PEMBALASAN DENDAM ROSE

PEMBALASAN DENDAM ROSE
Menyusul Rose


__ADS_3

Kediaman keluarga Robert.


Semua orang terkejut melihat kedatangan Rose. Dia selalu penuh kejutan, setelah menghilang selama satu bulan dan hidup keluarga Robert mulai tenang. Kini dia muncul lagi di rumah itu.


"Luar biasa kamu, Rose. Memangnya rumah ini punyamu? Sampai begitu bebasnya kamu keluar masuk rumah ini tanpa izinku." Ucap Lobelia ketus.


"Aku rasa ini juga masih rumahku. Sesuatu yang diperoleh dengan cara merebut maka tidak tertutup kemungkin juga akan direbut kembali."


"Apa maksud kata-katamu?"


"Kata-kataku bahkan sudah jelas sekali. Apa kau sudah tuli Lobelia? Ah iya aku lupa, bukankah kamu ini memang sudah tua ya."


"Siapa bilang aku merebut? Apa kamu punya bukti?"


"Sekarang mungkin tidak, tapi lihat saja nanti. Jangan pernah meremehkan orang yang tadinya lemah karena ketika dia punya kekuatan maka tak akan menyisakan apapun untuk musuh-musuhnya."


Lobelia geram sekali, sampai tangannya terlihat mengepal menahan amarah.


"Lampiaskan kemarahanmu, Lobelia. Jika kamu tahan, maka kamu kemungkinan bisa terkena serangan jantung mendadak karena terlalu banyak menyimpan kesumat dan kebencian."


Tangan Lobelia sudah terangkat. Namun tak mendarat di pipi Rose, hanya menggantung di udara lalu Lobelia berbalik pergi dengan langkah yang kasar menaiki tangga.


Rose tersenyum kilas. Dia pergi ke kamarnya membawa satu koper miliknya.


**


Haruskah aku menyusulnya?


Tuan Muda Marcelino masih dilanda dilema berkepanjangan. Dia tak tahu harus berbuat apa selama Rose meninggalkan pulau. Ada rasa kosong dan berlubang yang kemudian menghuni hatinya karena ketidakhadiran Rose di sisinya.


Wanita itu apa tidak memiliki rasa takut sama sekali jika harus kembali lagi ke rumah itu? Rose ke rumah itu lagi, mana bisa aku setenang ini di sini. Suara hati Tuan Muda Marcelino.


Dia mondar-mandir di kamar seharian, tidak makan dan bahkan tidak mandi sama sekali. Dia malah membayangkan hal-hal yang sebelumnya biasa terjadi di kamar itu. Seperti ketika Rose senang sekali memandangi bagian atas tubuhnya yang berotot, atau ketika Rose menggodanya dan memberinya sedikit sentuhan dan ciuman.


Rupanya hal-hal seperti itu bisa juga membangkitkan memori Tuan Muda Marcelino tentang Rose. Apa aku baru saja merindukannya? Pikir Tuan Muda Marcelino. Wajahnya terasa ganjil ketika berkerut seakan tak percaya pada dirinya sendiri yang merindukan Rose.


"Ah, sial! Biar aku menyusulnya saja." Ucapnya setelah putus asa mencari alasan kenapa dia terus memikirkan Rose.


Setengah jam kemudian, dia berhasil meminta Peter agar memberi izin untuknya meninggalkan pulau. Rose bahkan belum sehari perginya tapi dia sudah kelabakan nyaris seperti orang gila.


Hamparan laut biru menjadi pemandangan sehari-hari yang dilihat Tuan Muda Marcelino. Sejujurnya dia tipe pria yang menyukai laut, dia menyukai hal-hal yang tak memiliki batas. Seperti air laut ini, kelihatannya punya batas tapi ternyata tidak. Itu semata-mata hanya tipu daya dari sudut pandang yang kita lihat.

__ADS_1


Kapal Fery pribadi yang membawa Tuan Muda Marcelino menyebrangi pulau itu melaju kencang di atas permukaan air laut. Memberi riak juga percikan-percikan ke wajah Tuan Muda karena terlalu dekat dengan sisi kapal.


Sekitar satu jam kemudian, Tuan Muda akhirnya sampai di pelabuhan kota W. Dia melompat turun ke geladak kapal, penjaga pelabuhan menunduk hormat padanya. Tuan Muda Marcelino tipe orang yang sedikit bicara pada orang yang tak terlalu penting baginya. Jadi wajar saja jika menyapa saja bahkan tak dilakukan olehnya.


Tuan Muda Marcelino sudah ditunggu oleh sebuah mobil yang siap mengantarnya ke rumah kediaman Robert.


Di perjalanan, hati Tuan Muda Marcelino tidak tenang. Hatinya selalu mengatakan untuk cepat dan cepat agar bisa segera sampai di rumah itu.


Ciiittt ....


Ban mobil milik Tuan Muda Marcelino berdecit panjang di depan rumah Robert. Dia turun dari mobilnya dan berjalan ke arah pintu rumah Robert. Sang penjaga sungkan menghentikan Tuan Muda Marcelino, lebih baik tak berurusan dengannya jika ingin hidup tenang. Begitu pemikiran sang penjaga.


Blammm ...


Pintu kamar Rose terbuka. Rose menoleh kaget. Tuan Muda Marcelino menghampiri Rose dan menyerangnya dengan ciuman. Rose gelagapan dibuatnya karena diserang tiba-tiba. Seribu pertanyaan menyerang kepala Rose, dia mendorong tubuh Tuan Muda Marcelino hingga dia terbebas dari pagutan itu.


"Ada apa ini?" tanya Rose.


Sedangkan yang ditanya hanya diam saja, mencari tempat duduk dan tertunduk tak tahu harus berkata apa.


Rose dibuat bingung dengan sikap Tuan Muda Marcelino. Apa dia sedang merindukanku? Tapi itu terdengar mustahil dan naif sekali rasanya. Tapi mengingat laki-laki itu makhluk yang cuek, meski rindu sudah terasa di ujung-ujung kulit pun kadang ia masih kekeuh untuk menyimpannya diam-diam. Aku rasa kali ini tebakanku benar, dia merindukanku hanya gengsi untuk bilang.


"Jangan terlalu senang, aku menciummu bukan berarti aku bernafsu pada perempuan apalagi jika kau menganggap bahwa aku merindukanmu." Ucapnya kemudian setelah diam cukup lama, seakan tahu apa yang baru saja dipikirkan Rose.


"Aku membawakan bunga kesukaanmu, tapi lupa kuambil di mobil. Aku buru-buru masuk sampai lupa harus membawa apa."


Rose menyembunyikan senyumnya. Sebagaimana perempuan itu peka terhadap perasaan pasangannya, maka Rose kini bisa membaca bahwa Tuan Muda Marcelino sedang rindu berat padanya. Saking rindunya sampai dia beralasan lupa bawaan demi segera bertemu Rose. Ah itu sih alasan klise, bilang saja Tuan Muda begitu ingin merasakan bibir manis Rose lagi.


"Apa mau kuambil kan dulu? Biar kau percaya?" Rose tergelak karena tak menyangka bisa melihat Tuan Muda Marcelino segugup itu.


"Apa yang kau tertawakan?" protesnya karena melihat Rose yang seolah mengejek dirinya.


"Tidak ada, Tuan. Aku begitu tak sabaran ingin menerima hadiah dari Tuan."


"Baiklah, aku akan ambilkan."


Tawa Rose kemudian pecah setelah Tuan Muda Marcelino meninggalkan kamarnya.


Brughhh ...


Tuan Muda Marcelino bertabrakan dengan Juan di tangga saat turun dengan terburu-buru. Juan tampak marah tapi Tuan Muda Marcelino seakan tak punya meladeni Juan saat itu. Suasana hatinya sedang baik, makanya dia tak mau merusak suasana itu.

__ADS_1


Setelah kembali masuk ke rumah dan membawa buket bunga mawar merah besar, Tuan Muda Marcelino baru sadar bahwa Juan masih menunggunya di tangga.


"Bunga sebesar itu buat apa?"


"Tentu saja untuk wanitaku."


"Cih ...! Wanitamu katamu? Dengar baik-baik, dia itu bekasku, aku tahu hampir setiap lekuk tubuh Rose yang indah itu."


"Sayangnya Rose tak merasa perlu menyimpan sampah di hatinya. Makanya walau dia bekas, dia tetap saja wanitaku. Minggir, aku mau lewat."


Juan kesal dengan kata-kata Tuan Muda Marcelino, dia pun menghempas bunga yang ada di tangannya hingga bunga itu terhambur ke udara dan berjatuhan memenuhi tangga. Tidak pikir panjang, Tuan Muda Marcelino segera menghadiahkan satu tinju di wajah Juan.


"Kau merusak bungaku. Maka tidak akan kulepaskan kau sedikitpun."


Darah segar mengalir di antara ujung bibir Juan. Semua orang berlari keluar dari kamar karena mendengar suara ribut-ribut.


Rose terperangah melihat bunga mawar merah memenuhi tangga. Wajah Juan lebam habis dihajar Tuan Muda Marcelino.


"Mawarku ..." Pekik Rose.


"Maaf ..." jawab Tuan Muda Marcelino.


Dia dengan cepat menghajar Juan lagi di arah perut. Hingga Juan mengaduh panjang karena kesakitan. Volencia menghampiri Juan suaminya. Robert dan Lobelia cuma berdiri menyaksikan apa yang terjadi. Merasa tidak ingin terlibat apapun dengan Tuan Muda itu.


Tuan Muda Marcelino mengajak Rose masuk ke kamar lalu minta maaf.


"Ini salahku." Ucapnya merengut.


"Aku suka bunganya, meski itu berantakan. Aku selalu suka bunga mawar, warna yang tadi sangat indah. Melambangkan gairah yang tinggi." Ucap Rose memancing Tuan Muda Marcelino.


"Benarkah?"


"Hu um ... Tuan tidak sedang bergairah padaku kan sekarang?"


"Kamu mengejekku ya?"


"Hehe ... ampun Tuan tidak lagi."


Mata Tuan Muda Marcelino memang menyimpan banyak rahasia, nampak sangar tapi sebenarnya ada kelembutan di sana. Rose baru saja menyadari itu setelah menatap mata Tuan Muda Marcelino dengan lama.


Ah, mata itu sempurna menjadi sebuah rahasia.

__ADS_1


__ADS_2