
Wajah Robert masih sangat kesal dengan apa yang terjadi pada perusahaannya. Rose sudah berhasil mengakuisisi saham 20 persen, bukan tidak mungkin dia menguasai dan mengambil alih semuanya. Batin Robert kala itu.
Dia tidak tenang di dalam ruangannya, berkali-kali dia mengetuk-ngetuk meja dengan ujung pulpen yang sementara dipegangnya. "Apa yang harus kulakukan? Bukan tidak mungkin Rose sebenarnya sudah tahu semua kejahatanku terhadap keluarganya. Sial!" Ucapnya lirih dan memaki diri sendiri.
Rose berjalan sangat tegas memasuki area perusahaan, beberapa orang yang melihat masih menaruh hormat padanya, ada pula yang berbisik-bisik mungkin saja bertanya-tanya kenapa Rose bisa berkeliaran di perusahaan milik Robert itu. Dia menuju resepsionis, memberitahu bahwa dia sudah ada janji sebelumnya dengan Robert. Kali ini dia datang sendiri, dia ingin menghadapinya sendiri padahal Tuan Muda Marcelino sudah menawarkan diri untuk menemani Rose namun dia menolaknya.
"Silakan Nyonya, Tuan sudah menunggu Anda di ruangannya." Ucap sang Resepsionis kemudian Rose pergi menemui Robert.
Ceklek!
Pintu ruangan Robert yang tak terkunci itu terbuka, wajah Rose menyembul dari balik pintu. Robert segera berdiri dari duduknya, dia sudah sangat menantikan kedatangan Rose. Ingin buat perhitungan pada wanita itu, karena selama ada Tuan Muda dia sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.
"Kau benar-benar datang sendiri? Apakah kau tidak takut aku akan memberimu pelajaran?" sinis Robert pada Rose yang tengah duduk menyilangkan kaki di sofa.
"Sekarang aku tidak perlu takut pada siapapun. Bahkan jiwa balas dendamku semakin bergelora begitu tahu kau adalah dalang di balik kematian keluargaku, mulai dari kakek, nenek dan terakhir mamaku. Cih! Sungguh kau benar-benar kotor, Pap. Menghalalkan segala cara demi merampas yang bukan milikmu. Kau juga tahu kan sebenarnya aku bukanlah anak kandungmu? Maka dari itu, kau tidak pernah membiarkanku hidup dengan tenang sedari kecil. Sungguh perbuatanmu itu akan mendapatkan karma suatau saat nanti." Ungkap Rose panjang lebar.
Wajah Robert tak lagi tenang, dia sudah bisa menguasai dirinya sendiri.
"Baguslah jika kamu tahu yang sebenarnya. Artinya aku tak perlu menjelaskan lagi padamu. Ah iya, satu hal yang kamu harus tahu Ibumu bukan diperkosa oleh banyak orang. Jauh sebelum itu, aku sudah meminta pada Frank untuk menodai Mamamu terlebih dahulu. Pria itu, begitu cinta pada Mamamu sayangnya Lily selalu menolaknya dan karena itu dia begitu bergairah begitu kuberitahu apakah dia ingin meniduri Lily? Maka lahirlah anak haram yang berwujud dirimu."
Ucapan Robert begitu menohok jantung Rose. Sakitnya bahkan menembus rongga dadanya dan seketika dia merasakan kesakitan yang luar biasa. Namun dia berusaha menahan diri demi tidak terlihat lemah di depan Robert. "Maka bersiaplah untuk mendapatkan balasan dan kecaman dari apa yang sudah kau lakukan pada Mamaku. Aku anak dari Mama Lily tidak akan membiarkan satu orang pun yang menganiaya dirinya dapat hidup dengan tenang. Itu sumpahku. Dan Pap, jangan terlalu merasa di atas angin dulu, rahasiamu ada padaku. Bagaimana jika nanti Lobelia tahu bahwa suami yang dibanggakannya ini, ternyata berselingkuh dengan teman dari anaknya sendiri."
Wajah Robert seketika pucat pasi. Dia menggosok wajahnya gusar, sama sekali tak menyangka jika Rose mengetahui rahasia perselingkuhannya di belakang Lobelia.
"Jika kau sampai mengatakannya, aku tidak akan melepaskanmu Rose." Ancamnya.
__ADS_1
"Kita lihat saja, siapa yang akan masuk jerat. Yang pasti, aku tidak akan tinggal diam jika seluruh dendam keluargaku belum terbalaskan. Jaga baik-baik perusahaanmu, atau kau akan terlempar dengan sendirinya." Jelas Rose dengan tatapan tajam dan tersenyum kilas.
Rose berdiri dari duduknya, "Jangan sampai foto-foto perselingkuhanmu ini sampai di tangan Lobelia. Ah, aku juga lupa masih ada satu video berisi rekaman kau dan Nathalia tidur bersama di salah satu hotel di kota W. Jika kau ingin menebus foto dan video ini, maka aku akan bernegoisasi denganmu. Jika dalam waktu dua puluh empat jam kau tak juga mengabariku maka kuanggap kau tak mau bernegoisasi denganku. Itu artinya, sekali klik maka semua bukti ini bisa saja dilihat oleh Lobelia dan parahnya lagi akan dilihat oleh seluruh dunia. Bisakah kau membayangkan jika seluruh kota tahu bahwa pemilik perusahaan Valcon memiliki scandal hubungan gelap dengan seorang wanita. Reputasimu bisa kujamin hancur seketika."
Robert mengejar Rose, namun wanita itu sudah masuk ke dalam lift. Dia mengumpat kesal di depan lift, menghujat dirinya sendiri kenapa bisa melakukan kesalahan seperti itu. Selama ini dia sudah melakukannya dengan sangat baik, tidak pernah ketahuan tapi sekarang bukti-bukti itu malah berada di tangan Rose.
"Sial ... ! Bagaimana ini? Rose ... awas kau!"
***
"Rose, kau sudah pulang?" tanya Tuan Muda.
Rose meletakkan tas yang dibawanya ke kursi, dia mengambil air minum. Sepanjang perjalanan hatinya sangat kacau, kata-kata Robert terngiang-ngiang di kepalanya. Anak haram. Anak haram. Frank memperkosa Mamamu. Kamu anak haram. Kata-kata itu sampai membuat kepala Rose pusing dan berat.
"Sudah, maaf membiarkanmu sendirian."
"Tenang saja, semuanya berjalan lancar."
"Wajahmu kenapa murung? Kau sedang sedih? Katakan apa yang membuatmu sedih."
"Tidak, hanya kepikiran kata-kata Robert."
"Apa yang tua bangka itu katakan padamu?"
"Dia menyebutku anak haram. Mamaku diperkosa oleh suruhannya yang ternyata orang itu adalah Om Frank teman Mama. Mereka bersekongkol, sengaja menodai Mama karena cintanya ditolak oleh Mama. Aku lahir dari dosa, hidup karena dosa dan mungkin juga mati karena dosa. Tidak ada kebaikan yang lahir dari dalam diriku." Suara Rose lirih meratapi dirinya.
__ADS_1
"Hei, jangan berkata seperti itu. Setiap anak yang lahir ke dunia ini membawa misinya sendiri-sendiri. Kamu tahu misimu kan?"
"Balas dendam."
"Bagus."
Rose berbalik menghadap Tuan Muda Marcelino. Menatap pria itu dengan tatapan lembut. "Apakah kau bersedia selalu ada di sisiku?"
"Rose mengapa berkata seperti itu? Tentu saja aku bersedia." Jawab Tuan Muda menangkup wajah Rose dengan tangannya.
"Aku takut ditinggalkan dan benar-benar sendiri. Tuan Muda, apakah kau mencintaiku?"
Tuan Muda Marcelino memalingkan wajahnya, karena tak ada jawaban Rose menurunkan pelan tangan Tuan Muda dari kedua pipinya. Ada rasa kecewa di sana.
Rose hendak pergi ke kamar mandi, karena menunggu jawaban Tuan Muda sama halnya menunggu sesuatu yang tak pasti.
'Tentu saja aku tahu selama ini kau hanya bersandiwara padaku kan, Tuan? Aku yang terlalu berharap banyak, aku yang tak bisa membedakan mana cinta dan hanya halusinasi belaka.' Batin Rose seraya beranjak ingin meninggkalkan Tuan Muda.
"Rose ... aku akan mencintaimu." Tuan Muda meraih pergelangan tangan Rose, berusaha meyakinkan wanita itu bahwa dia akan berusaha namun Rose sudah terlanjur kecewa.
Rose menarik tangannya kemudian pergi tanpa sepatah kata.
"SIAL ... !" Maki Tuan Muda Marcelino pada dirinya sendiri.
'Rose, maafkan aku. Aku sedang dalam kebingungan. Aku tidak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak, tapi hatiku terasa kosong saat kau tidak ada di sisiku. Ini membuatku bimbang, ditambah lagi Shame akan segera pulang ke kota W. Aku bahkan tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri. Rose ... tolong maafkan aku! Bodohnya aku, Tuhan ...!'
__ADS_1
Tuan Muda Marcelino berkali-kali memaki dirinya sendiri. Dia tahu Rose kecewa, tapi tak ada yang bisa dilakukannya sekarang setelah semuanya sudah terlanjur.
***