PEMBALASAN DENDAM ROSE

PEMBALASAN DENDAM ROSE
Ingin Sembuh


__ADS_3

"Tolong bantu aku sembuh, Rose." Ucap Tuan Muda Marcelino mengiba di hadapan Rose.


Tatapan Tuan Muda penuh dengan keputusasaan. Sejenak Rose iba dengan pemandangan itu. "Semua harus bermula dari sini, Tuan." Rose meletakkan telapak tangannya tepat di dada Tuan Muda. 


Ya, semua harus bermula dari niat tulus ingin berubah dari hati. Sebab percuma walau harus memaksa diri sekalipun, jika tak datang dari hati maka semuanya akan sia-sia. Tuan Muda meraih pergelangan tangan Rose yang menyentuh bagian dadanya. Menangkup jemari itu dan mencium punggung tangan Rose. 


"Katakan apa yang terjadi?" Rose merasa ada hal yang sedang disembunyikan oleh Tuan Muda darinya. 


"Shame."


Deg. Jantung Rose seperti dihantam benda tumpul. Tiap kali mendengar nama itu disebut, maka dadanya akan nyeri seketika. 


"Kita bertengkar. Dia menuduhku telah jatuh cinta padamu karena aku menolak ketika dia memaksa mencium dan menyentuh tubuhku."


'Astaga! Pria di depanku ini benar Tuan Muda Marcelino atau hanya jelmaannya? Kenapa dia lugu sekali.' Batin Rose. 


"Rose mungkin aku sudah mencintaimu, hanya saja aku terus mengingkari bahwa sesungguhnya menyukai sesama jenis tidak akan pernah sembuh." Tiba-tiba Tuan Muda menjadi antusias menyatakan perasaannya. 


Rose menyentuh sekali lagi dada Tuan Muda. Dia semakin dekat, kini duduk di pangkuan Tuan Muda. "Katakan apakah jantungmu berdetak lebih keras dan cepat ketika aku berada sedekat ini denganmu?" 


Tuan Muda menelan ludahnya. "Apa yang kau rasakan, begitu aku menatapmu seperti ini?" Rose semakin dekat. Jaraknya mungkin hanya satu atau dua senti saja dari wajah Tuan Muda. Lagi-lagi Tuan Muda menelan ludahnya. Tonjolan di dada Rose tergesek di dada Tuan Muda, ditambah dengan kerah baju yang rendah. Tuan Muda merasakan tenggorokannya kering. 


"Mmmpthhh ... !" Rose ******* bibir Tuan Muda, mengulumnya secara perlahan. Mempermainkan lidahnya di dalam sana. 


Bibir Tuan Muda seperti meminta lagi, ketika Rose menarik paksa bibirnya. "Sekarang apa yang kau rasakan?" 


"Rose ... tolong jangan mempermainkan aku seperti ini. Kau bahkan bisa mendengar sendiri detak jantungku secepat apa dia berdebar. Sentuhanmu sangat memabukkan. Bibirmu teramat manis dan candu untuk bibirku. Sekali lagi Rose, sekali lagi." Pinta Tuan Muda dengan tatapan sayu. 


"Ha ha ..." Tawa Rose seketika menggema. "Tuan, sebenarnya kau jatuh cinta padaku atau pada tubuhku?" 


"Aku menginginkan dua-duanya, Rose." Kini Tuan Muda yang mengambil alih permainan. 


"Cukup! Aku sudah selesai mandi dan dandan. Aku tidak mau kau merusak semuanya." Rose mendelik manja dan segera turun dari pangkuan Tuan Muda. 


"Kau akan ke mana hari ini?" 


"Robert memintaku untuk datang ke rumahnya."


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Entahlah." Rose menaikkan kedua bahunya. 


"Aku temani."


"Tidak perlu. Biar aku pergi sendiri saja."


"Rose, aku tidak suka ditolak. Kau tahu itukan?"


Percuma berdebat dengan pria ini. Keinginannya harus dituruti. Karena itu Rose mengangguk pasrah. 


Tuan Muda Marcelino menarik tangan Rose dan digenggamnya. Rose menoleh sebentar lalu tersenyum. 


"Jadi?" tanya Tuan Muda begitu mereka sudah di mobil. 


Rose melebarkan pupil matanya untuk menyatakan dia tidak mengerti. 


"Jadi apakah kau mau membantuku?" 


"Sembuh?" 


"Heemm ..." 


Sekaligus merasa malu tentu saja. 


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di kediaman Robert. Belakangan ini Rose hampir tak pernah melihat penampakan Juan. Pria mesum itu apa sudah menemukan wanita lain?


"Ada keperluan apa lagi kalian ke rumah ini?" Lobelia menyambut mereka dengan ekspresi yang sudah tak enak dilihat. 


'Kubongkar rahasiamu, maka habislah kau.' umpat Rose kesal dalam hatinya. Dia masih menahan diri. 


"Tentu saja aku ingin bertemu, Daddy. Dia sudah mengundangku." 


Lobelia menelengkan kepalanya ke arah Robert yang berjalan mendekat. Mereka berkumpul di ruang keluarga. "Apa kau sudah memutuskannya?" Bisik Rose pada Robert. 


Robert mengeluarkan berkas yang dibawanya. Lobelia merebut kertas-kertas itu dan membacanya. 


"Apa kau sudah gila? Dengan menyerahkan setengah saham kamu, itu artinya Rose punya 45% saham perusahaan kita. Kau sinting ya!" Lobelia berteriak keras di depan Robert seraya melemparkan kertas - kertas itu. 


"Jaga sikapmu! Kau tidak punya hak atas saham ini. Jadi terserah apakah aku ingin memberikannya atau tidak pada Rose. Memangnya kau bisa apa? Berpuluh tahun menikah tapi kau hanya bisa melahirkan seorang putri. Kau bahkan tak bisa melahirkan seorang putra penerus keluarga Robert." Bentak Robert. 

__ADS_1


"Jadi semua tentang anak?"


"Lalu siapa wanita ini? Bukankah dia bukan anakmu, lantas punya hak apa dia atas saham perusahaan kita. Mengapa kau memberikannya secara cuma-cuma? Atau kau memang sudah benar-benar kehilangan akal sehat." 


PLAK! 


Tamparan keras mendarat di pipi Lobelia. 


"Kau sudah terlalu banyak bicara, Lobelia." 


Rose dan Tuan Muda seperti sedang menonton drama keluarga yang berakhir tragis. 


"Baiklah, semua berkas sudah kutanda tangani. Semuanya ada di dalam sini, musnahkan sendiri." 


Dengan cepat disk itu diambil oleh Robert. Kemudian disembunyikan di balik kantong celananya. 


"Terimakasih, Dad." 


Lobelia tak bisa berbuat apa-apa. Secepat kekuatan angin, 25 persen saham perusahaannya sudah berpindah tangan. Rose tersenyum sarkas ke arah Lobelia. 


"Masih ada kejutan lain buatmu, Mom." Bisik Rose. 


Tatapan Lobelia seperti hendak menelan Rose. Sayangnya wanita ini tidak selemah dulu lagi. Lobelia harus punya kekuatan penuh untuk melawan Rose. 


"Aku bukan ibumu!" jawabnya kasar. 


"Aku juga tidak sudi memiliki Ibu yang hanya bisa berselingkuh juga merebut hal yang bukan miliknya. Jangan-jangan Volencia juga bukan anak Robert, sama sepertiku." 


Tubuh Lobelia seakan tertanam ke tanah. Memaku kaku, terdiam dan gemetar ketakutan. 


'Apa ... apa katanya? Apakah dia tahu hubunganku dengan Frank? Tapi sejak kapan?' Batin Lobelia ketakutan.


"Volencia anak Robert, kau tidak tahu apapun." Teriak Lobelia geram menahan kesal. 


"Kau lupa bahwa aku tahu segalanya? Hari ini aku mendapatkan kembali dua puluh lima persen saham keluargaku. Kau tahu bagaimana caranya? Tanyakan pada suamimu, apa yang sudah dilakukannya di luar sana." 


"Sayang, sudah jangan menakut-nakuti perempuan tua ini. Kasihan pada jantungnya. Kau bisa menakut-nakutinya nanti saja." Ucap Tuan Muda seraya merangkul pinggang Rose.


"Ah iya, aku lupa satu hal. Bahwa kau harus lebih waspada pada wanita muda, cantik dan bergairah macam Nathalia. Dia bisa saja menusukmu dari belakang. Walau dia teman dekat Volencia sekalipun." 

__ADS_1


Lobelia tak mengerti dengan ucapan Rose. Namun, dia yakin ada sesuatu dari balik ucapan itu. 


__ADS_2