Pembalasan Ratu Ular

Pembalasan Ratu Ular
Menyelamatkan Radit


__ADS_3

"Ternyata kita sudah mendapatkan sambutan, Vista."


Sejenak beberapa burung pemakan bangkai tersebut berunah menjadi manusia. Dan salah satunya tersenyum sinis mendekati Mala dan Vista.


"Ratu ular, ternyata kamu berani juga datang kemari ya? tapi sayangnya kamu membawa teman. Haaaa sama saja kamu penakut dech," ucapnya.


"Nggak usah banyak bicara, mana anak manusia yang kamu sandera?" teriak Mala.


"Santai saja dulu donk, Ratu Ular. Aku tahu anak manusia itu adalah suamimu iya kan? kamu berhasil lolos dari tawananku, tetapi kali ini tidak dengan suami hanya ada satu syarat saja supaya suamimu bisa dibebaskan!" bentaknya.


"Hem, aku tahu kamu menginginkan mutiara ular bukan?" ucap Mala.


"Haaa aku bukan hanya ingin mutiara ular, tetapi aku juga ingin nyawa! kamu telah membuat anakku meninggal di tanganmu! dan kini aku ingin kamu juga merasakan apa yang aku rasakan! aku ingin membunuh suamimu di hadapanmu! supaya kamu bisa merasakan apa yang dulu aku rasakan!" ancamnya seraya tersenyum sinis.


"Heh, siapa yang melanggar aturan dulu? anakmu yang telah melanggarnya dengan membinasakan adikku! bukankah kita telah sepakat untuk tidak saling melukai satu sama lain!" bentak Mala.


Sejenak Mala ingat puluhan tahun yang lalu.....


"Uci, kamu saja yang menjadi pengganti ibu ya? menjadi ratu ular," ucap Ruhi.


"Nggak mau, ka. Aku ingin hidup dengan kekasihku saja. Ia pemuda yang sangat baik ka, tetapi hanya seorang manusia biasa,' ucap Uci.


"Hei, sejak kapan kamu punya pacar? apa ibu tahu tentang hal ini?" tanya Ruhi.


"Belum tahu, ka. Oh ya, ia sudah datang kemari ka, sebentar ya ka aku panggil kemari."


Sejenak Uci berlalu pergi dari istananya, dan tak lama kemudian ia datang kembali dengan menggandeng tangan seorang pemuda tampan.


"Ka, perkenalkan ini kekasihku. Namanya Vikky."


"Hallo ratu ular, perkenalkan saya Vikky."


Sejenak Ruhi mengulas senyum ke arah pacar adiknya. Tetapi di dalam hatinya masih ada rasa ragu dengan pemuda di hadapannya tersebut.

__ADS_1


"Sepertinya ia bukan dari golongan manusia. Dimana Uci kenal dengannya? aku harus menyelidikinya terlebih dahulu jangan sampai ia berbuat jahat pada adikku," batin Ruhi.


"Uci, kemaro sebentar. Aku ingin bicara denganmu."


Sejenak Ruhi menarik tangan adiknya untuk sejenak menjauh dari Vikky.


"Uci, sepertinya ada yang aneh dengan pemuda yang kamu katakan sebagai kekasihmu. Kakak yakin sekali, ia bukan dari golongan manusia. Biar kakak selidiki dulu ya, kamu jangan bertindak ceroboh," bisik Ruhi.


"Ka, tak usah khawatir. Percaya saja padaku jikalau Vikky itu baik. Sudah ya ka, aku akan pergi dengannya, untuk mengurus pernikahan kita. Tolong sampaikan pada, ibu. Aku pasti akan kembali."


Uci pergi begitu saja dengan Vikky tanpa ia memperdulikan nasehat dari Ruhi. Walaupun Ruhi sudah bersusah payah menghentikan langkah Uci tetapi tidak juga berhasil.


Kepergian Uci membuat Ruhi terus saja gelisah memikirkan nasib adiknya. Bahkan ibunya terus saja menanyakan keberadaan adiknya.


"Ruhi, bagaimana? apa sudah ada kabar dari adikmu? sudah berhari-hari, ia nggak pulang. Apakah kamu tak berusaha mencarinya?" tanya sang ibu.


"Bu, aku sudah berusaha mencarinya. Tapi belum juga menemukan keberadaan dirinya. Ibu jangan khawatir ya, nanti aku cari lagi."


Hingga beberapa hari kemudian, Ruhi telah mendapatkan informasi dari salah satu anak buahnya tentang dimana keberadaan Uci saat ini.


"Uci, apa yang telah terjadi padamu?" Ruhi berlari menghampiri adikknya yang sedang sekarat.


Sementara Vikky tersenyum sinis melihat Uci sekarat.


"Ka...aku minta maaf karena tidak mendengarkan apa yang Kakak nasehatkan waktu itu."


Saat itu juga Uci memejamkan matanya dan ia pun seketika itu juga berubah menjadi ular.


"Uci...Uci....bangun..."


Ruhi menangis seketika itu juga, tetapi ia langsung menghapus air matanya. Dan dengan tatapan penuh amarah, ia menghampiri Vikky.


'Apa yang telah kamu lakukan pada adikku, hah? padahal ia begitu mencintaimu, tetapi kamu telah melukainya!" bentak Ruhi.

__ADS_1


"Haaaa....apa kamu tahu siapa aku, hah?" bentak Vikky.


"Aku tahu siapa kamu, kamu itu burung pemakan bangkai. Dan di antara kita sudah terjerat perjanjian bahwa kita tidak akan saling memangsa! tetapi kenapa kamu memangsa adikku yang benar-benar cinta padamu!" bentak Ruhi kesal.


"Kamu pikir aku mau bersanding dengan ular? hhaaaa... adikmu saja yang terlalu mudah di bodohi!" ejek Vikky.


Sejenak Vikky berubah menjadi burung pemakan bangkai. Dan Ruhi berubah menjadi ular berkepala manusia. Dengan gerak cepat, Ruhi mengibaskan ekornya ke arah Vikky yang telah berubah menjadi burung pemakan bangkai.


Seketika itu juga, Vikky terlena sabetan ekor dari Ruhi. Dan Vikky pun terkapar dengan berubah wujud menjadi manusia. Ruhi lekas mematuk kening Vikky, hingga saat itu juga Vikky binasa.


Demikianlah sejenak Ruhi yang menjelma menjadi Mala teringat masa lalunya.


"Kamu tahu, kita sudah impas. Nyawa di bayar dengan nyawa! anakmu telah terlebih dahulu melenyapkan nyawa adikku, aku pun membalasnya. Apakah itu salah? lagi pula anakmu dahulu yang telah melenyapkan nyawa adikku!" bentak Ruhi.


"Pokoknya aku tetap tidak terima, aku akan tetap menuntut balas akan kematian, Vikky! jika tidak nyawamu ya nyawa suamimu yang hanya manusia itu!"


Namun Ruhi sama sekali tidak gentar, ia sudah punya siasat yang jitu untuk bisa menolong Radit. Pada saat burung pemakan bangkai lengah.


Dari atas melesat sebuah jaring laba-laba yang sudah diberi mantra oleh Ruhi. Jaring tersebut berhasil menangkap seluruh burung pemakan bangkai yang ada di sekitar.


Dengan gerak cepat, Vista menyelamatkan Radit yang di ikat di sebuah pohon dalam kondisi pingsan. Dan saat itu juga, Ruhi dan Vista membawa Radit ke mobilnya.


Dan Vista yang mengambil alih kemudi karena Radit masih pingsan. Sementara burung pemakan bangkai sangat kesal karena mereka terperangkap dalam jaring laba-laba yang telah di mantrai.


"Sialan, bagaimana bisa Ratu Ular mengelabui diriku dan yang lain! mau sampai kapan kami terkurung di dalam jaring ini!"


Terus saja burung pemakan bangkai mengerutu karena usahanya untuk membalas dendam pada Ratu Ular gagal total. Ia malah terperangkap dalam jebakan Ratu Ular.


Tak berapa lama, mobil yang di kemudikan oleh Vista sudah sampai di depan pintu gerbang rumah mewah Papah Rasyid. Dan saat itu juga Radit sadarkan diri. Saat itu juga Vista menghilang.


"Sayang, kok kita sudah ada di rumah? padahal aku..


"Sudahlah, Mas Radit. Kamu itu dari tadi tidur di mobil, hingga aku memutuskan untuk pulang," ucap Mala.

__ADS_1


"Tetapi seingatku, mobil bocor salah satu bannya," ucap Radit celingukan bagai orang linglung


Mala pun menjelaskan bahwa tidak terjadi apa pun pada mobil Radit.


__ADS_2