PEMBALASAN DENDAM ROSE

PEMBALASAN DENDAM ROSE
Kehamilan Volencia


__ADS_3

Robert dan Lobelia sedang memikirkan mengenai rencana pesta ulang tahun pernikahan yang akan mereka rayakan dengan besar-besaran. Apalagi, saat ini perusahaan mereka baru saja mendapatkan kontrak kerjasama dengan salah satu anak perusahaan milik Tuan Besar Mafioso.


"Sayang, kau beruntung sekali bisa mendapatkan kontrak kerjasama itu dari Tuan Besar Mafioso."


"Yah, itu semua tak lepas dari anak pembawa sial itu. Ternyata selain bernilai jual, dia juga bernilai untuk perusahaan kita. Lagi pula, dia bukan anakku. Dia hanya anak yang lahir dari pernikahan sebelumnya, anak yang dilahirkan Rachel dari suaminya Gerald. Seumur hidup Rachel percaya bahwa Gerald mati karena kecelakaan, padahal aku yang membunuhnya. Hahaha...!"


"Bukan cuma Gerald sayang, apa kau lupa kalau Rachel ibunya Rose juga kita bunuh bersama-sama dalam insiden mobil yang terbakar itu. Haha, mari bersulang untuk arwah-arwah mereka."


Keduanya tertawa seolah dunia sudah di genggaman mereka.


"Jadi Mam, Rose itu bukan saudara kandungku kan? Keluarga Rose mengenaskan sekali." Tanya Volencia yang tiba-tiba muncul dari ambang pintu.


"Kecilkan suaramu. Mana Juan? Jangan sampai informasi ini bocor pada siapapun."


"Juan masih ada urusan di luar, Mami jangan khawatir. Rahasia ini aman di tanganku."


"Baiklah, kembali ke rencana pesta awal yang kita bahas tadi. Menurut kamu sayang, sebaiknya kita rayakan di mana?" Tanya Lobelia pada suaminya Robert.


"Di hotel berbintang lima, Mam. Tentunya yang paling mewah yang ada di kota ini. Kita akan undang semua orang dan menunjukkan betapa besar kekuasaan yang dimiliki oleh Papa Robert di Kota W ini." Timpal Volencia.


"Tentu saja sayang."


"Kalau begitu, aku serahkan semuanya pada kalian. Buatlah pesta semeriah mungkin. Jangan lupa untuk mengirimkan undangan pada Tuan Besar Mafioso. Walau dia belum pasti datang, setidaknya kita menunjukkan rasa hormat kita padanya."


"Baiklah, sayang. Sesuai keinginan kamu."


Robert berdiri dari duduknya dan masuk ke ruang kerja miliknya. Sekarang tinggal Lobelia dan Volencia di ruangan keluarga. Mereka membahas tentang gaun apa yang akan mereka pakai di acara pesta nanti.


Tentu saja mereka ingin terlihat menarik perhatian, lebih mencolok dari siapapun. Menjadi bintang di dalam pesta adalah harapan semua wanita. Bukankah wanita memang senang menjadi pusat perhatian?


Semua rencana mereka dibuat sedetail mungkin. Termasuk masalah keamanan, karena mereka tak ingin ada pengacau dalam pesta itu. Tak ada yang mengingat lagi tentang Rose yang mereka buang dan jual ke pulau.


***


Keesokan harinya, Volencia tiba-tiba mual muntah. Juan yang masih tertidur pulas, terpaksa tidurnya terganggu dan melihat kondisi Volencia di kamar mandi.


"Kau kenapa?"


"Tidak tahu, aku tiba-tiba mual dan muntah cairan bening."


"Sebaiknya kau ke dokter."


"Tidak usah, mungkin hanya masuk angin biasa."


"Jangan mengabaikan suatu penyakit. Mandi sana, setelah itu akan aku antar kau ke dokter."

__ADS_1


Setelah keduanya selesai membersihkan diri dan berpakaian. Mereka bersiap berangkat akan ke dokter saat Lobelia turun dari lantai atas.


"Mau ke mana kalian sepagi ini?"


"Ke dokter, Mam. Aku merasa tidak enak badan. Aku tidak mau sakit saat perayaan ulang tahun pernikahan Mama yang akan berlangsung dua hari lagi."


"Kamu terlihat pucat, Volencia. Juan, apa yang terjadi padanya?"


"Sejak bangun tidur, dia sudah mual dan muntah. Makanya aku mau bawa dia ke dokter, Ma."


"Volencia, kapan sejak terakhir kali kamu datang bulan?"


"Apa hubungannya, Mam? Aku tidak tahu, aku tidak pernah hitung."


"Kau ini, jika Mami tak salah prediksi. Mungkin saja kamu sedang berbadan dua."


"Maksud Mami, aku..., aku hamil?"


Ekspresi wajah senang dan bahagia terpancar di wajah Volencia. Begitu juga dengan Juan.


"Benarkah? Apakah ini pertanda kehamilan?" Tanya Juan tak sabar.


"Pergilah ke dokter cepat, pastikan semuanya." Jawab Lobelia.


"Jika benar itu kehamilan Volencia, maka Mami rela ulang tahun pernikahan mami dirangkaikan dengan pernikahan kalian. Kabar mami secepatnya agar mami bisa meminta staf Papamu untuk mengurus semuanya. Kalian hanya perlu hadir dalam pesta tersebut, tidak perlu repot-repot."


Mereka pun pergi dan mencari dokter kandungan yang tepat. Lalu Juan ingat kalau dia punya keluarga seorang dokter kandungan. Namanya Dr. Rebecca.


Juan segera menuju rumah sakit tempat Dr. Rebecca bertugas. Tak lama kemudian, mereka sudah sampai karena letaknya tak begitu jauh dari kediaman mereka.


Setelah menunggu beberapa saat, mereka pun mendapatkan giliran untuk memeriksakan diri.


"Hai, Rebecca. Kenalkan ini Volencia, tunanganku." Ucap Juan memperkenalkan Volencia kepada Dr. Rebecca.


Dr. Rebecca sedikit terlihat bingung, setahu dia Juan baru saja menikah kurang lebih tujuh bulan yang lalu dengan seorang perempuan. Namanya Rose bukan Volencia.


"Ah, iya. Kamu pasti sedikit bingung, aku sudah bercerai dengan Rose satu bulan lalu. Volencia adalah tunanganku sekarang dan akan segera menjadi isteriku." Ucap Juan seolah menjawab kebingungan di wajah Dr. Rebecca.


"Hai, aku Dr. Rebecca."


"Volencia."


Keduanya bersalaman dan bertukar senyum.


"Jadi, apa yang membuat kalian berada di ruanganku?"

__ADS_1


"Emm, Volencia sejak tadi pagi mual dan muntah. Aku ingin memeriksa apakah dia baik-baik saja atau tidak."


"Baiklah, sebaiknya bawa ini dulu ke toilet." Ucap Dokter Rebecca setelah selesai memeriksa denyut nadi Volencia.


Dr. Rebecca memberi satu cawan kecil tempat air seni dengan satu buah alat tes kehamilan.


"Ini buat apa, Dok?" Tanya Volencia yang agak bingung.


"Kamu coba tampung air seni kamu di situ, lalu ini adalah alat untuk mendeteksi apakah kamu sedang hamil atau tidak."


Volencia pun mengambil benda-benda yang tampak asing itu dan segera ke toilet.


"Kok bisa?" Tanya Dr. Rebecca pada Juan.


"Kenyataan bahwa Volencia lebih menarik dari Rose. Mereka berdua saudara, aku berhasil membuat mereka bertikai. Haha."


"Kau ini kejam sekali. Lalu di mana Rose?"


"Entahlah, terakhir aku dengar Tuan Robert menjual dia ke tangan seorang Mafia. Selebihnya aku tidak tahu lagi dan malas untuk mencari tahu. Lagi pula dia bukan siapa-siapa sekarang. Dia miskin dan aku tidak mau hidup seperti itu."


"Astaga, Juan. Kau sama sekali tidak takut karma?"


"Siapa yang peduli." Ucap Juan menaikkan bahunya.


Tak lama kemudian, Volencia datang membawa hasil tesnya.


Dr. Rebecca mengambil itu dan mendiamkannya sebentar. Beberapa menit kemudian, hasilnya pun terlihat. Dua buah garis merah tampak di layar benda kecil yang sedang dipegang Dr. Rebecca.


"Selamat, kalian berdua akan menjadi orang tua."


"Jadi, aku hamil Dokter?"


"Iya, selamat ya."


"Rebecca, terimakasih ya. Bisakah kau resepkan beberapa vitamin untuk Volencia?"


"Tentu saja bisa. Tunggu sebentar."


Keduanya tampak sangat bahagia, dari mulai dia keluar dari ruangan Dr. Rebecca hingga dalam perjalan pulang menuju rumah.


Berbahagialah, sebelum kebahagiaan itu lenyap begitu saja darimu.


*


*

__ADS_1


*


Hari ini aku up dua bab, jadi minta tolong jempolnya untuk beri like dan komen sebanyak-banyaknya ya. Terimakasih.


__ADS_2