
Makan malam besar terjadi di kediaman Robert dan Lobelia. Ah, bukan hanya makan malam besar tapi juga mengumumkan pertunangan antara Juan dan Volencia.
"Selamat malam para tamu dan juga kolega yang sudah hadir malam ini. Senang sekali rasanya kalian bisa bersama kami dalam makan malam untuk perayaan pertunangan anak kami, Volencia Robert dan Juan Garagar. Silakan nikmati malam ini dengan bahagia." Ucap Robert memberi sambutan.
Semua yang hadir memberi tepuk tangan. Sekitar lima puluh orang hadir dalam acara pertunangan itu.
"Ada rumor beredar bahwa Volencia bertunangan dengan suami kakaknya sendiri. Kamu tahu Rose kan? Juan itu sebelumnya menikahi Rose. Sekarang malah berencana menikah dengan adiknya." Bisik orang-orang.
"Itu karena Juan lebih tertarik dan lebih mencintai Volencia daripada Rose. Lihat mereka, terlihat sangat serasi satu sama lain. Lagi pula Rose terlihat biasa saja, sementara lihat Volencia, dia sangat menakjubkan."
"Yeah, dari segi body, memang menang Volencia. Tubuhnya terlalu padat dan juga seksi. Pria mana yang tak tertarik."
Ibu-ibu sosialita itu bercengkrama seenak hatinya.
"Satu lagi, kabarnya Tuan Robert itu menjual anaknya seharga 2 Millyar ke Bos mafia besar. Kamu pernah dengar nama Mafioso? Nah, Robert menjual Rose ke Bos Mafioso."
"Astaga."
Beberapa yang mendengar itu menjadi tercengang. Banyak yang sudah berspekulasi bahwa Rose mungkin tidak akan kembali dalam keadaan hidup-hidup.
"Sudah banyak rumor terdengar bahwa Tuan Mafioso sangat kejam, sekali masuk ke dalam kawasannya jangan harap bisa keluar dengan selamat." Ucap salah satu istri pengusaha yang mengenal tentang sosok Mafioso.
Kebetulan saat itu Lobelia sedang menyimak beberapa obrolan.
"Ehhh...hmm...!"
Ibu-ibu sosialita serentak berhenti bergunjing.
"Nyonya-Nyonya silakan nikmati makan malamnya." Ucap Lobelia dan berlalu dari sana.
Sesaat kemudian semua mata tertuju pada Volencia dan Juan yang sudah berdiri di atas panggung. Akan segera berlangsung prosesi pertunangan ditandai dengan saling menukarkan cincin.
Volencia terlihat cantik dan juga seksi dengan gaun panjang yang dikenakannya. Dadanya seperti akan tumpah karena bajunya seakan tak bisa menampung isinya. Sementara Juan sudah sejak tadi menatap Volen dengan tatapan seperti singa lapar.
Setelah acara pertunangan berlangsung, semua orang melakukan pesta dansa. Semuanya benar-benar sangat menikmati. Juan? Jangan ditanya lagi, dia sudah menarik paksa Volen dari kerumunan. Mereka bercumbu di meja dapur.
"Hmmpptt...! Ah, Juan pelan-pelan. Gaunku bisa lepas."
"Sebentar saja sayang, biarkan aku melahap rakus bibirmu ini."
__ADS_1
PRANKK...!
Gelas terjatuh dari meja karena tersenggol oleh Juan. Ciuman mereka terhenti seiring dengan kedatangan seorang pelayan masuk ke dalam dapur.
"Maaf, Tuan, Nyonya!" Ucapnya seraya menutup mata lalu pergi dari sana.
"Mengganggu saja." Umpat Juan.
"Sayang, jangan marah! Kita kembali ke pesta yuk! Kita bisa melakukannya dengan lebih leluasa setelah pesta usai."
Juan menyerang Volen lagi, kedua tangannya bertumpu ke meja dan Volen terpaksa harus terdesak ke meja.
"Sayang, cukup!"
Akhirnya Juan berhenti juga setelah mendengar suara Lobelia memanggil Volen.
"Mamamu memanggil. Baiklah, kali ini kubiarkan kamu." Ucapnya dengan tatapan masih berniat menyerang.
Jika saja Volencia tak segera bangun, maka Juan bukan hanya mencium dia saat itu. Tapi juga melepas gaun Volencia karena sudah tak sabar lagi.
***
"Tuan, kamu harus makan." Pinta Rose ke Tuan Muda yang diketahuinya bernama Marcelino.
Mengapa dia sangat susah sekali untuk makan si. Padahal semuanya tersedia, kenapa pula aku harus merayunya agar mau makan.
Sudah sepekan berlalu. Rose dapat bertahan, walau itu tak mudah juga baginya. Berkali-kali dia harus membujuk laki-laki itu agar mau untuk sekedar makan atau mandi. Rose tidak pernah tahu, penyakit apa yang diidap Tuan Muda Marcelino ini. Tapi moodnya memang selalu berubah-ubah.
"Kamu hebat juga bisa bertahan, Rose. Biasanya tak ada perempuan yang bertahan merawatku. Apalagi dengan aku yang banyak mau."
Rose diam, jari-jari Marcelino sudah bergerak meraba seluruh wajahnya. Mengelus dagu Rose, berpindah ke mata dan juga hidung. Terakhir jari-jari Marcelino berhenti di bibir Rose.
"Bibirmu sangat menggoda, Rose. Sayangnya, aku tak suka wanita."
Apa? Jadi pria di depanku ini Gay? Tuan Muda seorang Gay? Lalu mengapa dia dikurung di sini oleh Tuan Besar?
Banyak sekali yang ingin ditanyakan Rose, namun dia masih takut. Dia belum yakin Tuan Muda di depannya ini mau berbagi cerita. Apalagi cerita mengapa dia harus terkurung di rumah sebesar ini.
Seorang penjaga masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Nona Rose, anda dipanggil Tuan Besar."
"Ha...Haha...! Pergilah Rose, si tua bangka itu pasti akan meminta sesuatu darimu. Namun ingat, kamu ini milikku. Meski si tua bangka itu sudah membayarmu, tapi itu untukku. Itu artinya kamu milikku. Haha...Hahaha..."
Apa maksudnya si, dengar saja, ucapannya kembali berubah-ubah. Membuatku semakin bingung saja dengan semua situasi ini.
Rose keluar bersama seorang penjaga. Ruangan itu dikunci dari luar oleh penjaga. Rose semakin penasaran dengan misteri dari keluarga ini.
Pintu terbuka, Rose masuk dan menemui Tuan Besar Mafioso yang tengah menghisap cerutu besarnya. Kepulan asap memenuhi ruangan yang berpencahayaan rendah itu.
"Tuan Besar memanggil saya?"
"Duduklah, Rose! Sudah bertemu Marcelino bukan? Apa yang terjadi?"
"Tak ada yang terjadi, Tuan. Atau aku yang belum tahu mengenai tujuan aku di sini?"
"Rose, dengar baik-baik. Marcelino adalah anak saya satu-satunya. Itu artinya dia adalah pewaris tunggal seluruh kekayaan saya. Saya ingin membuat tawaran padamu, pertama jika mampu bertahan selama sebulan maka aku akan memberimu kebebasan untuk keluar pulau seminggu sekali. Kedua, jika kamu bisa membuat Marcel--
Tuan Besar sedikit ragu mengatakannya.
"Begini, Marcel anak saya satu-satunya dan tentu saja dia harus memiliki keturunan untuk melanjutkan nama besar MAFIOSO. Sampai di sini kamu paham maksud saya?"
"Jadi, Tuan Besar mau aku bisa membuat Tuan Marcel jatuh cinta?"
"Tepat sekali. Saya sudah muak dengan semua kelakuan dia selama ini. Melihatnya harus bercumbu dengan teman laki-lakinya membuatku jijik dan marah besar padanya. Itu sebabnya kukurung dia dan tidak memberinya akses untuk keluar dari pulau ini."
Jadi begitu. Huh, entahlah aku merasa ini sangat sulit. Namun jika dipikir lagi, tugas ini juga sangat menguntungkan pihakku. Jika aku bisa bebas dari sini dan memiliki sedikit saja kekayaan dari keluarga ini, maka Robert, Lobelia, Volencia dan Juan sudah bukan lagi masalah bagiku.
"Kamu tidak punya pilihan lain, Rose. Satu-satunya pilihanmu hanyalah menerima tawaran ini atau mati dalam keadaan mengenaskan."
Rose berpikir sejenak.
"Saya menerima tawaran ini, Tuan." Ucapnya mantap.
***
***Bagaimanapun dendam harus terbalaskan. Jika aku mati, maka siapa yang akan membalaskan semua sakit hatiku?
...
__ADS_1
Bantu like dan komennya ya gaess***...