
Rose mulai kepikiran sesuatu yang nakal, semacam mengerjai Tuan Muda Marcelino. Dia terkekeh mengingat-ingat rencana yang dia dapatkan saat berada di kamar mandi tadi. Setelah mengeringkan rambutnya, Rose mengambil baju tidur di lemari.
Sebetulnya, Rose juga sedikit risih bila harus memakai gaun tidur yang sementara berada di tangannya itu. Bukan cuma pendek, tapi juga menerawang. Memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh yang seharusnya Rose bungkus dengan rapat. Tapi karena kali ini dia dalam sebuah misi, maka dia pun rela menggunakan gaun itu.
Sekarang, mari kita lihat reaksi Tuan Muda Marcelino. Batin Rose seraya terkekeh.
Tuan Muda Marcelino yang baru saja keluar dari kamar mandi, terkejut dengan Rose yang berbaring di atas tempat tidur dengan pose menantang. Tanpa Bra, hanya gaun malam transparan dan celana dalam berwarna gelap. Kontras sekali dengan gaun yang dipakainya itu.
Rose menopang kepalanya dengan satu tangan, memperhatikan Tuan Muda Marcelino.
"Cih! Baju apa yang kamu pakai itu, Rose?"
"Hanya gaun malam, rasanya lebih nyaman tidur dengan gaun seperti ini." Jawabnya acuh.
"Apa kau lagi-lagi coba merayuku?"
"Buat apa? Untuk membuat anak? Boleh saja, asalkan Tuan dengan suka rela menyerahkan tubuh Tuan padaku." Kekeh Rose.
"Jangan ingatkan aku akan hal itu, Rose!" Balas Tuan Muda Marcelino dengan nada suara sedikit meninggi.
Sepertinya Tuan Muda Marcelino benar-benar frustasi memikirkan tentang anak itu.
Handuk dengan sebatas pinggul agak melotot ke bawah yang dikenakan Tuan Muda Marcelino membuat Rose menelan salivanya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, jika Tuan Muda Marcelino memang memiliki pesona tersendiri.
Perutnya rata, hampir tak ada lipatan perut bahkan terlihat seperti roti sobek. Idola para wanita dengan segala macam akal untuk bisa tidur dengan pria seperti Tuan Muda. Dadanya yang menonjolkan otot-otot dada, ditambah pemandangan titik-titik air yang masih menempel di tubuhnya. Membuat imajinasi nakal Rose bereaksi. Otot-otot lengan yang kekar seakan memaksa Rose berkeinginan untuk menggigit lengan itu.
Astaga, bagaimana bisa aku membayangkan hal-hal jorok seperti ini. Tapi tak dipungkiri, Tuan Muda Marcelino sangat menggiurkan. Sayangnya ... dia ... hhhh, sudah aku tidak mau memikirkannya lagi.
Tidak mau memikirkan katanya, kenyataannya Rose tak bisa menahan diri. Toh, status mereka saat ini adalah suami isteri. Meski menurut mereka berdua itu hanyalah pura-pura dan permainan semata.
__ADS_1
Rose mendekati Tuan Muda Marcelino yang sedang memilih baju di lemari. Rose dari belakang memeluk perut rata Tuan Muda Marcelino. Mengecup punggung Tuan Muda beberapa kali.
Tuan Muda Marcelino sontak berbalik, karena Rose tak memiliki keseimbangan tubuh yang bagus juga tak mengira respon Tuan Muda Marcelino secepat itu. Rose nyaris terjatuh ke belakang, untung saja tubuh Rose segera diraih dengan satu tangan oleh Tuan Muda Marcelino.
Sekarang posisi mereka, justru menguntungkan bagi Rose. Seperti ada yang aneh dengan jantungku. Tatapan Tuan Muda Marcelino membuatnya berdetak lebih cepat. Sepersekian detik ketika mataku dan matanya bertemu, aku merasa seperti ada sengatan kecil yang menyentil hatiku. Hush, aku sedang memikirkan apa? Aku tidak sedang jatuh cinta padanya kan?
Bagian dada Rose menyembul begitu saja di depan Tuan Muda Marcelino, karena gaun malam yang dikenakan Rose memang sangat transparan. Wajah Tuan Muda Marcelino sedikit menegang. Dia sudah sering melihat hal semacam itu. Tapi di hadapan Rose, dia merasakan ada keganjilan akan dirinya.
Wanita ini, kenapa dia berbeda? Kenapa aku semacam memiliki ketertarikan padanya? Menyentuh perempuan sedekat ini pun aku tak pernah, bahkan membayangkannya saja kadang aku risih dan benci. Berbeda ketika aku melihat tubuh pria dengan gaya maskulin, reaksi yang timbul justru sangat cepat. Untuk pertama kalinya, ah sudahlah mungkin saja ini hanya perasaan refleks. Lagi pula, otaknya ditaruh dimana sampai dia memakai gaun tipis dan transparan seperti itu. Rose, kau akan masuk angin. Batin Tuan Muda.
Akhirnya, apa yang dibayangkan Rose (membayangkan adegan tubuhnya diangkat mendekat lalu ciuman) tak terjadi sama sekali. Tubuh Rose malah dilepas hingga, Rose terjatuh ke lantai dan mengaduh kesakitan.
"Kenapa dilepas? Jatuh kan." Tanya Rose memasang wajah cemberut.
"Itu karena kamu sudah berani mengkonfrontasiku dengan gaun macam itu. Tapi Rose, harus kamu tahu aku sama sekali tidak tertarik." Jawabnya sarkas.
Tunggu saja, sampai kapan kau akan bertahan Tuan Muda.
Tuan Muda Marcelino selesai berpakaian piyama. Dia duduk di sofa dengan menyilangkan kaki, piyama yang dipakainya terbuka di bagian dada. Fokus Rose masih saja di sana, dia membayangkan akan rebah di dada itu seraya mendengar detak jantung Tuan Muda Marcelino lalu tertidur.
Sebuah pepatah mengatakan, jika kamu susah untuk tidur maka pergilah di pelukan pasanganmu. Dengarkan suara jantungnya, irama detak jantung itu akan membuatmu lebih tenang dan rileks hingga mudah bagimu untuk memejamkan mata dan tidur.
Rose sedang memikirkan momen semacam itu tanpa rasa malu. Mungkin saja kali ini, dia benar-benar sudah jatuh cinta. Lalu bagaimana dengan Tuan Muda Marcelino? Entah.
"Jangan sebut tentang itu lagi, Rose. Pasti akan kutemukan cara selain berhubungan intim secara langsung denganmu. Enak saja, kau pasti sudah memikirkan hal-hal kotor kan?"
Rose tersenyum mendapat tuduhan itu, bahkan Rose sejak tadi sudah memikirkan tidur denganmu Tuan Muda, kau saja yang tak peka. Haha.
"Kuharap kau segera menemukan caranya, Tuan Muda. Aku sudah tak sabar melahirkan keturunan dari keluarga Mafioso." Tatapan Rose seakan mengatakan, kena kau Tuan Muda.
__ADS_1
Tatapan nakal itu direspon dengan wajah masam dari Tuan Muda Marcelino. Karena itu Rose ingin sekali tertawa melihatnya.
"Sampai kapan Tuan ingin tidur di sofa itu?"
"Sampai kamu berhenti mengatakan tentang anak, kau pikir segampang itu."
"Memang gampang Tuan, sama seperti ketika Tuan bermain kuda lumping dengan Shame." Ucap Rose seraya tertawa.
"ROSE ... dasar mesum!" Pekik Tuan Muda seraya melempar bantal kursi ke arah Rose.
Rose tertawa sampai perutnya sakit. "Berhenti mengerjaiku atau kau akan merasakan akibatnya, Rose." Lanjut Tuan Muda Marcelino dengan nada mengancam.
Rose menaikan kedua bahunya tanda tak peduli. Saat Rose mau menarik selimut, tanpa disangka Tuan Muda Marcelino melompat ke tempat tidurnya. Rose tersudut ke kepala tempat tidur, bersandar di sana dalam keadaan terpojok. Tatapan Tuan Muda Marcelino seperti harimau lapar yang siap memangsa mangsanya.
"Ishhh, Tuan apa yang kau lakukan?"
"Ini kan yang kamu mau, Rose?"
Mengapa dia jadi bertingkah aneh begini si? Mendekat sedikit lagi, kutendang selangkanganmu, Tuan.
Tuan Muda Marcelino menyeringai sekilas, sementara Rose sudah bersiap-siap kalau saja Tuan Muda Marcelino tiba-tiba menyerang dirinya. Ketika wajah Tuan Muda Marcelino semakin dekat, jangankan menendang ************, Rose justru tak berkutik. Dia diam menunggu Tuan Muda Marcelino melanjutkan aksinya.
Sesaat kemudian, Tuan Muda Marcelino menyapu wajah tegang Rose dengan tangannya secara cepat dan kasar.
"Dasar otak mesum!" pungkasnya kepada Rose.
Tuan Muda Marcelino membalikkan badannya seraya berbaring di sisi Rose.
"Tidurlah dan jangan coba melakukan hal-hal tak senonoh padaku. Malam ini aku tidur di sini, kau sangat kesepian rupanya."
__ADS_1
Rose tak bisa menahan malu, pikiran dia sejak tadi hanya menunggu agar Tuan Muda Marcelino segera mencium atau apapun itu. Namun, hal itu sama sekali terjadi. Kecewa? Entahlah, bahkan Rose sendiri tak paham dengan apa yang terjadi di kepala dan hatinya yang seolah bersekongkol mengkhianatinya.
Dia menarik selimutnya pelan lalu tidur membelakangi Tuan Muda sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu sudah membayangkan hal jorok di depan Tua. Muda Marcelino.