PEMBALASAN DENDAM ROSE

PEMBALASAN DENDAM ROSE
Sebuah Tontonan


__ADS_3

Terjadi pertengkaran hebat antara Rose dan Volencia. Keduanya terlibat adu mulut karena Volencia tak terima dengan ucapan Rose tadi pagi saat sarapan. Volencia tidak terima jika disebut main belakang dengan Juan, walau kenyataannya memang demikian. Volencia selalu meyakini bahwa Rose-lah yang menggoda Juan.


"Kamu yang menggoda Juan, bukan? Bilang saja kamu sangat kesepian sehingga kamu datang ke rumah ini dan merayu Juan agar mau tidur denganmu." Cecar Volencia.


"Haha, kau ini lucu sekali Volencia. Kau bahkan membela perbuatan kotor Juan yang sejatinya adalah suami kamu. Sebesar itukah kamu mencintainya sampai kau tidak bisa membedakan mana cinta dan mana nafsu belaka. Kuberi tahu padamu Vo, Juan hanya sampah bagiku dan sampah memang pantas dibuang ke tempat yang benar. Mungkin saja tempatnya itu kamu."


Volencia semakin geram, tangannya sudah mengepal siap menyerang Rose. Saat dia hendak mendekati Rose, posisi Volencia berada di tangga. Tiga anak tangga dari bawah tepatnya, begitu Volencia melangkahkan kakinya dia tak sadar kalau langkahnya terlalu jauh. Melewatkan satu anak tangga dan alhasil dia jatuh terjungkang.


"Awww..., sakit! Sakit...!" Volencia meringis kesakitan.


Lobelia dengan segera berlari keluar mendengar suara keluhan dari Volencia.


"Vo, ada apa?"


"Mom, sakit Mom. Perutku sakit...!"


Beberapa saat kemudian, mengalirlah banyak darah dari arah ************ Volencia. Lobelia panik melihat anaknya berdarah. Robert dan Juan datang bersamaan. Melihat Volencia kesakitan begitu, Rose sudah bersiap dengan segala skenario yang akan diatur Volencia untuknya.


"Vo, kamu berdarah. Ada banyak darah, Vo. Kamu baik-baik saja?" Tanya Lobelia memastikan.


"Perutku, Mom. Perutku sakit!"


Juan mendekati Volencia, "Bagaimana bisa kamu terjatuh seperti itu, Vo?"


"Dia...!" Tunjuk Volencia ke arah Rose. "Dia mendorongku, hingga jatuh ke tangga."


Robert, Lobelia dan Juan menatap bersamaan ke arah Rose. Rose terlihat santai, tak terpengaruh dengan semua tuduhan itu.


"Beraninya kau, Rose! Kau apakan istriku?"


"Rose, kau harus bertanggungjawab!"


"Rose, kau benar-benar kejam!"


Kalimat-kalimat itu meluncur mulus dari mulut-mulut orang-orang di depan Rose. Mulai dari Papanya, Lobelia dan juga Juan. Namun Rose mana mau peduli, sekalipun Volencia mati itu bahkan bagus bagi Rose.


"Volencia, kamu memainkan skenario dengan baik. Kau pantas dijuluki ratu drama. Kalian pikir saja, jarak antara aku dan Volencia itu ada tiga meter. Volencia jatuh dari tangga, sementara aku berdiri di depan Volencia sejauh jarak tiga meter. Apa masuk akal, aku adalah dalang dibalik jatuhnya Volencia? Daripada kalian menuduh untuk sesuatu yang tidak kulakukan, lebih baik kalian bawa Volencia ke rumah sakit. Dia hamil, keluar banyak darah dari selangkangannya banyak kemungkinan kalau Volencia keguguran." .


Mata Volencia membola, begitu juga Lobelia dan Robert. Juan terlihat lebih santai, karena jelas-jelas untuk saat ini dia tak bisa melawan Rose.

__ADS_1


"Juan, cepat bawa isterimu ke rumah sakit. Selamatkan janinnya!" Perintah Lobelia.


"Tidak, aku tidak mau kehilangan anakku. Mom, tolong Mom!"


"Iya, kamu tidak akan kehilangan anakmu. Juan cepat urus isterimu."


Juan mengangkat tubuh Volencia dan membawanya ke rumah sakit.


"Rose, kau sangat keterlaluan! Setelah ini apalagi yang ingin kau lakukan?" Teriak Lobelia.


"Tentu saja membuat kalian semakin menderita. Namun tak akan secepat itu, pelan-pelan saja agar penderitaan kalian lebih terasa dan itu menyenangkan buatku."


Lobelia mengambil pas bunga yang terletak di atas meja di sampingnya. Lobelia melemparkan pas bunga itu ke arah Rose, namun Rose dapat menghindar dan pas bunga itu jatuh berserakan ke lantai.


"Sepertinya kamu sangat ingin aku segera mati, Mom. Bahkan menyerangku dengan terang-terangan. Tapi Mom, itu tidak akan mudah seperti keinginanmu. Aku bukan lagi Rose yang bisa seenaknya kamu tindas dan kamu perlakukan seperti binatang."


Lobelia semakin dirasuki kemarahan, dia ingin sekali menjambak rambut Rose seperti ketika Rose kecil. Robert menghalangi tindakannya dan memintanya untuk mengambil sesuatu.


"Jangan buang tenagamu, Lobelia. Ambil cambuk yang sering kupakai untuk menyiksa anak yang tak tahu diri ini. Biar aku yang memberinya pelajaran secara langsung."


Lobelia tersenyum puas, sekarang dia tak perlu mengotori tangannya lagi demi membalas perbuatan Rose. Robert akan melakukan untuknya berkali-kali lipat lebih sakit. Sebelumnya dia pernah menyaksikan Robert mencambuki tubuh Rose hanya karena persoalan sepele.


"Papa, kukira kau sudah berubah. Sehingga aku bisa mempertimbangkan untuk memberimu pengampunan. Karena dulu kau sudah merawatku, bahkan membiarkanku hidup meski seluruh anggota keluargaku sudah meninggal. Namun, setelah melihat begitu banyak amarah dan kebencian dari dalam matamu. Kuputuskan untuk tak memberi pengampunan juga padamu." Ujar Rose pada Robert yang sedang menunggu cambuknya diambilkan oleh Lobelia.


"Cih, omong kosong! Bisa apa kau, Rose? Nyalimu besar juga untuk mengancamku seperti itu. Hanya saja, semua orang bisa bermimpi tapi tidak bagimu Rose. Kamu satu-satunya manusia yang tidak boleh bermimpi bahkan sekejap pun."


"Oyah, sayangnya sekarang aku bisa melakukan apapun padamu, Papa. Jadi baik-baiklah padaku."


"Lobelia!" Teriak Robert. "Mengapa lama sekali! Cepat bawa cambuknya ke sini."


Dengan tergesa-gesa, Lobelia membawa cambuk di tangannya.


Rose ingat bagaimana perihnya cambuk itu menyentuh setiap inchi tubuhnya. Rose besar dari pukulan cambuk itu, bahkan Rose tak bisa menghitung seberapa banyak pukulan cambuk yang dia terima.


Terakhir kali dia merasakan itu, saat dia meminta izin untuk menikah dengan Juan. Memperjuangkan Juan agar bisa diterima di keluarga itu. Namun apa balasan bagi Rose setelahnya? Juan bahkan berselingkuh dengan adik tirinya sendiri.


Cambuk itu sudah di tangan Robert. Menggulung-gulung pangkal cambuk di tangannya dan bersiap melecut cambuknya ke arah Rose. Rose sudah bersiap, sekalipun cambuk itu mengenai tubuhnya sekarang.


Robert mengangkat tangannya dan mengayunkan cambuk itu ke belakang. Baru saja akan mengenai Rose, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kehadiran seseorang di rumah itu.

__ADS_1


"Tuan Robert! Berani kau menyentuhkan cambuk itu di tubuh wanitaku, maka aku akan mencambukmu sepuluh kali lipat dari yang kamu lakukan pada wanitaku."


Rose menengok ke arah suara itu, terkejut karena Tuan Muda Marcelino bisa berada di sana di waktu yang tepat.


Wajah Robert pucat pasi. Tak menduga Tuan Muda Marcelino tiba-tiba datang ke rumahnya.


"Tu... Tuan Muda! Maafkan saya. Itu untuk memberi pelajaran pada anak saya Rose karena sudah berani merayu suami Volencia. Selain itu, dia juga berani mencelakai Volencia dengan mendorongnya dari tangga hingga Volencia mengeluarkan banyak darah dan mungkin saja kehilangan janinnya. Biarkan aku memberinya pelajaran, Tuan!"


"Benar, Tuan. Rose melakukan semua perbuatan itu dengan sengaja." Tambah Lobelia.


"Tutup mulut kalian semua, Rose adalah milikku. Rose adalah wanitaku, jadi yang berhak memberinya pelajaran hanya aku bukan kalian." Tuan Muda Marcelino berjalan pelan ke arah Rose.


"Sayang, apa kau tak apa-apa? Mereka menyakitimu?" Ucap Tuan Muda Marcelino dengan lembut seraya meletakkan jari-jarinya menelusuri wajah Rose.


"Tenang saja sayang, aku selalu bisa menjaga diri."


"Seluruh bantuan dalam bentuk apapun yang diberikan Mafioso Corp kepada Valcon dicabut sepihak. Tidak ada lagi bentuk kerjasama antara keduanya."


Robert dan Lobelia tak hanya terkejut. Dia bahkan mengiba di depan Tuan Muda Marcelino, memohon agar keputusan itu tak diambil oleh Tuan Muda Marcelino.


"Tolong Tuan, jangan lakukan itu pada kami. Keluarga kami yang bersalah sudah menyinggung Tuan dan isteri Tuan. Tolong pertimbangkan lagi, Tuan."


"Tuan, kami bersalah. Kami akan bersujud di hadapan Rose jika itu bisa mengubah semua keputusan itu."


"Apa kau bilang? Kau menyebut isteriku dengan sebutan Rose? Panggil dia Nyonya Rose."


"Iii..Iya... Tuan, Nyonya Rose tolong maafkan kami."


Cih! Mereka berdua bahkan menghinakan diri demi sebuah kerjasama. Semakin menarik saja, tentu saja kerjasama itu akan tetap ada sampai aku bisa menguasai seluruh saham di perusahaan Valcon dan merebutnya dari kalian tanpa kalian sadari**.


Rose tersenyum risih. Tak memaafkan juga tak mengucapkan apapun.


"Sayang, kau menyusulku ke mari. Padahal aku sudah bersiap untuk ke hotel dan kembali bersamamu ke pulau."


"Tentu saja aku menjemputmu ke sini sayang, sudah sewajarnya dilakukan seorang suami kepada wanitanya."


Mereka berani mempertontonkan adegan ciuman yang dalam dan panas di depan Robert dan Lobelia. Hingga kedua orang itu hanya bisa membuang muka dan tak berani melihat. Padahal semua itu hanya akting belaka, tapi sanggup meyakinkan siapapun yang melihatnya.


...

__ADS_1


__ADS_2