
Rose mengunjungi makam Mamanya sendirian, sebab dia ingin menceritakan semua yang dialaminya akhir-akhir ini. Sudah sekitar setahun Rose tak pernah datang ke makam Mamanya.
Daun-daun kering berbunyi gemerisik begitu kakinya melangkah di atas jalan menuju makam. Angin bertiup menggerakkan sebagian dedaunan menjauh. Suasana terasa sunyi, makam itu merupakan makam keluarga Rose. Di sana ada kakek, nenek dan juga mamanya.
Rose terkejut begitu sampai di sana melihat ada bunga Lily putih yang masih segar bersandar di nisan yang bertuliskan nama Mamanya.
"Ada yang datang?" ucapnya lirih dan melihat sekeliling. Sepertinya orang itu belum jauh, dia pasti masih ada di sekitar makam itu.
Rose menengok kanan kiri, tak juga melihat sosok yang menaruh bunga itu. Rose memilih untuk bersimpuh di makam Mamanya. Baru saja duduk, Rose dikejutkan oleh suara ranting patah dan dedaunan yang terinjak. Dia pun terkejut melihat sosok laki-laki berumur sekitar 50an ke atas mendekatinya.
"Anda siapa?" tanya Rose waspada.
Tunggu, wajahnya sangat familiar. Aku seperti pernah bertemu dengannya. Tapi di mana?
"Rose, kamu pasti sudah lupa sama Paman. Ketemu kamu saat kamu masih kecil, Paman adalah teman Mamamu. Frans, kamu ingat?"
Rose terlihat berpikir sebentar seraya bolak balik melihat wajah orang itu dengan teliti. Lalu dia berdiri dan berlari ke arah pria itu.
"Paman ... aku ingat denganmu. Bagaimana kabarmu?" tanya Rose yang kini memeluk pria itu.
"Aku kangen sekali." Ucap Rose dengan mata berkaca-kaca.
"Paman juga rindu padamu, Nak."
Mereka berjalan ke arah gundukan tanah yang di atasnya tumbuh rumputan hijau.
"Angin apa yang membawa Paman ke sini?"
"Paman memang sering datang ke sini, hanya saja mungkin tidak pernah bertemu seperti ini denganmu."
"Begitu ya, bisakah Paman membantu Rose?"
"Apa itu?"
__ADS_1
"Ceritakan bagaimana Mamaku meninggal?"
"Mungkin lebih baik kita berbicara di tempat yang lebih nyaman."
"Baiklah. Di mana aku bisa menemui, Paman?"
"Ada cafe dekat sini, kita ngobrol di sana saja."
Rose meminta waktu sebentar untuk mengirim doa pada Mamanya. Dia duduk dengan mata terpejam, bersimpuh dengan tangan mengatup. Sesaat kemudian, Rose berdiri dan mereka pun pergi ke cafe yang dimaksud Frans.
"Mamamu itu ... dia wanita yang sangat baik. Paman sangat dekat dengannya, Mamamu menikah dengan Robert karena kesalahan Paman yang waktu itu belum siap untuk menikah. Lalu roda waktu berputar cepat, orang tua Mamamu meninggal. Mamamu mengalami kekerasan fisik, saat itu dia sudah mengandung." Frans diam sebentar, seperti memikirkan kata-kata yang tepat agar tidak membuat Rose shock.
"Mamamu mengandung kamu waktu itu, tapi bukan Robert. Mamamu hamil karena Paman ..."
Mata Rose membola mendengar penjelasan Frans. Dia bukan lagi shock, tapi tak percaya jika orang di depannya ini benar-benar adalah Papa kandungnya. Dilihat dari garis wajahnya keduanya memang terlihat mirip.
"Apa? Jadi ... jadi ... Paman adalah Papaku?"
Frans mengangguk namun kepalanya masih tertunduk.
"Paman tidak punya kekuatan melakukan itu. Mereka sangat kejam, Mamamu pernah dimasukkan ke dalam sel yang penuh dengan para pembunuh. Tubuh Mamamu sampai koyak karena mempertahankan kehormatannya, walau saat itu dia tak berhasil. Dia diperkosa ramai-ramai di dalam sel. Luka disekujur tubuhnya belum sembuh, Robert membawanya pulang ke rumah, bukan ke rumah sakit. Dia disiksa oleh cambukan, rambutnya digunting oleh Lobelia. Saat itu Mamamu baru saja melahirkanmu, semua penderitaan itu dilaluinya tanpa mengeluh. Hingga pada malam gelap itu, kudengar teriakan lirih Mamamu yang disiram solar dan dibakar hidup-hidup. Paman tak bisa berbuat apa-apa, Paman mengutuk diri Paman hingga saat ini. Paman menyaksikan semuanya, hati Paman bagai dicabik-cabik."
Rose menutup mulutnya tak percaya dengan cerita Frans. Dia tak menyangka sejahat itu Mamanya diperlakukan.
"Lalu kuburan siapa yang selama ini kuziarahi jika bahkan tubuh Mamaku sudah jadi abu?"
"Mereka sengaja melakukan itu, aku baru tahu belakangan. Tapi aku selalu datang ke sana, karena merasa Mamamu selalu ada di sana."
"Aku akan membuat mereka mengalami penderitaan seumur hidup mereka. Mereka harus bisa merasakan penderitaan yang dialami Mamaku."
"Aku datang untuk menebus semua kesalahan itu. Kudengar kau bahkan dijual, hatiku hancur. Aku bahkan tak melihat dan mendampingimu tumbuh, kamu malah sudah dijual. Entah sudah berapa banyak dosa yang kulakukan padamu dan pada Mamamu."
"Aku akan membalasnya." Geram Rose.
__ADS_1
Matanya merah menyala, kemarahannya sudah dipuncak. Dia ingin lekas membalaskan dendamnya selama ini.
"Ini kartu nama, Paman. Jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa hubungi Paman."
"Baik, Paman."
Mereka pun berpisah siang itu. Rose pulang ke rumah Robert. Sedangkan Tuan Muda Marcelino seperti biasa, bersenang-senang dengan Shame. Bagi Rose bukan lagi hal yang perlu dipusingkan. Dia tak punya waktu untuk mengurus masalah perasaan. Dia tahu dia jatuh cinta, tapi prioritasnya bukan itu.
***
"Lepaskan tanganmu, Juan!" Hardik Rose pada Juan yang memegang pinggang Rose sembarangan. Padahal mereka sedang berada di rumah Robert.
"Tenanglah sedikit, Rose. Volencia tidak ada di rumah. Kita bisa main sebentar, mau kan?"
Plak!!!
"Jaga mulutmu, Juan. Kamu suami adikku sekarang, apa pantas berbicara seperti itu padaku?"
"Oyah? Dia bukan adikmu dan kamu adalah mantan isteriku. Kulihat penampilanmu sekarang jauh lebih berbeda. Kamu semakin menantang gairahku, Rose. Seingatku, ukurannya tidak seperti ini." Ucap Juan dengan memeragakan tangannya seperti mangkok di depan dada Rose.
"Semakin berisi, semakin seksi, kamu begitu membuatku bergairah, Rose." Lanjut Juan dengan berusaha meneliti wajah Rose dengan jarinya.
Pria brengsek ini mesti diberi pelajaran. Aku harus menendang apanya sekarang? Agar dia berhenti mengganggu jalanku.
"Arghh ...!" Pekik Juan menahan sakit.
Untuk kedua kalinya Rose menendang ************ Juan dengan keras. Rose tak mau ambil waktu lagi, dia langsung berlari ke arah kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.
"Otaknya benar-benar mesum. Aku bersyukur sekarang, dia sudah jadi mantan suami." Ucap Rose kesal.
Rose menghempaskan tubuhnya ke atas kasur tanpa membuka sepatunya. Menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Air matanya mengalir lagi, mengingat semua penderitaan yang sudah Mamanya alami.
Biadab. Sangat biadab. Robert, Lobelia, kupastikan kalian akan berakhir sama dengan Mamaku.
__ADS_1
Gemuruh di dada Rose, dan sesak yang dia rasakan, hanya dia yang rasa tak bisa dia bagi beban itu. Jikapun harus dibagi, kemana? Ke siapa? Dia sudah tak punya siapa-siapa lagi. Hidupnya seperti berakhir untuk dirinya sendiri. Seperti halnya lahir kita tunggal, maka mati juga begitu.