
Rose mengirimkan foto-foto Juan bersama seorang wanita di pusat perbelanjaan via email ke ke Volencia.
"Volencia, lihatlah suami kebanggaan yang kau rebut dariku itu. Dia tak lebih dari sekedar sampah, dipungut dari tempat sampah yang satu ke tempat sampah yang lainnya." Gumam Rose merasa puas akan apa yang baru saja dilakukannya.
Sementara malam sudah menunjukkan pukul sebelas, Rose baru ingat kalau Tuan Muda Marcelino belum pulang juga. Dia merasa kesal, Tuan Muda Marcelino bahkan tidak mengabarinya sama sekali. Dia benar-benar bersenang-senang sampai lupa waktu.
Ketahuan Tuan Besar Mafioso, maka semua rencana yang dia susun akan menjadi berantakan. Itu sebabnya dia gusar dan hanya bisa mondar-mandir di kamar tidurnya.
Ceklek.
Pintu terbuka. Rose segera mengalihkan pandangannya, Tuan Muda Marcelino akhirnya pulang.
Wajah Rose cemberut, wajah itu menjadi sangat asing bagi Tuan Muda Marcelino. Biasanya Rose tak pernah bertingkah seperti itu padanya.
"Ada apa sama wajahmu, Rose?"
"Harusnya aku yang bertanya, kemana perginya Tuan dari siang hingga malam buta begini baru pulang." Ujar Rose yang menyelimuti tubuhnya dengan selimut hendak tidur.
"Bukankah sudah kubilang padamu untuk tidak usah menungguku pulang. Kamu tahu aku pergi dengan siapa, kenapa wajahmu mengkerut seperti orang yang sangat kesal. Memangnya ada yang salah?"
"Tidak tahu, aku mau tidur." Jawab Rose ketus.
Merasa diabaikan, Tuan Muda Marcelino malah melompat ke atas tempat tidur dan naik ke atas Rose.
"Apa yang Tuan mau lakukan?" Jawab Rose yang terkejut mendapati Tuan Muda Marcelino sudah menindih tubuhnya.
"Kenapa mengabaikanku? Aku tidak suka diabaikan saat berbicara." Geramnya.
Rose sampai harus meringis karena menahan beban Tuan Muda Marcelino yang melebihi beratnya sendiri.
"Awwhh ... Tuan bisa turun dulu tidak? Berat ini."
Wajah Rose yang memerah menahan berat barulah Tuan Muda sadar kalau dia sudah menindih Rose begitu lama. Bahkan gundukan dada Rose bisa terlihat jelas tidak pakai bra karena dia harus engap-engapan menahan nafas.
"Hahhh ...!" Suara nafas Rose yang akhirnya bisa bernafas lega.
"Sekarang katakan padaku mengapa wajahmu kusut dan cemberut begitu!" Titah Tuan Muda Marcelino
"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi."
"Cerita atau terpaksa aku harus menaikimu lagi." Ancamnya.
Rose berbalik badan, kini wajah mereka sangat dekat. Rose bahkan terlihat lebih berani dari sebelumnya. "Apa jika aku jujur dan cerita, kau mau menerimanya?" tanya Rose yang sudah membingkai wajah Tuan Muda Marcelino dengan dua tangannya.
"Maksud kamu?"
"Aku cemburu. Bagaimana bila aku jatuh cinta pada Tuan, bisakah Tuan bertanggungjawab atas perasaanku?" Tantangnya seraya semakin mendekatkan wajah Rose.
Tuan Muda Marcelino terdiam, dia meresapi dalam-dalam setiap kata-kata Rose barusan.
Kalau wanita ini sampai jatuh cinta, repot juga. Aku tidak mau mengambil resiko sebesar itu. Apalagi, aku sudah janji pada Shame, jika keadaan sudah lebih baik aku dan dia akan pergi hingga tak ada yang menemukan kita berdua.
"Kenapa diam?" Lanjut Rose.
"Rose, kamu pasti sudah ngantuk. Kamu bisa tidur sekarang." Akhirnya Tuan Muda Marcelino menjawab juga setelah hening beberapa saat. Namun justru kalimatnya itu malah membuat situasi menjadi tegang sekarang.
"Mmmphtthh ... Ro ... Sss ..." Gumam Tuan Muda tak jelas.
Kini Rose yang memegang kendali, karena posisi mereka sudah sedekat itu kenapa tidak Rose mengambil keuntungan saja.
"Mmmphtthh ... "
Ciuman Rose semakin memasuki bagian dalam rongga mulut Tuan Muda. Membuat Tuan Muda harus menghempaskan tubuh Rose untuk menghentikan kegilaan yang dilakukan wanita itu padanya.
"Hhh ..." Desis Rose seraya menyapu bibirnya dengan punggung tangan. Dia tersenyum kilas pada Tuan Muda Marcelino.
"Bagaimana rasanya Tuan Muda?"
"Kau ... Kau benar-benar membuatku marah Rose. Kenapa tiba-tiba menciumku?"
"Karena aku mulai tergila-gila padamu. Memangnya kenapa? Aku isterimu, apa tidak boleh aku menikmati satu bagian paling kugilai dari tubuh suamiku?"
__ADS_1
"Kamu lupa, kita menikah bukan untuk selamanya. Ini hanya permainan semata, itu kamu yang menginginkan semuanya seperti ini."
Untuk pertama kalinya, mereka bertengkar karena Tuan Muda mempersoalkan masalah ciuman. Padahal sebelum-sebelumnya Rose tidak pernah protes bahkan ketika Tuan Muda mencium Rose di depan semua orang. Tuan Muda ini labil sekali. Jangan-jangan dia sendiri sudah mulai suka, cuma tidak mau mengakui perasaannya itu.
Mereka berdua hanya terdiam saling memunggungi. Di sudut mata Rose terdapat bening kecil menetes jatuh ke tubing pipinya.
Mengapa terasa sesak sekali? Sebelumnya dengan Juan aku tak pernah sesakit ini. Bahkan saat tahu dan melihat sendiri Juan berselingkuh di depan mataku, aku tak sampai harus meneteskan air mata.
Disekanya air mata yang jatuh itu, di sebelahnya ada Tuan Muda Marcelino yang entah sedang memikirkan apa.
***
Saat terbangun, Tuan Muda Marcelino sudah tak mendapati Rose di sisinya. Dia mencari Rose ke kamar mandi namun kosong. Tuan Muda yang masih mengenakan piyama tidur turun ke lantai bawah untuk mengecek kemana perginya wanita itu.
"Rose di mana?"
"Sudah pergi pagi-pagi sekali, Tuan."
"Dia bilang akan kemana?"
"Tidak, Tuan. Nyonya pergi tidak ingin diantar, pergi menggunakan mobil sendirian."
"Baiklah, kamu kembali bekerja."
Dengan cepat Tuan Muda Marcelino naik lagi ke atas menuju kamarnya dan mandi.
Rose dalam perjalanan menuju rumah Robert. Dia tak sabar ingin tahu respon dari Volencia atas foto-foto yang sudah dikirimkan pada wanita itu.
Ban mobil yang dikendarainya berdecit karena direm mendadak setelah sebelumnya dengan kecepatan tinggi. Rose turun dari mobil dengan elegan. Dia melenggang masuk ke rumah itu, kebetulan sekali Volencia seperti telah siap menghadapinya.
(Dandanan Rose menemui Volencia)
Rose terlihat sangat berani dengan lipstik merah terang yang menghiasi bibirnya. Potongan rambutnya yang sekarang juga tampak sangat cocok dengan bentuk wajahnya.
"Maksud kamu apa mengirimkan foto-foto ini?" Serang Volencia.
Rose tak menanggapi dulu, dia malah duduk di sofa dengan tenang dan mengulas senyum ke arah Volencia.
"Bagus, karena kamu sudah di sini maka sebentar lagi polisi akan datang untuk menangkapmu." Ucap Lobelia lantang baru saja turun dari tangga.
Rose kaget. Hah? Polisi. Sejak kapan aku harus berhubungan dengan polisi? Atas dasar apa?
Tak lama kemudian beberapa polisi datang dan menunjukkan surat penangkapan atas Rose.
Volencia tersenyum licik, dia menjebak Rose dengan sengaja membuat wanita itu datang ke rumahnya.
"Rose, nikmatilah hari-harimu di penjara." Ucapnya sinis.
"Nyonya, anda ditahan atas tuduhan tindak kekerasan pada Nyonya Volencia yang mengakibatkan janin dalam perutnya meninggal." Ujar polisi itu.
Rose sekarang paham, dia baru sadar kalau ternyata dia dijebak. Untuk sementara Rose membiarkan dirinya tertangkap tanpa pembelaan. Tak ada raut wajah gelisah di wajah Rose, dia tenang-tenang saja justru Volencia yang seakan tak sabar Rose segera dibawa pergi.
"Membawa dia melewati pintu rumah ini, maka kalian semua TAMAT." Suara itu terdengar sangat jelas oleh semua orang.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki pria berpostur tegap dan berpakaian serba hitam itu, semakin dekat. Dari wajahnya saja, sudah jelas sekali di pihak siapa dia. Tentu saja yang datang itu adalah Tuan Muda Marcelino, Volencia mendekati Lobelia ketakutan.
"Bagaimana bisa dia datang lagi di saat seperti ini?" Bisiknya pada Lobelia.
Rose yang sejak tadi memang sudah sangat tenang, kini dia yang berjalan ke arah Volencia dan Lobelia. Berbicara lirih di kedua telinga wanita jahat itu.
"Hari ini, kalian membawa polisi untukku, anggap saja itu geladi bersih bagi kalian karena sebentar lagi akan kubuat kalian pelan-pelan menghadapi penderitaan yang sama. Oh tentu saja, kalian tidak hanya akan berakhir di penjara, tapi kalian juga akan merasakan setiap kesakitan yang dirasakan kakek, nenek dan juga mamaku."
Lobelia menampar Rose saat itu juga.
__ADS_1
Plak!
Wajah Rose seketika memerah. Volencia menatap puas.
Tiba-tiba Plak! satu tamparan yang sama kerasnya mendarat di pipi Lobelia.
"Satu tamparan dibalas dengan satu tamparan."
Plak!!!
"Anggap itu sebagai bonus karena sudah menjebakku." Ucap Rose geram pada wanita tua yang sekian lama menyiksanya itu.
"Ada apa ini?" Robert datang dan melihat sudah terjadi kekacauan.
Lobelia menghampiri Robert dengan memegangi salah satu pipinya yang sakit. "Anak durhaka ini sudah tega menamparku dua kali, sayang." Ucapnya berakting seolah dia sudah dianiaya oleh Rose.
Mengenai polisi tadi, dia sudah dibereskan oleh Tuan Muda Marcelino. "Ini urusan rumah tangga, tidak ada urusannya dengan polisi." Ucap Tuan Muda pada polisi-polisi tadi. Tak lupa dia juga menyelipkan beberapa lembar uang ke dalam kantong baju polisi tersebut dan menyuruhnya pergi.
Robert tak bisa berkutik saat melihat ada Tuan Muda Marcelino juga di sana.
"Papa mertua." Sapa Tuan Muda Marcelino.
Tumben Tuan Muda Marcelino malah memanggilku Papa Mertua.
"Tuan, apa kabar?"
"Baik. Saya dan isteri saya ingin menginap beberapa hari di sini, kuharap masih ada kamar untuk kami berdua."
"Ada, Tuan. Akan kami minta asisten rumah tangga untuk menyediakan kamar kalian berdua. Maaf sudah membuat tak nyaman, kedepannya keluarga ini akan membuat Tuan lebih nyaman."
Ekspresi wajah Lobelia dan Volencia sangat tidak suka.
"Apa yang kalian berdua lakukan di sana? Cepat minta asisten rumah tangga menyiapkan kamar merek dan kau Volencia buatkan minuman untuk Tuan Muda Marcelino." Perintah Robert.
Setelah basa basi busuk itu selesai, mereka berdua masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan.
"Tuan kenapa tahu aku di sini?"
"Memangnya kemana lagi kamu akan pergi, Rose?"
"Terimakasih untuk pertolongan Tuan Muda yang kesekian kalinya."
"Rumah ini lumayan juga, apakah kamu sangat ingin memilikinya?"
"Bukan seberapa besar rumah ini, tapi orang-orang di dalam rumah ini. Aku muak melihat wajah-wajah penjilat di wajah mereka."
"Baiklah, karena aku sudah bilang akan tinggal beberapa hari di sini, maka kau bisa gunakan itu untuk membuat perhitungan lagi dengan mereka."
"Tentu. Mau berkeliling?"
"Boleh juga."
Mereka pun keluar untuk niat berkeliling, tak disangka saat melewati area dapur ada dua assisten rumah tangga yang sedang ngobrol sambil berbisik seolah takut akan ketahuan.
"Rose sekarang sangat berkuasa, sangat tidak mudah bagi Nyonya Lobelia untuk melawannya lagi. Apalagi dengan kehadiran Tuan Muda itu, sangat sulit bagi Tuan Robert dan Nyonya Lobelia menyingkirkan Rose."
"Ya, kamu benar. Oh iya, apa kamu tahu rumor tentang rumah besar ini?"
"Ada apa?"
"Rumah besar ini ternyata berdiri atas nama Rose, disertifikat tertulis nama Rose. Tuan Robert merebut itu dari pemilik lamanya yang ternyata adalah orang tua dari Mamanya Rose."
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku mendengarnya sendiri saat Tuan Robert dan Nyonya Lobelia berbicara. Sertifikat itu bahkan sudah diubah namanya menjadi milik Nyonya Lobelia. Benar-benar gadis yang malang, keluarganya dibunuh, bahkan seluruh hartanya habis diambil oleh mereka."
Tuan Muda Marcelino dan Rose yang mendengar para asisten itu bergosip, menjadi terdiam. Sebuah kenyataan baru kembali terungkap.
Tidak kusangka, bahkan rumah besar ini adalah kepunyaanku dan diambil alih oleh mereka. Aku sendiri diusir ke jalanan dan diberi rumah yang bahkan tak layak huni.
"Rose, lakukan apapun yang ingin kamu lakukan."
__ADS_1
"Aku mau masuk ke dalam salah satu perusahaan milik Mafioso Corp yang bekerja sama dengan perusahaan Valcon. Perusahaan itu harus bisa kembali ke tanganku. Ucapnya geram.
***