
Pesta telah usai. Para tamu sebagian besar telah pulang. Rose memilih untuk tinggal sebentar, Tuan Muda Marcelino sedang menelpon seseorang di tempat lain. Rose duduk di sebuah kursi seraya meneguk wine yang disediakan oleh pihak hotel.
Robert dan Lobelia datang mendekati Rose.
"Rose, sudah lama tak berjumpa." Sapa Robert.
"Hai, Pa. Aku pulang! Apa kau terkejut?"
"Kau masih hidup ternyata?" Ujar Lobelia.
"Mom, kau ingin sekali aku mati rupanya. Sayang sekali, keinginan Mom belum tercapai. Buktinya, sekarang aku bisa berada di sini sebagai perwakilan keluarga Tuan Besar Mafioso. Apa kehadiranku membuat kalian terkejut?"
Volencia tiba-tiba datang dan menarik rambut Rose.
"Berani sekali kau muncul di tengah pesta pernikahanku. Kau sudah bosan hidup?"
Rose bergeming. Rambutnya yang ditarik itu terasa sakit, namun dia hanya tersenyum ke arah Volencia. Lalu dengan tangannya Rose memegang tangan Volencia lalu menghempaskannya hingga Volencia nyaris terjungkang ke lantai.
"Bisa-bisanya kau..." Geram Volencia
"Kau pikir aku takut?" Balas Rose dan mendekati Volencia kemudian menamparnya dengan keras. "Itu pelajaran untuk adik yang tak tahu diri."
PLAKKK!!!
"Ini untuk apa yang sudah kau ambil dariku. Sekarang bagiku itu bukan apa-apa lagi. Termasuk laki-laki yang resmi jadi suamimu malam ini. Bagiku dia cuma sampah!" Rose menampar Volencia dua kali dan berdiri dengan melipat tangan ke arah perempuan yang masih terduduk di lantai itu.
"ROSE!!! Apa yang kau lakukan?" Teriak Lobelia.
"Mom...!" Panggil Volencia seakan mengiba.
"Berdirilah! Juan apa yang kau lihat? Tidak bisakah kau sedikit berbelas kasih pada Volencia? Isterimu ditampar orang lain kau hanya diam saja. Suami macam apa kau ini?"
"Keluarga yang sangat menarik!" Ucap Rose.
"Rose, jaga sikapmu!" Ucap Robert memperingati Rose.
"Sebaiknya mulai sekarang, Papa yang jaga sikap. Kalau tidak mau perusahaanmu bangkrut dan kalian tinggal di jalanan."
Rose melangkah pergi dan Lobelia mengambil botol wine hendak melempari Rose. Tindakan itu dilihat oleh Robert kemudian dicegah.
"Biar aku yang memberi pelajaran padanya." Ucap Robert.
Rose tersentak ketika lengannya ditarik dari arah belakang. Itu Robert yang melakukan, orang yang dia anggap Papa selama ini. Robert ingin menampar Rose, tangannya sudah terangkat ke atas. Malang menyambut tindakan bodohnya itu. Tuan Muda Marcelino melihat semuanya.
"Tuan Robert, turunkan tanganmu! Berani sekali kau menyentuh wanitaku, terlebih dia adalah isteriku yang mana kami adalah keluarga dari Tuan Besar Mafioso. Lancang sekali, sampai kau ingin melukai wanitaku. Apa kau sangat ingin hidup di jalanan?"
Semua yang ada di sana terkejut, wajah mereka menjadi pucat. Terlebih Robert, dia seperti tertangkap basah. Lobelia sudah ketakutan, Volencia menatap gusar. Hanya Juan yang sepertinya sangat menikmati pertunjukan itu.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud kurang ajar. Tolong maafkan kesalahan saya kali ini." Ujar Robert meminta maaf seraya menunduk di depan Tuan Muda Marcelino.
"Tuan, maafkan kelancangan kami." Lanjut Lobelia.
__ADS_1
Awas kau Rose, kali ini kau bisa menang karena berlindung di balik kekuatan Tuan Muda Marcelino. - Volencia.
"Aku mau, putrimu bersujud dan mencium kaki wanitaku. Jika kau tak ingin urusan malam ini menjadi panjang."
Volencia terhenyak, jantungnya seperti akan copot. Telinganya panas dan marah sekali. Namun semua ekspresi itu harus dia sembunyikan jika tak ingin semua masalah ini bertambah besar. Tatapan mata Robert dan Lobelia semua tertuju pada Volencia.
"Apakah ada cara lain, Tuan?" Tanya Lobelia.
"Tuan Robert, apakah ucapanku tadi kurang jelas. Hingga isterimu yang tercinta ini meminta cara lain untuk meminta maaf?"
"Volencia, cepat lakukan! Bersujud dan cium kaki Rose lalu meminta maaf padanya." Perintah Robert dengan suara keras.
"Dia isteriku, apa hakmu memintanya bersujud di depan Rose. Yang mana Rose adalah bekasku. Aku menolak kau meminta isteriku melakukan itu." Ucap Juan akhirnya bersuara.
Ada rasa lega di dalam hati Volencia karena merasa dibela oleh Juan.
"Tuan Robert, kesabaranku mulai habis. Lakukan atau semua menjadi terlambat?"
"VOLENCIA! BERLUTUT SEKARANG DAN MINTA MAAF PADA ROSE." Robert mulai geram.
Volencia menatap tak percaya ke arah Papanya yang sama sekali tidak menunjukkan belas kasih padanya.
"Sudah, sudah, pertunjukan ini terlalu lama. Aku sudah bosan menunggu, sayang sebaiknya kita pulang!" Lanjut Rose.
"Baiklah, karena wanitaku sudah memutuskan maka tak ada yang bisa diubah lagi. Bersiaplah semua bentuk kerjasama antara perusahaan kalian dengan grup Mafioso segera diputuskan."
Robert tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia memaksa Volencia untuk segera bersujud sampai semuanya menjadi terlambat. Robert sengaja mendorong Volencia hingga tersungkur ke lantai. Gaun yang dipakainya menjadi tak ada artinya lagi, harga diri dan kesombongannya jatuh berkeping-keping.
"Minta maaflah yang benar. Lagipula kenapa minta maaf padaku, minta maaf pada isteriku."
"Maafkan aku, Rose. Aku bersalah padamu. Sungguh maafkan aku!"
"Bagaimana, sayang? Apa itu cukup?"
"Cukup! Satu lagi, jangan bangun sebelum aku meninggalkan ruangan ini."
Segera Rose dan Tuan Muda Marcelino melangkah pergi dengan senyum kemenangan. Tak pernah selama hidupnya Rose seberani itu, selama ini dia selalu ditindas dan mengalah apapun yang terjadi. Rose yang dulu sudah mati, Rose yang sekarang adalah Rose yang penuh amarah, dendam dan juga keberanian.
Sepeninggal Rose dan Tuan Muda Marcelino, Volencia berdiri dari tempatnya. Dia menyalahkan Juan yang hanya menonton saja tak bisa berbuat apa-apa.
PLAK!!!
Sekali lagi, Volencia mendapatkan tamparan keras dari tangan besar Robert. Lobelia yang melihat itu, tak bisa menahan amarah.
"Robert, apa yang kau lakukan? Volencia salah apa sampai kau berani menamparnya?"
"Itu karena kecerobohan dia dan menyinggung perasaan Tuan Muda Marcelino. Sekarang, kita tak akan tahu apa yang bisa dilakukannya di masa depan. Apa kau paham itu?"
"Tapi kau tak perlu menamparnya seperti itu. Dia anak kita."
"Tidak peduli dia anak kita atau bukan, selagi dia membuat masalah dan merugikan perusahaan, maka dia akan tahu akibat atas perbuatannya itu." Robert marah sekali, matanya memerah dan pergi begitu saja meninggalkan Lobelia dan Volencia.
__ADS_1
"Sayang, kau tak apa?" Tanya Juan.
Volencia menyingkirkan tangan Juan yang memegangi bahunya. Dia kecewa pada Juan yang sama sekali tak membelanya saat dia dipermalukan.
"Menjauhlah dariku, Juan. Apa gunanya kau di sini, bahkan untuk membelaku saja kau tak bisa."
"Aku hanya tidak mau terjadi lebih banyak masalah, sayang. Ini saja sudah cukup merugikan bagi kita semua, lihatlah kemarahan Papa Robert. Jika aku juga ikut membuat masalah, bukan tidak mungkin semuanya akan hancur."
"Benar kata suamimu, sebaiknya kita atur rencana berikutnya untuk melawan Rose. Sekarang dia sudah memiliki kekuatan untuk membalas kita, maka kita juga butuh kekuatan yang sama besarnya."
"Iyah, Mom. Aku ingin membalasnya atas apa yang terjadi hari ini."
***
Di sebuah hotel di kota W.
Rose menghempaskan dirinya di atas kasur empuk milik hotel tersebut. Dia sangat puas dengan pertunjukan hari ini.
"Kau berhutang banyak padaku malam ini, Rose." Ucap Tuan Muda Marcelino.
"Kau mau aku menebusnya dengan apa?"
"Kau tahu apa yang aku mau, aturlah semuanya."
"Baiklah! Besok saja, karena malam ini aku capek dan ingin tidur saja."
"Aku pegang janjimu."
Rose kemudian bangun dan duduk di atas kasur. Membuka gaun yang sejak tadi menempel pas di tubuhnya. Rose agak kesulitan menurunkan resleting gaun itu. Tanpa diduga, Tuan Muda Marcelino beranjak dari duduknya dan membantu Rose menurunkan resleting itu.
Tuan Muda Marcelino tampak kagum dengan kelembutan bahu Rose yang putih bersih. Beda sekali dengan waktu itu, penuh luka dan bekas pukulan di mana-mana. Sekarang semua itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas apapun.
Tuan Muda Marcelino seakan ingin meraba tubuh itu. Semacam ada hasrat namun itu kecil sekali, sehingga semua keinginan itu hanya ada di dalam kepala Tuan Muda Marcelino.
Rose menyingkirkan rambut di bahunya dan menariknya ke depan. Semakin terpampanglah tubuh mulus nan putih itu di depan mata Tuan Muda Marcelino. Dia gugup dan sepertinya Rose menyadari itu.
"Ada apa, Tuan?"
Tuan Muda Marcelino segera melompat dari tempat tidur.
"Tidak apa-apa. Lanjutkanlah!"
"Terimakasih sudah membantuku melepaskannya."
Rose berdiri tegak dan seluruh gaun itu jatuh ke lantai. Tuan Muda Marcelino melihat semuanya, Rose sengaja melakukan itu untuk memancing reaksi Tuan Muda Marcelino. Karena tak ada reaksi apapun, sekarang Rose percaya bahwa Tuan Muda Marcelino tak pernah tertarik akan tubuhnya.
Dia memang tidak normal. Tubuh bagus seperti Marcelino buat apa, kalau cuma untuk dinikmati laki-laki. Sungguh menjijikan. Tunggu, apakah aku terlihat seperti begitu ingin disentuh olehnya? Ah, tidak, tidak!
***
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya. Biar semakin semangat up nya. Terimakasih
__ADS_1