padahal niat Rose memang hanya memancing Tuan Muda Marcelino saja.
“Kau ini … benar-benar ya.” Geramnya pada Rose.
Rose berlari cepat menuju kamar mandi menghindari serangan Tuan Muda Marcelino yang bisa saja brutal padanya. Sebelum menutup pintu kamar mandi, Rose mengintip keluar dan memeletkan lidahnya ke arah Tuan Muda Marcelino. Persis anak kecil yang bertengkar karena berebut permen.
Tuan Muda Marcelino semakin berang melihat tingkah konyol Rose. Namun Rose kadung menghilang dari balik pintu. “Tuan Muda, segeralah berpakaian, Sebelum aku keluar dengan telanjang dan kau tanggung sendiri akibatnya.” Ucap Rose cekikian dari dalam kamar mandi.
“Coba saja, maka kulempar kau keluar dari pulau ini dan jadi makanan hiu.” Seloroh Tuan Muda kesal.
Tiga puluh menit kemudian, mereka bertemu di meja makan untuk sarapan. Seperti biasa, mereka sarapan tanpa Tuan Besar Mafioso lagi. Tuan Besar selalu sibuk dengan rekan-rekan bisnisnya, hampir tak punya waktu untuk bersama keluarga. Itu sebabnya, Tuan Muda Marcelino kerap kesepian semenjak ibunya meninggal saat usianya baru tujuh tahun.
Usai makan, Rose dan Tuan Muda Marcelino sudah ada di ruang keluarga. Mereka duduk di sofa dengan posisi berdekatan. Memulai acting seperti di film-film.
“Jadi Tuan, Nyonya, Tuan Besar Mafioso memerintahkan saya untuk menjadwalkan Tuan dan Nyonya bertemu dokter obgin. Terkait perencanaan program kehamilan yang akan dijalani oleh Tuan dan Nyonya.”
Tuan Muda Marcelino terlihat gusar, agaknya Tuan Besar Mafioso sangat serius tentang memiliki anak ini. Rose menanggapi biasa saja, dia sudah memprediksi bahwa mau tidak mau, suka tidak suka, dia tetap akan diminta melahirkan anak keturunan dari keluarga Mafioso.
“Baiklah. Jadwalkan sesuai perintah Daddy.” Jawab Tuan Muda Marcelino setelah menghela nafas panjang.
Pertemuan hari itu usai, Tuan Muda Marcelino dan Rose kembali ke kamar. Peter menghubungi Tuan Bersar Mafioso.
“Sesuai rencana, Tuan. Sejauh ini, mereka terlihat persis seperti pasangan suami isteri. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan baik dari tuan Muda maupun dari Nona Rose.”
“Bagus. Terus pantau mereka, terutama memantau Marcelino. Kau tahu kan seberapa nakal dan seberapa sering anak itu mengelabui kita. Aku tidak mau kecolongan lagi, karena itu buat mereka terus bersama dan tidak ada waktu untuk bertemu dengan anak sialan itu (maksundya, Shame).
__ADS_1
“Baik, Tuan. Saya tutup teleponnya.”
***
Volencia sudah sembuh, dia tak lagi terpukul karena kematian anaknya. Di hatinya hanya dipenuhi cara bagaimana membalas Rose. Juan kembali di pelukannya, pria itu hanya bisa pergi sebentar dari Volencia. Bersenang-senang di luar sana dan ketika bosan bisa dipastikan oleh Volencia bahwa pria itu akan kembali lagi padanya.
“Sayang, kau sudah tak marah lagi padaku kan?” tanya Juan seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Volencia.
Volencia tak menjawab, Juan lalu menenggerkan dagunya di bahu Volencia. Mengecup telinga Volencia hingga membuat wanita itu sedikit mendesah.
“Aku tidak marah padamu, asalkan kau mau membalaskan dendam anak kita karena ulah Rose. Perempuan itu harus bisa merasakan apa yang aku rasakan dari kehilangan seorang calon anak.”
Ada nada kemarahan di setiap ucapan Volencia. Juan hanya mengangguk mengiyakan, meredakan amarah Volencia yang sudah nyaris memuncak.
“Sesuai keinginanmu, sayang. Kita akan membuat perhitungan pada Rose dan suaminya yang sombong itu.”
Volencia tersenyum dan membalikkan tubuhnya ke arah Juan dan seketika bibir mereka berpagut, semakin cepat dan semakin dalam. Hingga yang terjadi selanjutnya adalah seperti kata Tuan Besar Mafioso, BEKERJA KERAS!
Perdebatan kecil justru terjadi antara Tuan Muda Marcelino dan Rose.
“Tuan, tidak bisakah kau berhenti mondar mandir seperti itu? Aku capek melihat Tuan mirip setrikaan.”
“Tentu saja kau tak khawatir Rose, aku yang akan menanamkan benih di dalam perutmu. Itu adalah hal mustahil bagiku, tidak akan mungkin terjadi!” Terangnya dengan nada kesal.
“Apa pernah aku memintamu untuk melakukan itu? Apa Tuan Muda tidak pernah memikikan perasaanku yang berada di posisi ini? Jangankan hamil dan memiliki anak, aku sudah tidak peduli bahkan jika aku mati. Asal … asal dendam keluargaku terpenuhi.”
“Kau … kau keluarlah sebentar. Biarkan aku tenang dulu, aku ingin memikirkan semua ini dengan baik.” Lirih Tuan Muda Marcelino.
Rose pun keluar dari kamar itu dengan berbagai macam gerutuannya.
“Enak saja, dipikirnya enak apa ada di posisi sebagai aku? Memangnya siapa yang ingin melahirkan anakmu? Andai saja ini bukan tentang kelanjutan misi balas dendamku, aku juga tidak mau memiliki hubungan denganmu, Tuan Muda.” Desis Rose.
__ADS_1