
Rose terkejut melihat Peter sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Ada apa, Tuan Peter?"
"Hanya mengingatkan Nyonya, hari ini jadwal Nyonya dan Tuan Muda Marcelino untuk bertemu dokter obgin."
"Kami tidak akan lupa Peter, pergilah! Kami akan segera bersiap-siap." Ucap Tuan Muda Marcelino yang tiba-tiba saja sudah mengalungkan tangannya di leher Rose.
"Maaf, Tuan." Jawab Peter seraya menundukkan kepala sebagai rasa hormat.
Peter pun pergi, Rose hanya melirik kilas pada wajah Tuan Muda Marcelino yang saat itu masih mengalungkan lengannya di leher Rose.
"Lepaskan tanganmu, Tuan." Pinta Rose.
Dengan cepat Tuan Muda Marcelino menurunkan lengannya, Rose berjalan masuk kembali ke kamar. Menyiapkan beberapa lembar pakaian dan dimasukkan ke dalam koper.
"Baju sebanyak itu buat apa, Rose?"
"Kita akan keluar dari pulau sementara waktu, tentu saja aku butuh pakaian."
"Tidak usah, kita bisa belanja di sana."
Rose menghentikan kegiatannya melipat dan memasukkan baju ke dalam koper.
"Cih! Orang kaya memang beda ya, tidak usah aku bisa bawa pakaianku sendiri."
"Aku tidak suka dibantah, letakkan itu atau kita tidak akan pergi bertemu dokter sialan itu."
Rose menghempas pakaian-pakaian yang sudah diaturnya itu ke tempat tidur. Menatap kesal ke arah Tuan Muda Marcelino.
"Kalau tidak perlu bawa baju, kenapa mesti masih di sini?"
"Bersemangat sekali." Desisnya.
Sampai di depan mansion Mafioso, di sana sudah terlihat Tuan Peter yang akan mengantar mereka keluar dari pulau.
"Beritahu Daddy, aku akan tinggal di kota W dalam waktu yang lama. Agar proses program kehamilan Rose berjalan dengan lancar. Bolak balik pulau dan kota W, bukankah itu sangat merepotkan." Jelas Tuan Muda Marcelino berpesan pada Peter.
"Baik, Tuan."
***
Sampai di kota W, mereka segera bertemu dokter yang direkomendasikan oleh Tuan Besar Mafioso.
__ADS_1
"Selamat datang di klinik kami, Tuan Muda Marcelino dan Nyonya Rose." Ucap dokter itu. "Silakan duduk." Lanjutnya.
Mereka berdua duduk dan saling bertukar informasi seputar program kehamilan.
"Sebetulnya program ini terlalu cepat, kami adalah pengantin baru tentu saja dokter tahu itu. Jadi tidak perlu terburu-buru, secepatnya kami akan membuat anak dan bekerja keras agar isteriku Rose bisa hamil. Jadi kesimpulannya, program ini tidak perlu ada. Hanya dokter perlu membuat semacam laporan ke Daddy bahwa program tersebut berjalan dengan baik. Kamu tidak punya pilihan selain setuju, karena jika tidak setuju klinik ini bisa kuhancurkan begitu saja."
Tanpa basa-basi, Tuan Muda Marcelino justru menyampaikan hal di luar dugaan Rose. Rose tersenyum tidak enak kepada sang dokter yang agaknya mulai ngeri mendengar ucapan Tuan Muda Marcelino.
"Ba ... Baiklah ... Tuan! Sesuai keinginan, Tuan."
"Bagus. Buat laporan bahwa hari ini kami sudah datang padamu sesuai jadwal."
Rose tak banyak bicara. Dia diam seraya bergidik mendengar setiap ucapan Tuan Muda Marcelino yang hanya bisa mengancam dan menekan lawannya.
Pertemuan hari itu pun selesai. Mereka sudah disiapkan sebuah rumah oleh Peter yang akan mereka gunakan selama di kota W. Satu orang pengawal siap mengantar mereka ke mana pun.
"Ke pusat perbelanjaan." Ucap Tuan Muda Marcelino pada supir yang mengemudi mobil.
Segera mobil itu berbelok arah menuju pusat perbelanjaan.
"Kau sejak tadi hanya diam, ada apa?"
"Entahlah, aku hanya merasa ada yang salah dengan apa yang kita lakukan hari ini."
"Jangan khawatir, sekalipun kita ke dokter tidak akan menghasilkan apapun."
"Haha ... Rose kau ini lucu sekali. Kau sungguh ingin melahirkan anakku ya?"
"Diamlah, Tuan."
"Kau hanya melahirkan anakku atau justru kau sudah jatuh cinta padaku, Rose?" ujarnya menggoda Rose sekali lagi.
Tuan Muda Marcelino menggosok dagunya yang berjenggot tipis itu, seraya senyum-senyum sendiri karena merasa puas sudah membuat suasana hati Rose memburuk.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan.
"Kau berkelilinglah, beli apapun yang kau inginkan menggunakan kartu ini. Aku akan bertemu Shame di suatu tempat."
Alis Rose naik satu, 'sejak kapan mereka janji bertemu?' ada nada cemburu, meski itu hanya suara hati Rose saja.
"Baiklah! Jangan salahkan aku jika aku membelanjakan semua uangmu." Jawab Rose dengan wajah ceria.
"Meski kau beli seluruh isi Mall ini, uang itu tak akan habis Rose." Jawabnya terkekeh.
__ADS_1
Mereka pun berpisah, Rose keluar masuk toko dengan gembira. Belanjaannya banyak sekali, seluruh barang berharga yang tak pernah dimilikinya dia beli. Dia sengaja, bahkan barang tak berguna pun dia beli demi menghambur-hamburkan uang milik Tuan Muda Marcelino.
Saat menurunie eskalator, Rose melihat sosok yang sepertinya dia kenal. Orang itu terlihat merangkul pinggang seorang wanita dengan begitu mesra. Rose dengan cepat mengambil ponselnya dan mengambil beberapa gambar.
"Kena kau sekarang, Juan." Desisnya.
Rose mengikuti ke mana arah Juan pergi bersama wanitanya. Ternyata ke sebuah tempat makan, Rose memperhatikan mereka dari jauh. Dia sampai jijik melihat Juan dan wanita itu yang bahkan bercumbu di tempat umum seperti itu.
"Cih ...! Dasar pria mesum. Apa Volencia tak cukup memuaskan dirinya?" Oceh Rose kepada dirinya sendiri.
Tidak lama setelah dia duduk di resto itu, ponselnya bergetar. Dia melihat layar ponselnya, rupanya dari Tuan Muda Marcelino.
"Kau di mana?" sapanya langsung ke inti.
"Resto makanan Eropa."
"Aku ke sana sekarang."
Lima belas menit kemudian, Tuan Muda Marcelino muncul bersama seorang pria yang sama sekali tak dikenali Rose. Pria itu tersenyum padanya, berbeda dengan Tuan Muda Marcelino yang wajahnya selalu datar tanpa ekspresi begitu bertemu dengan Rose.
"Hai, Shame." Ucapnya seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Deg!
Jadi ini orangnya? Gila, putih, tinggi, dan wajahnya bersih sekali. Perawatan di mana pria ini. Tubuhnya juga atletis hampir sama dengan Tuan Muda Marcelino, hanya saja otot-otot di tubuh Tuan Muda Marcelino lebih menonjol.
"Rose." Ucap Rose membalas uluran tangan Shame.
Suasananya sedikit kaku, jika ini adalah kenyataan bagi Rose mungkin saja Rose akan memaki-maki suaminya karena memilih jalan Gay. Apalagi sekarang mereka duduk di satu meja yang mana orang hanya akan melihat bahwa Rose di kelilingi dua pria ganteng dan akan dicap murahan.
"Kamu sudah lama di sini?" tanya Tuan Muda
"Belum terlalu lama, setengah jam yang lalu."
"Bisakah kamu membantuku untuk menyampaikan pada pengawal kita bahwa aku sedang ada urusan. Makanya kamu pulang sendiri ke rumah tanpa diriku. Aku akan bersenang-senang dulu dengan Shame."
"Gampang! Ini kartu yang tadi kugunakan, terimakasih karena aku bisa menggunakan kartumu untuk membeli apa yang kuinginkan." Timpal Rose.
Sial, pria itu kenapa hanya bisa tersenyum. Pandangannya tak pernah lekat dari menatapi Tuan Muda. Seolah fokusnya hanya ada pada Tuan Muda semata. Bisa dilihat jika pria bernama Shame ini benar-benar mencintai Tuan Muda Marcelino. Astaga ... kenapa aku tiba-tiba merasa cemburu padanya. Rose, sadarlah!
"Okeh ... emm ... sebaiknya aku pergi dulu. Aku tak sabar ingin segera sampai di rumah yang sudah disediakan Tuan Besar Mafioso. Rumah itu pasti sangat besar dan dipenuhi fasilitas bagus dari merk ternama." Ucap Rose guna mengatasi kegugupannya di depan Tuan Muda.
"Hati-hati, Rose."
__ADS_1
Rose hanya berbalik kilas dan tersenyum.
Padahal aku isterinya. Wajar kan aku cemburu? Tapi pria itu pacarnya. Hah! Rose ... sadarlah! Jangan bermimpi di siang bolong seperti ini. Beginikah rasanya cemburu yang tidak pada tempatnya? Apakah aku mulai jatuh cinta padanya? Tapi sejak kapan? Gila.