PEMBALASAN DENDAM ROSE

PEMBALASAN DENDAM ROSE
Mestakung (Semesta Mendukung)


__ADS_3

"Sial! Harusnya aku sudah bisa tahu kalau laki-laki ******** itu bisa saja menghancurkan rencanaku." Umpat Tuan Muda Marcelino kesal.


Dia tak berhenti mondar mandir di dalam kamar dan Rose yang hanya duduk diam melihat Tuan Muda Marcelino berang. Sesekali Rose menyembunyikan tawanya karena takut menyinggung Tuan Muda.


"Rencana apa yang Tuan maksud?"


Tuan Muda Marcelino terdiam di tempatnya dan mengelus tengkuknya dengan canggung. Sepertinya Tuan Muda Marcelino memang sengaja menyiapkan buket bunga itu untuk Rose, sayangnya gagal diberikan pada Rose karena Juan merusak semuanya.


"Hah ...! Apa? Rencana apa Rose?"


"Tuan baru saja mengatakan kalau rencana Tuan hancur. Makanya aku tanya rencana apa?"


"Emm ... itu ... emm ... ya aku ingin memberikan bunga padamu karena ... karena aku menyusul kamu ke sini. Iyah ... itu ... maksudnya itu rencananya."


"Dasar Tuan Muda masih gengsi saja mengakui kalau bunga itu memang khusus dia akan berikan untukku. Bilang saja kau tidak tahan dengan ketidakhadiranku di sisimu, Tuan." Ucap Rose dalam hati.


"Oo ..." Rose membulatkan bibirnya membentuk huruf O.


Tuan Muda Marcelino semakin gugup dibuatnya.


"Aku ... aku mau mandi dulu." Lanjut Tuan Muda Marcelino yang masih terus menggosok tengkuknya.


Haha ... lucu sekali Tuan Muda ini, sekarang baru terasa bukan kalau kehadiran Rose juga penting bagimu. Hanya Tuan Muda belum mau mengakui saja.


Rose mengeluarkan sebingkai foto dari dalam tasnya. Selalu dia bawa kemana-mana, agar bisa merasakan kehadiran mamanya di sisinya. Wajah dalam figura itu begitu mirip dengan Rose, perempuan itu bernama Lily. Wanita yang berhasil melahirkan Rose ke dunia ini meski dengan perjuangan yang berat.


Rose mengusap bingkai foto itu dan mendekapnya erat. Dari balik pintu kamar mandi, Tuan Muda Marcelino bermaksud meminta Rose mengambilkan handuk tapi karena dia melihat wajah Rose begitu sendu niat itu pun tak jadi. Dia malah keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang.

__ADS_1


"Aaaarghhh ... Tuan ... ngapain? Kenapa keluar kamar mandi tanpa memakai sehelai kain pun?" Teriak Rose histeris seraya menutup kedua matanya.


"Iish ... kenapa melihat ke sini sih. Aku kan tadi sudah mengendap-endap kenapa masih ketahuan juga olehmu. Semenit yang lalu padahal aku masih liat kamu sedang melamun memandangi foto, kenapa sekarang malah melihat ke arahku?" Protes Tuan Muda Marcelino, bukannya meraih handuk atau kain atau apapun yang dapat dia temukan. Tuan Muda malah berjalan mondar mandir di depan Rose tak jelas apa yang akan dilakukannya.


"Itu ... itunya Tuan tutup dulu!" Tunjuk Rose pada benda menonjol di antara pangkal paha Tuan Muda.


Refleks Tuan Muda Marcelino tersadar dan menutupi itu dengan dua tangannya dan berjinjit mendekati lemari mengambil handuk.


Rose membuka matanya lega setelah melihat Tuan Muda Marcelino sudah memakai handuk putih di pinggangnya menutup area pangkal paha ke bawah.


Nampak bulu-bulu dada Tuan yang basah oleh air, Rose menelan ludah begitu melihat perut Tuan Muda yang bergelombang seperti roti sobek itu.


"Rose, jangan menatapku seperti itu. Otak mesummu mulai bekerja kan? Aku tahu kamu yang menaruh obat ke dalam makananku makanya aku jadi bergairah dan malah melakukan itu padamu." Ujarnya cemberut menatap Rose.


"Jelas-jelas bukan aku yang melakukannya. Lagipula tidak masalah kurasa, kita kan statusnya suami isteri. Bahkan Tuan itu dosa karena sudah berbulan-bulan menikah tapi belum juga menyentuhku apalagi malam pertama. Yang kemarin itu si bukan malam pertama namanya itu malam ke 100 hari pernikahan." Jawab Rose


"Tuan, sudah ...! Aku tidak bisa digelitiki seperti itu." Sergah Rose yang kini sudah berdiri di atas tempat tidur.


Bukannya berhenti, Tuan Muda malah ikut naik ke tempat tidur dan mengejar Rose. Baru saja Rose mau melompat turun, Tuan Muda sudah menangkap dan memeluk pinggang Rose dengan erat.


Rose yang berontak membuat keseimbangan Tuan Muda jadi oleng, mereka pun terjatuh ke tempat tidur. Rose harus pasrah tubuhnya ditindih Tuan Muda, Tubuh Rose merasakan ada sesuatu yang menonjol di bawah sana sedang menyentuh permukaan kulitnya dan itu membuat Rose sedikit gagal fokus.


Tuan Muda Marcelino terus menggelitik Rose sampai wanita itu meminta ampun padanya.


"Tuan ... Tuan ... sudah! Aku gak tahan lagi, aku mau pipis." Ucap Rose sudah pasrah dan kelahan.


Namun Tuan Muda Marcelino tidak terlihat mau melepaskan Rose begitu saja. Begitu mata mereka beradu dan Tuan Muda Marcelino menatap ke dalam manik mata Rose yang cokelat, seketika terjadi jeda dan hanya terdengar nafas mereka yang memburu.

__ADS_1


Rose terdiam ketika wajah Tuan Muda Marcelino semakin mendekat padanya. Bibir itu mulai menyentuh bibir Rose, mengulumnya dengan lembut, sesekali terdengar lenguhan dari bibir Rose yang seakan meminta lagi dan lagi.


Kecupan Tuan Muda Marcelino berpindah ke leher Rose. Membuat wanita itu menggeliat dan mengangkat sedikit kepalanya. Merasakan kenikmatan sentuhan dari bibir Tuan Muda yang memperlakukan dirinya dengan sangat lembut. Rose tak bisa lagi menghindar, setiap sentuhan Tuan Muda begitu diresapinya.


Jemari-jemari Rose mengelus-elus area punggung Tuan Muda, terkadang jika sensasi yang timbul membuatnya mengerang pelan maka jemari-jemari itu akan semakin erat menekan punggung Tuan Muda Marcelino. Perlahan turun dan semakin turun, lidah dan bibir Tuan Muda Marcelino tak melewatkan sejengkal pun keindahan dari tubuh Rose. Seakan dia baru menyadari untuk pertama kalinya bahwa tubuh Rose yang sekarang menjadi istrinya benar-benar indah.


Handuk yang sejak tadi melilit pinggangnya, perlahan melonggar dan akhirnya hanya bisa menutupi bagian bokongnya saja. Dengan gerakan yang intens justru semakin membuat handuk itu kini lolos dari tubuh Tuan Muda.


Rose semakin terbuai dengan kenikmatan sentuhan jemari dan bibir Tuan Muda yang meninggalkan bekas di setiap tempat yang disentuhnya. Rose menggelinjang dan mengangkat tubuhnya ketika Tuan Muda Marcelino berusaha memasuki dirinya lebih dalam. Kali ini dengan penyerahan diri dari Rose, serta semesta mendukung terjadinya peristiwa itu semakin membuat keduanya hanyut dalam ritme gerakan yang bervariasi.


Rose mengangkat kepalanya, menekan erat-erat tubuh Tuan Muda Marcelino dan disertai teriakan manja dari keduanya. Tubuh mereka berayun-ayun bagai kereta yang melewati jalan rel. Semakin lama semakin cepat dan itu membuat mereka mengeluarkan lenguhan lenguhan panjang yang disertai teriakan teriakan kecil.


Begitu tubuh Rose bergetar dan Tuan Muda Marcelinoarcelino semakin menghujam begitu dalam. Seperti puncak gunung Merapi mengeluarkan laharnya, menandai mereka sedang berada dipuncak kenikmatan yang hakiki.


Tubuh bermandikan keringat, semua terjadi di luar kehendak mereka. Tubuh merekalah yang saling tarik menarik seperti sebuah kutub magnet yang saling bertemu.


Tuan Muda Marcelino berbaring di samping Rose. Kemudian berbalik memeluk wanita itu. Tuan Muda Marcelino berbisik ke telinga Rose.


"Terimakasih, My Lady."


Tuan Muda tersenyum dan mengecup sekali lagi kuping Rose, menghadirkan kembali d geletar-geletar di tubuhnya.


Rose menyambutnya dengan senyuman dan tertidur di dalam pelukan Tuan Muda. Apakah itu artinya, Tuan Muda mulai mengakui perasaannya dan telah lepas dari jerat yang diberi nama GAY?


Ah apakah semudah itu?


------

__ADS_1


Nantikan episode berikutnya. 🤭


__ADS_2