
Sesungguhnya ada perasaan cemas yang dirasakan, baik Rose maupun Tuan Muda Marcelino. Seharusnya dia masih menikmati bulan madu di kota W, namun ada perintah langsung dari Tuan Besar Mafioso meminta agar mereka segera kembali ke pulau.
"Apakah Tuan Besar marah?" tanya Rose.
"Tidak, santailah sedikit Rose. Kita akan tahu setelah sampai di pulau."
Rose tak henti meremas jemarinya, terlihat sangat gugup dan cemas. Di luar sana dia bisa melawan siapapun, namun melawan Tuan Besar Mafioso bukanlah hal yang benar. Melawan Tuan Besar Mafioso sama saja dia menyerahkan nyawanya. Beruntung Rose masih dibiarkan hidup dan diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari keluarga itu secara langsung. Jika tidak, mungkin Rose sudah jadi santapan ikan-ikan buas di bawah laut sana.
Melewati perjalanan jalur darat dan laut, akhirnya mereka sampai di kediaman tertutup Tuan Besar Mafioso. Masuk ke pulau bukanlah hal yang mudah, harus melewati beberapa prosedur ketat yang memungkinkan kita bisa kehilangan nyawa sekaligus.
Tuan Muda Marcelino sudah tiba bersama Rose. Tuan Peter yang merupakan orang kepercayaan Tuan Besar Mafioso meminta mereka untuk langsung bertemu dengan Tuan Besar.
"Silakan, Tuan, Nyonya. Tuan Besar Mafioso sudah menunggu di ruang kerjanya."
Tuan Muda Marcelino paham dan akting sebagai suami isteri pun dimulai lagi. Tuan Muda Marcelino meraih tangan Rose dan merekatkan ke sela-sela jemarinya. Agar tampak lebih mesra dan sempurna, Rose memegang lengan Tuan Muda Marcelino dengan tangan satunya. Senyum kilas terpancar dari wajah mereka, meski di dalam tentunya setengah mati mereka menahan cemas.
Pintu ruangan yang bernuansa remang itu terbuka. Asap dari cerutu Tuan Besar Mafioso melayang-layang di udara. Anehnya tidak terasa pengap dan bau seperti rokok pada umumnya. Rose justru menikmati bau dari asap cerutu itu.
Mereka duduk sambil menunggu Tuan Besar Mafioso berbicara. Biasanya Tuan Besar Mafioso akan berbicara setelah cerutunya habis. Rose sudah membayangkan selama apa mereka akan menunggu, sebab cerutu di tangan Tuan Besar Mafioso bahkan asapnya semakin mengepul tebal.
Wajah Tuan Besar Mafioso terlihat lebih menyeramkan dari biasanya. Padahal Rose baru beberapa hari tak bertemu dengan Tuan Besar Mafioso. Dari wajah saja, Tuan Besar Mafioso sudah sangat mengintimidasi. Apalagi ketika berbicara, suaranya yang berat, lantang dan lebih bertenaga. Membuat siapapun yang mendengar suara itu akan ketakutan dan bernyali kecil.
"Bagaimana perjalanan kalian pertama kali meninggalkan pulau menuju kota W?"
"Semuanya berjalan lancar, Dad."
"Iya, Tuan. Semuanya berjalan sesuai rencana, menghadiri pesta, berkeliling sejenak lalu kembali ke pulau."
"Aku ingin segera memiliki cucu, pertimbangkan hal itu."
'Aku ingin segera memiliki cucu' kata-kata itu jelas terekam di kepala Rose. Bahkan seperti terngiang-ngiang di telinganya lengkap dengan intonasi penekanan suara dari Tuan Besar Mafioso. Tentu saja, permintaan itu menjadi Boomerang bagi mereka berdua.
Punya anak? Bagaimana ini, Tuan Muda Marcelino tidak memiliki ketertarikan pada jenis kelamin perempuan. Bagaimana aku bisa punya anak darinya? Menikmati malam pertama saja habis dengan segala rencana pembalasan dendam yang sudah kususun bersama Tuan Muda. Duh, mati.
"Kenapa diam?"
"Kami akan berusaha, Tuan." Potong Rose cepat.
__ADS_1
Menunggu Tuan Muda Marcelino berbicara sama seperti menggali lubang kuburan sendiri. Tentu saja dia akan berpikir lebih lama dari Rose. Makanya Rose mengambil inisiatif duluan, entah bagaimana caranya mereka memiliki anak yang pasti mereka HARUS MEMILIKI ANAK. Itu kehendak Tuan Besar Mafioso yang tak suka mendapat penolakan itu.
"Baiklah, hanya itu. Bekerja keraslah, agar semuanya berjalan lebih mudah."
Maksud dari kata 'bekerja keras', itu bukan semacam sesuatu yang ... ah sudahlah! Baiklah, mari bekerja keras Tuan Muda. Batin Rose.
***
Situasi di kamar Tuan Muda Marcelino dan Rose.
Keduanya tampak bingung dan berpikir keras. Rose belum mengganti pakaiannya, begitu juga dengan Tuan Muda Marcelino. Dia masih duduk di atas ranjang seraya menopang dagu dengan kedua tangannya. Terlihat sangat serius.
"Bagaimana caranya?" ujar mereka hampir bersamaan. Membuat keduanya merasa sungkan satu sama lain.
"Kamu duluan." Pinta Tuan Muda Marcelino yang kesannya lebih ke perintah.
"Tuan saja dulu."
"Rose, jangan memancing kemarahanku. Bicaralah!" Pinta Tuan Muda Marcelino sekali lagi dengan penekanan yang lebih jelas.
"Haruskah ... kita melakukan itu?" tanya Rose sedikit tergagap.
"Lalu?"
"Aku akan cari caranya."
Berhenti ngobrol sejenak, Rose membuka pakaiannya begitu saja di depan Tuan Muda Marcelino. Awalnya Tuan Muda Marcelino acuh, tapi ketika Rose pelan membuka bra dan celana dalam, Tuan Muda Marcelino bereaksi.
"Bisakah kau tidak telanjang di depanku, Rose? Ada kamar mandi, kenapa tidak di dalam sana saja." Protes Tuan Muda Marcelino yang ditanggapi cuek oleh Rose.
"Haha ... Tuan ... Tuan ... memangnya kenapa? Toh kamu juga tidak tertarik, aku mau telanjang atau tidak sama sekali tak ada artinya bagi Tuan. Bukan begitu?"
"Cih ...! Beraninya kau, Rose. Iya, aku tidak tertarik tapi tidak di sini juga kau buka semuanya. Mataku jadi ternoda melihat pemandangan tubuhmu yang sama sekali tidak menarik minat itu."
Rose mencebik lalu masuk ke kamar mandi dengan langkah cepat.
Sialan! Wanita itu sudah dua kali telanjang di depanku. Tunggu, tapi kenapa aku protes? Bukankah itu harusnya tidak menggangguku sama sekali? Fiuh ...! Tiba-tiba saja aku teringat Shame.
__ADS_1
Sebelumnya di sebuah kamar hotel ...
Baru saja Shame tiba di kamar hotel itu, Tuan Muda Marcelino sudah menyambutnya dengan ciuman panas di bibir Shame. Pria itu memang sangat tampan, badannya juga atletis, terlihat mulus dan terlihat seperti pria sejati. Kenyataannya itu hanya bungkus luar semata, siapa yang tahu kalau dua pria berbadan sama bagusnya ini ternyata seorang Gay.
"Hei, really Miss You ...!"
"Yeah, Miss you too love ..."
Keduanya berpagut, berbagi udara lewat ciuman. Tuan Muda Marcelino mendorong Shame hingga merapat ke tembok. Deru nafas mereka semakin memburu seiring meningkatnya permainan yang mereka lakukan.
Sampai keduanya lengah, lelah dan tergeletak di atas tempat tidur bermandikan keringat di tubuh kotak-kotak itu. Anggap saja mereka baru selesai melakukan olahraga yang menguras keringat.
Shame dan Tuan Muda Marcelino sebenarnya berada di kelas yang sama di bangku sekolah menengah. Shame adalah orang yang seringkali mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari teman-teman laki-laki sekelasnya. Tuan Muda Marcelino tampil bak pahlawan di mata Shame.
Tuan Muda Marcelino akan muncul begitu Shame mendapatkan kekerasan. Tuan Muda Marcelino tak segan menghajar semua anak laki-laki yang berani pada Shame. Bermula dari sanalah ketertarikan itu mulai hadir. Shame yang mulanya lemah, perlahan dilatih olahraga keras dan beladiri oleh Tuan Muda Marcelino.
Shame semakin kagum setiap harinya, Tuan Muda Marcelino hadir sebagai penyelamat di saat apapun. Dari kedekatan itulah, Tuan Muda Marcelino akan jadi protektif ketika Shame dekat dengan siapapun. Begitu juga sebaliknya. Lalu sesuatu tak terduga terjadi, disela mereka latihan beladiri, Shame berhasil menumbangkan Tuan Muda Marcelino.
Beberapa saat mereka dalam posisi di mana Tuan Muda Marcelino di bawah dan Shame di atas. Lalu kejadiannya sangat cepat, Tuan Muda Marcelino mengangkat kepalanya dan mencium bibir Shame saat itu.
Shame melotot begitu mendapatkan serangan. Terdiam beberapa saat, ingin menolak tapi merasakan kenyamanan. Shame terbuai, keduanya terbuai hingga mereka terlibat skandal tak biasa selama bertahun-tahun.
Tuan Besar Mafioso mengetahui semuanya, Shame di usir dari pulau dan dikucilkan di suatu tempat. Sementara Tuan Muda Marcelino dibirkan tinggal di pulau dalam kesendiriannya.
Beberapa tahun kemudian, terdengar kabar bahwa Shame telah menyelesaikan hukumannya. Namun Tuan Muda Marcelino belum lagi bisa bebas. Banyak wanita menjadi korban atas ketidak tertarikannya itu. Siapapun wanita yang berani masuk ke dalam kamarnya maka tak segan-segan diperlakukan kasar.
Tuan Muda Marcelino tak juga bisa berubah, wanita-wanita itu sebagian besar menjadi makanan ikan di laut. Rose adalah wanita terakhir yang diberikan Tuan Besar Mafioso untuknya. Beruntung, Tuan Muda Marcelino seperti memiliki kecocokan dalam hal tujuan. Rose seorang yang cerdas, mampu mempengaruhi pikiran Tuan Muda Marcelino hingga mau menuruti semua ide yang bekerja di dalam kepala wanita itu.
Kemudian, di sinilah mereka sekarang. Terjebak dari rencana-rencana yang mereka buat sendiri. Persis sebuah Boomerang.
**ANAK?
ANAK?
ANAK?
TIDAK MUNGKIN**!
__ADS_1
Hal satu itu semakin mengganggu Tuan Muda Marcelino. Mungkinkah memiliki anak tanpa harus berhubungan?