
Rose sudah melewati waktu dua Minggu sejak dia dibawa ke pulau oleh Robert dan Lobelia untuk dijual kepada Tuan Besar Mafioso.
Belum ada tanda-tanda atau kabar berita mengenai pembuangan seorang mayat wanita ke laut. Robert agak gusar, begitu juga dengan Lobelia. Seharusnya, kabar itu akan merebak kurang dari seminggu. Namun ini sudah dua Minggu, mengapa tak ada kabar apapun dari pulau pribadi milik Tuan Besar Mafioso.
"Mungkin saja dia sudah mati." Cibir Lobelia.
"Tidak ada kabar apapun dari pulau. Biasanya tak ada satu orang perempuan yang bisa selamat dari Tuan Muda Marcelino. Karena dia sangat kejam, walau tentu saja Tuan Besar Mafioso jauh lebih kejam."
"Lantas, apakah itu menurutmu Rose masih di sana?"
"Mungkin saja."
"Pa, mana mungkin dia masih di sana. Memangnya Rose punya nyawa sembilan?" Volencia ikut menimpali pembicaraan kedua orang tuanya.
Volencia dan Juan baru saja pulang dari suatu pesta. Rupanya mereka sangat menikmati hari-hari tanpa Rose di sana.
"Paling-paling, mayat Rose sudah habis dimakan ikan buas." Ucap Juan seraya tertawa.
"Kamu benar sekali, sayang."
Baik Robert maupun Lobelia, keduanya masih terdiam berpikir.
"Rencana selanjutnya apa?" Tanya Robert memecah suasana.
"Bersenang-senang tentunya, sayangku."
Cih!! Sudah tua masih saja berlaku selayaknya anak remaja. Volencia dan Juan entah sejak kapan mereka sudah meninggalkan kedua orangtuanya di ruang tamu. Kedua orang itu, masih saja dimabuk asmara.
Ingat, karma masih berlaku. Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Kediaman Tuan Besar Mafioso
Semakin hari, hubungan antara Rose dan Tuan Muda Marcelino terjalin erat. Mereka bahkan dengan berani memamerkan kemesraan di depan Tuan Besar.
Rose sengaja meminta izin pada Tuan Besar Mafioso untuk mengajak Tuan Muda Marcelino makan malam bersama.
"Tuan, bolehkah aku meminta sesuatu pada anda?"
"Katakan!"
"Bisakah Tuan Muda ikut makan malam bersama kita, malam ini?"
Tuan Besar Mafioso cukup terkejut dengan permintaan Rose.
"Jangan. Itu tidak boleh terjadi, dia akan kabur jika dia meninggalkan ruang hukuman itu."
"Akan kupastikan dia akan tetap berada di pulau ini, Tuan. Nyawaku adalah taruhannya."
Tuan Besar Mafioso menangkap kesan serius pada wajah Rose.
Wanita ini cukup menarik. Dia mampu bertahan dalam dua Minggu. Selain itu, menurut laporan anak buahku, hubungan mereka kini semakin baik.
"Baiklah, mintalah bagian dapur menyiapkan segalanya."
"Terimakasih, Tuan."
Rose undur diri dan keluar dari ruangan Tuan Besar Mafioso.
Tuan Muda Marcelino menunggu dengan cemas di kamarnya. Tak sabar menanti Rose datang menemuinya. Memberinya kabar baik.
CEKLEK.
__ADS_1
Daun pintu terbuka. Tuan Muda Marcelino berdiri dari duduknya.
"Bagaimana?"
"Bersiaplah untuk berakting lebih baik, Tuan Muda."
"Kamu memang wanita cerdas dan akulah pria bodoh yang hanya bisa pasrah menerima hukuman."
"Haha..., tentu saja kamu yang bodoh."
"Kau menghinaku?"
"Kau sendiri yang mengatakannya, aku hanya membenarkan."
"Dasar wanita ular, kamu benar-benar licik."
"Selagi Tuan Muda mau bekerjasama, maka apapun bisa kulakukan."
"Aku tak sabar untuk bisa keluar dari Villa neraka ini. Meski seluruh fasilitas tersedia, bagiku semua itu tak ada artinya. Cukup lama aku terkurung di sini, aku merindukan duniaku. Merindukan Shame!"
"Shame?"
"Pacarku."
Rose terkesiap. Apa yang kamu harapkan, Rose?
"Sudah berapa lama kalian berhubungan?"
"Cukup lama. Dia selalu bisa memberiku kepuasan yang aku inginkan. Sampai kapan pun dia mungkin akan jadi satu-satunya. Kamu sendiri?"
"Hubungan percintaanku tragis. Hahaha."
"Mengapa tertawa?"
Sekarang giliran Tuan Muda Marcelino yang terkejut. Mulutnya menganga. Kenyataannya memang demikian, suami Rose berselingkuh dengan adiknya sendiri. Bukan hanya berselingkuh, tapi juga terang-terangan memamerkan kemesraan di depan Rose. Isteri mana yang tidak akan berang, melihat pemandangan yang membuat mata merah itu.
Hingga kini, Rose masih belum bisa melupakan peristiwa malam itu. Masih terekam jelas di kepalanya, ketika suaminya dan adiknya bercumbu di atas kasur yang sering dia pakai untuk tidur. Bukankah itu keterlaluan.
"Karena itu kamu ingin balas dendam?"
"Bukan cuma itu. Darahku mendidih karena ingin balas dendam. Aku diusir dari rumahku sendiri, didepak dari perusahaan tempatku bekerja. Di mana perusahaan itu adalah satu-satunya peninggalan keluarga dari Mamaku. Sekarang mereka menguasainya."
"Kamu bisa mengandalkanku untuk balas dendammu." Ucap Tuan Muda Marcelino seraya mengelus bahu Rose.
Rose meringis seperti kesakitan.
"Ada apa, Rose?"
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya mengelus bahumu, mengapa kau seperti orang kesakitan begitu?"
"Maaf, Tuan Muda aku harus kembali ke kamarku."
Tergesa Rose berdiri dari duduknya dan hendak keluar dari kamar Tuan Muda Marcelino.
Tangan Rose dicegat, ditarik dengan keras oleh Tuan Muda Marcelino. Rose terduduk di atas kasur. Kaget dengan reaksi tiba-tiba dari Tuan Muda.
Apa yang akan dilakukan Tuan Muda ini si? Dia kan tidak bernafsu kepada perempuan. Mengapa aku merasa kalau dia akan melakukan sesuatu padaku.
"Duduk! Biar kuperiksa."
Rose lebih-lebih terkejut ketika Tuan Muda Marcelino kemudian melepas kancing baju Rose bagian atas dan menurunkannya hingga bahunya terbuka lebar.
"Sudah kuduga!" Ucap Tuan Muda. "Mengapa kau sembunyikan lukamu seperti ini? Ini masih memungkinkan untuk infeksi, Rose."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku punya obat salep yang selalu kuoles ke lukanya biar cepat kering. Jangan terlalu dekat, kamu bisa jatuh cinta padaku, Tuan."
"Cih...! Apa kau sedang menggodaku?"
"Haha..., aku tidak berani, Tuan."
"Tinggal di sini, aku akan minta penjaga memanggil dokter ke sini."
Di bahu Rose, itu seperti luka bakar. Masih basah dan beberapa bagian telah kering. Selama ini Rose selalu menutupnya dengan kapas. Berpura-pura kuat dan tegar di depan semua orang, namun di tubuhnya sesungguh terdapat bilur-bilur luka yang diperolehnya sejak kecil hingga dia masih berada di rumah Robert.
"Sudahlah, jangan berlebihan. Aku bisa mengatasi ini sendiri."
"Diam di sini atau aku tidak akan membantumu balas dendam!"
"Cih, kau mengancamku?"
"Rose, berhenti berpura-pura baik-baik saja."
"Jangan terlalu perhatian padaku atau kau benar akan jatuh cinta padaku."
"Haha..., Rose, Rose, kau benar menginginkan aku jatuh cinta padamu ya?"
Tak lama setelah itu, sang dokter yang dipanggil untuk datang, akhirnya tiba di kediaman Tuan Besar Mafioso.
"Siapa yang sakit, Tuan Muda?"
"Rose, perlihatkan lukamu atau aku sendiri yang melakukannya untukmu?"
"Aku bisa melakukannya sendiri."
Saat melihat luka-luka di punggung Rose, Tuan Muda menatap ngeri. Sang dokter yang memeriksa luka-luka itu sampai heran, mengapa Rose bisa membawa luka separah itu tanpa mengeluh sedikitpun.
"Kau gila ya? Bagaimana kau hidup selama ini, Rose?" Geram Tuan Muda Marcelino.
Dokter itu tak bisa berkata apapun. Rose yang lukanya dibersihkan, Tuan Muda Marcelino yang meringis menahan sakit.
Sekitar setengah jam, luka-luka di tubuh Rose berhasil dibersihkan. Dia terlihat biasa saja, Tuan Muda Marcelino menatapnya tak percaya.
Saat dokter itu pergi, Tuan Besar Mafioso datang mengejutkan mereka.
"Mengapa memanggil dokter?"
"Papa...!"
"Tuan Besar." Rose membungkuk.
Tuan Muda Marcelino yang melihat itu terasa ngilu membayangkan luka Rose yang akan terbuka.
"Rose, Pa. Dia, sakit. Di sekujur tubuhnya terdapat luka seperti luka bakar. Aku tidak mau menikah dengan perempuan yang tubuhnya tidak seperti tubuh seorang perempuan. Makanya kupanggil dokter Simon ke sini untuk melihat luka-luka itu."
"Boleh kulihat?"
Rose membungkuk lagi. Seraya membuka kancing bajunya dan menutup bagian dadanya. Meloloskan baju di bagian punggungnya dan terpampanglah luka bakar menganga dan merah di sekujur tubuh Rose.
"Tutup! Pakai bajumu." Tuan Besar pun terkejut.
"Marcelino, pastikan Rose mendapatkan pelayanan terbaik di istana kita. Dia akan menjadi calon menantu saya satu-satunya." Tutup Tuan Besar Mafioso sebelum meninggalkan mereka.
Keduanya saling tatap. Baik Rose dan Tuan Muda Marcelino tak mengira tujuannya akan semulus itu. Padahal baru saja mereka akan mengatur sebuah makan malam untuk membicarakan rencana pernikahan, Tuan Besar Mafioso justru sudah menyetujuinya.
Sungguh di luar dugaan.
***
__ADS_1
Mampir dan berikan like serta komentar yang sebanyak-banyaknya ya. Karena itu sangat membantu novel ini bisa dibaca orang lain. Terimakasih.