PEMBALASAN DENDAM ROSE

PEMBALASAN DENDAM ROSE
Perang Batin


__ADS_3

"Wajah kamu kelihatan kusut Rose, ada apa?" tanya Tuan Muda Marcelino yang baru saja pulang.


"Aku bertemu Papa kandungku." Jawab Rose murung.


"Harusnya kamu senang, tapi kenapa wajahmu seperti itu?"


"Apa bedanya aku sekarang bahagia atau tidak? Toh seluruh keluarga yang kucintai sudah pergi semua. Mengenai Papaku, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Aku merasa masih ada yang dia tutup-tutupi dariku."


"Ayo kita keluar dari sini, kita beri mereka sedikit pelajaran Rose."


Rose dengan cepat memutar arah kepalanya ke arah Tuan Muda Marcelino. Ada kilatan cahaya dan semangat yang menggebu begitu Tuan Muda Marcelino mengatakan padanya tentang pelajaran.


...


"Wahh ... wah ... wah ... rupanya kalian semua berkumpul untuk makan malam ya?" Seru Tuan Muda Marcelino begitu tiba di ruang makan.


Di meja sudah ada Lobelia, Robert, Volencia, Juan dan satu orang lagi sepertinya seorang tamu.


Rose bergelantungan manja di lengan Tuan Muda Marcelino. Tentu saja itu semua hanya keperluan acting belaka.


"Ada tamu ya?" ucap Rose bersemangat.


"Hai Rose, apa kabar?" sapa tamu itu yang tak lain adalah Natalia teman Volencia. Mereka kerap bermain bersama semasa kecil.


Natalia ini teman Volencia, ibaratnya orang yang selalu menempel pada Volencia. Mungkin untuk alasan tertentu, seperti halnya Volencia, Natalia juga memiliki hubungan buruk dengan Rose. Mereka berdua selalu mengucilkan Rose, bahkan untuk berbagi mainan atau baju pun Rose tak pernah kebagian.


"Hai Nat, aku baru melihatmu sekarang. Sejak kapan kamu kembali dari Amerika?"


"Itu siapa, Rose?" Bukannya menjawab, Natalia malah bertanya kembali pada Rose.


"Ah iya, kenalin suamiku. Panggil dia Tuan Muda Marcelino."


Natalia mengulurkan tangannya untuk bersalaman, namun tak digubris oleh Tuan Muda Marcelino. Dia terlihat terus memandangi wajah Rose. Berakting seolah di matanya hanya ada Rose tak ada hal lain lagi.


Cih, sombong amat sih. Yeah, tampang oke dan juga sangat berkelas. Sialan Rose, darimana dia mendapatkan pria setampan ini? Sedangkan Volencia malah dapat sisa Rose, sedangkan aku? Rose semakin cantik saja, apa karena dia sudah bersuami orang kaya? Batin Natalia.


"Sayang, Natalia ingin berkenalan." Ujar Rose menyadarkan Tuan Muda Marcelino


"Sayang, apa kamu tidak tahu aku sedang sibuk?" jawab Tuan Muda Marcelino


"Sibuk? Kamu tidak ngapa-ngapain kok sekarang." Jelas Rose.


"Mana bisa aku melihat wanita lain sayang, sementara di depan aku sekarang sudah ada wanita yang kecantikannya melebihi bidadari saat ini."


Wajah Rose terlihat malu-malu dan memerah. Tiba-tiba saja Prannnngggg ....


Suara sendok beradu keras dengan piring. Volencia kelihatannya sangat jengkel dengan pertunjukan saat itu.


Semua mata menatap kaget ke arah Volencia, kecuali Tuan Muda Marcelino tentunya yang bahkan sampai sekarang tatapannya tetap tak teralihkan.

__ADS_1


"Ada apa Volen?" tanya Lobelia.


"Tiba-tiba saja aku tidak selera makan, kami akan makan di luar." Jawab Volencia yang hendak berdiri dan meninggalkan meja makan seraya menarik tangan Juan dan juga Natalia.


"Tidak ada yang boleh meninggalkan meja makan." Ucap Tuan Muda Marcelino tegas. Hal itu menghentikan langkah Volencia.


"Apa urusannya denganmu?" Geram Volencia.


"Tuan Robert, apa kau tidak pernah mengajarkan sopan santun pada anak perempuanmu?"


Robert menatap kesal ke arah Volencia yang sudah menyinggung Tuan Muda Marcelino. Padahal sejak tadi Robert sudah menahan diri untuk tak berkata apapun.


"Volencia, duduk kembali. Tidak ada yang boleh meninggalkan meja makan." Perintah Robert dengan tatapan tajam.


"Tuan Muda, maafkan kami jika sarapan pagi Tuan Muda sedikit terganggu." Ucap Lobelia sedikit manis.


"Hari ini mumpung kalian semua ada di sini, aku akan menyampaikan beberapa hal penting. Yaitu, siapapun yang berani berurusan dengan istriku maka dia adalah musuhku. Sekali kamu berani menyentuh isteriku apalagi ada tindak kekerasan, maka jangan salahkan aku jika aku bisa saja memotong tangan kalian. Terutama buat suamimu yang tak tahu diri itu Volencia, dia sering kali berhalusinasi menganggap Rose masih miliknya. Padahal jelas-jelas Rose sekarang adalah wanitaku yang secenti pun kalian menyentuhnya maka kalian akan tahu akibatnya." Ulas Tuan Muda Marcelino.


Juan yang merasa tersindir sangat geram. Tangannya sudah mengepal ingin menghajar Tuan Muda.


"Selanjutnya, kerjasama antara Mafioso Corp dan Valcon grup akan diambil alih oleh Rose untuk keberlangsungan kerjasama dua perusahaan ke depan. Saham atas namaku di Valcon Grup yang merupakan sudah 25% itu menjadi milik Rose. Jadi jika terjadi hal-hal yang menyinggung perasaan isteriku, maka tentu berakibat pada bentuk kerjasama yang sudah disepakati sebelumnya."


Semua orang terdiam, termasuk Robert dan Lobelia.


Sialan, dia makin banyak peluang untuk melakukan pembalasan. Aku tahu Rose, seberapa besar keinginanmu membalas dendam. Namun semua itu bukan apa-apa, akan kuhadapi kamu sampai titik darah penghabisan. Batin Lobelia.


Membuat pipi Rose kian bersemu merah.



Jangan ditanya seberapa geram orang-orang itu di dalam hatinya. Ingin menyerang Rose tapi takut menyinggung Tuan Muda Marcelino.


Juan berdiri dari kursinya dengan kasar, disusul Volencia yang mengejar Juan. Meninggalkan Natalia seorang diri di sana, karena Robert dan Lobelia juga sudah pergi.


"Kenapa semua orang pergi si?" Ungkapnya kesal.


"Nat, kamu tidak habiskan sarapanmu?" tanya Rose.


"Habiskan semuanya, Rose." Jawabnya halus namun bermakna sindiran.


Tuan Muda Marcelino tersenyum puas, Rose agak gugup menyaksikan Tuan Muda Marcelino berada sedekat itu dengan dirinya.


"Shame apa kabar?"


"Baik. Ke depan aku mungkin akan lebih banyak waktu denganmu, Shame ada kerjaan di luar kota untuk sementara."


"Baguslah, kamu bisa kupamerkan nanti saat ke perusahaan Valcon. Haha ..."


"Memangnya aku ini karya seni, sampai harus dipamerkan segala."

__ADS_1


"Rose, apa rencanamu selanjutnya?"


"Bagaimana dengan rencana kita? Tentang kehamilan itu, tenang memiliki anak? Aku tidak ingin menyinggung hati Tuan Besar Mafioso."


"Maaf, aku belum menemukan solusinya. Secepatnya akan kucari solusi itu."


Setelah ngobrol sebentar, mereka pun kembali ke kamar. Saat di kamar, telepon Rose berbunyi.


"Halo ..."


"Nyonya, jangan menghabiskan waktumu. Tuan Besar Mafioso akan marah besar jika tahu, kalian berdua tidak mematuhi aturan dan jadwal yang sudah dibuat."


Tanpa basa-basi, Peter langsung ke inti. Bibir Rose bergetar, tak tahu harus menjawab seperti apa.


"Ba ... Baik ... Tuan. Kami akan berusaha dan bekerja keras secepatnya."


Tuan Muda Marcelino langsung mengambil ponsel Rose. Berbicara dengan Peter karena melihat perubahan ekspresi dari wajah Rose.


"Ada apa Peter?"


"Tuan Muda, saya harap Tuan mematuhi segala perintah Tuan Besar atau kedepannya akan terjadi masalah pada kalian berdua."


"Kamu tahu apa, Peter?"


"Saya tahu semuanya, Tuan. Tolong bekerjasamalah."


"Shit!"


Ucap Tuan Muda Marcelino kasar dan melempar ponsel Rose.


"Lalu bagaimana?" tanya Rose.


"Aku tidak tahu."


"Kumohon Tuan, kita bisa melakukannya." Pinta Rose seakan mengiba. Karena jika mereka tak melakukan itu, mana bisa dipastikan Rose bisa hamil atau tidak. Rose mesti berusaha lebih keras lagi memohon pada Tuan Muda Marcelino.


"Rose ...! Jangan memaksaku, aku bisa membantumu hal lain, apapun itu. Namun tidak untuk berbagi keringat denganmu."


Rose berlutut di hadapan Tuan Muda, "Kumohon, hanya jalan itu aku bisa tetap berada di posisi sekarang. Atau semua impianku tentang balas dendam akan segera terkubur begitu saja."


Tuan Muda Marcelino mengelak, dia menghindar dari wajah Rose yang mengiba. Dia tampak gelisah, dadanya naik turun menahan emosi.


Aku tidak bisa melakukannya Rose, itu terlalu sulit bagiku. Batin Tuan Muda Marcelino.


Tuan ... kumohon pikirkan lagi. Jika aku menjaga diriku dari pria manapun, sekarang aku bahkan rela menyerahkan diriku padamu. Tapi kamu begitu sulit untuk mewujudkannya. Batin Rose.


Keduanya terlibat perang batin, membuat suasana di kamar itu semakin sunyi dan hanya ada udara kosong yang menyesakkan di dada keduanya.


***

__ADS_1


__ADS_2