
Rose terpaksa harus menuruti perintah Papanya untuk tinggal di rumah lama. Kini Rose sudah tiba di depan sebuah rumah, ah tidak, rumah ini lebih mirip gudang terbengkalai. Suasananya sangat menyeramkan, kiri kanannya bahkan tak ada rumah. Jarak rumah di area itu jauh-jauh, membuat Rose bergidik sendiri bila harus tinggal sendirian.
Tidak ada pilihan lain baginya. Jika tidak tinggal di sini, lalu ke mana lagi? Dia tak punya tempat. Perlahan Rose melangkah ke arah pintu. Diambilnya kunci yang dilemparkan Mama tirinya sebelum pergi waktu itu.
Saat pintu rumah itu terbuka, Rose langsung disambut dengan debu yang beterbangan. Juga aneka macam hewan serangga juga tikus yang berlarian begitu tahu ada yang datang.
Rose menyibakkan tangannya untuk menghalau debu. Mencari saklar listrik untuk memastikan lampu di rumah itu masih menyala atau tidak.
Ketemu. Begitu pikirnya.
Klok! Lampu menyala. Ruangan itu sangat berantakan, debu tebal, sarang laba-laba, kursi yang berhamburan, dan lain-lain. Membuat Rose harus ekstra kerja keras membersihkan rumah itu.
"Baiklah, Rose! Ayo kerja bakti!" Ucapnya menyemangati diri sendiri.
Rose menyeret kopernya menuju kamar di mana dulu dia pernah tinggal di sana. Walau cuma sebentar, tapi ada kesan tersendiri baginya.
Pintu kamar terbuka, menimbulkan suara derit pintu yang menandakan bahwa sudah lama pintu itu tak pernah terbuka.
Kondisinya sama dengan di ruang tamu. Oleh karena itu, Rose memulai pekerjaannya dengan membersihkan kamar terlebih dahulu. Hari yang panjang dan melelahkan untukmu Rose.
***
Empat jam kemudian, Rose terduduk di kursi yang baru saja dibersihkannya. Rasa lelah dan pegal seluruh badan, membuatnya harus beristirahat sejenak. Akhirnya gedung tua itu, kini lebih layak disebut rumah.
Rose menghargai hasil kerja kerasnya. Untung saja setelah dicek, aliran air masih bagus ke rumah itu. Membuatnya bernafas lega karena tak perlu memanggil orang untuk memperbaiki saluran air.
Krukk... Krukk...!
Rasa lapar menghinggapinya. Dia mengambil ponsel miliknya dan segera memesan makanan secara online. Enaknya hidup di zaman serba canggih begini, membuat salah satu kesulitan bisa terpecahkan dengan mudah.
Dengan sekali klik, seluruh makanan yang dipesannya secara online pun sudah diproses. Sekarang dia tinggal menunggu makanan-makanan itu datang dan segera menyiapkan diri untuk bekerja lagi keesokan harinya.
__ADS_1
Rasa lelah sampai membuat Rose harus tertidur dengan sendirinya di sofa panjang kumal itu. Suara dering bel yang tak lagi sempurna itu menghapus seluruh mimpi Rose yang baru saja dimulai.
"Eh, siapa yang datang bertamu? Aku kan baru hitungan jam ada di rumah ini." Rose berpikir sejenak.
"Astaga..., aku lupa. Mungkin itu kurir pengantar makanan." Rose berbicara pada dirinya sendiri.
Dia melompat dari sofa dan segera menuju pintu. Benar saja, pengantar makanan itu sudah sampai. Setelah dia hitung-hitung, kemungkinan dia tertidur dua puluh menit lamanya. Lumayan untuk menghilangkan rasa capek setelah seharian bekerja keras membersihkan rumah.
Rose meletakkan makanan-makanan itu di meja ruang tamu. Dia sudah tak sabar untuk mencicipinya satu persatu. Lapar atau doyan tak lagi bisa dia bedakan, dia makan semua yang ada di meja tanpa jeda.
Suapan terakhir ke mulutnya terlalu besar, membuat dia harus berusaha keras menguyah dan menghabiskan makanan itu di mulutnya.
"Selesai! Sekarang aku punya tenaga lagi. Tenang saja Juan, Volencia dan juga Lobelia, aku berjanji tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang." Ucapnya pada diri sendiri.
Entah aku harus bersyukur dan senang atau harus sedih dan meratapi hidupku ini. Apakah aku harus bersyukur dan senang karena akhirnya terlepas dari jerat Juan yang setiap hari di pikiran dia hanya ada **** dan ****. Lelah juga jika dipikir-pikir. Belum lagi menghadapi mertua yang mirip nenek sihir, kerjanya hanya bisa merendahkan dan juga menyuruh sana sini. Jika diingat-ingat lagi, aku ini memang harusnya bersyukur.
"Tapi, Juan suamiku. Volencia adalah adik tiriku. Bagaimana mungkin kedua orang ini tega berkhianat secara terang-terangan di depanku dan mendapatkan dukungan kedua orang tuaku. Aishh, Papa benar-benar keterlaluan. Dia sama sekali tidak mempertimbangkan perasaanku. Padahal aku adalah anak kandungnya. Harusnya aku yang dia bela, bukan Volencia dan ibunya yang mirip rubah itu."
***
Keesokan harinya di perusahaan Valcon Corporate. Rose datang dengan setelan kerjanya seperti biasa. Di pintu masuk dia dihadang oleh beberapa penjaga.
"Maaf, anda tidak memiliki akses untuk masuk ke dalam perusahaan ini." Ucap salah satu penjaga itu.
"Apa maksud kamu. Ini tanda pengenalku, lagi pula apa kalian tidak mengenalku?"
"Maaf Nona, anda tidak diizinkan masuk ke dalam. Sudah perintah dari pimpinan."
"Pimpinan? Maksud kalian Papaku?"
"Iya, Nona. Selain itu, Nona Volencia berpesan bahwa anda bukan lagi bagian dari perusahaan ini."
__ADS_1
Ternyata mereka tidak hanya mengusir aku dari rumahku sendiri. Tapi juga mengusir aku dari perusahaan yang telah susah payah dibangun oleh Mama. Perusahaan ini adalah peninggalan almarhum kakek dan nenek, lalu diberikan kepada Mama dan Mama juga harus pergi begitu saja, meninggalkan aku yang tak memiliki upaya sedikitpun untuk melawan.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Dua orang yang sangat dibenci Rose kini tengah berada di belakangnya. Juan dan Volencia datang bersamaan sambil menautkan kedua lengan memamerkan kemesraan.
"Ah, kamu Rose. Masih punya nyali juga kamu datang ke sini. Satu hal yang harus kamu tahu, tidak akan lama lagi perusaahaan ini akan jatuh ke tanganku. Papa sangat menyayangiku daripada kamu, Upps..., maaf jika aku salah bicara. Hahaha."
Rose geram sekali.
Juan, tega sekali kamu melakukan ini padaku. Kamu Volencia, jika Juan saja bisa dengan mudah berpaling dariku, maka tidak menutup kemungkinan suatu saat dia juga akan mudah berpaling darimu. Hanya soal waktu.
"Aku harus menemui Papa!" Ucap Rose tak sabar. Kali ini dia tak peduli lagi, apakah Juan bercumbu di depannya atau tidak. Sekarang menyelamatkan karirnya di perusaahaan adalah hal terpenting.
"Coba saja, bye bye...! Rose...!"
Sekuat apapun usaha Rose menembus penjagaan itu, tetap saja dia tak bisa. Semua usahanya telah sia-sia. Dia tertunduk lesu, berjalan perlahan menjauh dari gedung tinggi yang merupakan miliknya namun kini sudah tak bisa dipertahankan.
Mama..., maafkan Rose. Rose bahkan tak bisa menghentikan Papa menghancurkan karirku di perusahaan. Sekarang apa lagi, Ma? Semua yang Rose miliki telah hilang, hidup Rose hancur Ma!
Rose pulang ke rumahnya, perasaannya sangat kacau. Dia ingat, dia memesan bir saat memesan makanan. Bir itu masih terletak di atas meja ruang tamu. Rumah itu semakin terasa sunyi. Suara dentingan gelas yang beradu dengan botol bir menjadi pengisi suara dalam kesenyapan di rumah itu.
Rose meneguk bir yang telah dituangkannya ke dalam gelas. Pikirannya sangat kacau. Sekarang apa yang bisa dia lakukan? Semuanya hancur, baginya langitnya telah runtuh. Dunianya tak tentu arah. Sekarang, jika tak ingat masih punya janji balas dendam, mungkin lebih baik dia mati saja.
Botol masih tersisa setengahnya, Rose berbaring meringkuk di sofa. Pelan-pelan dia merasakan bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya.
Mama, tolong Rose!
***
Jika senang bantu like dan komen ya. Biar makin semangat nulis up selanjutnya. Terimakasih.
__ADS_1