
Rose menemui Tuan Besar Mafioso secara pribadi, yang mana tentu saja harus melewati persetujuan Tuan Peter dulu. Permintaannya dikabulkan, Rose masuk ke dalam ruangan Tuan Besar Mafioso yang bernuansa seram karena dipenuhi cahaya gelap bercampur cahaya merah.
Tuan Besar Mafioso sedang duduk di kursinya dalam posisi memejamkan mata. "Tuan, Rose datang ingin bertemu dengan Tuan."
Tuan Besar Mafioso membuka matanya, menegakkan badannya yang semula rebahan ke kursi.
"Masuklah Rose!"
Rose duduk ketika sudah dipersilahkan oleh Tuan Besar Mafioso.
"Tuan ... aku ... aku ingin meminta izin untuk keluar pulau menuju kota W. Banyak hal yang harus kulakukan di sana. Jika Tuan Besar setuju, siang ini juga aku akan berangkat ke sana sendiri." Ucap Rose sedikit ragu namun disampaikannya juga apa yang mengganggu pikirannya.
"Ada hal mendesak apa sampai kau ingin meninggalkan pulau?"
"Em ... itu Tuan, tentu saja Tuan Besar tahu seberapa ingin aku balas dendam pada keluargaku. Karenanya aku harus ke sana untuk tahu lebih banyak informasi tentang Mamaku yang dibunuh oleh mereka."
"Apa yang bisa kamu jaminkan kepadaku?"
"Nyawaku Tuan."
"Bagaimana dengan Marcelino?"
"Kurasa dia tak mau diganggu dulu untuk sementara waktu."
"Bagaimana hubungan kalian?"
"Ba ... Baik Tuan. Kami saling mencintai." Terpaksa Rose harus berbohong, nyatanya Tuan Muda Marcelino tak pernah mencintainya. Jangankan mencintai, untuk tidur dengan Tuan Muda Marcelino saja butuh kerja keras yang tidak main-main.
"Kapan kalian punya anak?"
Deg.
Hati Rose seakan mendapatkan hantaman keras. Tentang anak lagi, semoga yang pertama ini berhasil. Aku mendapatkan malam pertamaku dari Tuan Muda Marcelino setelah tiga bulan pernikahan. Itupun situasinya sangat serba tak disangka. Tuan Muda Marcelino tiba-tiba sangat bergairah, begitu juga denganku. Jangan-jangan hal itu adalah sebagian dari rencana Tuan Besar Mafioso.
"Sesegera mungkin Tuan, aku kan bekerja keras dan maksimal.".
"Bagus. Apa sulit menghadapi Marcelino?"
"Tidak Tuan." Jawab Rose seraya menunduk.
"Rose, kau tahu kesempatan tak pernah datang dua kali. Bantu Marcelino sembuh dan kamu mendapatkan segalanya dariku."
Rose terkejut dengan ucapan Tuan Besar Mafioso barusan. Dia sangat menginginkan anaknya bisa sembuh menjadi lelaki normal pada umumnya.
__ADS_1
"Mungkin dia banyak kehilangan kasih sayang, karena itu mencari pelampiasan yang akhirnya terlambat kuketahui. Berusahalah lebih keras Rose."
Tuan Besar Mafioso sangat serius dengan ucapannya, itu bisa dilihat Rose dari tatapan mata Tuan Besar.
"Aku Akan berusaha dengan baik Tuan."
"Bagus. Berapa lama waktu yang kau butuhkan di Kota W?"
"Dua Minggu bisakah Tuan?"
"Peter, urus semua keperluan Rose. Pastikan selama di kota W, dia tetap aman."
"Baik, Tuan." Jawab Peter.
"Terimakasih sudah mengabulkan permohonanku Tuan."
Rose sangat gembira karena permohonannya ke kota W dikabulkan. Dia segera bersiap-siap. Tuan Muda Marcelino masih tampak murung di tempat tidur. Dia sedikit bicara sejak peristiwa semalam.
Dia bahkan tak menanyakan ke mana Rose akan pergi ketika wanita itu sedang bersiap-siap memasukkan beberapa lembar pakaiannya ke dalam koper.
Rose curiga, suami pura-puranya itu mengalami trauma. Ah biarkan saja, sekarang ada urusan lebih penting yang harus kuselesaikan. Kuharap setelah pulang nanti Tuan Muda Marcelino sudah lebih baik. Batin Rose.
Rose sudah selesai memasukkan barang-barang kebutuhannya ke dalam koper. Dia menyeret kopernya keluar kamar, namun tiba-tiba terhenti karena ada tangan yang coba menahannya.
Sial, kupikir dia tak akan bicara sampai aku pergi. Maksudnya apa coba?
"Ke kota W." Jawab Rose singkat.
"Baiklah. Silakan pergi." Jawab Tuan Muda Marcelino seraya melepaskan pegangannya di tangan Rose.
Ada keraguan dalam diri Tuan Muda Marcelino, hendak menahan Rose yang ingin pergi atau membiarkannya saja karena tak ingin mengingat kejadian semalam. Pada akhirnya dia membiarkan Rose pergi, alasannya terlalu klise tidak mau mengakui bahwa keberadaan Rose kini sangat berpengaruh baginya.
Bilang saja kalau Tuan tidak mau kan aku pergi. Cih ... mau mengakui saja tapi gengsi. Kita lihat saja Tuan, siapa yang menangis lebih dulu karena ego yang Tuan pertahankan itu.
Rose pun tak berkata apa-apa lagi, dia memilih untuk pergi tanpa menoleh lagi.
***
"Apa yang kamu rencanakan untuk Rose nantinya?" tanya Lobelia pada Robert.
"Kita lihat dulu apa langkah yang akan diambil anak itu. Jika merugikan kita terlalu besar, maka kita tidak perlu sungkan-sungkan untuk menghabisinya sekaligus."
"Kamu memang luar biasa sayang." Puji Lobelia.
__ADS_1
"Mau ke mana kamu?"
"Ada urusan sebentar bersama grup sosialitaku. Tenanglah hanya sebentar."
"Baiklah, kamu cepat kembali."
"Tentu saja, sayang."
Lobelia bergegas pergi setelah memberi kecupan di pipi Robert kiri dan kanan. Hari ini dia menggunakan dress panjang yang sangat berani, sisi kiri bawah sangat terbuka hingga paha. Bagian dada sedikit terbuka dan memperlihatkan tonjolan yang bisa mengundang mata siapa saja untuk melihat belahan itu.
Di sebuah Apartemen
"Sayang kenapa lama sekali." Lelaki itu berlari memeluk pinggang Lobelia. Mereka berpelukan cukup lama seperti melepaskan dahaga rindu yang selama ini terpendam.
"Aku harus membujuk Robert dulu, kamu tahu kan dia masih sering curiga selama ini terhadapku." Jawab Lobelia yang langsung mencium bibir lelaki itu.
"Dia tak mungkin tahu, bukankah kita melakukannya dengan diam-diam." Ucap Lelaki itu membalas ciuman Lobelia.
"Kau sudah bertemu dengannya?"
"Sudah, aku mengungkapkan identitasku yang sesungguhnya. Tentu saja tidak sulit bagiku untuk merekayasa cerita pembunuhan Lily yang tak lain adalah mamanya. Dia percaya padaku. Kamu sendiri bagaimana? Sudah berapa banyak harta yang bisa kau ambil dari Robert?"
"Rumah besar itu sudah atas namaku, sebagian saham atas nama perusahaan juga sudah menjadi milikku. Sebentar lagi tua bangka itu akan kehabisan semua harta miliknya persis yang dialami Lily. Haha ... Haha ..."
"Tak salah aku mencintaimu sayang, kamu memang wanita hebat dan sangat luar biasa."
Mereka terus berpagut, ciuman yang dalam dan lama. Tidak malu pada umur yang sudah setengah abad. Tidak disangka Lobelia justru berselingkuh dengan Papa kandung Rose yaitu Frank. Begitu rumit lika-liku dunia Rose dalam balas dendam. Kini bertambah lagi satu musuhnya, yaitu Papa kandungnya sendiri.
Ciuman panjang itu tentu saja berakhir di tempat tidur. Meski cukup berumur namun gairah mereka tak bisa diremehkan, apa semua orang yang berselingkuh gairahnya begitu liar?
Usai bercinta, Lobelia segera pulang karena sudah berjanji pada Robert. Pantas saja dandanan dan pakaiannya begitu berani, ternyata untuk menarik kumbang lain.
***
Dalam perjalanan menuju rumah kediaman Robert, Rose tak sengaja melihat mobil Robert terparkir di pinggir jalan. Dia pun meminta supir yang membawanya untuk berjalan lebih pelan.
Dari jauh Rose melihat Robert tengah mencium seorang wanita di atas mobil tersebut. Jika dilihat dari ciri-cirinya tampak bukan seperti Lobelia ibu tirinya. Rose pun meminta supir itu lebih mendekat, alangkah terkejutnya Rose begitu melihat wanita yang sedang berciuman dengan Robert di mobil itu.
"Nathalia! Itu bukannya Nathalia, temannya Volencia. Astaga, kenapa bisa begini si? Jadi ... selama ini Robert berselingkuh dengan Nathalia? Oh my God! Sungguh di luar dugaan. Ini bisa jadi senjata untuk menekan Robert dan tentu saja petaka bagi Lobelia yang merasa perempuan satu-satunya yang dicintai oleh Robert." Ucap Rose dalam hati.
Setelah melihat cukup jelas, Rose meminta supir itu untuk segera mempercepat laju mobilnya.
Kali ini cukup menarik, ibaratnya sekali tepuk dua nyamuk mati. Haha ... Haha ...
__ADS_1