
"Jadi nama kamu, Rose?"
Rose mengangguk pelan. Dia takut melihat wajah lelaki tua di depannya itu. Umurnya mungkin sekitar 55 tahun. Sedikit lebih senior dari Robert, Papa Rose.
"Sekarang kamu berada di bawah tanggung jawabku, sejak kamu masuk ke dalam kawasan kekuasaanku maka kamu tidak akan pernah bisa keluar meninggalkan pulau ini tanpa seizinku. Apa kamu paham?"
Tuan ini sangat mengerikan. Wajahnya terbilang tidak terlalu buruk, tapi cara dia dalam memberikan setiap penekanan pada kata-katanya, membuat nyaliku serasa menciut. Apalagi yang harus kuhadapi sekarang.
"Tugas kamu sederhana. Hanya menemani seorang pria berusia tiga puluh tahun, mengidap temperamen berskala tinggi. Dia mengalami rasa trauma." Tuan Besar menghisap dalam-dalam cerutunya dan mengepulkan asapnya ke udara.
"Satu lagi, anak saya ini istimewa. Dia sangat membenci wanita. Jadi kamu harus bekerja keras, Rose. Kuharap kamu bisa melakukannya. Beberapa wanita pernah datang ke rumah ini, namun satupun tak ada yang betah. Kebanyakan dari mereka hanya bertahan paling lama satu minggu, lalu terpaksa harus dibuang ke laut karena menjadi wanita tak berguna. Untuk kamu, kuberi kamu waktu tiga Minggu untuk bertahan, jika selama itu kamu belum menyerah dan anak saya masih menginginkan kamu. Semua yang kamu inginkan akan saya kabulkan."
Mendengar itu saja, Rose bergidik ngeri. Jika banyak wanita hanya bertahan paling lama satu Minggu, kenapa dia harus diberi waktu satu bulan?
Aku tidak akan menyerah, ini hanya satu bulan. Aku rasa tidak cukup sulit. Hanya bertahan bukan? Demi pembalasan dendam, maka aku akan bertahan.
"Jika kamu sudah paham, maka anak buah saya akan mengantar kamu bertemu dengannya."
Memangnya apa yang bisa kukatakan? Punya pilihan saja tidak. Jadi terserah anda saja, Tuan besar.
Sebelum menemui anak dari Tuan Besar itu, Rose ditunjukkan di kamar mana dia harus tidur.
"Ini kamar anda, Nona. Apa ini cukup buat anda?"
Rose masuk ke dalam dan melihat seisi kamar. Lemari besar, cermin besar, kamar mandi luas, meja rias dengan alat make up lengkap. Tentu saja Rose sangat menyukainya, bahkan lebih dari sekedar cukup. Ini sangat mewah. Ucap Rose dalam hatinya.
Rose membuka lemari, ternyata sudah terisi begitu banyak pakaian dan juga perhiasan. Beberapa pasang sepatu di bagian bawah yang sudah disesuaikan dengan warna pakaian di atasnya.
"Nona, kurasa sudah cukup Nona melihat-lihat. Sekarang, mari kuantar bertemu Tuan Muda."
__ADS_1
Rose menuruti perintah lelaki berbadan besar itu. Menaiki tangga lagi dan tiba di sebuah ruangan besar di mana, di sana meringkuk seorang laki-laki yang seperti sedang ketakutan.
Pria berbadan besar itu pergi, kini hanya Rose dan pria di depannya yang merupakan Tuan Muda. Rose belum jelas tahu siapa nama Tuan Muda yang harus dilayaninya itu.
"Berhenti di sana! Jangan mendekat!" Sergah Tuan Muda.
Rose berhenti. Kakinya gemetar. Jangan tanya seberapa besar ketakutan di dalam dirinya sekarang. Sangat takut.
"Kamu siapa?" Ucap Tuan Muda tanpa menoleh.
"Roo..., Rose! Namaku Rose." Ucap Rose sedikit gelagapan.
"Haha..., Hahahaha...!"
Tuan Muda tiba-tiba saja tertawa dan itu sungguh mengejutkan Rose.
"Kamu maina baruku rupanya. Kemarilah!"
"KEMARI KUBILANG!" Bentak Tuan Muda.
Rose melangkahkan kakinya gemetar. Dalam serba ketidaktahuan, Rose memberanikan dirinya. Dia bahkan tak tahu kalau kini dirinya sudah dijual seharga 2 Milyar oleh Papanya sendiri. Dan kini justru terjebak dalam lingkaran keluarga kaya namun sama sekali tak memiliki sisi kemanusiaan. Setidaknya itu kesan pertama yang ditangkap oleh Rose.
Rose kini berdiri di belakang seorang pria yang dipanggil Tuan Muda itu. Masih dalam posisi seperti itu, Tuan Muda berbicara pada Rose.
"Jadi kamulah wanita yang dibeli oleh Papa, seharga 2 Millyar itu? Papa tidak akan menghamburkan uang begitu saja, jika bukan untuk hal bersenang-senang dan demi kesenanganku. Jadi apa sekarang kamu mau bersenang-senang denganku? Ah tapi tunggu, aku baru ingat, kalau aku tidak suka wanita. Jadi kehadiran kamu di sini sungguh sia-sia. Pergilah!"
Hah! Jadi benar, Papa menjualku. Hargaku 2 Millyar? Pastinya mereka sedang bersenang-senang sekarang. Tidak punya hati memang. Ditambah pria di depanku ini, katanya benci terhadap wanita, tapi Papanya justru mengirim banyak wanita untuk menemaninya. Apa itu semacam penyakit yang harus disembuhkan? Bicaranya juga berubah-ubah, memintaku mendekat lalu mengusirku. Dasar aneh!
Rose belum pergi juga. Dia bergeming di belakang Tuan Muda.
__ADS_1
"Mengapa kamu masih di sana? Aku bahkan bisa mendengar suara nafas ketakutanmu. Mengapa kamu masih berdiri saja. Mau cari mati?"
"Tuan Muda, perkenalkan namaku Rose. Tidak peduli seberapa trauma anda pada wanita, seberapa benci anda pada seorang wanita. Maka aku tidak akan menyerah. Toh hidup dan matiku sekarang bergantung pada anda dan Tuan Besar."
Entah dapat keberanian dari mana, Rose bisa mengucapkan kalimat sepanjang itu dengan lancar.
Rose menarik nafas lega.
"Kamu punya nyali juga rupanya. Sekarang mari kita lihat, seberapa besar nyali kamu."
Tuan Muda berbalik menghadap Rose, mencengkram leher Rose dengan sangat kuat. Sampai Rose merasa bahwa dia akan mati saat itu. Rose melihat ke wajah Tuan Muda.
Tidak buruk. Dia, dia sangat tampan. Astaga, dalam posisi terdesak seperti ini aku masih saja memikirkan soal ketampanan wajah Tuan Muda ini. Ada apa denganku?
"Aaaakk..., tol...long...lepas...kan Tuan!"
Mata Tun Muda seakan ingin menelan Rose. Cengkraman itu terlepas seiring tubuh Rose yang terhempas ke sisi tempat tidur. Pinggangnya terbentur badan dari tempat tidur. Sangat ngilu dan sakit. Namun dia tak boleh terlhat lemah, apalagi menangis.
"KELUAR SEKARANG!"
Rose berdiri seraya memegangi pinggangnya dan berlari menuruni tangga menuju kamarnya.
Ma, aku sangat takut. Sangat takut. Mama, tolong Rose!
Rose masuk ke kamar mandi. Melepas seluruh pakaiannya, membenamkan diri ke dalam bak. Menyetel agar airnya terasa hangat, biar nyeri di pinggangnya itu bisa hilang walau meninggalkan bekas memar membiru di sana.
Juan, Volencia, Robert, Lobelia, tunggu saja. Aku pasti bertahan di sini. Setelah itu, takkan kubiarkan kalian hidup dengan tenang. Kalian menikmati uang yang kuhasilkan, sementara aku harus menderita di sini seumur hidupku. Tak akan kubiarkan, aku tidak akan mati sia-sia di sini seperti wanita-wanita yang pernah dibeli Tuan Besar itu. Papa Robert, kamu sungguh kejam. Aku jadi berpikir, apakah aku benar anakmu atau bukan. Aku sangat membenci kalian semua.
###
__ADS_1
Mohon bantu like dan komennya ya. Thanks.