
"Sekarang aku tahu, alasan kamu dikurung di sini dengan penjagaan ketat." Ucap Rose serasa menyibak selimut yang masih menutupi seluruh tubuh Tuan Muda Marcelino.
"Tak disangka, anak seorang Tuan Besar Mafioso yang menguasai hampir seluruhnya dunia kegelapan bawah tanah bisa mendapatkan kesialan dari anaknya sendiri. Cih! Sayang sekali."
Rose kali ini lebih berani menghadapi Marcelino. Tuan Muda Marcelino itu menggosok-gosok matanya dan melihat siapa yang sudah berani mengganggu tidur paginya itu.
"Berani sekali kamu!" Umpatnya menatap tajam ke arah Rose.
"Kenapa harus takut? Aku sudah melewati banyak hal seumur hidupku. Sekarang, akan kuberi tahu bagaimana hidup yang benar."
"Haha..., gadis kecil sepertimu mau mengerjakan aku mengenai hidup? Hahaha, kedengaran sangat lucu. Pergi! Sebelum aku menunjukkan padamu kekerasan yang pernah kulakukan pada setiap wanita yang sudah berani memasuki kamarku."
"Seorang Tuab Muda Marcelino, anak tunggal dari Tuan Besar Mafioso, pewaris tunggal Tahta Mafioso, harus berhenti di tangannya karena tidak memiliki garis keturunan selanjutnya. Bagaimana dengan isi berita yang sekiranya akan beredar di jagat Maya nanti? Apakah kamu sanggup menerima atau apakah kamu sanggup mendapatkan hukuman dari Tuan Besar?"
"Apa maksudmu?"
"Kamu Gay. Itu sebabnya kamu membenci wanita. Karenanya itu juga aku harus bersyukur, bahwa selama aku di sini tak akan terjadi apapuna antara aku dan kamu."
"Sialan! Berani sekali kamu--
"Hei, Tuan Muda. Hidupku sudah sudah sejak awal, bagaimana kalau kita mempermudah saja hal ini." Ucap Rose seraya merangkak ke atas tubuh atletis Tuan Muda Marcelino.
Hahaa..., seperti orang kesetanan, Tuan Muda Marcelino menarik selimut hingga ke atas dadanya. Membuat Rose terjungkal ke sisinya.
"Jadi itu kelemahanmu? Takut disentuh oleh wanita? Padahal, jarang sekali ada orang yang menolak pesonaku Tuan Muda." Ucap Rose genit demi menggoda Tuan Muda Marcelino.
Jari-jari Rose sudah meniti lengan berotot Marcelino. Membuat Tuan Muda itu bergidik karena bulu-bulu di tubuhnya seakan berdiri semua karena menahan geli. Rose sangat menyukai situasi itu. Dia berhasil melancarkan aksinya untuk menakut-nakuti Tuan Muda.
__ADS_1
"Rose, STOP!" Teriaknya. "Katakan, apa yang kamu inginkan?"
"Sederhana saja dan itu mudah sekali. Kita menikah."
"WHAT???" Mata Marcellino membola. "Tidak. Itu tidak mungkin. Kamu berada sedekat ini saja denganku, aku merasa dunia akan kiamat. Lantas bagaimana bila menikah denganmu? Itu tidak mungkin."
Rose mendekatkan kepalanya ke wajah Marcelino. Marcelino menutup matanya, meram melek melihat wajah Rose terlalu dekat.
"Awalnya kupikir kamu ini lelaki yang menyeramkan, bengis, tidak tahunya kelemahan kamu adalah wanita. Beruntung sekali aku menjadi orang pertama yang tahu hal ini langsung dari Tuan Besar. Jadi mengapa kita tidak membuat kesepakatan saja?"
"Sudah, jangan banyak bicara lagi. Apa yang kamu tawarkan? Dan satu lagi, menjauh dariku. Duduk di kursi sana!"
Rose tertawa melihat kekonyolan tingkat Tuan Muda Marcelino itu. Tak disangka urusannya menjadi sangat mudah seperti ini. Satu bulan rasanya terlalu lama bagi Rose, Minggu depan pun dia bisa saja mewujudkan keinginan Tuan Besar itu untuk menikah dengan putranya.
Aku Rose, apapun cara akan aku tempuh demi balas dendam. Bahkan jika harus menikah dengan laki-laki Gay sekalipun.
"Kita sama-sama punya tujuan untuk bisa keluar dari pulau ini. Jika kita menikah, maka akses itu pun akan terbuka lebar. Kenapa kamu tidak sampai kepikiran hal itu Tuan Muda?"
"Kamu pikir Tuan Besar atau Ayahku itu begitu mudah untuk dikelabui? Jangan mimpi, Rose."
"Karena itulah, kita harus memerankan peran terbaik, Tuan Muda. Aku dengan peranku sebagai isteri Tuan Muda, dan kamu dengan peranmu sebagai Suamiku. Lakukan yang terbaik atau kita berdua MATI SIA-SIA. Aku bisa bayangkan, betapa kamu sangat merindukan gundik-gundik priamu itu bukan?"
Marcelino berpikir sejenak.
Kurasa tidak ada jalan lain, cara Rose mungkin saja berguna. Tentu dengan berusaha sebaik mungkin melakukan peran suami isteri agar Tuan Besar percaya.
"Baiklah! Aku percaya padamu. Aku ikut caramu."
__ADS_1
"Bagus sekali, Tuan Muda."
"Sekarang, Tuan Muda tampar aku. Lakukan seperti Tuan Muda sedang menyiksaku. Aku akan berteriak sekencang-kencangnya, agar penjaga di depan pintu kamar Tuan Muda dapat mendengar dengan jelas. Dengan begitu, mereka akan melaporkan hal itu pada Tuan Besar. Sebagai bentuk kesulitan aku menghadapi Tuan Muda. Lalu setelah itu, aku akan berusaha menaklukkan Tuan Muda. Tuan Besar memberiku waktu satu bulan, sekarang Minggu kedua. Maka terhitung dua Minggu lagi, aku harus membuat Tuan mau menikah denganku. Tentu saja, harus Tuan sendiri yang meminta pada Tuan Besar. Satu lagi, mungkin dua Minggu ke depan adalah cobaan terbesar untuk Tuan, karena harus bermesraan denganku selagi Tuan Besar dan seluruh mata-mata di rumah ini ada."
Marcelino kembali terdiam. Dia menarik nafas panjang.
"Kedengarannya terlalu sulit, namun aku akan membiasakan untuk bisa bersentuhan denganmu, Rose."
"Begitu lebih baik, Tuan Muda. Sekarang lakukan!"
**PLAK!
PLAK**!
Dua tamparan kiri kanan mendarat dengan keras di pipi Rose. Rose menjerit sejadinya, lalu keluar ruangan dengan memegangi pipinya yang nampak memerah. Penjaga itu hanya diam di tempat, walau sempat dia melihat ke arah Rose yang berlari ke kamarnya.
***
Di dalam kamar, Marcelino mencerna kembali setiap ucapan Rose padanya.
Rencana busuk wanita itu jika dipikir-pikir ternyata bagus juga. Aku tak pernah terpikir sebelumnya. Dia memang wanita yang berbeda, masih muda, bersemangat, dan tentu saja memiliki jiwa balas dendam yang sangat besar. Walau aku tak tahu persis, apa yang sudah dia lalui selama ini. Begitu saja, dia tiba di depanku karena berhasil dibeli oleh Papa dari seseorang bernama Robert. Apa mungkin karena itu, dia sangat ingin balas dendam?
"Huh, anggap saja ini awal untuk memulai kembali duniaku yang dulu. Tunggu aku Shame!"
Siapa Shame?
****
__ADS_1
Kita akan tahu di part berikutnya. Mohon saran dan kritiknya ya. Terimakasih, bila sempat tekan like dan komen ya. Hehe