
"Demi apa seorang isteri Tuan Muda bangun sesiang ini." Sinis Lobelia melihat Rose yang baru turun dari tangga.
"Tentu saja karena aku dan Tuan Muda sedang bekerja keras, Mom. Kami ingin segera memiliki anak agar bisa mewarisi seluruh kekayaan Mafioso yang terkenal tak pernah ada habisnya itu." Balas Rose dengan senyum kilas kemudian mendekati mesin dispenser untuk mengambil air minum.
"Kira-kira apa reaksi Tuan Besar Mafioso jika dia tahu kau hanya menginginkan hartanya karena itu kamu melahirkan anak dari Tuan Muda Marcelino."
"Aku tidak ingin memikirkannya. Bye Mom, aku harus menemani Tuan Muda mandi dia sangat takut sendirian di dalam kamar mandi." Ucap Rose genit dan tentu saja Lobelia bereaksi sangat kesal.
Rose senyum-senyum sendiri, sesungguhnya dia juga sangat malu dengan ucapannya tadi. Bagaimana bisa kalimat-kalimat genit seperti itu keluar dari mulutnya. Haha.
"Kita akan jalan-jalan kan hari ini?" tanya Tuan Muda yang kini sudah merangkul pinggang Rose dan seenaknya meletakkan dagunya di atas bahu wanita itu dengan manja.
"Ya ampun ini orang kenapa bisa berubah kayak gini si. Kok bukannya senang aku malah ngeri ya, bulu kudukku sampai merinding disko." Batin Rose terdiam dengan kelakukan Tuan Muda Marcelino yang masih terasa aneh baginya.
Rose memutar badannya, menyentil hidung Tuan Muda Marcelino dan menyodorkan segelas air putih hangat ditambah perasan lemon di depan wajah Tuan Muda. "Nih minum!"
Minum air putih hangat dengan perasan lemon yang kaya dengan Polifenol menurut ilmu kesehatan itu sangat bagus dan terbukti mengurangi aktivitas radikal bebas dalam tubuh. Apalagi dimimum saat bangun pagi, minum air hangat meningkatkan pengencangan usus dan ini dapat membantu pencernaan dan mengatur pergerakan usus. Hal itu diketahui Rose setelah membaca beberapa artikel dan menjadi kebiasaan baginya untuk meminum air putih hangat ditambah perasan lemon tiap bangun pagi.
Tuan Muda menyeringai kecil begitu minum dan ada rasa asam memenuhi mulutny. "Ekspresinya kenapa begitu, Tuan?" tanya Rose yang tertawa melihat ekspresi Taun Muda seperti anak kecil.
"Ini dicampur apa si, kok asam?" Protes Tuan Muda Marcelino.
"Itu dicampur perasaan lemon, bagus untuk pencernaan Tuan Muda."
"Kamu sering meminumnya?"
"Sering. Soalnya itu bagus buat kesehatan."
Tuan Muda meminum lagi air itu hingga tandas dan menyisakan gelas kosong. "Karena kamu suka minum ini, maka mulai sekarang aku juga suka dan kamu harus membuatkannya untukku setiap pagi."
__ADS_1
Rose tak sanggup menahan tawanya. Ini Tuan Muda sedang jatuh cinta beneran atau hanya berusaha menyenangkan hati Rose?
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di pipi Rose. Membuat pipi wanita itu bersemu merah ditinggal Tuan Muda masuk kamar mandi.
*
Lihatlah bagaimana ketika mereka berjalan, tangan Tuan Muda tak lepas dari memegang jemari tangan Rose. Apakah itu terlihat seperti pura-pura atau Tuan Muda serius melakukan kemesraan itu pada Rose. Hari ini, seperti janjinya Tuan Muda akan mengajak Rose untuk jalan-jalan. Rose menurut, selain karena memang tak bisa menolak dia juga ingin merasakan perlakuan romantis Tuan Muda Marcelino. Hal ini jarang-jarang sekali dilakukan Tuan Muda, Rose harus memanfaatkan waktu itu dengan baik.
Volencia dan Juan memandangi mereka dengan tatapan iri. Meski Volencia bahkan mencium Juan di depan Rose, itu sama sekali tak berpengaruh bagi wanita itu. Rose sudah benar, keputusannya bercerai dengan Juan adalah satu kebenaran yang diamininya. Rose bahkan tak menyap mereka, hingga Juan terlihat kesal karena sama sekali tak dianggap. Juan nampaknya sangat tergila-gila pada Rose saat ini, ekor matanya tak berhenti mengikuti Rose yang sudah menjauh dan menhilang di balik pintu.
"Kamu apa-apaan si? Mengapa memandangi Rose seperti itu, kamu cemburu?" Protes Volencia.
"Kamu bicara apa?" teriak Juan Kesal.
"Bilang saja kamu tertarik padanya." Tarik Volencia kasar di lengan Juan karena pria itu hendak pergi meninggalkannya tanpa penjelasan.
"Kau ... Kau ... hiks ... kau tidak bisa berkata seperti itu. Aku begini juga karena wanita ****** itu, harusnya kamu balas dendam padanya bukannya memarahi aku seperti ini." Teriak Volencia frustasi, ada isak tangis disela ucapannya.
"Kamu yang tak bisa menjaga anak kita, kenapa harus menyalahkan orang lain? Sudah, aku mau pergi!" Hempas Juan melepaskan pegangan tangan Volencia di lengannya.
Volencia terisak, kemarahannya pada Rose semakin jadi. "Lihat saja Rose, aku akan buat kau membayar semua kesakitan ini."
**
"Ini bagus. Kamu mau?" tawar Tuan Muda pada Rose.
Mereka sedang berkeliling pusat perbelanjaan dan membeli barang-barang yang sesuai dengan selera Rose. Rose bukannya senang, malah sungkan menerima benda-benda pemberian Tuan Muda Marcelino. Di tangan pengawal mereka bahkan sudah penuh dengan kantong belanjaan dari brand-brand terkenal. Mulai dari tas, sepatu, gaun, perhiasan, bahkan sampai ke penjepit rambut yang cocoknya hanya untuk anak remaja saja. Rose ingin menolak, tapi siapa yang bisa menolak Tuan Muda Marcelino? Tolak atau kau tidak akan dimaafkan olehnya.
__ADS_1
"Sudah ... sudah ... ini sudah lebih dari cukup. Tuan ini banyak sekali."
Rose gelagapan begitu jari telunjuk Tuan Muda membungkam bibir Rose. "Ssstt ... mulai sekarang jangan panggil aku Tuan. Kamu isteriku, aku ingin kamu memanggilku Suamiku. Panggil aku 'suamiku' sekarang!" pinta Tuan Muda.
---Duh, aneh-aneh aja si permintaan Tuan Muda Marcelino. Tapi jika dipikir-pikir dia memang suamiku, tapi aku kan malu. Ucap Rose dalam hati.
"Emm .... Ii ... Iyya suamiku."
"Nah, aku suka mendengarnya. Mulai sekarang aku akan memanggilmu isteriku."
Rose tidak mengerti lagi dengan tingkah Tuan Muda Marcelino yang berubah seratus delapan puluh derajat dan itu bermula dari malam pertama mereka yang terjadi secara tak sengaja.
"Isteriku, apakah kau menyukai ini?" tanya Tuan Muda Marcelino seraya memamerkan gaun malam transparan dan potongan dada rendah.
Gilak!
"He he ... suamiku, aku tidak suka gaun seperti itu. Lagi pula aku punya banyak gaun malam, kita sudahi saja belanja-belanja ini." Ucap Rose dengan sabar namun gemas ingin menarik Tuan Muda keluar dari tempat belanjaan itu.
"Bungkus yang ini, ah yang ini juga, emm ... yang di sana juga!" Perintah Tuan Muda pada pelayan toko dan itu membuat Rose hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena ucapannya sama sekali tak bekerja pada Tuan Muda.
"Please ... lihat dua orang yang berdiri tak jauh di belakang kita! Mereka sudah sangat repot membawa semua belanjaan, apakah kita akan membeli semua isi mall ini?"
"Apa isteriku? Kamu ingin membeli semua isi mall ini? Tidak masalah, aku akan membelikannya untukmu."
Rose menyerah, dia tak tahu lagi harus berbicara memakai bahasa apa pada Tuan Muda Marcelino yang bertingkah sangat aneh. Pelayan toko itu hanya bisa tersenyum puas karena gaun-gaun mahal di tempatnya nyaris dibeli semua oleh Tuan Muda. Karena sudah tak sabar lagi, Rose akhirnya menarik Tuan Muda Marcelino keluar dari sana.
"Aku lapar, sebaiknya kita makan!" ucapku padanya dengan wajah dibuat cemberut.
"Maaf aku tidak tahu jika isteriku lapar, aku akan mengantarmu makan direstoran paling enak di kota W."
__ADS_1
TERSERAH!