
Mendengar teguran dari suaminya, Mala pun terhenyak kaget.
"Ya, Mas Radit. ini juga aku baru mau makan kok."
Malapun memutuskan untuk sarapan, walaupun di dalam hatinya masih memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Anggit padanya.
Setelah selesai acara sarapannya, Radit merangkul Mala pergi meninggalkan ruang makan tersebut.
Mala tak tega untuk menolak ajakan suaminya, untuk keluar rumah healing.
Mereka pun lekas masuk ke dalam mobil dan Radit segera melajukan mobilnya.
"Sebenarnya kita mau ke mana sih, Mas?" tanya Mala penasaran.
"Ada dech, aku akan ajak kamu ke suatu tempat yang sangat romantis untuk kita berdua," ucap Radit.
"Iya, tapi kemana sih? kok jauh sekali seperti ini?" tanya Mala kembali penasaran.
"Sudah dech, nggak usah tanya lagi. Tinggal nikmati saja perjalanan kita berdua ini. Nanti juga mobil ini akan berhenti jika sudah sampai di tujuan," ucap Radit terkekeh.
"Hem, aku sih tahu. Masa iya kalau belum sampai sudah berhenti dulu, ya nggak mungkinlah," ucap Mala.
"Mungkin saja, jika mobil ini mogok atau kehabisan bahan bakar atau ban bocor dan lain sebagainya," ucap Radit.
Baru saja Radit berkata seperti itu, tiba-tiba mobilnya berhenti seperti menginjak sesuatu.
"Nah loh, kenapa ini?" Radit pun terpaksa keluar dari mobilnya.
Dan pada saat ia sedang menunduk untuk melihat kondisi mobilnya. Tiba-tiba ada seseorang memukul belakang kepalanya dengan kayu.
"Aaahhh..."
Saat itu juga Radit pingsan, dengan darah di kepala bagian belakang.
__ADS_1
Mala yang semula sedang asik memejamkan mata seraya mendengarkan musik menjadi kaget mendengar teriakan Radit. Sejenak ia pun melihat ke luar. Dan ada beberapa pria bertubuh tinggi tegap, sedang membutuka paksa pintu mobil.
Dan saat itu juga, Mala di tarik keluar oleh salah satu pria tersebut.
"Heh, kalian apakah suamiku hah?" bentak Mala.
Secepat kilat, Mala di ikat dengan tali yang telah di lingkari daun maja yang membuat Mala tidak bisa berubah wujud menjadi ular.
"Sialan, mereka tahu saja kelemahanku! pasti ada orang di balik ini, lantas siapa orang itu?" batin Mala kesal.
Beberapa pria bertubuh tinggi tegap tersebut membawa Mala paksa ke sebuah gua yang sangat gelap. Dan do dalam gua tersebut, Mala di ikat kakinya pula. Setelah itu ke empat pria tersebut pergi begitu saja meninggalkan Mala seorang diri.
"Aku, harus minta tolong pada Vista. Untuk melepaskan aku dari sini," batin Mala.
Sejenak Mala memejamkan matanya, dan ia meminta bantuan pada Vista lewat panggilan telepatinya.
"Vista, tolong aku. Saat ini aku teriika di sebuah gua, aku tidak bisa merubah wujudku karena aku lingkari oleh daun maja," ucapnya dengan bahasa batin.
Vista yang sedang di kamar mendengar bisikan dari Mala, ia pun kemudian memejamkan matanya untuk mencari tahu dimana letak gua tersebut.
Mala pun mengatakan banyak hal tetapi Vista tetap saja tidak bisa menembus penglihatanya.
"Haaaaaa...kamu tidak akan bisa meminta tolong pada temanmu itu! karena di sekitar goa telah aku beri mantra!"
Tiba-tiba terdengar suara tawa seorang wanita menggelegar di dalam goa, tetapi tidak ada wujudnya. Mala celingukan kanan kiri mencari sumber suara tersebut.
"Heh, siapa kamu sebenarnya? dasar pengecut tidak berani menampakkan dirimu secara langsung kepadaku!" bentak Mala seraya terus saja matanya menatap ke sekeliling penjuru goa tersebut.
Namun Mala sama sekali tak bisa melihatnya.
"Haaaa... sekarang kamu bukan apa-apa bagiku jika ada daun Maja. Jika kamu ingin selamat, cepat serahkan mutiara ular sekarang juga!" bentaknya lantang.
"Bagaimana aku akan menyerahkan mutiara ular, jika kondisiku di ikat seperti ini," ucap Mala mencoba membujuk seorang wanita itu untuk melepaskan dirinya.
__ADS_1
"Kamu tinggal katakan saja dimana mutiara ular itu berada, apa susahnya! aku tahu kamu ingin membohongi diriku, bukan?" ucapnya lantang.
"Ya sudah jika seperti itu, sampai kapanpun aku tidak akan memberitahukan padamu dimana mutiara ular itu berada," ucap Mala lantang.
Sejenak sudah tidak ada suara lagi di dalam gua tersebut, hanya datang empat pria bertubuh tinggi kekar menghampiri Mala. Dan membawanya paksa ke luar dari gua tersebut.
"Sekarang kamu antar kami ke tempat dimana kamu simpan mutiara ular itu!" bentak salah satu pria itu.
Mala diam sejenak, dia seolah sedang berpikir untuk bisa mengelabui empat pria yang menyandera dirinya.
"Vista, cepat datang kemari. Aku sudah keluar dari goa, dan saat ini aku sedang di bawa oleh empat pria," batinnya menghubungi Vista.
"Ya Mala, aku sudah tahu dimana saat ini kamu berada. Tenang saja aku akan segera menolong dirimu sekarang juga," batin Vista.
Vista yang saat ini ada di dalam kamar, sejenak memejamkan matanya. Dan tiba-tiba ia sudah ada di hadapan Mala dan keempat pria yang sedang menyandera dirinya.
Saat itu juga Vista berubah menjadi ular berkepala manusia, ia pun segera mengibaskan ekornya mengenai ke empat tubuh pria yang ada di samping Mala, hingga empat pria itu terkapar begitu saja. Sedangkan Mala langsung saja melepaskan dirinya dari daun Maja yang telah mengikat dirinya.
Saat itu juga, Mala berhasil kabur dengan Vista. Tetapi kini Mala kehilangan jejak Radit. Karena Radit sudah tidak ada di dalam di sekitar mobilnya.
"Ya ampun, dimana Mas Radit? padahal beberapa jam yang lalu dia ada di sini?" ucap Mala seraya celingukan mencari keberadaan Radit.
Baik Radit maupun Mala terus saja mencari keberadaan Radit. Mereka berkeliling di sekitar mobil Radit yang terparkir.
Sejenak Mala memejamkan matanya untuk mengetahui dimana keberadaan Radit. Dan ia mendapati Radit di bawa seekor burung besar.
"Bagaimana, Mala? apa kamu menemukan keberadaan, Radit?" tanya Vista penasaran.
"Iya, saat ini Mas Radit di bawa oleh burung pemakan bangkai ke daerah kekuasaan mereka," ucap Mala.
"Lantas apakah kamu akan segera ke sana?" tanya Vista kembali.
"Jelaslah, aku akan segera ke sana untuk menyelamatkannya. Bagaimana pun ia sudah menjadi suamiku. Bahkan berkatnya, kita bisa menemukan kembali keberadaan mutiara ular," ucap Mala.
__ADS_1
Hingga saat itu juga, Mala dan Vista segera pergi ke negeri burung pemakan bangkai. Mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Bahkan Mala juga sudah memerintahkan kepada beberapa anak buahnya untuk selalu waspada jika suatu saat ia butuh bantuan mereka.
Hanya dalam sekejap mereka telah sampai di wilayah kekuasaan burung pemakan bangkai. Dan mereka langsung di sambut oleh begitu banyak burung pemakan bangkai.