PEMBALASAN DENDAM ROSE

PEMBALASAN DENDAM ROSE
Perjanjian Kebebasan


__ADS_3

Upacara pernikahan berakhir, semua tamu pulang. Kini, Rose dan Tuan Muda Marcelino sedang berada di ruangan Tuan Besar Mafioso. Keduanya tampak gugup, sedang menebak-nebak mengapa mereka dipanggil ke ruangan bersuasana intimidasi itu.


Siapapun yang masuk ruangan Tuan Besar Mafioso, wajahnya akan berubah pias dan pucat pasi seketika. Meski belum bisa menebak apakah sebuah hukuman atau keuntungan dan kebebasan.


Suasana remang-remang di ruangan itu, semakin terasa menyeramkan. Tidak tahu kenapa pencahayaan di ruangan itu dibuat seolah-olah memang seperti ruangan interogasi, intimidasi dan segala hal yang menakutkan.


Rose dan Tuan Muda duduk berdampingan menghadap lurus di mana ada Tuan Besar Mafioso di depannya. Sibuk menghisap cerutu dan membuang asap seenaknya.


"Kalian tahu, mengapa saya meminta kalian untuk datang ke ruangan ini?"


Baik Rose dan Tuan Muda Marcelino hanya menggeleng.


"Baiklah, tidak perlu gugup begitu. Kalian rileks saja karena ini adalah hari bahagia kalian. Tidak bisakah kalian membaca raut wajah, betapa bahagianya saya saat ini? Jadi tidak perlu segugup itu." Tuan Besar Mafioso seperti tahu apa yang dirasakan dua orang itu.


Rose mencoba tersenyum kilas, Tuan Muda Marcelino entah kenapa wajahnya masih seperti itu dari sejak dia masuk hingga sekarang.


"Rose." Mendengar namanya dipanggil, Rose mendongakkan kepalanya yang sejak tadi selalu saja menunduk.


Ada apa ini? Kenapa namaku disebut?


"Marcelino." Kini giliran Marcelino yang merasa akan ada sesuatu yang penting akan disampaikan Tuan Besar Mafioso.


"Kalian berdua, karena telah menikah. Maka kalian harus melakukan beberapa kesepakatan dengan saya. Jika kesepakatan itu kalian langgar, maka kalian akan menghilang dari muka bumi ini."


Perasaan Rose mulai tak enak, Tuan Muda Marcelino gusar dan mulai tak nyaman dengan ucapan-ucapan Tuan Besar Mafioso.


"Pertama, karena status kalian suami isteri maka TIDAK BOLEH BERCERAI. Kedua, karena kalian suami isteri maka kalian HARUS PUNYA ANAK. Ketiga, karena kalian suami isteri maka di mana pun berada, KALIAN HARUS BERSAMA. Terakhir, pergunakan kebebasan yang saya berikan dengan baik jika kalian ingin selamat."


Rose tak bisa percaya hanya ada tiga syarat perjanjian, tapi itu semua seperti pukulan telak bagi mereka berdua. Terutama Tuan Muda Marcelino, kesepakatan itu seperti hukum karma baginya.


Tuan Muda Marcelino menatap Rose dengan isyarat yang hanya mereka berdua yang paham. Walau akhirnya, mereka harus tersenyum agak terpaksa demi menyenangkan hati Tuan Besar Mafioso. Bagi Tuan Besar Mafioso, tak ada penolakan untuk siapapun yang melakukan kesepakatan dengannya.


Tidak ada kata tidak setuju ataupun sanggahan, di dalam kamusnya hanya ada kata setuju dan iya.

__ADS_1


"Terimakasih, Tuan. Anda sudah sangat berbaik hati padaku. Kam akan senantiasa mengingat kesepakatan atau perjanjian tersebut."


"Bagus. Marcelino, karena kau adalah laki-laki maka perlakukan Rose dengan baik. Hidup Rose berada di tanganmu dan hidup kalian tergantung padaku."


"Baik, Pa. Terimakasih atas kemurahan hati Papa."


"Mulai sekarang, kalian akan memiliki kamar bersama. Peter akan mengantar kalian ke kamar yang akan menjadi milik kalian selama berada di sini. Satu lagi, mulai besok seluruh kartu dan akses yang kau punya Marcelino akan segera dibuka kembali. Pergunakanlah dengan baik. Untuk Rose, karena sekarang kau adalah menantu di rumah ini maka buatlah dirimu senyaman mungkin. Semua kartu untukmu akan segera disiapkan oleh Peter. Pergunakanlah uangku sebijaksana mungkin. Walau uang itu tidak akan habis meski kau belanjakan sebanyak apapun."


Rose bukan lagi terkejut tapi dia tidak tahu harus membalas semua itu pakai apa. Tuan Muda Marcelino terlihat tenang, mungkin karena terbiasa dihakimi oleh Tuan Besar Mafioso.


"Baiklah, kalian berdua nikmatilah malam pertama kalian. Ingat untuk membuat cucu untukku."


Kata-kata terakhir Tuan Besar Mafioso terdengar lucu sekaligus menakutkan bagi dua pasangan pengantin yang sedang berakting suami isteri itu. Rose menelan ludahnya sendiri, kerongkongannya seakan kering seketika. Sementara Tuan Muda Marcelino sudah bergegas untuk keluar dari ruangan.


"JANGAN LUPAKAN PERJANJIAN BARUSAN. SAYA TIDAK SUKA APA YANG SUDAH DISEPAKATI MENJADI DILANGGAR. KALIAN AKAN MENYESALI ITU."


Kukira dengan pura-pura menikah, semua urusan akan lebih mudah. Tahunya aku seperti masuk perangkap sendiri. Huh...!


Mereka ikut Peter melihat kamar baru mereka sebagai hadiah dari Tuan Besar Mafioso.


"Woahh..., ini sih kamar seorang putri raja. Rasanya ini seperti mimpi, aku jadi ratu dalam semalam. Huh, Tuan Muda bisakah kau mencubit lenganku! Aku rasa ini cuma mimpi."


Tuan Muda Marcelino tidak hanya mencubit tapi juga menarik ujung rambut Rose sedikit keras.


"Awww..., kan kubilang cuma cubit. Kenapa menarik rambutku?"


"Masih percaya ini mimpi?"


"Sudah tidak. Sekarang aku percaya kalau ini nyata. Jiwa balas dendamku meronta-ronta. Dibandingkan harta keluargaku yang direbut mereka, kekayaan keluargamu ini tidak sebanding harganya dengan punya mereka. Huh, entah aku beruntung atau malah terperangkap."


"Ini semua idemu, jadi kau harus bertanggungjawab."


"Kenapa aku? Ini kan kesepakatan kita bersama. Kenapa jadi aku yang salah sendirian?"

__ADS_1


"Ide kamu gila. Menikah, punya anak, argh...! Itu semua tidak pernah ada di dalam agenda perjalanan hidupku. Kau mengacaukan semuanya."


"Hahah, paling tidak kamu akhirnya akan bisa bertemu pacar mesummu itu."


"Sialan kau!" Ucap Tuan Muda Marcelino seraya melempar bantal ke arah Rose karena sekarang dia sedang duduk di ranjang baru milik mereka.


Ukurannya king size dengan seprei putih bersih tanpa noda sedikitpun. Bunga mawar merah di atasnya berbentuk Love entah siapa yang punya ide semacam itu.


"Nih ambil!" Ucap Rose melempar bantal itu kembali ke Tuan Muda Marcelino yang belum siap. Akibatnya bantal itu mendarat tepat di wajahnya.


"Kau bahkan berani melempar bantal padaku. Aku ini Tuan Muda Marcelino, mengapa kau berlaku kasar padaku?"


"Kau sendiri yang mulai. Daripada kita bertengkar terus, bagaimana kalau kita bahas bulan madu saja? Aku tak sabar bisa keluar dari pulau ini."


"Bulan madu? Bulan madu saja sana sendiri."


"... Dan ketahuan kalau kita cuma pura-pura? Iya? Maka tamatlah riwayat kita berdua. Tidak, aku tidak mau berkahir seperti itu sebelum membalaskan dendamku."


"Huh, kau ini merepotkan sekali. Aku mau tidur, masalah bulan madu kamu atur saja sendiri. Satu lagi, kamu tidur di sofa sana!"


Rose melirik ke arah sofa. "Dasar kejam, aku ini isterimu. Ah, tapi tak apa. Aku juga tidak mau kalau sampai ternodai olehmu." Ucap Rose yang melangkah ke arah sofa.


Malam terus beranjak, Rose karena merasa kelelahan dia pun tertidur seketika menyentuh bantal sofa. Tuan Muda Marcelino yang sejak tadi hanya berpura-pura tidur langsung mencibir wajah Rose.


"Cih, dasar wanita nakal! Bagaimana bisa wajahmu sepolos itu waktu tidur? Baru menyentuh bantal saja sudah tertidur begitu saja."


Tuan Muda Marcelino beranjak dari tidurnya. Menghampiri Rose yang tidur pulas. Tak lama kemudian, dia mengangkat tubuh Rose dan memindahkannya ke tempat tidur. Menyelimuti tubuh Rose hingga ke dada lalu dia sendiri bertukar tempat dengan Rose tidur di sofa.


Andai kau bukan isteri pura-pura, mana mau aku berbaik hati pada seorang perempuan. Tapi kau cukup unik, aku bahkan tak bisa berbuat kasar padamu sejak awal.


*


*

__ADS_1


*


Jangan lupa like dan komen ya. Thank you so much.


__ADS_2