
"Bagaimana denganmu dan Shame?" Tanya Rose begitu mereka tiba di hotel.
"Sesuatu yang panas terjadi di tempat tidur itu tentunya." Ucap Tuan Muda Marcelino seraya melirik tempat tidur yang ada di samping mereka.
"Iiiyuhh...! Aku tidak mau membayangkannya." Ucap Rose membuang muka, dia melempar tasnya ke sofa dan duduk.
"Yang minta kau membayangkannya siapa, Rose? Emm, ngomong-ngomong hari ini kau berhutang lagi padaku. Aku sudah menolongmu dari cambukan Papamu itu."
"Hitung saja sepuasmu, Tuan Muda. Aku malas membahas hal itu, dia bukan Papaku." Jawab Rose menunjukkan ekspresi sedihnya.
"Bukan Papamu gimana?"
"Yah, dia bukan Papaku. Mereka semua bersekongkol untuk membunuh seluruh anggota keluargaku. Kakek, Nenek, bahkan Mamaku." Raut wajah Rose mengeras menahan marah. Matanya merah, bahkan untuk menangis saja dia tak mampu lagi.
Tuan Muda Marcelino menatap Rose dengan ekspresi wajah ramah dan terbuka. Seolah mengatakan, menangislah Rose ada aku di sampingmu. Ekspresi itu entah sebuah ketertarikan atau hanya ekspresi wajar dan iba ketika melihat orang lain begitu menderita.
Tangan Tuan Muda Marcelino berangsur membuka begitu dia duduk di samping Rose. Sikap tak terduga itu membuat Rose kaget sekaligus malu. Sungguh sangat tidak mudah ditebak Tuan Muda ini.
"Menangislah, Rose. Jangan tahan jika air matamu ingin keluar. Menangis sama sekali bukan hal yang hina, wajar bagi seorang perempuan menangis. Bukan karena untuk menunjukkan kelemahan, tapi karena beban yang terlalu banyak dan dihadapi sendirian. Kamu pantas bahagia, karena di balik air mata seorang perempuan selalu ada kekuatan yang akan memancarkan kebahagiaan suatu saat nanti."
Rose tak menyangka Tuan Muda Marcelino akan berbicara sebanyak itu padanya. Terlebih lagi kata-katanya sangat bijak, berbeda sekali dengan kesan yang ditunjukkan ketika Rose pertama kali bertemu dengannya.
Tuan Muda Marcelino meletakkan tangannya di bahu Rose. Rose tak bisa berkata banyak, hanya menikmati suasana tak biasa itu agar dia bisa lebih baik. Meskipun dia tahu, seromantis apapun Tuan Muda Marcelino terhadapnya itu tak akan berarti apa-apa bagi hubungan mereka.
Jangan terlalu berharap banyak Rose, Tuan Muda Marcelino melakukan itu hanya sebuah bentuk perhatian biasa. Dia sama sekali tidak memiliki ketertarikan apapun pada seorang perempuan. Tidak terkecuali padamu. Batin Rose mengingatkan dirinya sendiri tentang hubungannya dengan Tuan Muda Marcelino.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar hotel diketuk. Rose berdiri untuk membuka, dia takut akan semakin terbiasa dengan sikap Tuan Muda Marcelino terhadapnya. Dengan gugup Rose permisi untuk membuka pintu.
Setelah pintu terbuka, di depan Rose berdiri dua pria yang dia kenali sebagai pengawal pribadi yang dikirim khusus untuk perjalanan mereka di kota W.
__ADS_1
"Nyonya, anda dan Tuan Muda Marcelino diminta untuk segera kembali ke pulau. Semua sudah siap di bawah, kami tunggu Nyonya dan Tuan di bawah."
"Baiklah, kami akan segera berkemas dan menyusul kalian."
Rose menutup pintu dan kembali ke dalam.
"Siapa?"
"Pengawal Tuan Besar Mafioso, sudah waktunya kita pulang! Biar aku yang bereskan barang-barang kita. Tuan Muda bisa turun lebih dulu."
"Tidak, aku di sini bersamamu, kita bereskan bersama." Tolak Tuan Muda Marcelino
Jangan terlalu membiasakan hal-hal seperti ini Tuan Muda, aku tidak akan tahu kapan aku masih bisa menahan diri untuk tak jatuh cinta padamu.
Rose melirik ke arah Tuan Muda Marcelino, andai saja dia bukan seorang Gay. Begitu batin Rose saat melihat lengan-lengan berotot milik Tuan Muda Marcelino.
"Ada apa, Rose?" Tanya Tuan Muda Marcelino menangkap basah Rose sedang memandangi tubuhnya.
"Ah, tidak." Jawab Rose malu.
Tuan Muda Marcelino tersenyum kilas, dilihatnya wajah Rose yang memerah tomat. Selesai packing, Tuan Muda Marcelino membawa koper milik mereka dengan dua tangannya. Rose sudah meminta untuk membawanya sendiri, namun Tuan Muda Marcelino bersikeras untuk membawa keduanya.
"Biarkan saya saja, Tuan." Ucap mereka bersamaan.
Tuan Muda Marcelino menyerahkan koper-koper itu tanpa sungkan dan masuk ke dalam mobil.
***
Suasana berbeda sedang terjadi di sebuah rumah sakit bersalin.
"Anakku ... tidak ... mana anakku?" Tangis Volencia pecah di ruang bersalin.
Dia baru saja kehilangan janinnya, karena keguguran. Efek dia terjatuh dari lantai karena ingin memberi pelajaran pada Rose.
"Ini semua gara-gara Rose, semua karena Rose. Dia membunuh anakku!" Raung Volencia seraya memukul-mukul dada Juan yang coba menenangkannya.
__ADS_1
"Volencia, tenanglah! Jangan berteriak seperti itu. Seluruh isi rumah sakit bisa terganggu karena suaramu!" geram Juan.
"Ada apa denganmu? Anak kita mati gara-gara perempuan ****** itu, bagaimana bisa kau setenang itu? Apa kata-kata Rose benar? Kamu tidak berselera pada perempuan yang sedang hamil, makanya kamu tidak merasakan kehilangan sedikitpun atas janinku yang gugur itu. Keterlaluan kamu, Juan!" ucap Volencia berang.
"Terserah apa katamu! Aku pusing melihat kamu seperti ini terus." Ucap Juan dan pergi meninggalkan Volencia di ruangan itu.
Volencia menangis tersedu-sedu, dia tak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Sejak awal kehamilannya, Juan-lah yang senang dia bisa hamil. Namun sekarang semuanya berubah begitu saja.
Di tengah tangisnya yang belum reda, Lobelia datang bersama Robert.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Lobelia pada Volencia.
Volencia yang merasa putus asa, hanya bisa menghambur memeluk Lobelia.
"Mom, janinku ... janinku keguguran. Aku kehilangan anak itu." Tangis Volencia tumpah di pelukan Lobelia.
"Sialan! Semua ini gara-gara Rose, dia yang menyebabkan kamu kehilangan anakmu. Kita harus bisa membalaskan dendam atas kematian anakmu. Robert, tolong bertindaklah keras pada Rose. Kita tidak bisa terus-terusan diam seperti ini sementara dia terus menindas kita."
"Tenang saja, untuk sementara kita akan memikirkan cara bagaimana membalas dendam padanya."
"Sayang, kamu harus pulihkan tenagamu dulu. Mana, Juan?" tanya Lobelia heran karena tak melihat Juan di sana.
"Dia pergi, aku juga tidak tahu dia kemana. Dia sama sekali tak punya rasa kehilangan sedikitpun. Aku rasa dia mulai tertarik lagi pada Rose." Geram Volencia.
"Sudah, jangan terlalu membebani dirimu dengan banyak pikiran. Juan, akan kembali padamu." Hibur Lobelia.
Rose, kau akan membalas semuanya. Meskipun aku harus mati berdarah asalkan aku bisa membalaskan apa yang telah kau lakukan padaku saat ini.
"Volencia, lain kali kau harus lebih hati-hati. Di keluarga ini kita tak punya penerus laki-laki, karenanya ke depan kau mesti melahirkan seorang bayi laki-laki. Ingat itu." Jelas Robert pada Volencia seakan menegaskan bahwa jika kau tak bisa melahirkan, maka harta kekayaan keluarga Robert tidak akan pernah menjadi milikmu.
"Robert, kau tidak bisa berkata seperti itu. Dia masih trauma karena kehilangan anak, kau malah memintanya melahirkan anak laki-laki. Memangnya setiap anak yang lahir bisa kita tentukan jenis kelaminnya?"
"Lahirkan anak laki-laki atau aku yang akan membuatnya terlahir ke dunia ini dari rahim orang lain." Ucap Robert dengan nada mengancam.
Lobelia terperangah, Robert mengatakan itu di depannya seolah mengatakan pada Lobelia bahwa selama ini dia tak bisa melahirkan seorang anak laki-laki. Itu jelas-jelas penghinaan untuk Lobelia.
__ADS_1
Belum sempat Lobelia membalas perkataan Robert, pria tua itu sudah keluar dari ruangan meninggalkannya.
Dasar tak punya perasaan. Gerutu Lobelia dalam hati.