
Mala menjadi kesal, karena usahanya untuk balas dendam menjadi terbengkalai karena adanya gangguan dari burung pemakan bangkai. Seharusnya tinggal dua target lagi yakni Anggit dan Roso, akan tetapi semua menjadi berantakan.
"Ruhi, apa yang sedang kamu pikirkan? kenapa kamu diam saja seperti itu?" tegur Vista di saat mereka berdua di sebuah taman.
"Niatku datang ke rumah Radit karena untuk membalas dendam kematian Vikri. Tetapi ada saja hambatan. Dari aku harus menikah dengan Radit supaya dapat menemukan mutiara ular yang hilang, datangnya kembali burung pemakan bangkai."
Mala menghela napas panjang, ia merasa sudah lelah dengan dirinya tinggal di alam manusia.
"Bersabarlah sedikit, karena memang segala sesuatu itu kadang kala tidak berjalan lancar sesuai dengan yang kita harapkan. Lagi pula, kamu kenapa tidak mengizinkan aku untuk membantumu menyingkirkan salah satu dari targetmu supaya dendammu lekas terbalas dan tak menyita waktumu," ucap Vista.
"Tidak bisa, Vista. Ini adalah dendam pribadiku, sudah berapa kali aku katakan padamu bukan? jika aku yang harus melakukan semua ini seorang diri."
Mendengar apa yang di katakan oleh Ratu Ular, Vista tak bisa lagi berbuat apa-apa. Walaupun ia juga geram dengan sikap Ratu Ular yang menurutnya terlalu mengulur waktu hingga mereka lama berada di alam manusia.
Sementara Radit masih saja penasaran dan ia mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Pada saat ia bersama dengan Mala. Ia merasa ada hal yang aneh, tetapi ia sama sekali tak dapat mengingat akan hal itu.
Selagi ia melamun, Anggit menghampiri dirinya. Dan ingin berusaha menguak kebenaran tentang siapa sebenarnya, Mala.
"Mas Radit, kenapa melamun sendiri? pasti ada hal yang aneh yang telah terjadi ya? nggak usah heran, mas. Karena istrimu itu adalah jelmaan ular, jadi setiap saat terjadi hal aneh pada rumah tangga kalian. Makanya sebelum terlambat, sebaiknya Mas Radit bercerai saja dari Mala."
"Dia bukan wanita yang baik, melainkan jelmaan ular. Ia datang ke rumah kita hanya untuk membuat ulah. Aku nggak ingin terjadi apapun padamu, mas. Makanya sebelum mas jauh melangkah, sebaiknya ceraikan Mala. Masih banyak wanita tulen yang bakal mau menikah dengan Mas Radit."
Radit bukannya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Anggit, tetapi ia justru marah besar pada adiknya itu.
__ADS_1
"Sudah berapa kali aku katakan padamu ya, Anggit! supaya kamu jangan pernah lagi, menghasut aku dengan berkata buruk tentang Mala! aku tidak suka kamu mengatakan hal ini, walaupun kamu ini adik kandungku! tetapi jika kamu terus saja mengatakan hal buruk tentang Mala, sebaiknya kita putus hubungan!"
"Dan perlu kamu ingat satu hal, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan Mala. Karena aku teramat sangat cinta padanya. Bahkan aku rela mati demi dirinya. Camkan itu! pergi saja kamu dari hadapanku, jika hanya ingin mengatakan hal buruk tentang Mala!"
Akhirnya, Anggit pun pergi dari hadapan Radit. Tetapi ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan terus berusaha menguak tabir rahasia tentang Mala pada seluruh anggota keluarganya.
"Sialan, tetap saja Mas Radit tidak percaya dengan apa yang aku katakan selama ini tentang Mala! Ratu ular benar-benar telah menyemburkan bisa cinta pada Mas Radit. Hingga Mas Radit jatuh cinta padanya."
"Sebenarnya mantra yang telah di berikan Ratu Ular pada Mas Radit, hingga ia bagaikan kerbau di cucuk hidungnya. Aku harus minta tolong pada siapa supaya aku dapat menyingkirkan Ratu Ular yang saat ini sedang mengincarku dan Roso?"
Terus saja Anggit memutar otaknya untuk bisa mendapatkan satu cara yang tepat yang matang. Supaya kali ini, ia tak gagal untuk bisa menyingkirkan Ratu Ular selamanya dari keluarganya.
Tetapi otaknya bebal, hingga tak juga mendapatkan satu cara yang jitu. Ia hanya bisa marah emosi sendiri.
Akhirnya Anggit pun memutuskan untuk kembali ke hutan dimana dulu ia dan ketiga saudaranya melakukan hal buruk pada Vikri. Ia berharap di hutan itu bisa menemukan jawaban dari kegelisahan dirinya selama ini.
Yakni kegelisahan dirinya untuk bisa menyingkirkan Ratu Ular di dalam kehidupan keluarganya. Sejak tahu Mala adalah jelmaan ular, tidur Anggit tak pernah nyenyak.
Bahkan ia selalu saja di ganti dengan mimpi buruk yang sangat menyeramkan sekali. Makan pun ia tak merasa nikmat.
Tanpa ada rasa takut, Anggit menyusuri hutan belantara tersebut. Ia terus saja melangkah mencari tahu apa pun itu tentang Ratu Ular.
Dan pada saat ia akan masuk ke dalam goa yang ada di hadapannya. Tiba-tiba tubuhnya di belit oleh seekor ular raksasa. Dan ular itu berkepala manusia.
__ADS_1
"Ka-ka-kamu!!!!"
Anggit tergagap pada saat melihat ular berkepala manusia tersebut.
"Iya ini aku, kamu masih ingat bukan? dengan ular yang kamu tembak beberapa bulan yang lalu? ini aku datang untuk menuntut balas!"
"Ja-ja-ja-ngan....aku mohon...aku akan memberitahu dimana keberadaan kekasihmu itu. Tetapi aku mohon kamu jangan sakiti aku!'
Pinta Anggit sangat ketakutan.
"Ternyata otakmu cerdas juga, jika aku datang ke alam manusia karena ingin mencari kekasihku. Cepat katakan dimana ia saat ini berada!" bentak ular itu yang ternyata adalah Vikri.
Anggit menceritakan semuanya pada Vikri jika saat ini Ratu Ular telah menikah dengan kakak sulungnya. Saat itu juga Vikri melepaskan lilitannya pada tubuh Anggit. Dan ia langsung berubah wujud menjadi manusia.
Vikri mengajak Anggit untuk segera pulang ke rumahnya. Karena Vikri sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Mala.
"Pucuk di cinta ulam pun tiba. Dengan begini aku tidak perlu lagi bingung. Pasti secepatnya Vikri akan mengajak Mala kembali ke negeri ular. Dan kehidupan di rumahku akan segera damai tidak setiap hari di liputi oleh kecemasan," batin Anggit.
Pada awalnya ia takut pada saat bertemu dengan Vikri. Tetapi kini ia sudah tidak takut lagi, karena Vikri berjanji pada Anggit untuk menjamin keselamatan dirinya jika ia mempertemukan Vikri dengan Mala.
"Pelan sekali laju mobilmu, apa tidak bisa di percepat supaya aku lekas bisa bertemu dengan Mala?" bentak Vikri kesal yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan kekasih hatinya.
Anggit pun ketakutan pada saat mendengar ucapan dari Vikri apa lagi Vikri menjulurkan lidah ularnya seolah siap untuk mematuk dirinya. Anggit mempercepat laju mobilnya supaya lekas sampai di rumah.
__ADS_1