
Tuan Muda Marcelino masih menyesali ucapannya. Tidak sepantasnya kalimat bodoh itu keluar dari mulutnya. Pasalnya dia juga tidak tahu menahu mengenai perasaannya pada Rose. Membuat situasi semakin rumit. Shame ada diantara hubungan mereka sekarang.
"Aku ingin bertemu." Suara Tuan Muda yang terdengar berat berbicara dengan seseorang di telepon.
"Kau merindukanku ya?" Balas si penelepon.
"Hemm ..."
Jawab Tuan Muda Marcelino menutup pembicaraan di telepon itu.
'Apa pembicaraan mereka di telepon selalu semisterius itu? Memakai kode-kode tertentu agar mereka bisa komunikasi tanpa diketahui orang lain mengenai maksud dan tujuan ucapan mereka. Laki-laki itu harusnya tak perlu kembali. Maksudku Shame.' Batin Rose menguping pembicaraan Tuan Muda yang dicurigai Rose adalah Shame, kekasih Tuan Muda.
"Aku keluar sebentar. Jika kamu ingin keluar maka hubungi aku, di mana aku harus menjemputmu." Ucap Tuan Muda seraya memakai jaket.
"Tidak perlu. Aku pulang naik taksi."
"Ya sudah, sini kuantar terlebih dahulu. Kau ingin diantar ke mana?"
"Aku naik mobil sewa dengan pemesanan secara online saja."
"Baiklah jika itu keinginanmu."
Seperti tercipta jarak dan rasa canggung di antara keduanya. Rose sudah biasa dengan sakit hati atau kecewa. Dia besar dengan perasaan semacam itu. Jadi dia bisa mengatasi perasaannya sendiri. Meski tak dipungkiri bahwa dia sudah kecewa pada Tuan Muda.
Rose meraih tasnya. Melangkah mendekati pintu, menutupnya dan ceklek! Pintu itu dikunci. Mereka masing-masing membawa kunci.
Rose pergi menemui Paman Frank. Tempat tinggalnya berada di kawasan menengah ke atas. Hunian sejenis apartemen tapi tidak terlalu besar. Mereka sudah janjian beberapa waktu lalu.
Kendaraan yang dipesan Rose sudah datang. Dia tak ingin kehadirannya terlalu mencolok, karenanya dia memakai jasa online. Mobil roda empat itu melaju pelan dan kemudian semakin cepat.
Sekitar dua puluh menit waktu yang dibutuhkan, jaraknya ternyata tak terlalu jauh. Rose turun setelah membayar ongkos. Wajahnya menengadah ke atas, "Lantai 15." Lirihnya.
Rose memencet tombol lift angka 15. Menunggu sebentar hingga lift itu terbuka dan siap membawa Rose ke lantai yang dituju. Paman Frank punya andil terhadap kematian Mamanya. Namun Rose tak mau gegabah, saat ini dia membutuhkan pria itu untuk menggali banyak informasi.
Ting!
Lift berbunyi, penanda jika Rose sudah sampai di tujuan. Pintu Lift terbuka, Rose keluar dan mencari apartemen Frank.
Setelah yakin bahwa yang di depannya itu adalah benar apartemen Frank. Dia ingin mengetuk. Tapi, samar-samar Rose seperti mendengar suara desahan dari dalam apartemen itu.
"Ssshh ... Hhh ... Mmmphtthh ..."
Rose mulai curiga. 'Bukannya setahuku Paman Frank mengaku tinggal sendiri? Apa dia sedang bersama kekasihnya dan lupa akan janji hari ini denganku.' Batin Rose.
Semakin lama suara desahan itu semakin cepat disertai teriakan-teriakan tertahan dari mulut seorang wanita. Rose semakin penasaran. Dia mengetuk lagi.
Begitu mendengar suara langkah kaki. Rose menyelinap di balik tembok agar tak ketahuan. Satu kepala yang diketahuinya milik Paman Frank menyembul dari pintu. Menengok kanan kiri tapi tak ada orang yang ditemuinya.
__ADS_1
Rose menunggu hingga apapun yang mereka lakukan di dalam sana selesai. Cukup lama Rose berdiri di luar, sampai pintu itu terbuka dan alangkah terkejutnya Rose begitu melihat siapa yang bersama Paman Frank saat itu.
"Gilak! Tidak suami, tidak isteri, semuanya berselingkuh." Batin Rose.
Sudah tidak ingat umur lagi. Sempat-sempatnya mereka masih saja saling serang lewat bibir di depan apartemen. Seakan takut ditinggal satu sama lain.
Rose tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Segera diambil ponselnya dan memotret satu persatu setiap keintiman yang terjadi di depannya.
'Habislah kau, Lobelia. Ibu tiri yang kejam.'
Frank memberi kecupan terakhir di pipi Lobelia. Persis anak ABG yang sedang backstreet dari orang tua masing-masing.
"Sayang ... kau harus lebih sering mengunjungiku. Salam untuk putriku." Ucap Frank terakhir kalinya seraya melambai ke arah Lobelia.
Rose lagi-lagi dibuat terkejut.
'Putri? Siapa putrinya? Jangan-jangan Volencia adalah anaknya juga. Jadi? Aku dan Volencia saudara?'
Fakta baru kembali mencuat. Rose tak sabar ingin segera menemui Frank. Namun dia harus sabar menunggu hingga tak ada kecurigaan.
Tak lama setelah kepergian Lobelia, Rose kembali ke depan pintu apartemen Frank. Dia mengetuk pintu itu pelan.
Tok!
Tok!
Tok!
"Aku mampir sebentar, lagi pula kita sudah janji sebelumnya."
"Maaf ... Paman lupa."
'Bagaimana Paman bisa ingat, kalau Paman sedang bercinta dengan Ibu tiriku.' Kesal Rose dalam hati.
"Tidak apa, Paman. O Iya Paman, Rose ingin bertanya mengenai adakah pesan terakhir yang disampaikan Mama Lily pada Paman tentangku?"
"Mengapa kau tanyakan itu Rose?"
"Tidak Paman, aku hanya ingin tahu saja."
"Tidak ada. Seingatku Mamamu tidak berkata apapun pada Paman disaat-saat terakhirnya."
"Begitu ya." Rose diam sejenak. "Aku mendengar cerita dari Papa Robert bahwa Mama pernah diperkosa sebelumnya kemudian hamil aku. Apa Paman tahu mengenai identitas orang itu? Agak berbeda dengan cerita Paman tempo hari, namun ada sedikit kemiripan."
Deg.
Jantung Frank seperti dihantam batu. "Apa saja yang sudah disampaikan Robert padamu?"
__ADS_1
"Tidak ada. Hanya itu, Paman. Ada apa? Wajahmu terlhat khawatir."
Bagai tertangkap basah, Frank menghapus keringat di keningnya. Dia merasa bahwa Rose sudah tahu banyak hal. Dan untuk Robert, rupanya dia ingin menjebak Frank.
'Frank, kau akan tahu akibat jika membocorkan satu rahasia pun tentangku dan Lily.' Batin Frank.
"Tidak. Paman hanya merasa bahwa Robert terdengar seperti menjebak seseorang untuk menutupi kesalahannya sendiri."
"Mengapa Paman bisa berasumsi seperti itu? Paman tahu apa yang direncakan Papa Robert?"
"Rose, hari ini kau sudah terlalu banyak bertanya. Tidak baik untukmu mengetahui banyak hal."
Rose berusaha mencerna kalimat Frank itu. Apakah itu sebuah ancaman bagi Rose? Suasana di antara mereka menjadi canggung. Kemudian Rose menyatakan ingin pulang.
***
Sementara itu, di apartemen Shame. Pria itu berusaha menggoda Tuan Muda. Berkali-kali dia mengendus di depan wajah Tuan Muda. Tapi begitu bibirnya hendak memberangus bibir Tuan Muda Marcelino, suami Rose itu seakan menolak. Hingga Shame pun kesal dengan sendirinya.
"Ada apa denganmu?" Umpat Shame kesal.
"Aku tidak dalam mood yang baik." Jawab Tuan Muda dingin.
Dia sama sekali tak berani menatap Shame. Hingga pria itu menangkup wajah Tuan Muda. "Jangan bilang kau sudah jatuh cinta padanya." Selidik Shame.
Tuan Muda Marcelino mengangkat kepalanya. Melihat tatapan tajam Shame yang seperti hendak membakar siapa saja.
"Aku tidak bilang bahwa aku mencintainya. Kau ini kenapa?" balas Tuan Muda keras.
"Harusnya aku yang bertanya, kamu kenapa? Jangan membalikkan keadaan."
Mereka terus bertengkar. Hingga Tuan Muda pergi dari apartemen itu dan menghempas pintu apartemen dengan kasar. Meninggalkan Shame yang menatapnya kecewa atas perubahan sikapnya itu.
Tuan Muda dilanda kebimbangan. Pikirannya kalut tak karuan. Mobil yang dikendarainya melaju cepat. Dia sangat marah. Marah pada dirinya sendiri yang tak bisa menentukan sikap.
Rose sudah menunggu sejak tadi di rumah mereka. Duduk di ruang keluarga dengan memindahkan Chanel TV secara berulang-ulang. Tidak jelas apa yang akan ditontonnya. Pikirannya selalu saja tertuju pada Tuan Muda Marcelino yang belum juga pulang.
Ceklek!
Pintu dibuka dengan kasar. Tuan Muda Marcelino melempar kunci mobilnya di sofa. Hampir saja mengenai kepala Rose. Begitu dia tahu wanita itu ada di sana. Pikirannya yang kacau bergerak cepat memerintahkan tubuhnya untuk mendekati Rose.
Ditariknya wanita itu dengan satu tangan, Rose terkejut kini dia sudah berada di pelukan Tuan Muda. Belum sempat bertanya, bibir Tuan Muda sudah menyusup masuk ke dalam mulutnya. Kasar. Rose berusaha menyesuaikan diri. Dia bergerak mundur dan kembali duduk di sofa, namun karena bobot tubuh Tuan Muda yang lebih berat darinya dia pun berbaring di sofa.
Tangan Tuan Muda meraba-raba di balik kaos yang digunakan Rose. Dengan cepat kaos itu ditarik oleh Tuan Muda melewati kepala Rose. Kini Rose hanya memakai bra dan rok saja. Kecupan demi kecupan meninggalkan bekas hampir di sekujur tubuh Rose. Terutama di bagian leher dan juga di bagian atas gundukan di dada Rose.
Remasan demi remasan dilakukan Tuan Muda Marcelino dengan kasar. Rose nyaris kehabisan tenaga untuk mengimbangi Tuan Muda. Seluruh pakaian di tubuh Rose sudah tanggal, begitu juga dengan Tuan Muda Marcelino. Tak tersisa sehelai kain pun.
Rose mengerang dengan keras begitu Tuan Muda memasuki dirinya dengan sekali hujaman.
__ADS_1
'Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau sebrutal ini? Apa yang membuatmu marah?' Batin Rose yang berusaha menahan setiap guncangan yang terjadi. Jemarinya menekan dengan keras punggung Tuan Muda. Dia mengangkat kepalanya dan memejamkan mata seraya mengulum bibirnya menahan kenikmatan yang dirasakan Rose.
Mereka berdua akhirnya tumbang di sofa