
Malam itu Rose ingin tidur, namun karena haus dia pun ke dapur untuk mengambil minuman. Setelah itu dia kembali ke kamar, namun tak sengaja dia mendengar Robert dan Lobelia berdebat begitu melewati kamar mereka.
Rose pun memasang telinganya dengan baik, berharap dia bisa mendengar apa yang sedang mereka perdebatkan.
"Harusnya kau bunuh saja anak itu, tidak perlu menjualnya ke Tuan Besar Mafioso. Jika seperti ini, apa yang harus kita lakukan?" Suara Lobelia mendebat suaminya, Robert.
"Kau bicara apa? Bukankah kau juga menikmati setengah dari uang hasil menjual anak itu? Kenapa sekarang kau jadi menyalahkan aku?"
"Semua salahmu karena kamu yang punya ide itu. Kalau saja dia kita bunuh seperti Mamanya dulu, mungkin tak seperti ini kejadiannya."
Rose menutup mulutnya begitu mendengar kenyataan bahwa Mamanya meninggal bukan karena sakit, tapi karena dibunuh oleh mereka."
Rose tak menyangka jika Papanya akan sekejam itu dan malah bekerjasama dengan wanita rubah itu untuk menghabisi mamanya.
"Aku tak bisa sekejam itu, aku sudah membunuh kakek dan neneknya, juga ibunya."
Rose semakin tak bisa menahan air matanya. Jadi selama ini Rose hidup bersama seorang pembunuh yang menghabisi seluruh anggota keluarganya. Sungguh biadab.
Aku tak menyangka mereka akan sekejam itu. Sekarang aku baru tahu, mengapa mereka tak pernah bersikap baik padaku. Ternyata aku hanyalah seorang anak yang dipelihara oleh mereka. Bukan benar-benar menjadi bagian dari keluarga Robert. Jangan-jangan aku bahkan bukan anak kandung Robert. Gila! Aku akan menghabisi kalian semua.
Rose geram sekali mendengar kenyataan itu. Sehingga dia memutuskan kembali ke kamarnya dan tak ingin mendengar lagi perdebatan Robert dan Lobelia. Rose menyeka air matanya dengan jari-jarinya.
Aku harus kuat, aku tidak boleh menangis. Karena menangis hanya akan membuatku jadi orang yang lemah.
Rose menguatkan dan membesarkan hatinya sendiri. Rasa ingin balas dendam dalam dirinya semakin besar. Bahkan dia ingin agar semua itu bisa segera dia lakukan. Namun tak boleh gegabah. Bagaimana pun Rose ingin melihat mereka menderita seperti apa yang dirasakan oleh keluarga Rose yang mati dibunuh di tangan mereka.
***
"Sayang, aku keluar sebentar." Ucap Juan pada Volencia.
Volencia tidak menaruh curiga apapun kepada Juan. Dia begitu lelah, ingin segera istirahat apalagi Volencia tengah hamil anak pertama. Tentu mudah lelah dan butuh istirahat lebih banyak.
Setelah Juan mengecup kening Volencia, dia pun keluar dari kamarnya. Langkahnya begitu mencurigakan, mengendap-endap melewati dapur seolah tak ingin ketahuan siapapun.
Tok.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Terdengar suara pintu diketuk. Rose yang masih terjaga menjadi terusik karena pintu kamarnya diketuk seseorang. Rose turun dari tempat tidur, melangkah ke pintu dan membukanya. Dia tampak terkejut melihat siapa yang kini tengah berdiri di depannya.
"Juan." Ucap Rose.
"Hai, sayangku Rose. Apa kabar? Kau semakin terlihat seksi saja." Jawab Juan seraya menggoda Rose.
"Ada urusan apa kamu ke sini?"
"Tentu saja untuk menemui mantan isteriku yang tercantik."
"Cih, tidak usah memujiku terlalu tinggi. Volencia bisa marah jika tahu kau mengendap-endap mendatangi kamarku."
"Dia tidak akan tahu. Santai saja." Ucap Juan seraya memaksa masuk kamar Rose.
Rose mendorong tubuh Juan agar tak masuk.
"Jangan coba-coba masuk, kau mau reputasimu hancur? Lagi pula, kita tidak ada hubungan apapun."
"Hei, Rose kau begitu menggairahkan. Bibirmu terlihat penuh dan sangat seksi. Aku ingin menikmatinya sebentar saja." Juan memaksa mencium bibir Rose.
"Jangan pura-pura, Rose. Aku tahu kau masih mencintaiku."
"Cih, Tuan Muda Marcelino bahkan tidak ada apa-apanya bila dibandingkan denganmu. Jadi buat apa aku masih mencintaimu yang jelas-jelas hanya seorang lelaki pecundang."
"Kau semakin manis jika sedang marah, Rose." Juan meraih dagu Rose namun tangan Juan segera ditepis oleh Rose.
"Berhenti bermain-main denganku. Pergilah dan jamah istrimu saja."
"Dia sedang hamil, aku tidak bernafsu pada perempuan hamil. Aku lebih menginginkan kamu, Rose."
Rose tak sabar lagi, hingga dia pun menendang ************ milik Juan. Laki-laki itu mengadu kesakitan seraya melompat-lompat memegangi alat vitalnya. Rose menutup pintu kamarnya dan menguncinga. Dengan begitu Juan tak akan berani lagi.
Juan hanya bisa mengumpat. Dia kembali ke kamarnya dalam kondisi kesakitan. Tapi karena Volencia sudah tidur jadi wanita itu tak bisa bertanya apa yang sedang terjadi.
Keesokan harinya, saat sarapan pagi, Rose sudah duduk di kursi yang biasa dia duduki. Di sana sudah ada Robert, Lobelia dan Volencia. Tentu saja minus Juan.
__ADS_1
"Mana suamimu, Volencia?" Tanya Lobelia
"Di kamar, katanya sedang sakit." Jawab Volencia acuh.
"Bagaimana tidurmu, Rose?" Tanya Robert.
"Baik. Sangat baik. Aku tidur dengan nyenyak Papa. Kau sangat perhatian padaku, sekarang aku semakin yakin bahwa kau ini benar-benar Papaku yang sesungguh."
Robert terkejut mendengar kata-kata Rose.
Mengapa Rose berkata seperti itu? Apa jangan-jangan dia sudah tahu kalau dia ini bukan anak kandungku? batin Robert.
Baik Robert dan Lobelia keduanya bertatapan. Rose pura-pura tidak melihat itu, dia menyibukkan diri dengan makanan di depannya.
"Apa benar kau sedang hamil, Volen?" tanya Rose.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Selidik Volencia.
"Jadi Juan tak memberitahu kamu? Semalam dia menyelinap ke kamarku dan memaksaku untuk melayaninya. Katanya kamu hamil dan dia sedang tak bernafsu pada perempuan yang sedang hamil. Sayang sekali, karena aku tidak butuh pria macam dia jadi kutendang saja selangkangannya." Jelas Rose dengan wajah datar dan terkesan mencibir ke arah Volencia.
"Kau... itu karena kau pasti yang duluan menggodanya. Juan tak pernah berbuat macam-macam di belakangku." Volencia terlihat begitu marah.
"Oh ya? Apa kau sudah lupa dengan siapa dia bermain di belakang aku?" Balas Rose tepat sasaran.
"Siapa yang kau maksud, Rose?" Volencia menatap Rose dengan tatapan membunuh.
"Jangan pura-pura lupa ingatan, Vo. Tidak baik, kau masih muda."
Volencia menghempaskan sendoknya ke piring. Dia berlari ke kamarnya, mungkin meminta penjelasan pada Juan. Ya, seorang laki-laki jika mulanya dia penghianat maka tidak menutup kemungkinan kalau dia akan menjadi pengkhianat selamanya.
Robert dan Lobelia yang sejak tadi menahan diri, juga angkat bicara.
"Kau benar-benar merusak selera makan kami pagi ini, ******!" Ucap Lobelia kesal.
"Rose, kau sudah keterlaluan."
"Aku melakukan apa, sehingga kalian begitu khawatir dan marah? Ini belum apa-apa Papa, masih banyak kejutan lainnya yang aku siapkan untuk kalian. Ingat, harus ada yang membayar atas kematian kakek, nenek dan terutama Mamaku."
__ADS_1
Robert dan Lobelia terduduk kaku. Dia tak menyangka kalau Rose berbicara seperti itu. Rose sudah pergi meninggalkan mereka sejak mengucapkan kalimat-kalimat yang menohok barusan.