
Byuurrr...!
"Bangun, mandi sana! Berpakaianlah yang layak, kamu akan ikut Papa ke suatu tempat."
Guyuran air di sekujur tubuh Rose membuatnya terbangun dengan wajah kaget.
"Papa."
"Kenapa? Terkejut? Tidak usah memasang tampang memelas seperti itu. Papa tahu apa yang kamu rencanakan selama ini."
"Maksud, Papa?"
"Sudah, jangan banyak tanya! Mandi dan ganti bajumu."
Sejurus kemudian, muncul Lobelia dengan wajah angkuhnya. Melihat sekeliling rumah yang dulu pertama kali dia tempati awal-awal menikah dengan Robert.
"Sepertinya kamu hidup dengan baik di sini, Rose. Kamu bisa mengenang betapa indahnya kenangan bersama Mamamu bukan?"
"Jangan ungkit Mamaku, kamu teman yang tidak tahu diri. Teman macam apa yang tega merebut suami temannya sendiri?"
"ROSE!!! Jaga ucapanmu!"
"Papa..., Papa keterlaluan! Sudah dibutakan cinta perempuan ini."
__ADS_1
"Diam Rose! Segera masuk kamar dan mandi. Papa tunggu kamu di luar. Berpakaianlah yang wajar!"
Rose sangat kesal. Sekarang Papanya sudah sangat termakan omongan rubah tua itu. Rose masuk kamar dan mandi seperti permintaan Papanya.
Tak lama kemudian, dia pun keluar dengan setelan dress selutut. Sangat sederhana jika dipikir-pikir. Sesaat, Papanya terdiam. Mungkin dia melihat sosok Lily dalam diri Rose karena memakai baju bekas peninggalan Lily.
"Ada apa, Papa? Kenapa Papa terdiam memandang Rose seperti itu?" Rose seperti tahu apa yang sedang dipikirkan Papanya.
"Jangan bilang, Papa seperti melihat Mama Lily dalam diri Rose." Lanjut Rose sengaja memancing emosi Lobelia.
"Apa maksudmu, Rose?" Tuh kan beneran terpancing.
"Sudah, jangan dipermasalahkan lagi. Lagi pula, Lily sudah meninggal berpuluh tahun yang lalu. Kenapa aku harus mengharapkan orang yang sudah meninggal." Ucap Papanya sarkas. "Rose, ikut kami!"
Rose masuk ke dalam mobil papanya, dia duduk di belakang. Sementara Papanya dan Lobelia duduk di depan. Wajahnya sangat mencurigakan, namun Rose memilih untuk tidak memikirkannya. Jika ini adalah akhir dari hidupnya, maka dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi sebelum membalaskan sakit hatinya.
Perjalanan terasa jauh meninggalkan pusat kota, menuju satu pulau yang harus melalui jalur laut. Rose semakin waspada, karena mereka sudah terlalu lama di jalan dan belum juga sampai ke tempat yang dituju.
"Papa, sebenarnya kita akan pergi ke mana?"
"Tenanglah, Rose! Setelah perjalanan laut ini, maka kita telah sampai."
"Rose, persiapkan dirimu. Ini adalah kejutan berikutnya untukmu!" Ucap Lobelia dengan seringai menjengkelkan.
__ADS_1
Rose pun memilih tak melanjutkan rasa ingin tahunya. Dari kejauhan sudah terlihat pulau di depan mata. Semakin cepat kapal laut itu melaju, semakin terlihat pula pulau itu di depan mata. Sampai di sebuah dermaga, mereka turun dan disambut segerombolan orang berjas hitam, kacamata hitam, dengan senapan di tangan masing-masing.
Rose bergidik melihatnya. Cukup ngeri membayangkan, kalau ternyata dia dibuang ke pulau ini oleh orangtuanya sendiri.
Papanya seperti membicarakan sesuatu dengan para penjaga itu, kemudian barisan orang bersenjata itu pun membelah diri dan membiarkan mereka masuk.
Alangkah terkejutnya mereka, terutama Rose, melihat di pulau itu berdiri sebuah istana megah berwarna emas.
Ini pasti bukan tempat sembarangan. Juga pemiliknya bukan orang yang biasa-biasa. Lalu kenapa Papa membawaku ke sini?
"Anda sudah ditunggu di dalam." Ucap salah satu laki-laki yang bertubuh gahar dibanding beberapa orang yang berjaga di luar.
Rose menelan salivanya, rada ngeri membayangkan siapa orang yang akan ditemuinya. Pastinya bukan orang sembarangan, jika penjagaan di rumah besar ini seketat barusan.
"Baiklah Rose, Papa hanya mengantar kamu sampai di sini. Selanjutnya Papa serahkan kamu ke Tuan Besar."
Ha? Apa katanya, Tuan Besar? Siapa Tuan Besar? Papa tidak sedang menjual aku kan?
Rose berbalik melihat Papanya yang kini berjalan keluar dari rumah besar itu. Sementara Rose ikut bersama pria berbadan besar tadi memasuki sebuah ruangan.
***
Mampir ya jangan lupa like dan komen jika senang membaca novel ini. Biar aku makin semangat untuk up setiap harinya. Terimakasih
__ADS_1